Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Qurthubi (6/7)

Tafsir al-Qurthubi

Dari Buku:
Tafsir al-Qurthubi
(Jilid 20 – Juz ‘Amma)
Oleh: Syaikh Imam al-Qurthubi
(Judul Asli: al-Jāmi‘-ul-Aḥkām-ul-Qur’ān)

Penerjemah: Dudi Rosyadi dan Faturrahman
Penerbit PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: Surah al-Ma'arij 70 ~ Tafsir al-Qurthubi
  1. 1.Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Qurthubi (1/7)
  2. 2.Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Qurthubi (2/7)
  3. 3.Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Qurthubi (3/7)
  4. 4.Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Qurthubi (4/7)
  5. 5.Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Qurthubi (5/7)
  6. 6.Anda Sedang Membaca: Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Qurthubi (6/7)
  7. 7.Surah al-Ma’arij 70 ~ Tafsir al-Qurthubi (7/7)

Firman Allah:

فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَ. عَنِ الْيَمِيْنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ عِزِيْنَ. أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍ. كَلَّا إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ.

70: 36. Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu,
70: 37. dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok?
70: 38. Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh keni‘matan?
70: 39. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani).
(Qs. al-Ma‘ārij [70]: 36-39).

Firman Allah ta‘ālā: (فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَ.) “Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu.” Al-Akhfasy berkata: “Bersegera.”

Penyair (1581) berkata:

بِمَكَّةَ أَهْلُهَا وَ لَقَدْ أَرَاهُمْإِلَيْهِ مُهْطِعِيْنَ إِلَى السَّمَاعِ.

Di Makkah, penduduknya, aku pernah melihat mereka,
Bersegeranya kepadanya untuk mendengarkan.”

Makna firman Allah itu adalah: mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu dan duduk di sekitarmu, namun mereka tidak melaksanakan apa yang engkau perintahkan kepada mereka.

Menurut satu pendapat, maknanya adalah: mengapakah orang-orang kafir itu bersegera mendustakanmu.

Menurut pendapat yang lain, maknanya adalah: mengapakah orang-orang kafir itu bersegera (datang) untuk mendengar darimu, supaya mereka dapat mencela dan mencemoohmu.

‘Athiyyah berkata: “(Makna) (مُهْطِعِيْنَ) adalah berpaling.”

Al-Kalbī berkata: “(Maknanya) adalah memandangmu dalam keadaan terheran-heran.”

Qatādah berkata: “(Maknanya) adalah menuju.”

Makna-makna itu hampir sama. Yakni, mengapakah mereka bersegera datang kepadamu, memanjangkan leher mereka, dan memfokuskan pandangan mereka kepadamu, padahal itu adalah pandangan seorang musuh. Lafazh (مُهْطِعِيْنَ) itu di-nashab-kan karena menjadi ḥāl.

Ayat ini diturunkan tentang semua orang munafiq yang mencemooh beliau. Mereka mendatangi beliau, namun mereka tidak beriman kepada beliau. Makna (قِبَلَكَ) adalah “ke arahmu.”

 

Firman Allah ta‘ālā: (عَنِ الْيَمِيْنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ عِزِيْنَ.) “dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok?” Maksudnya, dari kanan dan dari kiri Nabi s.a.w. secara terpisah-pisah dan berkelompok-kelompok. (عِزِيْنَ) adalah kelompok yang terpisah-pisah. Demikianlah yang dikatakan oleh Abū ‘Ubaidah. (1592). Contohnya adalah hadits Nabi s.a.w. yang menyatakan bahwa beliau keluar menuju para sahabatnya, lalu beliau melihat mereka berkelompok-kelompok. Beliau bertanya:

مَا لِيْ أَرَاكُمْ عِزِيْنَ أَلَا تَصُفُّوْنَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا.

Mengapa aku lihat kalian berkelompok-kelompok. Mengapa kalian tidak berbaris sebagaimana malaikat berbaris di sisi Tuhannya.

Mereka bertanya: “Bagaimana malaikat berbaris di sisi Tuhannya?” Beliau bersabda:

يُتمُّوْنَ الصُّفُوْفَ الْأَوَّلَ وَ يَتَرَاصُّوْنَ فِي الصَّفِّ.

Mereka menyempurnakan barisan-barisan yang awal dan mereka merapatkan barisan itu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan yang lainnya.

Penyair berkata:

تَرَانَا عِنْدَهُ وَ اللَّيْلُ دَاجٍعَلَى أَبْوَابهِ حِلْقَا عِزِيْنَا.

Engkau melihat kami di sisinya pada malam yang gelap gulita berada di sisinya,
yakni berada di pintunya, dalam keadaan yang terpisah-pisah dan berkelompok-kelompok.

Maksudnya, tercerai-berai.

Bentuk tunggal (عِزِيْنَ) adalah (عِزَةٌ). Kata ini dijama‘kan dengan tambahan huruf wāu dan nūn sebagai pengganti dari huruf yang dibuang darinya. Asalnya adalah (عِزْهَةُ). Lalu kata ini di-i‘lāl sebagaimana kata (سَنَةٌ) di-i‘lāl, bagi orang-orang yang berpendapat bahwa asalnya adalah (سَنْهَةٌ).

Menurut satu pendapat, asalnya adalah (عِزْوَةٌ), diambil dari kata ‘Azāhu Ya‘zūhu (dia menisbatkan kepadanya), jika dia menyandarkannya kepada orang lain. Dengan demikian, masing-masing pihak dari kelompok-kelompok tersebut disandarkan kepada kelompok yang lainnya. Huruf yang dibuang darinya adalah huruf wāu.

Dalam kitab ash-Shiḥḥāh dinyatakan: (الْعِزَةُ) adalah sekelompok orang. Hufur hā’ (tā’ marbūthah) yang terdapat padanya merupakan pengganti dari huruf yā’. Bentuk jama‘nya adalah (عِزًى) – sesuai dengan wazan (فَعِلَ) – , (عِزُوْن) dan (عُزُوْن) – dengan dhammah huruf ‘ain. Orang-orang ‘Arab tidak mengatakan: (عِزَاتٍ) sebagaimana mereka mengatakan: (ثِبَات).”

Al-Ashma‘ī berkata: “Dikatakan pada rumah-rumah: (عِزُوْن), yakni sekelompok orang.” Firman Allah: (عَنِ الْيَمِيْنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ.) “dari kanan dan dari kiri,” berhubungan dengan lafazh: (مُهْطِعِيْنَ). Namun boleh juga berhubungan dengan lafazh (عِزِيْنَ), sesuai dengan batasan ucapanmu: Akhadztuhu ‘an Zaidin (Aku mengambilnya dari Zaid).

 

Firman Allah ta‘ālā: (أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍ.) “Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh keni‘matan?.” Para mufassir mengatakan bahwa orang-orang kafir itu berkumpul di sekeliling Nabi s.a.w. dan mendengarkan sabdanya, namun mendustakannya, membohonginya, dan mencemooh para sahabatnya. Mereka berkata: “Seandainya mereka (kaum muslimin) akan masuk surga, niscaya kami akan masuk surga sebelum mereka. Seandainya mereka diberikan sesuatu darinya, niscaya kami akan diberikan bagian yang lebih banyak daripada mereka.” Maka turunlah ayat: (أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍ.) “Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh keni‘matan?.

Menurut satu pendapat, orang-orang yang mencemooh itu ada lima kelompok.

Al-Ḥasan, Thalḥah bin Musharrif dan al-A‘raj membaca firman Allah dengan (أَنْ يَدْخُلَ) – yakni dengan fatḥah huruf yā’ dan men-dhammah-kan huruf khā’, yakni dengan bentuk fi‘il yang disebutkan fā‘il-nya. (1603).

Qirā’ah itu juga diriwayatkan oleh al-Mufadhdhal dari ‘Āshim. Adapun yang lain, mereka membaca firman Allah itu dengan (أَنْ يُدْخَلَ), yakni dengan bentuk fi‘il yang tidak disebutkan fā‘il-nya.

 

Firman Allah ta‘ālā: (كَلَّا) “Sekali-kali tidak!” Mereka tidak akan memasukinya. Setelah itu, Allah berfirman kembali: (إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ.) “Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani).” Maksudnya, sesungguhnya mereka mengetahui bahwa mereka diciptakan dari air mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging, sebagaimana Allah menciptakan semua jenis mereka. Dengan demikian, tidak ada keutamaan bagi mereka yang membuat mereka pasti akan mendapatkan surga. Karena sesungguhnya surga itu pasti didapatkan dengan keimanan, amal shalih dan rahmat dari Allah.

Menurut satu pendapat, mereka mencemooh kaum muslimin yang miskin dan sombong terhadap mereka. Allah kemudian berfirman: (إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ.) “Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani),” yakni dari kotoran, sehingga mereka tidak pantas untuk sombong.

Qatādah berkata tentang ayat ini: “Sesungguhnya engkau diciptakan wahai anak cucu Ādam, dari kotoran. Maka bertawakkallah engkau kepada Allah.”

Diriwayatkan bahwa Mutharrif bin ‘Abdillāh bin asy-Syikhkhīr melihat al-Muhallab bin Abī Shufrah berjalan dengan gaya yang sombong karena memakai selendang dan jubah sutera. Mutharrif kemudian berkata kepada al-Muhallab: “Wahai ‘Abdullāh, bukankah gaya berjalan ini yang dibenci oleh Allah?!.” Al-Muhallab berkata: “Apakah engkau mengenaliku?.” Mutharrif menjawab: “Ya, awalmu adalah air mani yang rusak dan akhirmu adalah bangkai yang menjijikkan. Dan engkau, selain itu, membawa kotoran.” Muhallab kemudian pergi dan dia pun meninggalkan gaya jalannya.

Maḥmūd al-Warrāq merangkai syair tentang hal ini, dia berkata:

عَجِبْتُ مِنْ مُعْجِبٍ بِصُوْرَتِهِوَ كَانَ فِي الْأَصْلِ نُطْفَةً مَذِرَهْ
وَ هُوَ غَدًا بَعْدَ حُسْنِ صُوْرَتِهِيَصِيْرُ فِي اللَّحْدِ جِيْفَةً قَذِرَهْ
وَ هُوَ عَلَى تِيْهِهِ وَ نَخْوَتِهِمَا بَيْنَ ثَوْبَيْهِ يَحْمِلُ الْعَذِرَهْ.

Aku merasa heran kepada orang yang bangga akan rupanya,
padahal asalnya adalah sperma yang rusak.
Sementara esok, setelah ketampanan rupanya,
dia akan menjadi bangkai yang menjijikkan di lubang lahad.
Dia dengan kesombongan dan kecongkakannya,
adalah membawa kotoran di antara sepasang pakaiannya.”

Menurut satu pendapat, makna firman Allah itu adalah: (Kami menciptakan mereka) demi sesuatu yang mereka ketahui, yaitu perintah dan larangan, pahala dan siksa.

(Catatan: Ada syair-syair lain yang tidak diterjemahkan – lihat teks bahasa ‘Arabnya).

Catatan:

  1. 158). Bait ini telah dikemukakan pada pembahasan terdahulu. Lih. Bait ini dalam Lisān-ul-‘Arab (entri: Hatha‘a) dan Tafsīr-ul-Māwardī (6/96), dan Fatḥ-ul-Qadīr (5/417).
  2. 159). Lih. Majāz-ul-Qur’ān karyanya (2/270).
  3. 160). Qirā’ah ini bukanlah qirā’ah yang mutawātir. Qirā’ah ini dicantumkan oleh Ibnu ‘Athiyyah dalam al-Muḥarrar-ul-Wajīz (16/117) dan asy-Syaukānī dalam Fatḥ-ul-Qadīr (5/417).
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *