Surah al-Lahab 111 ~ Tafsir Ibni Katsir

Tafsir Ibnu Katsir

Dari Buku:
Tafsir Ibnu Katsir, Juz 30
(An-Nabā’ s.d. An-Nās)
Oleh: Al-Imam Abu Fida’ Isma‘il Ibnu Katsir ad-Dimasyqi

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar L.C.
Penerbit: Sinar Baru Algensindo Bandung

SŪRAT-UL-LAHAB

(Gejolak Api)

Makkiyah, 5 ayat

Turun Sesudah Sūrat-ul-Fatḥ

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, Lagi Maha Penyayang

 

Al-Lahab, ayat 1-5

تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ وَ تَبَّ، مَا أَغْنى عَنْهُ مَالُهُ وَ مَا كَسَبَ، سَيَصْلى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ، وَ امْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ، فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salam, telah menceritakan kepada kami Abu Mu‘awiyah, telah menceritakan kepada kami al-A‘masy, dari Amr ibnu Murrah, dari Sa‘id ibnu Jubair, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi s.a.w. keluar menuju ke Lembah Batha, lalu menaiki bukit yang ada padanya dan berseru: “Awas ada musuh di pagi hari ini!” Maka orang-orang Quraisy berkumpul kepadanya dan beliau bersabda:

أَرَأَيْتُمْ إِنْ حَدَّثْتُكُمْ أَنَّ الْعَدُوَّ مُصْبِحُكُمْ أَوْ مُمْسِيْكُمْ أَكُنْتُمْ تُصَدِّقُوْنِيْ؟ – قَالُوْا: نَعَمْ، قَالَ: – فَإِنِّيْ نَذِيْرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ.

“Bagaimanakah pendapat kalian jika aku sampaikan berita kepada kalian bahwa musuh akan datang menyerang kalian di pagi atau petang hari, apakah kalian akan percaya kepadaku?” Mereka menjawab: “Ya”. Nabi s.a.w. bersabda: “Maka sesungguhnya aku memperingatkan kepada kalian akan datangnya azab yang keras.”

Maka Abu Lahab berkata: “Celakalah kamu ini, karena inikah engkau mengumpulkan kami.” Maka Allah s.w.t. menurunkan firman-Nya:

تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ وَ تَبَّ

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (al-Lahab: 1) hingga akhir surat.

Menurut riwayat yang lain, disebutkan bahwa lalu Abu Lahab menepiskan kedua tangannya seraya berkata: “Celakalah kamu sepanjang hari ini, karena inikah engkau mengumpulkan kami.” Maka Allah s.w.t. menurunkan firman-Nya:

تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ وَ تَبَّ

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (al-Lahab: 1).

Konteks riwayat pertama menunjukkan pengertian kutukan terhadap Abu Lahab, sedangkan konteks riwayat kedua menunjukkan pengertian pemberitaan tentang sikap Abu Lahab. Abu Lahab adalah salah seorang paman Rasulullah s.a.w., nama aslinya ialah ‘Abdul-‘Uzza ibnu ‘Abdul-Muttalib, dan nama kunyahnya (gelarnya) ialah Abu Utaibah. Sesungguhnya dia diberi julukan Abu Lahab tiada lain karena wajahnya yang cerah (yakni merah bagaikan terbakar). Dia adalah seorang yang banyak menyakiti Rasulullah s.a.w. sangat membenci dan meremehkannya serta selalu memojokkannya dan juga memojokkan agamanya.

Imam Ahmad mengatakan: telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Abul-‘Abbas, telah menceritakan kepada kami ‘Abdur-Rahman ibnu Abu Zanad, dari ayahnya yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku seorang lelaki yang dikenal dengan nama Rabi‘ah ibnu ‘Abbas, dari Banid-Dail, pada mulanya dia adalah seorang jahiliah, lalu masuk Islam. Dia mengatakan bahwa ia pernah melihat Nabi s.a.w. bersabda di masa jahiliah di pasar Zul Majaz:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ تُفْلِحُوْا

Hai manusia, ucapkanlah: La ilaha illa Allah (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah), niscaya kamu beruntung.

Sedangkan orang-orang berkumpul mengerumuninya. Dan di belakangnya terdapat seorang yang berwajah cerah, bermata juling, dan rambutnya berkepang. Orang itu mengatakan: “Sesungguhnya dia adalah orang pemeluk agama baru lagi pendusta.” Orang yang berwajah cerah itu selalu mengikuti Nabi s.a.w. ke mana pun beliau pergi. Aku bertanya mengenainya, maka dijawab bahwa orang itu adalah pamannya sendiri, bernama Abu Lahab.

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya pula melalui Syura’ih, dari Ibnu Abu Zanad, dari ayahnya, kemudian disebutkan hal yang semisal. Abu Zanad bertanya kepada Rabi‘ah: “Apakah saat itu engkau masih anak-anak?” Rabi‘ah menjawab: “Tidak, bahkan demi Allah, sesungguhnya aku di hari itu telah ‘aqil lagi dapat mengangkat qirbah.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Husain ibnu ‘Abdullah ibnu ‘Ubaidillah ibnu ‘Abbas yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rabi‘ah ibnu ‘Abbas ad-Daili mengatakan: “Sesungguhnya saat ia bersama ayahnya – telah berusia remaja – melihat Rasulullah s.a.w., mendatangi tiap kabilah, sedangkan di belakang beliau terdapat seorang lelaki yang bermata juling, berwajah cerah (merah bagaikan terbakar), dan berambut lebat. Rasulullah s.a.w. berdiri di hadapan kabilah, lalu bersabda:

يَا بَنِيْ فُلاَنٍ إِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ آمُرُكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْا اللهَ لاَ تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا وَ أَنْ تُصَدِّقُوْنِيْ وَ تَمْنَعُوْنِيْ حَتَّى أَنْفَذَ عَنِ اللهِ مَا بَعَثَنِيْ بِهِ

Hai Bani Fulan, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian aku memerintahkan kepada kalian untuk menyembah Allah dan janganlah kalian persekutukan Dia dengan sesuatu pun, benarkanlah aku dan belalah aku hingga aku dapat melaksanakan semua yang diutuskan oleh Allah kepadaku.

Apabila Rasulullah s.a.w. selesai dari ucapannya, maka lelaki itu berkata dari belakangnya: “Hai Bani Fulan, orang ini menginginkan agar kalian memecat Lata dan ‘Uzza serta jin teman-teman kalian dari kalangan Bani Malik ibnu Aqyasy dan mengikuti bid‘ah dan kesesatan yang disampaikannya. Maka janganlah kalian dengar dan jangan pula kalian ikuti.”

Aku bertanya kepada ayahku: “Siapakah orang ini?” Ayahku menjawab, bahwa dia adalah pamannya yang dikenal dengan nama Abu Lahab. Imam Ahmad dan Imam Thabrani telah meriwayatkan pula dengan lafaz yang sama.

Firman Allah s.w.t.:

تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ وَ تَبَّ

Binasalah kedua tangan Abu Lahab. (al-Lahab: 1).

Yakni merugi, kecewa, dan sesatlah (sia-sialah) amal perbuatan dan usahanya.

وَ تَبَّ

dan sesungguhnya dia akan binasa. (al-Lahab: 1).

Yaitu sesungguhnya dia celaka dan telah nyata merugi dan binasa.

Firman Allah s.w.t.:

مَا أَغْنى عَنْهُ مَالُهُ وَ مَا كَسَبَ

Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. (al-Lahab: 2)

Ibnu ‘Abbas dan lain-lainnya mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah s.w.t.:

وَ مَا كَسَبَ

dan apa yang ia usahakan. (al-Lahab: 2)

Maksudnya, anaknya. Telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari ‘A’isyah, Mujahid, ‘Atha’, al-Hasan, dan Ibnu Sirin.

Telah diriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud, bahwa ketika Rasulullah s.a.w. menyeru kaumnya kepada iman. Abu Lahab berkata: “Jika apa yang dikatakan oleh keponakanku ini benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku kelak di hari kiamat dari azab dengan harta dan anak-anakku.” Maka turunlah firman Allah s.w.t.:

مَا أَغْنى عَنْهُ مَالُهُ وَ مَا كَسَبَ

Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. (al-Lahab: 2)

Adapun firman Allah s.w.t.:

سَيَصْلى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. (al-Lahab: 3)

Yakni neraka yang apinya berbunga, menyala hebatnya, dan sangat membakar.

وَ امْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ

Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. (al-Lahab: 4)

Istri Abu Lahab dari kalangan wanita Quraisy yang terhormat dan termasuk pemimpin kaum wanitanya bernama Ummu Jamil, nama aslinya ialah Arwah binti Harb ibnu Umayyah, saudara perempuan Abu Sufyan. Dia membantu suaminya dalam kekufuran dan keingkarannya terhadap perkara hak yang dibawa oleh Nabi s.a.w. Karena itulah maka kelak di hari kiamat ia menjadi pembantu yang mengazabnya dalam di neraka Jahanam. Di dalam firman berikutnya disebutkan:

حَمَّالَةَ الْحَطَبِ، فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ

pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (al-Lahab: 4-5)

Yaitu memanggul kayu bakar, lalu melemparkannya kepada suaminya agar api yang membakarnya bertambah besar; istrinya memang diciptakan untuk itu dan disediakan untuk membantu mengazabnya.

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ

Yang di lehernya ada tali dari sabut. (al-Lahab: 5)

Menurut Mujahid dan ‘Urwah, makna yang dimaksud ialah berupa api neraka. Diriwayatkan pula dari Mujahid, ‘Ikrimah, al-Hasan, Qatadah, ats-Tsauri, dan as-Saddi sehubungan dengan makna firman-Nya:

حَمَّالَةَ الْحَطَبِ

pembawa kayu bakar. (al-Lahab: 4)

Bahwa istri Abu Lahab gemar berjalan menghambarkan fitnah (hasutan). Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jari.

Al-‘Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ‘Athiyyah al-Jadali, ad-Dahhak, dan Ibnu Zaid, bahwa istri Abu Lahab meletakkan ranting-ranting berduri di jalan-jalan yang dilalui oleh Rasulullah s.a.w. Ibnu Jari mengatakan bahwa istri Abu Lahab mengejek Nabi s.a.w. sebagai orang yang fakir, dan dia pernah mencari kayu bakar, oleh karena itulah maka ia dijuluki dengan sebutan: “Hammalatal-Hathab” sebagai cemoohan terhadapnya. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jari, tetapi dia tidak menisbatkannya kepada siapa pun. Pendapat yang benar adalah yang pertama, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Sa‘id ibnul Musayyab mengatakan bahwa dahulu istri Abu Lahab mempunyai sebuah kalung yang mewah, lalu ia mengatakan: “Sesungguhnya aku akan membelanjakan kalung ini (menjualnya) untuk biaya memusuhi Muhammad s.a.w.” Maka Allah menghukumnya dengan tali dari api neraka yang dikalungkan di lehernya (kelak di hari kemudian).

Ibnu Jari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Waki‘, dari Sulaim maula asy-Sya‘bi, dari asy-Sya‘bi yang mengatakan bahwa al-masad artinya sabut. ‘Urwah ibnuz-Zubair mengatakan bahwa al-masad adalah rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Telah diriwayatkan pula dari ats-Tsauri bahwa makna yang dimaksud ialah sebuah kalung api yang panjangnya tujuh puluh hasta.

Al-Jauhari mengatakan bahwa al-masad adalah sabut, dan al-masad juga berarti tali yang terbuat dari sabut atau kulit pohon, dan adakalanya terbuat dari kulit unta atau bulunya. Dalam bahasa Arab disebutkan masadtul-habla atau amsuduhu masdan, artinya ialah engkau pintal tali dengan pintalan yang baik.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ

Yang di lehernya ada tali dari sabut. (al-Lahab: 5)

Yakni pasung besar yang terbuat dari besi, tidakkah engkau perhatikan bahwa orang-orang Arab menyebut anak unta yang pertama masad? Ibnu Abi Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku dan Abu Zar‘ah, keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah ibnuz-Zubair al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami al-Walid ibnu Kasir, dari Abu Badras, dari Asma’ binti Abu Bakar yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman Allah s.w.t.:

تَبَّتْ يَدَا أَبِيْ لَهَبٍ وَ تَبَّ

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. (al-Lahab: 1).

Maka datanglah wanita yang bermata juling (yaitu Ummu Jamil binti Harb) seraya menyumpah-nyumpah, sedangkan tangannya memegang batu seraya mengucapkan kata-kata bersyair: “Dia telah mencela agama nenek moyang kami, agamanya kutolak dan perintahnya kutentang.”

Saat itu Rasulullah s.a.w. sedang duduk di masjid ditemani sahabat Abu Bakar. Ketika sahabat Abu Bakar melihat Ummu Jamil, ia berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, Ummu Jamil datang, dan aku mengkhawatirkan keselamatanmu bila dia melihatmu.” Maka Rasulullah s.a.w. bersabda:

إِنَّهَا لَنْ تَرَانِيْ

Dia tidak akan dapat melihatku.

Dan Nabi s.a.w. membaca suatu ayat al-Qur’an sebagai perlindungan buat dirinya, sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَ إِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَ بَيْنَ الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِالآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُوْرًا

Dan apabila kamu membaca al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. (al-Isra’: 45)

Maka Ummu Jamil datang dan berdiri di hadapan Abu Bakar melihat Rasulullah s.a.w., lalu berkata: “Hai Abu Bakar, sesungguhnya aku mendapat berita bahwa temanmu mengejekku.” Abu Bakar menjawab: “Tidak, demi Tuhan Penguasa Ka‘bah ini, dia tidak mengejekmu.” Maka Ummu Jamil pergi seraya mengatakan: “Orang-orang Quraisy telah mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah anak perempuan pemimpin mereka.”

Sufyan mengatakan bahwa al-Walid di dalam hadisnya – atau selain tersangkut saat itu ia sedang melakukan tawaf di Ka‘bah, maka Ummu Jamil mengatakan: “Celakalah si pencela itu.” Maka Ummu Hakim binti ‘Abdul-Muththalib mengatakan: “Sesungguhnya aku benar-benar wanita yang menjaga kehormatannya, maka aku tidak mengetahui banyak hal, dan kita berdua dari kalangan anak-anak sepaman (sepupu), dan orang-orang Quraisy lebih mengetahuinya.”

Sebagian ahli ilmu mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah:

فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ

Yang di lehernya ada tali dari sabut. (al-Lahab: 5)

Yakni di lehernya ada tali dari api neraka Jahanam yang mengangkatnya sampai ke pinggir neraka Jahanam, lalu ia dilemparkan ke dasarnya. Kemudian dilakukan hal yang semisal terhadapnya selama-lamanya.

Abu Khaththab ibnu Dihyah di dalam kitabnya yang berjudul at-Tanwir mengatakan bahwa telah diriwayatkan hal yang semisal dan al-masad diartikan dengan tali timba.

Para ulama’ mengatakan bahwa surat ini merupakan mu‘jizat dan bukti terang yang menunjukkan kenabian. Karena sesungguhnya sejak diturunkan firman-Nya:

سَيَصْلى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ، وَ امْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ، فِيْ جِيْدِهَا حَبْلٌ مِّنْ مَّسَدٍ

Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (al-Lahab: 3-5)

Yang memberitakan bahwa keduanya adalah orang yang celaka dan tidak akan mau beriman. Kemudian kenyataannya memang demikian selama hidupnya, keduanya tidak beriman dan tidak pula salah seorangnya, baik lahir maupun batinnya, dan tidak menyembunyikannya atau pun melahirkannya. Keduanya sama sekali tidak mau beriman. Dan hal ini merupakan bukti paling kuat yang menunjukkan kebenaran kenabian Nabi Muhammad s.a.w.

Demikianlah akhir tafsir surat al-Lahab, segala puji bagi Allah atas karunia-Nya.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *