Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir Sayyid Quthb (3/5)

Dari Buku:
Tafsīr fi Zhilāl-il-Qur’ān
Oleh: Sayyid Quthb
 
Penerbit: Gema Insani

Rangkaian Pos: Surah al-Ma'arij ~ Tafsir Sayyid Quthb

Allah adalah pemilik dakwah yang dihadapi oleh para pendustanya. Dia adalah pemilik janji yang mereka dustakan dan mereka minta segera direalisasikan. Dia menentukan segala peristiwa dan menentukan waktu-waktunya menurut kehendak-Nya sesuai dengan kebijaksanaan dan rencana-Nya terhadap alam semesta. Akan tetapi, manusia tidak mengetahui rencana dan ketentuan itu, lalu mereka meminta disegerakan kedatangan janji-Nya. Apabila waktunya lama, maka mereka menjadi ragu-ragu. Kadang-kadang kegoncangan ini merambat ke dalam diri para pelaku dakwah, dan timbul berbagai pikiran dan angan-angan mengenai penyegeraan realisasi janji dan datangnya apa yang dijanjikan itu. Pada saat seperti ini datanglah pemantapan dan pengarahan dari Allah Yang Maha Mengetahui.

Maka, bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” (al-Ma‘ārij: 5).

Khithāb (firman) ini ditujukan kepada Rasūlullāh s.a.w. untuk memantapkan hati beliau di dalam menghadapi tantangan dan pendustaan orang kafir. Juga untuk menetapkan hakikat lain, ya‘ni bahwa ketentuan Allah terhadap sesuatu urusan berbeda dengan ketentuan manusia, dan ukurannya yang mutlak tidak sama dengan ukuran manusia yang kecil dan kerdil:

Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustaḥīl). Sedangkan, kami memandangnya dekat (pasti terjadi).” (al-Ma‘ārij: 6-7.)

Kemudian, dilukiskanlah pemandangan-pemandangan hari itu dengan ‘adzābnya yang terjadi, yang selama ini mereka pandang jauh kemungkinan terjadinya sedang Allah memandangnya dekat. Dilukiskan pemandangan-pemandangan ini di hamparan alam dan di dalam lubuk hati. Pemandangan yang sarat dengan hal-hal yang menakutkan, mengejutkan, membingungkan, dan menggoncangkan, baik di alam semesta maupun di dalam jiwa.

Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak. Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang beterbangan)” (al-Ma‘ārij: 8-9.)

Al-Muhl adalah luluhan tambang yang kotor seperti kotoran minyak, dan al-‘Ihn adalah bulu-bulu yang beterbangan. Al-Qur’ān menetapkan di surah atau ayat lain bahwa peristiwa-peristiwa alam yang sangat besar akan terjadi pada hari itu, yang akan mengubah aturan-aturan benda-benda alam beserta tuannya. Di antara peristiwa ini adalah langit menjadi seperti luluhan tambang.

Nash ini layak dipikirkan oleh para ahli fisika dan tata surya. Menurut pendapat yang kuat di sisi mereka, benda-benda langit tersusun dari tambang-tambang yang meleleh hingga mencapai derajat gas, yaitu beberapa fase setelah meleleh dan mencair, yang boleh jadi pada hari kiamat akan padam (sebagaimana firman Allah: (وَ إِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْ) “Apabila bintang-bintang berjatuhan” dan akan dingin sehingga menjadi tambang-tambang yang cair. Dengan demikian, berubahlah sifatnya sekarang, yaitu gas atau uap.

Bagaimanapun, itu adalah semata-mata kemungkinan yang sangat bermanfaat bagi para peneliti ‘ilmu-‘ilmu ini untuk memikirkan dan merenungkannya. Adapun kami hanya berhenti pada nash ini saja di dalam mengikuti pemandangan yang menakutkan itu di mana langit menjadi seperti luluhan tambang yang kotor, dan gunung-gunung menjadi seperti bulu-bulu yang beterbangan. Di balik kini kita merasakan hal yang menakutkan dan membingungkan di dalam hati, sehingga diungkapkan oleh al-Qur’ān dengan ungkapan yang mendalam:

Tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya, sedang mereka saling melihat. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari ‘adzāb hari itu dengan anak-anaknya, istrinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia), serta orang-orang di atas bumi seluruhnya. Kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” (al-Ma‘ārij: 10-14.)

Manusia pada hari itu dalam kesedihan yang luar biasa, hingga tidak ada seorang pun yang memperhatikan orang lain, dan sudah tidak ada perasaan yang tertuju kepada orang lain:

Dan tidak ada seorang teman akrab pun menanyakan temannya” (al-Ma‘ārij: 10.)

Suasana yang menakutkan itu telah memutuskan semua hubungan, dan menahan setiap orang untuk memperhatikan dirinya sendiri saja, tanpa merambah orang lain. Padahal, mereka saling melihat, seakan-akan mereka sengaja bersikap begitu. Akan tetapi, masing-masing mereka merasa sedih dan setiap hati sibuk sendiri-sendiri. Sehingga, tidak ada seorang teman pun yang tergerak hatinya untuk menanyakan keadaan temannya dan tidak ada seorang pun yang meminta tolong kepada yang lain. Kesusahan menimpa semuanya dan ketakutan mengelayuti semuanya.

Maka, bagaimana lagi keadaan “orang yang berdosa”? Ketakutan menerpa perasaannya dan melanda jiwanya. Sehingga, seandainya dapat menebus dirinya dari ‘adzāb hari itu dengan orang-orang yang paling dihormati dan disayangi sekalipun, ia akan melakukannya. Padahal, dalam kehidupan dunia sebelumnya, ia rela mengorbankan diri untuk membela dan melindungi mereka secara timbal-balik dan hidup untuk mereka. Bahkan, karena keinginannya yang sangat besar untuk selamat, maka ia kehilangan perasaannya terhadap orang lain secara mutlak. Sehingga, ia ingin menjadikan seluruh manusia sebagai penebus dirinya, asalkan dapat menyelamatkannya.

Inilah gambaran kesedihan yang luar biasa, ketakutan yang membingungkan, dan keinginan yang menggebu-gebu untuk melepaskan diri! Gambaran yang penuh dengan ketakutan, kesedihan, dan kesusahan, yang terbayang dari celah-celah pengungkapan al-Qur’ān yang mengesankan.

Ketika si pendosa dalam keadaan yang demikian, menghadapi siksaan yang akan ditimpakan, ia mendengarkan kalimat yang memutuskan segala harapan, atau mendengar semua perkataan yang menipu dari dalam jiwa, sebagaimana semua orang mendengar hakikat keadaan hari itu dengan segala sesuatu yang terjadi padanya:

Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak, yang mengelupaskan kulit kepala, dan memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama), serta (memanggil orang yang) mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya. (al-Ma‘ārij: 15-18.)

Sungguh ini merupakan pemandangan yang menjadikan jiwa terbang berserakan, setelah dibingungkan oleh kesedihan dan ketakutan saat itu. “Sekali-kali tidak dapat!” Ini sebuah kalimat untuk menyanggah angan-angan dan keinginan yang mustaḥīl terwujūd, untuk menebus diri dengan anak-anak, istri/suami, saudara, keluarga, dan semua orang di muka bumi. “Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak”. Api yang bergejolak dan membakar. “Yang mengelupaskan kulit kepala”, mengelupaskan kulit dari wajah dan kepala, suatu kerusakan yang menakutkan.

Seakan neraka itu punya jiwa yang hidup, yang turut serta menakut-nakuti dan menyiksa, dengan kehendaknya: “Dan memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama), serta (memanggil orang yang) mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya.” Neraka memanggilnya, sebagaimana ia dulu dipanggil untuk menerima petunjuk, tetapi ia membelakang dan berpaling. Akan tetapi, pada hari kiamat ini yang memanggilnya adalah neraka Jahannam, dan ia tidak mampu lagi untuk membelakang dan berpaling. Dahulu ia sibuk dengan mengumpulkan harta dan menyimpannya di dalam bejana (brankas dan sebagainya) sehingga tidak menghiraukan seruan-seruan dakwah. Namun, sekarang seruan ini datangnya dari neraka dan ia tidak dapat lagi mengabaikannya. Ia tidak dapat menebus dirinya dengan segala sesuatu yang ada di bumi ini.

Taukīd “penegasan” di dalam surah ini dan surah sebelumnya, demikian juga dalam surah al-Qalam mengenai keengganannya berbuat baik dan tidak maunya menganjurkan manusia untuk memberi makan kepada orang-orang miskin, serta sibuk mengumpulkan harta dan kekayaan di dalam bejana-bejana di samping kekafiran, pendustaan, dan kemaksiatannya, menunjukkan bahwa dakwah di Makkah itu menghadapi suasana khusus. Di sana berkumpul menjadi satu sifat-sifat bakhil, rakus, keinginan kepada kekafiran, kebohongan, dan kesesatan. Sehingga, hal ini memerlukan pengulangan isyārat terhadap kondisi tersebut, dan perlu menakut-nakuti akibatnya. Karena, ia pasti mengundang datangnya ‘adzāb setelah mereka kafir dan mempersekutukan Allah.

Di dalam surah ini terdapat beberapa isyarat lain yang menunjukkan ma‘na tersebut, dan menegaskan karakteristik lingkungan Makkah yang dihadapi dakwah Islām saat itu. Makkah saat itu disibukkan dengan aktivitas mengumpulkan harta dan menumpuk kekayaan melalui perdagangan dan praktik riba. Pembesar-pembesar Quraisy adalah para pemilik perdagangan-perdagangan ini dan pemilik kafilah-kafilah yang selalu membawa barang dagangannya pada waktu musim dingin dan musim panas. Mereka melakukan persaingan ketat untuk mendapatkan kekayaan. Jiwa-jiwa mereka sangat kikir hingga menjadikan orang-orang miskin terhalang, dan anak-anak yatim terabaikan.

Karena itu, diulang-ulanglah penyebutan urusan ini, dan berulang-ulang pula peringatan dan kecaman yang diberikan. Naungan dan bayang-bayang al-Qur’ān mengobati kerakusan dan ketamakan ini, dan melancarkan serangan terhadap kedua hal itu di dalam lubuk jiwa manusia baik sebelum Fatḥu Makkah maupun sesudahnya.

Hal itu tampak jelas bagi orang yang memperhatikan pelarangan riba, larangan memakan harta orang lain dengan cara yang bāthil, larangan memakan (mempergunakan) harta anak-anak yatim dengan boros dan foya-foya agar segera habis sebelum anak yatim itu menginjak dewasa, dan larangan berlaku aniaya terhadap anak-anak wanita yatim dan memaksanya kawin secara sewenang-wenang karena hendak mendapatkan hartanya. Juga larangan dari membentak si miskin peminta-minta, menekan anak yatim, dan menghalangi orang-orang miskin dari mendapatkan sedekah dan infāq, serta sikap yang keras dan kasar lain yang menunjukkan karakteristik lingkungan itu.

Nah, al-Qur’ān memang merupakan pengarahan abadi untuk mengobati jiwa manusia dalam semua lingkungannya, untuk mengobati penyakit cinta harta, penyakit rakus, penyakit kikir, penyakit ingin memonopolinya sendiri, dan penyakit-penyakit lain yang senantiasa menggelayuti jiwa manusia dan menawannya dengan ketat. Al-Qur’ān hendak membebaskannya dari tawanan-tawanan ini, dari ikatan-ikatannya, dan dari belenggu di lehernya, dengan memerangi penyakit-penyakit itu secara berkesinambungan dan mengobatinya dalam masa yang panjang.

Kondisi Jiwa Manusia dalam Menghadapi Kesusahan dan Kesenangan.

Selesailah sudah menggambarkan kengerian yang dipampangkan dalam pemandangan hari kiamat dengan segala ‘adzābnya itu. Selanjutnya dilukiskanlah hakikat jiwa manusia di dalam menyikapi kesusahan dan kebaikan atau kesenangan yang dihadapinya, dalam kondisi ketika ada iman dalam jiwa itu dan ditetapkan bagaimana jadinya kelak dan di mana tempat kembalinya orang-orang mu’min dan orang-orang yang penuh dosa:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًا. إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًا. وَ إِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًا. إِلَّا الْمُصَلِّيْنَ. الَّذِيْنَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُوْنَ. وَ الَّذِيْنَ فِيْ أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌ. لِّلسَّائِلِ وَ الْمَحْرُوْمِ. وَ الَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِ. وَ الَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَ. إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍ. وَ الَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حَافِظُوْنَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذلِكَ فَأُوْلئِكَ هُمُ الْعَادُوْنَ. وَ الَّذِيْنَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَ عَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ. وَ الَّذِيْنَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُوْنَ. وَ الَّذِيْنَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ. أُولئِكَ فِيْ جَنَّاتٍ مُّكْرَمُوْنَ.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalāt, mereka tetap mengerjakan shalātnya, orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap ‘adzāb Tuhannya, karena sesungguhnya ‘adzāb Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya); dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki. Maka, sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Juga orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya; orang-orang yang memberikan kesaksiannya; dan orang-orang yang memelihara shalātnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.” (al-Ma‘ārij: 19-35.)

Gambaran manusia ketika hatinya kosong dari iman, sebagaimana digambarkan oleh al-Qur’ān, adalah gambaran yang mengagumkan. Karena, al-Qur’ān menggambarkannya dengan sangat tepat dan lembut. Juga diungkapkannya dengan ungkapan yang sempurna tentang watak asli makhlūq ini, yang tidak ada yang melindunginya dari sifat yang buruk dan menghilangkan sifat tersebut kecuali unsur iman, yang menghubungkannya dengan Sumber yang di sisi-Nyalah ia dapat memperoleh ketenangan. Sumber yang menjadi pegangannya dari kesedihan ketika ia menghadapi keburukan, dan melindunginya dari sifat kikir ketika dia memperoleh kebaikan.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh-kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir.” (al-Ma‘ārij: 19-21.)

Sungguh seakan-akan setiap perkataannya merupakan sebuah sentuhan dari goresan indah yang dibuat untuk melukiskan sifat-sifat manusia, dalam tiga ayat pendek dengan kalimat-kalimat singkat, yang membicarakan gambaran itu dan membicarakan kehidupan. Dari celah-celahnya digambarkanlah manusia dengan sifat-sifat dan ciri-ciri tetapnya. Yaitu, “keluh-kesah” ketika ditimpa kesusahan dan kesedihan. Ia mengira bahwa kesedihannya itu bersifat abadi, kekal, dan tiada yang dapat menghilangkannya. Ia juga mengira bahwa masa-masa yang akan datang itu akan terus menjadi petaka baginya. Maka, dipenuhinya hatinya dengan bermacam-macam kesedihan, keburukan, dan duka nestapa. Sehingga, ia tidak pernah membayangkan bahwa di sana tidak akan ada keterlepasan dari kesedihan ini, dan ia tidak mengharapkan perubahan dari Allah. Karena itu, ia dimakan oleh kesedihan dan dirobek-robek oleh keluh-kesah. Hal itu disebabkan ia tidak berlindung kepada pilar penyangga yang amat kuat bagi azamnya, dan menggantungkan segala cita-cita dan harapan kepada-Nya.

Selain itu, sifat-sifat dan ciri-ciri tetapnya yang lain adalah “sangat kikir” terhadap kebaikan jika ia mendapatkannya. Ia mengira bahwa kebaikan dan keberhasilannya itu adalah karena usaha dan jerih-payahnya sendiri. Karena itu, ia lantas bersikap kikir kepada orang lain, dan memonopoli kekayaan itu untuk pribadinya sendiri. Sehingga, jadilah ia sebagai tawanan bagi kekayaannya, dan menjadi budak dari kerakusannya. Hal ini disebabkan ia tidak mengerti hakikat rezeki dan peranannya. Ia tidak melihat kebaikan Tuhan padanya karena sudah terputus hubungannya, dan hatinya sudah kosong dari merasakan keberadaan dan campur tangan-Nya.

Karena itu, ia selalu berkeluh-kesah dalam kedua kondisinya. Yaitu, berkeluh-kesah di saat susah, dan berkeluh-kesah ketika mendapat kebaikan atau kesenangan. Inilah gambaran buruk manusia ketika hatinya kosong dari iman.

Dengan demikian, tampaklah bahwa iman kepada Allah merupakan masalah yang besar bagi kehidupan manusia. Iman bukan sekadar kata yang diucapkan dengan lisan, dan bukan pula sekadar simbol ‘ubūdiyyah yang diperagakan. Tetapi, iman adalah kondisi jiwa dan manhaj kehidupan, serta pandangan hidup yang sempurna terhadap norma dan nilai, peristiwa-peristiwa, dan semua keadaan.

Ketika hati kosong dari iman yang menegakkan dan meluruskannya ini, maka ia akan senantiasa terombang-ambing, goyah, dan goyang, bagaikan bulu yang diembus angin. Ia akan senantiasa goncang dan takut. Ketika ditimpa kesusahan, ia amat kikir. Adapun jika hati ini disemarakkan dengan iman, maka ia akan senantiasa tenang dan sehat, karena selalu berhubungan dengan sumber segala peristiwa dan pengatur segala keadaan. Ia akan senantiasa tenteram terhadap kekuasaan-Nya, merasakan rahmat-Nya, mampu menerima ujian-Nya, selalu melihat pembebasan-Nya dari kesempitan, dan pemudahan-Nya dari kesulitan. Ia akan selalu menghadap kepada-Nya dengan kebaikan, karena ia tahu bahwa apa yang ia infāqkan itu adalah rezeki dari-Nya, dan kelak ia akan mendapatkan balasan dari apa yang diinfāqkannya di jalan-Nya, di dunia dan di akhirat.

Maka, iman adalah suatu usaha di dunia yang terwujūd hasilnya sebelum mendapatkan balasan di akhirat, yang menimbulkan kegembiraan, ketenangan, kemantapan, dan kestabilan selama perjalanan hidupnya di dunia.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *