Surah al-Muzzammil 73 ~ Tafsir Nur-ul-Qur’an – Bagian 4

TAFSIR NUR-UL-QUR’AN
(Diterjemahkan dari: Nur-ul-Qur’an: An Enlightening Commentary into the Light of the Holy Qur’an).
Oleh: Allamah Kamal Faqih Imani
Penerjemah Inggris: Sayyid Abbas Shadr Amili
Penerjemah Indonesia: Rahadian M.S.
Penerbit: Penerbit al-Huda

Rangkaian Pos: Surah al-Muzzammil 73 ~ Tafsir Nur-ul-Qur'an

AYAT 17-20.

فَكَيْفَ تَتَّقُوْنَ إِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيْبًا. السَّمَاءُ مُنْفَطِرٌ بِهِ كَانَ وَعْدُهُ مَفْعُوْلًا. إِنَّ هذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيْلًا.

73: 17. Maka bagaimana kamu dapat menghindari hukuman jika kamu tidak beriman kepada Hari yang membuat anak-anak menjadi beruban.

73: 18. Pada hari langit akan menjadi hancur terbelah dan janji-Nya itu pasti akan terlaksana.

73: 19. Sesungguhnya ini merupakan peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya dia dapat menempuh jalan menuju Tuhannya.

 

TAFSIR

Kata jama‘ wildān, yang bentuk tunggalnya walīd, diterapkan bagi bayi-bayi yang baru lahir. Kata jama‘ ‘Arab syiyb, yang bentuk tunggalnya adalah asyyab, bermakna beruban dan tua. Dua makna dapat dikemukakan untuk ayat ke-17.

1. Dahsyatnya Hari Kiamat akan sedemikian rupa hingga bayi-bayi yang baru lahir pun tumbuh menjadi tua.

2. Hari itu akan begitu lama hingga anak-anak tumbuh menjadi tua. Namun, ayat tersebut dialamatkan kepada orang-orang kafir yang sezaman dengan Nabi s.a.w., dengan memperingatkan mereka bahwa jika kamu tidak beriman, bagaimana kamu tidak tersentuh dengan siksaan-siksaan keras dari Allah yang membuat anak-anak tumbuh menjadi tua? Siksaan-siksaan yang akan ditimpakan atas para pendosa pada Hari itu demikian dahsyat, keras dan mengerikan hingga “siksaan-siksaan itu akan membuat anak-anak tumbuh menjadi tua.”

Diriwayatkan bahwa sebagian dari siksaan yang mengerikan di dunia ini dapat membuat manusia menjadi beruban secara cepat. Ayat mulia tersebut menyatakan bahwa meskipun kamu kebetulan tidak menderita siksaan-siksaan di dunia ini, seperti Fir‘aun dan kaumnya, apa yang akan kamu perbuat dengan siksaan-siksaan yang akan ditimpakan atas mereka yang tidak taat pada Hari Kiamat?

Ayat ke-18 selanjutnya melukiskan Hari yang mengerikan itu, dengan firman-Nya: Pada hari langit akan menjadi hancur terbelah dan janji-Nya itu pasti akan terlaksana. Banyak ayat al-Qur’ān membahas tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi pada Hari Terakhir di dunia ini dan akhirat termasuk ledakan-ledakan yang mengerikan, gempa bumi-gempa bumi yang keras dan perubahan-perubahan yang terjadi secara spontan. Ayat ini secara singkat membahas perkataan serupa bahwa langit dan benda-benda langit yang berukuran sangat besar tidak akan mampu menahan peristiwa-peristiwa luar biasa besar yang terjadi pada Hari itu; lalu bagaimana mungkin manusia yang lemah dan rentan akan mampu menghalangi peristiwa-peristiwa itu? Frase ‘Arab infithār bermakna hancur terbelah.

Ayat ke-19 menunjukkan peringatan-peringatan terlebih dahulu, dengan firman-Nya: Ini merupakan peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya dia dapat menempuh jalan menuju Tuhannya. Siapa pun yang ingin mendapat petunjuk dan meraih kebahagiaan abadi dapat memilih jalan menuju Tuhannya. Bersikap tak peduli untuk menempuh jalan seperti itu tidak dianggap sebagai keutamaan, karena keutamaan terletak pada manusia yang secara sadar memilih jalan tersebut. Namun, Allah s.w.t. telah menganugerahi manusia dengan jalan tersebut, penglihatan, dan mentari yang bersinar agar mereka mampu memilih jalan yang lurus dari taat kepada perintah-perintah Allah secara sadar.

Sejumlah tafsir yang berbeda dikemukakan oleh para mufassir mengenai kalimat “Ini merupakan peringatan”. Sebagian mufassir mengemukakan bahwa kalimat tersebut menjelaskan peringatan-peringatan pada ayat-ayat sebelumnya. Sebagian lainnya berpendapat bahwa kalimat tersebut menjelaskan surah al-Muzzammil atau al-Qur’ān secara keseluruhan. Sebagian mufassir lainnya juga berpendapat kalimat tersebut mungkin menjelaskan perintah Allah tentang mendirikan shalat sunnah malam, sebagaimana dijelaskan pada ayat-ayat pembuka dari surah al-Muzzammil, yang dialamatkan kepada Nabi s.a.w. Namun demikian, kalimat-kalimat itu bersifat generalisasi terhadap seluruh kaum muslimin. Karenanya, kata “jalan” (sabīl) yang disebutkan pada kalimat berikut juga menyiratkan shalat sunnah malam sebagai jalan yang tepat menuju Tuhan.

Akhirnya, ayat-ayat ini memperingatkan para pendusta arogan yang mabuk dengan kekayaan dan kenikmatan tentang empat siksaan yang pedih: belenggu-belenggu, api yang membakar, makanan yang kasar, menyumbat tenggorokan dan mematikan, dan berbagai jenis siksaan yang berbeda sekali dengan kenikmatan di dunia ini, setelah mereka memanfaatkan kebebasan tanpa batas, kehidupan menyenangkan, makanan lezat dan kesenangan dalam berbagai bentuk. Karena mereka memanfaatkan segala kenikmatan ini dengan melakukan kezaliman, kesombongan, kelalaian dan ketidaktaatan kepada Allah s.w.t. maka mereka akan mengalami nasib mengerikan seperti itu pada Hari Kiamat.

 

AYAT 17-19.

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُوْمُ أَدْنَى مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَ نِصْفَهُ وَ ثُلُثَهُ وَ طَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِيْنَ مَعَكَ وَ اللهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَ النَّهَارَ عَلِمَ أَنْ لَّنْ تُحْصُوْهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَؤُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ عَلِمَ أَنْ سَيَكُوْنُ مِنْكُمْ مَّرْضَى وَ آخَرُوْنَ يَضْرِبُوْنَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُوْنَ مِنْ فَضْلِ اللهِ وَ آخَرُوْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ فَاقْرَؤُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ وَ أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ وَ آتُوا الزَّكَاةَ وَ أَقْرِضُوا اللهَ قَرْضًا حَسَنًا وَ مَا تُقَدِّمُوْا لِأَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللهِ هُوَ خَيْرًا وَ أَعْظَمَ أَجْرًا وَ اسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

73: 20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau dan juga sekelompok orang yang bersamamu bangun (mendirikan shalat) di malam hari kurang dari dua pertiga malam, atau separo malam atau sepertiga malam. Dan Allah menetapkan ukuran-ukuran malam dan siang. Dia mengetahui bahwa kamu tidak akan mampu untuk menentukan batas-batas waktu itu, lalu Dia memberi keringanan atas kamu, maka bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur’ān. Dia mengetahui bahwa ada di antara kamu orang-orang yang sakit, ada di antara kamu orang-orang yang mengadakan perjalanan di bumi untuk mencari sebagian dari karunia Allah, dan ada pula orang-orang yang berperang di jalan Allah. Karena itu, bacalah apa yang mudah bagimu dari al-Qur’ān, dan dirikanlah shalat, bayarlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik (membelanjakan harta di jalan Allah). Dan (ketahuilah bahwa) apa pun perbuatan baik yang telah kamu lakukan bagi dirimu, niscaya kamu mendapatinya di sisi Allah dengan balasan yang lebih baik dan lebih besar. Dan mohonlah ampunan Allah; sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

TAFSIR

Ayat ini memperingatkan kaum muslim agar jangan arogan, memerintahkan kepada mereka melakukan perbuatan-perbuatan baik seperti mendirikan shalat malam, membaca ayat-ayat al-Qur’ān dan menolong orang-orang yang miskin, karena mereka masih perlu berdoa kepada Allah s.w.t. agar Dia mengampuni dosa-dosa mereka. Ayat ini menjelaskan bahwa meneteskan air mata pada shalat malam, melakukan jihad di siang hari, menolong orang-orang yang miskin, membaca ayat-ayat al-Qur’ān, melakukan perjalanan-perjalanan bisnis dan melakukan amalan-amalan saleh harus diikuti dengan memohon kepada Allah untuk mengampuni dosa-dosanya.

Ayat-ayat sebelumnya mendesak kaum muslim untuk bangun mendirikan shalat di sepertiga, separo, atau dua pertiga dari malam. Ayat ini menyatakan bahwa menetapkan ukurannya sangat sulit karena berada di luar kemampuan kamu; karenanya, Allah s.w.t. mengampunimu, tapi kamu boleh bangun untuk shalat, mendirikan shalat-shalat sunnah dan membaca ayat-ayat al-Qur’ān yang mudah bagimu, terutama ketika kamu sakit atau sedang melakukan perjalanan (jauh).

Diriwayatkan dan Imām Ridhā a.s. yang berkata: “Bacalah al-Qur’ān dengan kerendahan dan kebersihan hati kamu.” (2551)

Melakukan perjalanan bisnis dan melakukan perjalanan yang bertujuan jihad diletakkan sejajar pada ayat tersebut, tetapi yang pertama bermakna duniawi dan yang kedua bermakna ukhrawi. Diriwayatkan bahwa jika seorang pedagang mengingat Allah s.w.t. di seluruh waktu serta menjauhkan diri dari berbuat curang, dari menimbun barang dagangan, dari menjual kurang dari ukuran semestinya dan dari menjual dengan harga lebih tinggi yang diharamkan, maka dia itu ibarat seorang pejuang yang memasuki medan tempur untuk membunuh musuh dan menjaga keamanan. (2562).

Membaca ayat-ayat al-Qur’ān bukan merupakan kewajiban agama, tapi sangat dianjurkan di sini sehingga perintah Allah tentang membaca al-Qur’ān itu diulang dua kali dan dengan perhatian khusus. Patut diperhatikan bahwa perintah-perintah Allah itu selaras dengan kapasitas manusia dan perintah-perintah itu tidak pernah menimbulkan kesulitan. Berkaitan dengan hal ini, orang-orang yang sakit seharusnya melakukan tayamum dengan tanah atau pasir sebagai pengganti berwudhu’ dengan air dan mereka dapat mendirikan shalat dengan cara yang mudah bagi mereka. Orang-orang yang sakit tidak diharuskan untuk berpuasa, tapi diperintahkan untuk menolong orang-orang yang miskin dengan memberikan sejumlah uang atau sejumlah barang sebagai tanda membayar kafarat.

Ayat tersebut menyatakan bahwa Allah s.w.t. Maha Mengetahui bahwa kamu tidak dapat membuat perhitungan yang tepat; sebagai akibatnya, Dia mengampuni kesalahan-kesalahanmu. Intinya adalah bahwa kewajiban-kewajiban yang Allah tetapkan pasti mudah bagi manusia dan kewajiban-kewajiban itu tidak pernah menimbulkan kesulitan. Kalimat ‘Arab tabā ‘alaykum (secara harfiah: “Dia telah berpaling kepadamu”), menurut mayoritas mufassir al-Qur’an, lebih bermakna meringankan kewajiban daripada bermakna “menerima tobat terhadap dosa-dosa seseorang”. Juga dapat dikemukakan bahwa ketika kewajiban dihapus, maka tidak ada dosa jika (hal itu) tidak dilakukan; itu sama dengan pengampunan Allah.

Disebutkan empat perintah Allah lainnya pada penutup ayat tersebut yang menyempurnakan rancangan tentang penyucian diri, dengan firman-Nya: Dirikanlah shalat, bayarlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik (membelanjakan harta di jalan Allah). Dan (ketahuilah bahwa) apa pun perbuatan baik yang telah kamu lakukan bagi dirimu, niscaya kamu mendapatinya di sisi Allah dengan balasan yang lebih baik dan lebih besar. Dan mohonlah ampunan Allah, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Empat kewajiban ini, yaitu mendirikan shalat, membayar zakat dan membelanjakan harta di jalan Allah, memohon ampunan Allah s.w.t., serta membaca ayat-ayat al-Qur’an dan merenungkannya, sebagaimana disebutkan di atas, merupakan rancangan sempurna yang bertujuan untuk penyucian diri dan perkembangan spiritual, dan mengisyaratkan tentang kaum beriman di zaman mana pun, terutama saat permulaan Islam.

Mendirikan shalat di sini menyiratkan shalat-shalat wajib yang dilaksanakan lima kali sehari. Yang dimaksud dengan zakat di sini adalah membayarkan zakat wajib. Selanjutnya, meminjamkan Allah s.w.t. dengan pinjaman yang baik (qardh al-ḥasanah) bermakna mengeluarkan sedekah di jalan Allah. Ungkapan “meminjamkan Allah dengan pinjaman yang baik” merupakan ungkapan yang sangat mulia dan luar biasa, karena Allah s.w.t. adalah Pemilik seluruh harta kekayaan dan Dia sama sekali tidak perlu meminta orang lain untuk memberi-Nya pinjaman. Namun dengan cara demikianlah Dia mendorong kaum beriman untuk membelanjakan harta mereka, berkorban di jalan-Nya dan memperoleh keutamaan dengan melakukan perbuatan mulia itu, serta menempuh jalan perkembangan spiritual dan mencapai kesempurnaan.

Patut diperhatikan bahwa ungkapan memohon ampunan Allah s.w.t., yang disebutkan pada penutup dari perintah-perintah Allah di atas, mungkin menjelaskan bahwa dengan melaksanakan perintah-perintah itu, manusia tidak mungkin merasa sempurna, dan bahwa Allah s.w.t. telah terutang sesuatu padanya. Sebaliknya, dia seharusnya menganggap dirinya lalai di seluruh waktu dan bertobat kepada-Nya. Tidak ada orang yang mampu memuji-Nya dengan pujian yang paling pantas. Sebagian mufassir berpendapat bahwa saat menegaskan perintah-perintah ini, Allah menjelaskan bahwa kaum beriman tidak mengira bahwa meringankan kewajiban mendirikan shalat dan membaca ayat-ayat al-Qur’ān di malam hari tidak berlaku bagi agama lainnya. Kewajiban-kewajiban (di dalam) agama lainnya (dari umat-umat sebelum Islam) menempati jalannya sendiri-sendiri. Maksudnya kewajiban-kewajiban agama lainnya tidak boleh dikurangi atau diringankan. (2573).

Ya Allah! Anugerahilah kami semua kenikmatan untuk bangun mendirikan shalat malam, membaca al-Qur’ān dan menempuh jalan perkembangan spiritual dalam naungan cahaya surga-Mu!

 

Catatan:


  1. 255). Majma‘-il-Bayān, tentang ayat ini. 
  2. 256). Tafsir-ud-Durr-il-Mantsūr. 
  3. 257). Tafsīr-ul-Mīzān, jil. 20, hal. 156. 

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *