Surah al-Mulk 67 ~ Tafsir Sayyid Quthb (5)

Dari Buku:
Tafsīr fi Zhilāl-il-Qur’ān
Oleh: Sayyid Quthb
 
Penerbit: Gema Insani

Rangkaian Pos: Surah al-Mulk 67 ~ Tafsir Sayyid Quthb

Allah menjadikan bumi mudah bagi manusia dengan menjadikan untuknya gaya tarik (gravitasi) yang mengikat (menarik) mereka ke bumi di tengah-tengah gerakannya yang sangat besar, sebagaimana Dia menjadikan untuknya tekanan udara dalam kadar tertentu yang memudahkan gerakan di atasnya. Seandainya tekanan udara ini lebih berat dari yang ditetapkan, niscaya akan menimbulkan kesulitan bagi manusia untuk berjalan dan berpindah-pindah (sesuai dengan tingkat tekanan udaranya) yang mungkin akan melemparkannya ke tempat yang jauh atau menghambatnya. Seandainya lebih ringan dari itu, niscaya akan menyebabkan langkah-langkah manusia tidak stabil, senantiasa goyah, dan sempoyongan. Atau, akan muncul lubang-lubang karena bertambahnya tekanannya atas tekanan udara di sekitarnya, sebagaimana yang terjadi pada tingkatan udara yang tinggi dengan tanpa ada pengaturan tekanan udara.

Allah menjadikan bumi ini mudah dengan membentangkan hamparannya dan membuat tanahnya demikian lunak di atas permukaannya. Seandainya permukaan bumi ini berupa batu yang keras sebagaimana diperkirakan oleh ilmu pengetahuan setelah dinginnya dan membekunya, niscaya akan sulit bagi manusia berjalan di atasnya dan sulit bagi tumbuh-tumbuhan untuk tumbuh. Akan tetapi, unsur-unsur udara, hujan, dan lain-lainnya menggemburkan kerak bumi yang keras ini. Dengan demikian, Allah menjadikan tanah ini subur dan layak bagi kehidupan. Lalu, ditumbuhkannya tumbuh-tumbuhan dan rezeki-rezeki yang dapat dinikmati oleh para penumpang kendaraan yang penurut (penghuni bumi) ini.

Allah menjadikan bumi ini mudah dengan menjadikan angkasa yang melingkupinya mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan oleh kehidupan, dengan neraca yang amat halus. Seandainya hal ini mengalami kerusakan, niscaya tidak akan dapat berlangsung kehidupan yang sudah ditentukan harus sesuai dengan ketentuan pokok ini (yakni dengan komposisi udara yang sudah baku ini). Yaitu, dengan kadar oksigen 21%, nitrogen 78%, dan sisanya yang terdiri dari karbondioksida 3/10.000 dan unsur-unsur lainnya. Komposisi ini merupakan suatu ketetapan baku bagi berlangsungnya kehidupan di muka bumi.

Allah menjadikan bumi ini mudah dengan beribu-ribu kesesuaian unsur penting bagi keberlangsung an kehidupan… Di antaranya adalah ukuran fisik bumi, matahari, dan bulan, jarak jauhnya bumi dari matahari dan bulan, derajat panasnya matahari, kondisi kulit bumi yang demikian, tingkat kecepatannya, kemiringan porosnya, perbandingan airnya dan kekeringannya, tebal tipisnya udara yang menyelimutinya dan sebagainya. Keserasian komposisi semua inilah yang menjadikan bumi ini mudah, menjadi sumber rezeki, dan mentolerir adanya kehidupan-kehidupan manusia secara khusus.

Nash al-Qur’ān mengisyaratkan hakikat-hakikat ini supaya dapat direnungkan oleh setiap orang dan setiap generasi menurut kadar kemampuannya. Juga menurut kadar pengetahuan dan percobaan yang dapat dicapainya, untuk merasakan adanya tangan Allah yang mengaturnya dan mengendalikan segala sesuatu di sekitarnya. Karenanya, bumi menjadi mudah, dan saling memelihara antara satu unsur dengan unsur yang lain. Seandainya tertunda sebentar saja pemeliharaan itu, niscaya akan rusaklah seluruh alam ini dan hancurlah siapa dan apa saja yang ada padanya.

Apabila hati manusia telah menyadari hakikat yang besar ini, maka al-Khāliq Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang memperkenankannya berjalan di segala penjurunya dan memakan rezeki-Nya yang ada padanya.

…Maka, berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya….” Penjuru-penjuru yang mendaki atau yang mendatar. Apabila Allah telah mengizinkannya untuk berjalan di semua penjurunya, berarti Dia telah mengizinkannya untuk berjalan di dataran-dataran rendahnya dan padang luasnya. Apabila Dia telah mengizinkan berjalan di tempat-tempat yang terang, maka Dia juga mengizinkan di tempat-tempat yang mudah.

Rezeki yang ada di bumi, semuanya adalah ciptaan-Nya dan termasuk di dalam kerajaan-Nya. Materi rezeki itu lebih luas jangkauannya di dalam pikiran manusia daripada kata “rezeki” itu sendiri. Maka, rezeki itu bukanlah hanya harta yang diperoleh seseorang di tangannya yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhannya dan dinikmatinya. Tetapi, rezeki itu adalah segala sesuatu yang ditaruh Allah di bumi ini, termasuk sarana prasarana rezeki dan kandungan-kandungannya, yang pada dasarnya kembali kepada tabiat pembuatan bumi dari unsur-unsurnya dan tabiat pembagian unsur-unsur ini dengan komposisinya tersebut. Ditambah lagi dengan potensi yang diberikan Allah kepada tumbuh- tumbuhan, binatang, termasuk manusia untuk memanfaatkan unsur-unsur ini.

Secara ringkas dapat kami kemukakan mengenai poin-poin hakikat rezeki dalam pengertian ini, sebagai berikut.

Kehidupan setiap tumbuhan, seperti sudah diketahui, bertumpu pada kadar-kadar yang hampir paling kecil dari karbondioksida yang ada di udara, dan dapat dikatakan bahwa ia bernapas dengannya. Akan tetapi, dapat kami jelaskan proses kimiawi tentang pencampuran zat-zat ini dengan sinar mata hari dengan penjelasan di bawah ini.

“Daun-daun pohon adalah sebagai paru-paru, dan dengan sinar matahari ia dapat membagi karbondioksida yang keras itu menjadi karbon dan oksigen. Dengan kata lain, ia mengeluarkan oksigen dan menyerap karbon. Ia menyatu dengan hidrogen yang diperoleh tumbuhan dari akar-akarnya (karena air sampai ke hidrogen dan oksigen). Dengan proses kimiawi yang menakjubkan, unsur-unsur ini diubah menjadi zat gula atau seliloza dan materi-materi kimiawi lain yang bermacam-macam, buah, dan bunga-bunga. Tumbuhan itu menyerap makanan untuk dirinya dan menghasilkan makanan bagi binatang-binatang di muka bumi. Pada waktu yang sama, tumbuhan itu mengeluarkan oksigen yang digunakan bernapas dan yang tanpa adanya oksigen ini maka kehidupan hanya akan berlangsung tidak lebih dari lima menit.

Kita dapati juga bahwa segala tumbuhan, hutan belukar, rerumputan, tiap-tiap potongan lumut, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan air tanaman, terbentuk dari karbon dan zat air secara khusus. Makhluk-makhluk hidup mengeluarkan karbondioksida, sedangkan tumbuh-tumbuhan mengeluarkan oksigen. Kalau proses ini tidak berlangsung, maka kehidupan makhluk-makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan itu pada akhirnya akan kehabisan oksigen atau karbondioksida. Apabila keseimbangan ini telah hilang total, maka musnahlah tumbuh-tumbuhan dan matilah manusia dalam waktu dekat. Dengan demikian, akhirnya terungkaplah bahwa keberadaan karbondioksida dengan kadarnya yang kecil itu merupakan sesuatu yang sangat vital bagi kehidupan sebagian besar makhluk hidup, sebagaimana juga terungkap bahwa tumbuh-tumbuhan juga memerlukan sebagian oksigen.

Juga tentang hidrogen, meskipun kita tidak bernapas dengannya. Akan tetapi, tanpa adanya hidrogen maka tidak akan ada air. Bagi makhluk hidup atau tumbuh-tumbuhan, air itu sangat diperlukan, tidak dapat tidak.” (al-‘Ilmu Yad’ū lil-Īmān: 70-71) Kemudian, peranan azote atau nitrogen di dalam kerezekian bumi ini juga sangat penting.

“Tanpa nitrogen, dalam bentuk apa pun, tidak akan dapat tumbuh tanaman pangan apa pun. Salah satu sarana masuknya nitrogen ke dalam tanah pertanian ialah melalui aktivitas jasad-jasad renik “bakteri” tertentu yang bertempat pada akar tumbuhan kacang-kacangan seperti pada semanggi, himmash (chickpea-Ing), kacang polong hijau, kacang tanah, dan lain-lainnya. Bakteri-bakteri ini menyerap nitrogen udara dan mengubahnya menjadi senyawa nitrogen yang dapat diserap oleh tumbuhan. Apabila tumbuhan itu mati, maka sebagian dari senyawa nitrogen ini masih tinggal di tanah.

Ada cara lain masuknya nitrogen ke dalam tanah, yaitu melalui embusan halilintar. Setiap kali cahaya bersinar di celah-celah udara, maka ia mempersatukan sedikit oksigen dan nitrogen, kemudian diturunkan oleh hujan ke bumi seperti senyawanitrogen.” (al-‘Ilmu Yad’ū lil-Īmān: 76-77)

(Yakni dalam bentuk yang dapat diserap oleh tumbuh-tumbuhan, karena tumbuh-tumbuhan tidak dapat menyerap nitrogen yang murni dari udara yang kadarnya sekitar 78% sebagaimana sudah kami kemukakan).

Rezeki-rezeki yang tersimpan di dalam perut bumi seperti tambang-tambang, semua medianya kembali kepada tabiat pembuatan bumi beserta kondisi yang menyelimutinya. Kami tidak akan menguraikannya panjang lebar, karena rezeki dalam penjelasan sepintas ini lebih luas wujudnya daripada apa yang dipahami manusia dari kata ini sendiri. Juga lebih dalam sebab-sebabnya di dalam sistem kejadian bumi dan sistem alam itu sendiri. Ketika Allah mengizinkan manusia untuk memakannya, maka Dia mengaruniai mereka dengan menundukkannya buat mereka dan memudahkan pencarian rezeki itu, sebagaimana Dia memberikan kepada mereka kemampuan untuk mendapatkan dan memanfaatkannya. “…Maka, berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya….

Akan tetapi, rezeki ini terbatas masanya dengan ketentuan yang ditetapkan dalam ilmu Allah dan di pengaturan-Nya, sebagai masa ujian dengan ke matian dan kehidupan. Juga terbatas oleh segala yang dimudahkan Allah bagi manusia dalam kehidupan ini. Apabila masa ujian ini telah habis, maka datanglah kematian dengan segala rangkaian kejadiannya setelah itu.

…Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (al-Mulk: 15) Hanya kepada-Nya… hanya kepada Allah…. Nah, ke mana lagi kalau bukan kepada-Nya? Sedangkan, segala kerajaan ada di tangan-Nya. Tidak ada tempat lari dari-Nya melainkan kepada-Nya. Dan, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

 

Jangan Terlena

Sekarang bumi yang tenang ini dapat saja bergerak dari bawah kaki mereka dengan berbagai guncangan, dan udara yang ada sekitar mereka dapat saja berubah menjadi badai yang menerpa wajah dan dada mereka. Goncangan bumi ini terasakan dalam perasaan mereka dan angin badai pun terasa terpaannya dalam pandangan dan pikiran mereka. Hal ini supaya mereka sadar dari kelengahannya karena keamanan dan kestabilan yang mereka rasakan selama ini. Juga agar mereka mengarahkan pandangannya ke langit dan ke alam gaib, dan supaya menggantungkan hatinya kepada qadar Allah.

أَأَمِنْتُمْ مَّنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُوْرُ. أَمْ أَمِنْتُمْ مَّنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُوْنَ كَيْفَ نَذِيْرِ. وَ لَقَدْ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيْرِ.

Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Atau, apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Maka, kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku. Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka, alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.” (al-Mulk: 16-18)

Manusia yang hidup di punggung makhluk yang penurut ini, dan mengais rezeki Allah padanya untuk mendapatkan bagian tertentu, tentunya mereka mengerti bagaimana makhluk (bumi) ini bisa berubah menjadi makhluk yang tidak mudah dan tidak produktif lagi, pada suatu waktu. Yakni ketika Allah mengizinkannya untuk bergoncang sedikit, lalu berantakanlah segala sesuatu yang ada di atasnya!

Bergoncanglah segala sesuatu yang ada di atasnya, dan tidak ada satu pun kekuatan yang dapat menahannya. Misalnya saja dengan gempa bumi dan gunung meletus, yang memunculkan binatang liar (11) yang tersembunyi dalam bumi yang mudah dan penurut selama ini. Bumi yang dikendalikan kekangnya oleh Allah hingga tidak binal kecuali kalau sudah ditakdirkan, dan tidak meronta-ronta kecuali hanya beberapa menit saja yang sudah dapat menghancurkan segala sesuatu yang menenggelamkan manusia yang ada di atasnya, atau menelannya ke dalam perutnya ketika ia sudah membuka salah satu mulutnya dan melongsorkan sebagian darinya. … Bumi bergoncang. Manusia tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan sedikit pun untuk mencegah dan menghalanginya.

Dalam menghadapi gempa bumi, gunung meletus, dan tanah longsor ini, manusia bagaikan tikus-tikus kecil yang terperangkap dalam sangkar ketakutan. Padahal, ketika suasananya aman, mereka lupa dan lalai terhadap kekuasaan besar yang memegang kendalinya!

Manusia juga menyaksikan topan dan badai yang merusak dan menghancurkan, membakar dan menyambar-nyambar, yang dalam menghadapi semua ini tampaklah mereka sebagai makhluk yang lemah tak berdaya, dengan segenap pengetahuan dan tindakan mereka. Ketika topan dan angin badai itu menerpa dan menerbangkan batu-batu kerikil, dan menyapu segala sesuatu yang ada di darat dan di laut atau udara, maka manusia berhenti di hadapannya sebagai makhluk yang kecil, kerdil, dan tak berdaya hingga Allah memegang kendalinya (bumi) sehingga ia reda dan lemah!

Al-Qur’ān mengingatkan manusia yang tertipu oleh ketenangan bumi dan kepenurutannya, dan keterpedayaan mereka oleh keamanannya hingga melupakan Yang Menciptakannya dan Yang Menjinakkannya. Al-Qur’ān mengingatkan mereka akan kebinalan-kebinalannya yang mereka sama sekali tidak berkuasa mengendalikannya. Bumi yang tenang di bawah kaki mereka ini dapat saja bergoyang dan bergoncang, menyemburkan air panas dan pijaran api. Angin yang sepoi-sepoi di sekitar mereka bisa saja berubah menjadi topan dan badai yang tidak satu pun kekuatan dan sarana buatan manusia yang dapat menghentikannya dan mencegahnya dari merusak dan menghancurkan sesuatu…. Mereka diingatkan dengan sesuatu yang menakutkan yang dapat mengguncangkan saraf dan persendian.

...Maka, kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?” (al-Mulk: 17)

Dibuatnya beberapa contoh bagi mereka mengenai realitas manusia dan realitas orang-orang terdahulu yang mendustakan rasul-rasul-Nya dan agama-Nya.

Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka, alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.” (al-Mulk: 18)

Nakīr adalah keingkaran dan kemurkaan dengan segala rangkaian yang mengikutinya. Allah telah murka kepada orang-orang sebelum mereka yang mendustakan agama-Nya. Dia bertanya kepada mereka, “Maka, bagaimana hebatnya kemurkaan-Ku?” karena mereka sudah mengerti apa yang pernah terjadi itu. Kehancuran dan kerusakan itulah yang menjelaskan kepada mereka bagaimana hebatnya kemurkaan Allah, dan bagaimana kehancuran dan kebinasaan yang diakibatkannya.

Keamanan yang diingkari (tidak disukai) Allah atas manusia itu adalah keamanan yang menjadikan mereka lupa kepada Allah, kekuasaan-Nya, dan qadar-Nya. Bukan keamanan yang membawa ketenteraman dan kemantapan hati terhadap Allah, pemeliharaan-Nya, dan rahmat-Nya. Jadi, bukan ini keamanan yang dimurkai-Nya itu. Karena seorang mukmin merasa tenteram hatinya kepada Tuhannya, dia selalu mengharapkan kasih sayang-Nya dan karunia-Nya. Yang demikian ini tidak menjadikannya lengah, lupa, dan tenggelam di dalam gemerlapnya dunia dan kesenangannya, melainkan mengajaknya untuk selalu memperhatikan, malu kepada Allah, takut terhadap kemurkaan-Nya, dan berhati-hati terhadap segala sesuatu yang tersembunyi di dalam qadar-Nya, disertai dengan kepatuhan dan ketenangan jiwa.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan isnadnya dari ‘Ā’isyah r.a., bahwa dia berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah tertawa lepas hingga kulihat anak lidahnya, tetapi beliau hanya tersenyum.” Kata ‘Ā’isyah lagi, “Adalah Rasulullah apabila melihat mendung atau angin, maka tampaklah perubahan di wajahnya. Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang itu apabila melihat mendung, mereka bergembira karena mengharapkan turun hujan. Tetapi, aku lihat engkau apabila melihat mendung itu justru tampak ketidaksenangan di wajahmu? Lalu Rasulullah menjawab,

يَا عَائِشَةُ، مَا يُؤْمِنُنِيْ أَنْ يَكُوْنَ فِيْهِ عَذَابٌ ؟ قَدْ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيْحِ ، وَ قَدْ رَأَى قَوْمٌ اَلْعَذَابَ وَ قَالُوْا : هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا

Wahai ‘Ā’isyah, apakah gerangan yang dapat memberi Jaminan kepadaku bahwa di dalam mendung itu tidak terdapat azab? Dahulu pernah ada kaum yang diazab dengan angin, dan ada pula kaum yang melihat azab tetapi mereka mengatakan, Ini adalah mendung yang akan menurunkan hujan kepada kita.”” (HR Bukhari dan Muslim)

Inilah perasaan yang senantiasa sadar terhadap Allah dan kekuasaan-Nya, dan terhadap kisah-kisah kehidupan yang diceritakan oleh al-Qur’ān. Akan tetapi, hal ini tidak menghilangkan ketenteraman dan harapannya terhadap rahmat Allah dan karunia-Nya.

Catatan:

  1. 1). Kata kiasan untuk makhluk-makhluk, seperti lahar, lava, lapili, dan sebagainya yang ada di dalam perut bumi, yang dilukiskan oleh penulis seakan-akan sebagai binatang. (Penj.)

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *