Surah at-Tin 95 – Tafsir Rahmat

Tafsir Rahmat Oleh: H. Oemar Bakry

Tafsir Rahmat
 
Oleh: H. Oemar Bakry

95. AT-TĪN (BUAH TĪN)

 

Surat ini termasuk golongan surat-surat Makkiyyah. Jumlah ayatnya 8. Diturunkan sesudah surat al-Burūj.

Dinamakan at-Tīn karena disebutkan pada ayat pertama dari surat ini.

Di antara isinya:

  1. Allah bersumpah untuk mengingatkan bahwa buah Tīn, Zaitūn dan bukit Sinai penting untuk diingati.
  2. Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk yang paling indah dibanding dengan semua ciptaan-Nya yang melata di muka bumi. Susunan tubuhnya harmonis sekali. Keindahan tubuh itu bertambah indah lagi dengan diberikan-Nya akal bagi manusia. Keindahan akal ditambah-Nya lagi dengan hidayah agama. Memang tidak ada tolok banding keindahan manusia yang dijadikan Allah sebagai khalifah di bumi.
  3. Manusia harus berhati-hati dengan keindahannya itu. Ia bisa jatuh menjadi makhluk yang paling hina karena rusak budi pekertinya. Ia bisa lebih buas dari singa, lebih galak dari serigala, lebih rakus dari hewan berkaki empat, lebih banyak kerusakan yang ditimbulkannya dibanding dengan makhluk lain. Manusia dengan senjata muta’akhirnya bisa merusak binasakan dunia.
  4. Yang akan tetap indah lahir dan batin, indah dalam tindak-tanduknya, indah amal perbuatannya, ialah orang-orang yang beriman dan selalu beramal shalih.

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

وَ التِّيْنِ وَ الزَّيْتُوْنِ. وَ طُوْرِ سِيْنِيْنَ. وَ هذَا الْبَلَدِ الْأَمِيْنِ. لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ. ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِيْنَ. إِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ. فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّيْنِ. أَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِيْنَ

AT-TĪN (BUAH TĪN)

Surat ke-095. Jumlah ayatnya 8

 

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

  1. Demi (buah) Tīn dan demi (buah) Zaitūn,
  2. dan demi gunung Sinai (tempat Mūsā menerima wahyu),
  3. dan demi negeri yang aman ini (Makkah).
  4. Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik.
  5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang paling rendah (karena tindak-tanduknya yang salah).
  6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengamalkan amalan shalih, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
  7. Apakah sebabnya kamu mendustakan (hari) pembalasan?
  8. Bukankah Allah Ḥākim yang paling adil?
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *