Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Sayyid Quthb (1/6)

Dari Buku:
Tafsīr fi Zhilāl-il-Qur’ān
Oleh: Sayyid Quthb

Rangkaian Pos: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Sayyid Quthb

SURAH AL-JINN

Diturunkan di Makkah
Jumlah Ayat: 28.

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

قُلْ أُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا. يَهْدِيْ إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَ لَنْ نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا. وَ أَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَ لَا وَلَدًا. وَ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ سَفِيْهُنَا عَلَى اللهِ شَطَطًا. وَ أَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَّنْ تَقُوْلَ الْإِنْسُ وَ الْجِنُّ عَلَى اللهِ كَذِبًا. وَ أَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًا. وَ أَنَّهُمْ ظَنُّوْا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَّنْ يَبْعَثَ اللهُ أَحَدًا. وَ أَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَ شُهُبًا. وَ أَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَّصَدًا. وَ أَنَّا لَا نَدْرِيْ أَشَرٌّ أُرِيْدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا. وَ أَنَّا مِنَّا الصَّالِحُوْنَ وَ مِنَّا دُوْنَ ذلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا. وَ أَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَّنْ نُّعْجِزَ اللهَ فِي الْأَرْضِ وَ لَنْ نُّعْجِزَهُ هَرَبًا. وَ أَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى آمَنَّا بِهِ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَ لَا رَهَقًا. وَ أَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُوْنَ وَ مِنَّا الْقَاسِطُوْنَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُوْلئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا. وَ أَمَّا الْقَاسِطُوْنَ فَكَانُوْا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا. وَ أَنْ لَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَّاءً غَدَقًا. لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ وَ مَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا. وَ أَنَّ الْمَسَاجِدَ للهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ أَحَدًا. وَ أَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللهِ يَدْعُوْهُ كَادُوْا يَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِ لِبَدًا. قُلْ إِنَّمَا أَدْعُوْ رَبِّيْ وَ لَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا. قُلْ إِنِّيْ لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَ لَا رَشَدًا. قُلْ إِنِّيْ لَنْ يُجِيْرَنِيْ مِنَ اللهِ أَحَدٌ وَ لَنْ أَجِدَ مِنْ دُوْنِهِ مُلْتَحَدًا. إِلَّا بَلَاغًا مِّنَ اللهِ وَ رِسَالَاتِهِ وَ مَنْ يَعْصِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا. حَتَّى إِذَا رَأَوْا مَا يُوْعَدُوْنَ فَسَيَعْلَمُوْنَ مَنْ أَضْعَفُ نَاصِرًا وَ أَقَلُّ عَدَدًا. قُلْ إِنْ أَدْرِيْ أَقَرِيْبٌ مَّا تُوْعَدُوْنَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّيْ أَمَدًا. عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَّسُوْلٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا. لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوْا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَ أَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَ أَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا.

072: 1. Katakanlah (hai Muḥammad): Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jinn telah mendengarkan (al-Qur’ān), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’ān yang menakjubkan.”
072: 2. (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami.
072: 3. dan Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami. Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.
072: 4. Orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.
072: 5. Sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jinn sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.
072: 6. Ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jinn, maka jinn-jinn itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.
072: 7. Sesungguhnya mereka (jinn) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Makkah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasūl) pun.
072: 8. Sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api,
072: 9. Sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi, sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).
072: 10. Sesungguhnya, kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.
072: 11. Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shāliḥ dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.
072: 12. Sesungguhnya kami mengetahui, bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)-Nya dengan lari.
072: 13. Sesungguhnya, kami tatkala mendengar petunjuk (al-Qur’ān), kami beriman kepadanya. Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.
072: 14. Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barang siapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.
072: 15. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahannam.
072: 16. Jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).
072: 17. untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Barang siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam ‘adzāb yang amat berat.
072: 18. Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.
072: 19. Tatkala hamba Allah (Muḥammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ‘ibādah), hampir saja jinn-jinn itu desak-mendesak mengerumuninya.
072: 20. Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya.”
072: 21. Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfataan.”
072: 22. Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (‘adzāb) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.”
072: 23. Akan tetapi, (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasūl-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.
072: 24. Sehingga, apabila mereka melihat ‘adzāb yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya.
072: 25. Katakanlah: “Aku tidak mengetahui, apakah ‘adzāb yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan) ‘adzāb itu, masa yang panjang?”
072: 26. (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu.
072: 27. Kecuali kepada Rasūl yang diridhāi-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.
072: 28. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasūl-rasūl itu telah menyampaikan risālah-risālah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ‘ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu.

Pengantar.

Surah ini didominasi oleh perasaan, sebelum seseorang melihat ma‘na-ma‘na dan hakikat-hakikat yang dikandungnya, tentang sesuatu yang lain dengan begitu jelas di dalamnya. Sesungguhnya surah ini adalah sepotong musik yang ritmis dan puitis. Tampak jelas kesamaan bunyi yang penuh irama, disertai dengan warna nada yang haru penuh kesan, irama-iramanya menyentuh perasaaan, dan aneka keindahan nada-nadanya, yang serasi sekali dengan lukisan-lukisan, bayang-bayang, dan pemandangan-pemandangan, dan semangat pengarahan yang ada di dalam surah ini. Khususnya pada bagian terakhir setelah selesai menceritakan kisah perkataan bangsa jinn, dan pengarahan firman Allah kepada Rasūlullāh s.a.w. dengan firman yang menggugah kesadaran terhadap kepribadian Rasūl di dalam jiwa orang yang mendengarkan surah ini, suatu perasaan yang diiringi dengan kecintaan. Ya‘ni, saat beliau diperintahkan untuk menyatakan terlepasnya dari segala sesuatu dalam urusan dakwah selain hanya menyampaikan dan mengingat pengawasan Ilahi di sekitarnya ketika beliau menunaikan tugas ini:

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya.” Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfataan.” Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (‘adzāb) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.” Akan tetapi, (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasūl-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga, apabila mereka melihat ‘adzāb yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah: “Aku tidak mengetahui, apakah ‘adzāb yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan) ‘adzāb itu, masa yang panjang?” (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasūl yang diridhāi-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasūl-rasūl itu telah menyampaikan risālah-risālah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ‘ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu.” (al-Jinn: 20-28).

Hal itu di samping kesan-kesan kejiwaan terhadap hakikat-hakikat yang terdapat di dalam kisah perkataan bangsa jinn dan penjelasan mereka yang panjang lebar. Ini adalah hakikat-hakikat yang memiliki bobot dan timbangan yang berat di dalam perasaan dan pandangan. Sambutan positif terhadapnya melebihi apa yang dirasakan ketika yang bersangkutan merenungkan dan memikirkannya. Sehingga, sesuai dengan sentuhan kesedihan dan nyanyian sendu yang sejalan dengan irama musikal surah ini.

Membaca surah ini dengan perlahan-lahan dan tenang, akan menimbulkan sentuhan dalam perasaaan sebagaimana kami jelaskan di atas.

 

Apabila kita lewati fenomena-fenomena yang mendominasi perasaan ini dan beralih kepada tema surah dan ma‘na-ma‘nanya serta arahannya, maka akan kita dapati surah ini penuh dengan bermacam-macam petunjuk dan pengarahan.

Surah ini dimulai dengan kesaksian dari alam lain tentang banyaknya persoalan ‘aqīdah yang diingkari dan ditentang kaum musyrikīn dengan sekeras-kerasnya. Mereka lemparkan urusannya tanpa sandaran argumentasi yang akurat. Kadang-kadang mereka melontarkan tuduhan bahwa Nabi Muḥammad s.a.w. menerima dari bangsa jinn apa yang beliau katakan kepada mereka. Maka, datanglah kesaksian dari bangsa jinn sendiri tentang persoalan-persoalan yang mereka ingkari dan tentang itu, serta sanggahan terhadap tuduhan mereka bahwa Nabi Muḥammad menerima wahyu dari jinn. Pasalnya, bangsa jinn sendiri tidak mengetahui al-Qur’ān ini kecuali setelah mereka mendengarnya dari Nabi Muḥammad s.a.w.

Al-Qur’ān memberikan sentuhan yang sangat besar dan menakutkan sehingga mereka merasa terkejut dan kebingungan. Sentuhan itu memenuhi jiwa mereka dan bahkan meluap-luap sehingga mereka tidak dapat berdiam diri terhadap apa yang mereka dengar itu, serta mereka tidak dapat meringkas apa yang mereka ketahui dan rasakan. Kemudian mereka pergi kepada kaumnya untuk menceritakan peristiwa besar ini dengan penuh rasa takut dan kebingungan. Peristiwa besar yang menyibukkan langit, bumi, manusia, jinn, malaikat, dan bintang-gemintang, itu meninggalkan bekas-bekas dan kesan-kesan pada seluruh alam semesta. Yaitu, kesaksian dengan nilainya tersendiri di dalam jiwa manusia.

Selanjutnya diluruskanlah kesalahpahaman yang banyak jumlahnya terhadap dunia jinn di dalam jiwa orang-orang yang dibicarakan oleh firman ini sejak permulaan surah, dan di dalam jiwa semua manusia sebelum dan sesudahnya. Juga diletakkannya hakikat makhlūq ghaib ini pada proporsi yang sebenarnya tanpa melebihkan dan mengurangi.

Pasalnya, bangsa ‘Arab yang dibicarakan oleh firman ini pertama kali, memiliki kepercayaan bahwa bangsa jinn itu memiliki kekuasaan terhadap bumi. Karena itu, apabila salah seorang dari mereka melewati suatu lembah atau padang, maka dia meminta perlindungan kepada pembesar jinn yang dianggapnya berkuasa terhadap wilayah yang ia lewati itu. Lalu, ia berkata: “Aku berlindung kepada pemuka lembah ini dari kaumnya yang bodoh-bodoh.” Kemudian ia bermalam dengan aman.

Mereka juga memiliki kepercayaan bahwa jinn itu mengetahui perkara ghaib, dan memberitahukannya kepada tukang-tukang tenung. Maka, mereka meminta informasi tentang perkara ghaib ini kepada para tukang tenung sebagaimana kepada jinn-jinn itu. Karena itu, di antara mereka (bangsa ‘Arab) ada yang menyembah jinn, dan menetapkan bahwa antara Allah dan jinn terdapat hubungan nasab. Mereka beranggapan bahwa Allah s.w.t. mempunyai istri dari bangsa jinn dan melahirkan anak yang berupa malaikat.

Kepercayaan kepada jinn seperti ini atau yang mirip dengan ini sudah merata di semua kalangan jāhiliyyah. Kepercayaan dan mitos-mitos seperti ini masih terus berkembang dan mendominasi banyak lingkungan hingga sekarang.

Ketika kepercayaan-kepercayaan yang keliru dan mitos-mitos ini semarak di dalam hati, perasaan, dan pandangan manusia terhadap jinn dan zaman dahulu, dan akan terus berlangsung, maka di kalangan barisan orang zaman muta’akhkhir ini ada yang mengingkari keberadaan jinn sama sekali. Mereka menganggap cerita tentang makhlūq ghaib ini sebagai cerita khurafat (bohong).

Nah, antara terperosok dalam kekeliruan (kepercayaan yang berlebihan) dan dalam mengingkari (keberadaan jinn), maka Islam menetapkan hakikat jinn yang sebenarnya, dan meluruskan pandangan masyarakat umum terhadapnya, serta membebaskan hati dari perasaan takut terhadapnya dan tunduk kepada kekuasaannya yang tidak tepat.

Karena itu, jinn pada hakikat ada eksistensinya. Mereka adalah sebagaimana yang mereka identifikasi sendiri di sini:

Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shāliḥ dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (al-Jinn: 11).

Di antara mereka ada yang sesat dan menyesatkan, dan di antaranya ada yang masih bersahaja dan lugu.

Orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. Sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jinn sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.” (al-Jinn: 4-5).

Mereka mau menerima petunjuk dari kesesatan dan siap untuk memahami al-Qur’ān dengan mendengarkan, memikirkan, dan menghayatinya:

Katakanlah (hai Muḥammad): Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jinn telah mendengarkan (al-Qur’ān), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’ān yang menakjubkan”, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami.” (al-Jinn: 1-2).

Bangsa jinn juga menerima bahwa diciptakannya mereka untuk menerima balasan sebagai akibat dari keimanan dan kekafiran mereka:

Sesungguhnya, kami tatkala mendengar petunjuk (al-Qur’ān), kami beriman kepadanya. Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barang siapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahannam.” (al-Jinn: 13-15).

Mereka tidak dapat memberi manfaat kepada manusia ketika manusia meminta perlindungan kepada mereka. Bahkan sebaliknya, mereka malah menambah dosa dan kesalahan bagi manusia itu:

Ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jinn, maka jinn-jinn itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (al-Jinn: 6).

Mereka tidak mengetahui perkara ghaib dan tidak termasuk makhlūq yang mempunyai hubungan dengan langit:

Sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, Sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi, sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Sesungguhnya, kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” (al-Jinn: 8-10).

Mereka juga tidak mempunyai hubungan persemendaan (perbesanan) dan keturunan dengan Allah Yang Maha Suci:

Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.” (al-Jinn: 3).

Jinn itu tidak mempunyai kekuatan dan daya upaya terhadap kekuatan Allah:

Sesungguhnya kami mengetahui, bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)-Nya dengan lari.” (al-Jinn: 12).

Apa yang disebutkan di dalam surah ini tentang jinn ditambah dengan apa yang yang disebutkan sifat-sifatnya yang lain di dalam al-Qur’ān seperti ditundukkannya segolongan syaithān, dari golongan jinn, bagi Nabi Sulaimān dan bahwa mereka tidak mengetahui kematian Sulaimān kecuali setelah beberapa lama kemudian, maka hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak mengetahui perkara ghaib:

Maka, tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaimān, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Tatkala ia telah tersungkur, tahulah jinn itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba’: 14).

Juga seperti firman Allah tentang salah satu kekhususan dari kekhususan-kekhususan Iblīs dan kelompoknya yang notabene dari golongan jinn, selain kekhususannya terhadap kejelekan, kerusakan, dan penipudayaan:

Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (al-A‘rāf: 27).

Ayat ini menunjukkan bahwa keberadaan jinn itu tidak dapat dilihat oleh manusia, sedang keberadaan manusia dapat dilihat oleh jinn.

Apa yang disebutkan ini dan apa yang ditetapkan di dalam surah ar-Raḥmān tentang materi yang menjadi alat diciptakannya jinn dan materi yang dijadikan alat diciptakannya manusia di dalam firman Allah dalam surah ar-Raḥmān ayat 14-15: “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jinn dari nyala api”, memberikan gambaran tentang makhlūq ghaib (jinn) itu, yang menetapkan keberadaan dan membatasi keistimewaan-keistimewaanya. Pada waktu yang sama, ia menyingkap kesalahan-kesalahan dan mitos-mitos yang terdapat dalam benak manusia mengenai makhlūq yang bernama jinn itu, dan memberikan gambaran bagi kaum Muslimīn tentang jinn ini dengan gambaran yang jelas, cermat, serta bebas dari khayalan-khayalan bohong, khurafat, dan sikap keras kepala mengingkari keberadaannya.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *