Surah al-Qari’ah 101 ~ Tafsir Ibni Katsir

Tafsir Ibnu Katsir

Dari Buku:
Tafsir Ibnu Katsir, Juz 30
(An-Nabā’ s.d. An-Nās)
Oleh: Al-Imam Abu Fida’ Isma‘il Ibnu Katsir ad-Dimasyqi

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar L.C.
Penerbit: Sinar Baru Algensindo Bandung

Sūrat-ul-Qāri‘ah
(Hari Kiamat)

Makkiyyah, 11 ayat
Turun sesudah Sūratu Quraisy

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Al-Qāri‘ah, ayat 1-11:

الْقَارِعَةُ. مَا الْقَارِعَةُ. وَ مَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ. يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِ. وَ تَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِ. فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهُ. فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ. وَ أَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهُ. فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ. وَ مَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ. نَارٌ حَامِيَةٌ.

Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hāwiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hāwiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas. (Al-Qāri‘ah 1-11)

Al-Qāri‘ah adalah nama lain dari hari kiamat, seperti Al-Ḥāqqah; At-Tāmmah; Ash-Shākhkhah, Al-Ghāsyiyah, dan lain-lainnya. Kemudian Allah s.w.t. menggambarkan tentang kedahsyatan dan kengeriannya melalui firman-Nya:

وَ مَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ

Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? (Al-Qāri‘ah: 3).

Kemudian ditafsirkan oleh firman berikutnya:

يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِ

(yaitu) pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran. (Al-Qāri‘ah: 4)

Yakni mereka bertebaran bercerai-berai ke sana dan kemari karena kebingungan huru-hara yang sangat menakutkan di hari itu, sehingga mereka mirip dengan anai-anai yang bertebaran. Hal yang sama digambarkan oleh Allah s.w.t. melalui ayat lainnya:

كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ

Seakan-akan mereka belalang yang beterbangan. (Al-Qamar: 7)

Ada pun firman Allah s.w.t.:

وَ تَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِ.

Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Al-Qāri‘ah: 5).

Gunung-gunung di hari itu seakan-akan seperti bulu domba yang diawut-awut hingga menjadi beterbangan. Mujāhid, ‘Ikrimah, Sa‘īd ibnu Jubair, Al-Ḥasan, Qatādah, ‘Athā Al-Khurāsānī, Adh-Dhaḥḥāk, dan As-Suddī mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, “Al-‘ihni” bahwa makna yang dimaksud adalah bulu domba.

Kemudian Allah s.w.t. berfirman, menceritakan apa yang akan dialami oleh orang-orang yang beramal dan tempat kembali mereka berpulang, yang adakalanya di tempat yang terhormat dan adakalanya pula di tempat yang terhina sesuai dengan amal perbuatan masing-masing. Untuk itu Allah s.w.t. berfirman:

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهُ

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya. (Al-Qāri‘ah: 6).

Maksudnya, timbangan amal kebaikannya lebih berat daripada timbangan amal keburukannya.

فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ

maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. (Al-Qāri‘ah: 7)

 

Yakni berada di dalam surga.

وَ أَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهُ.

Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya. (Al-Qāri‘ah: 8).

Yaitu timbangan amal keburukannya lebih berat daripada timbangan amal kebaikannya.

Firman Allah s.w.t.:

فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ.

maka tempat kembalinya adalah neraka Hāwiyah. (Al-Qāri‘ah: 9).

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah terjatuh ke dalam neraka dengan kepala di bawah, yaitu neraka Jahannam. Lalu diungkapkan dengan ummihi yang artinya otaknya. Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās, ‘Ikrimah, Abū Shālih, dan Qatādah. Qatādah mengatakan bahwa orang itu terjatuh ke dalam neraka dengan kepala di bawah. Hal yang sama dikatakan oleh Abū Shālih, bahwa mereka terjatuh ke dalam neraka dengan kepala di bawah.

Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah tempat asal yang menjadi tempat kembalinya dan tempat ia berpulang adalah Hāwiyah, yaitu nama lain dari neraka. Ibnu Jarīr mengatakan bahwa sesungguhnya dikatakan Hāwiyah sebagai tempat kembalinya, tiada lain karena tiada kembali baginya kecuali hanya kepadanya. Ibnu Zaid mengatakan bahwa Hāwiyah adalah neraka yang merupakan tempat kembali dan tempat berpulang bagi orang yang amal keburukannya lebih berat daripada amal kebaikannya. Lalu Ibnu Zaid membacakan firman-Nya:

وَ مَأْوهُمُ النَّارُ

Sedangkan tempat tinggal mereka (di akhirat) adalah neraka. (An-Nūr: 57).

 

Ibnu Abī Ḥātim mengatakan, telah diriwayatkan dari Qatādah; ia telah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah neraka, dan neraka itu adalah tempat mereka kembali. Karena itulah maka ditafsirkan dalam firman berikutnya menjelaskan tentang Hāwiyah, yaitu:

وَ مَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ. نَارٌ حَامِيَةٌ.

Dan tahukah kamu apakah neraka Hāwiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas. (Al-Qāri‘ah: 10-11).

Ibnu Jarīr mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Abd-ul-A‘lā, telah menceritakan kepada kami Ibnu Shaur, dari Ma‘mar, dari al-Asy‘ats ibnu ‘Abdullāh yang tuna netra; dia telah mengatakan bahwa apabila orang mukmin meninggal dunia, maka rohnya dibawa menuju ke tempat arwah kaum mukmin. Dan mereka mengatakan, “Buatlah saudara kalian senang, karena sesungguhnya dia dahulu selalu berada dalam kesusahan di dunia.” Lalu mereka bertanya kepadanya, “Apakah yang dilakukan oleh si Fulan?” Maka ia menjawab, “Dia telah mati, bukankah dia telah datang kepada kalian?” Mereka berkata, “Kalau begitu, dia dibawa ke tempat kembalinya di Hāwiyah.”

Ibnu Mardawaih telah meriwayatkan melalui jalur Anas ibnu Mālik secara marfū‘ dengan teks yang lebih panjang daripada ini yang telah kami kemukakan di dalam kitab Shifat-un-Nār, semoga Allah melindungi kita dari neraka dengan kemurahan dan karunia-Nya.

Firman Allah s.w.t.:

نَارٌ حَامِيَةٌ.

(Yaitu) api yang sangat panas. (Al-Qāri‘ah: 11).

Yakni sangat panas lagi sangat kuat nyala dan gejolak apinya. Abū Mush‘ab telah meriwayatkan dari Mālik, dari Abuz-Zanad, dari al-A‘rāj; dari Abū Hurairah, bahwa Nabi s.a.w. Nabi s.a.w. pernah bersabda:

نَارُ بَنِيْ آدَمَ الَّتِيْ تُوْقِدُوْنَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ.

Api Bani Adam yang biasa kalian nyalakan merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian api neraka Jahannam.

Para sahabat berkata: “Wahai Rasūlullāh, itu pun sudah mencukupi kebutuhan.” Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

إِنَّهَا فَضَّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَ سِتِّيْنَ جُزْءًا.

Sesungguhnya api neraka itu lebih unggul di atasnya dengan enam puluh sembilan bagian.

Imām Bukhārī meriwayatkannya dari Ismā‘īl ibnu Abū Uwais, dari Mālik. Dan Imām Muslim meriwayatkannya dari Qutaibah, dari al-Mughīrah ibnu ‘Abd-ur-Raḥmān ibnu Abuz-Zanad dengan sanad yang sama. Dan pada sebagian lafaznya disebutkan:

إِنَّهَا فَضَّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَ سِتِّيْنَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا.

Sesungguhnya api neraka itu lebih unggul daripada api dunia dengan enam puluh sembilan kali lipatnya, yang masing-masing bagian sama panasnya sama dengan panas api dunia.

Imām Aḥmad mengatakan, telah meriwayatkan kepada kami ‘Abd-ur-Raḥmān, telah meriwayatkan kepada kami Ḥammād ibnu Salamah, dari Muḥammad ibnu Abū Ziyad; ia pernah mendengar Abū Hurairah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abul-Qāsim alias Nabi s.a.w. bersabda:

نَارُ بَنِيْ آدَمَ الَّتِيْ تُوْقِدُوْنَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنَ نَارِ جَهَنَّمَ.

Api Bani Adam yang biasa kalian nyalakan merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian api neraka Jahannam.

Lalu seorang lelaki berkata, “Sesungguhnya satu bagian itu pun benar-benar sudah cukup.” Maka Nabi s.a.w. bersabda:

لَقَدْ فَضَّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَ سِتِّيْنَ جُزْءًا حَرًّا فَحَرًّا.

Sesungguhnya api neraka Jahannam itu lebih panas daripada api dunia dengan enam puluh sembilan kali kelipatannya, bagian demi bagiannya.

Hadis diriwayatkan oleh Imām Aḥmad dengan cara munfarid melalui jalur ini, tetapi harus dengan syarat Muslim (baru dapat diterima). Imām Aḥmad telah meriwayatkan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Sufyān, dari Abuz-Zanād, dari al-A‘rāj, dari Abū Hurairah, dari Nabi s.a.w. Dan juga Amr, dari Yaḥyā ibnu Ja‘dah:

إِنَّ نَارَكُمْ هذِهِ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ وَ ضُرِبَتْ بِالْبَحْرِ مَرَّتَيْنِ وَ لَو لاَ ذلِكَ مَا جَعَلَ اللهُ فِيْهَا مَنْفَعَةً لأَحَدٍ

Sesungguhnya api kalian ini merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian api neraka Jahannam. Ia telah dicelupkan ke dalam laut sebanyak dua kali; seandainya tidak demikian, niscaya Allah tidak akan menjadikan padanya suatu manfaat pun bagi seseorang.

Ini dengan syarat Shaḥīḥain, tetapi mereka tidak ada yang mengetengahkannya dari jalur ini. Imām Muslim telah meriwayatkan di dalam kitab shaḥīḥ-nya melalui suatu jalur. Al-Bazzār meriwayatkannya melalui hadis ‘Abdullāh ibnu Mas‘ūd dan Abū Sa‘īd al-Khudrī:

نَارُكُمْ هذِهِ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا.

Api kalian ini merupakan suatu bagian dari tujuh puluh bagian.

Imām Aḥmad mengatakan, telah meriwayatkan kepada kami Qutaibah, telah meriwayatkan kepada kami ‘Abd-ul-‘Azīz ibnu Muḥammad Ad-Dārawardī, dari Sahl, dari ayahnya, dari Abū Hurairah, dari Nabi s.a.w. yang telah bersabda:

هذِهِ النَّارُ جُزْءٌ مِنْ مِائَةِ جُزْءٍ مِنْ جَهَنَّمَ.

Api ini merupakan suatu bagian dari seratus bagian api neraka Jahannam.

Imām Aḥmad meriwayatkannya secara munfarid dari jalur ini, tetapi harus dengan syarat Muslim pula.

Abul-Qāsim Imām Thabrānī mengatakan, telah menceritakan kepada kami Aḥmad ibn Amr al-Khallāl, telah menceritakan kepada kami Ibrāhīm ibn-ul-Mundzir al-Hizamī, telah menceritakan kepada kami Ma‘ān ibnu ‘Isa al-Qazzāz, dari Mālik, dari pamannya Abū Suhail, dari ayahnya, dari Abū Hurairah yang mengatakan bahwa Rasūlullāh s.a.w. telah bersabda:

أَتَدْرُوْنَ مَا مَثَلُ نَارِكُمْ هذِهِ مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ لَهِيَ أَشَدُّ سَوَادًا مِنْ دُخَانِ نَارِكُمْ هذِهِ بِسَبْعِيْنَ ضِعْفًا.

Tahukah kalian bagaimana perumpamaan api kalian ini bila dibandingkan dengan api neraka Jahanam. Sesungguhnya api neraka Jahannam itu lebih hitam asapnya daripada api kalian ini dengan tujuh puluh kali lipatnya.

Abū Mush‘ab telah meriwayatkan dari Mālik, tetapi ia tidak me-rafa‘-kannya.

Imām Tirmidzī dan Imām Ibnu Mājah telah meriwayatkan dari ‘Abbās ad-Daurī, dari Yahyā ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Syarīk, dari ‘Āshim, dari Abū Shāleh, dari Abū Hurairah yang mengatakan bahwa Rasūlullāh s.a.w. telah bersabda:

أُوْقِدَ عَلَى النَّارِ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى احْمَرَّتْ ثُمَّ أُوْقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ ثُمَّ أُوْقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ.

Api neraka dinyalakan selama seribu tahun hingga memerah, kemudian dinyalakan lagi selama seribu tahun hingga memutih, kemudian dinyalakan lagi selama seribu tahun hingga menghitam, maka api neraka itu hitam lagi gelap.

Hadis ini telah diriwayatkan pula melalui Anas dan ‘Umar ibn-ul-Khaththāb. Dan telah disebutkan di dalam hadis yang ada pada Imām Ahmad melalui jalur Abū Utsmān an-Nahdī, dari Anas, dari Abū Nadhrah al-Ma‘badī, dari Abū Sa‘īd dan Ajlan maulā al-Musyma‘īl, dari Abū Hurairah, dari Nabi s.a.w. yang telah bersabda:

إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلَ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلاَنِ يَغْلَى مِنْهُمَا دِمَاغُهُ.

Sesungguhnya ahli neraka yang paling ringan azabnya ialah seseorang yang mengenakan sepasang terompah, yang otaknya mendidih karenanya.

Di dalam kitab Shaḥīḥain disebutkan bahwa Rasūlullāh s.a.w. telah bersabda:

اِشْتَكَتِ النَّارَ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ يَا رَبِّ أَكَلَ بَعْضِيْ بَعْضًا فَأُذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ: نَفَسٌ فِي الشِّتَاءِ وَ نَفَسٌ فِي الصَّيْفِ، فَأَشَدُّ مَا تَجِدُوْنَ فِي الشِّتَاءِ مِنْ بَرْدِهَا وَ أَشَدُّ مَا تَجِدُوْنَ فِي الصَّيْفِ مِنْ حَرِّهَا.

Neraka mengadu kepada Tuhannya, untuk itu ia berkata, “Ya Tuhanku, sebagian dariku memakan sebagian yang lainnya,” maka diberi izin baginya untuk mengeluarkan dua kali hembusan napasnya; sekali di musim dingin dan yang kamu jumpai di musim panas. Maka yang sangat dingin yang kamu jumpai di musim dingin bersumber darinya. Dan panas yang amat terik yang kamu jumpai di musim panas, bersumber dari panasnya.

 

Di dalam kitab Shaḥīḥain disebutkan:

إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوْا عَنِ الصَّلاَةِ فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ

Apabila panas sangat terik, maka tunggulah sampai panasnya menurun dan jangan salat dahulu, karena sesungguhnya panas yang memuncak itu merupakan embusan dari neraka Jahannam.

Demikianlah akhir tafsir sūrat-ul-Qāri‘ah, segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan karunia-Nya.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *