Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir (5/5)

Tafsir Ibnu Katsir

Dari Buku:
Tafsir Ibnu Katsir, Juz 30
(An-Nabā’ s.d. An-Nās)
Oleh: Al-Imam Abu Fida’ Isma‘il Ibnu Katsir ad-Dimasyqi

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar L.C.
Penerbit: Sinar Baru Algensindo Bandung

Rangkaian Pos: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir
  1. 1.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir (1/5)
  2. 2.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir (2/5)
  3. 3.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir (3/5)
  4. 4.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir (4/5)
  5. 5.Anda Sedang Membaca: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir (5/5)

Al-Jinn, ayat 25-28.

قُلْ إِنْ أَدْرِيْ أَقَرِيْبٌ مَّا تُوْعَدُوْنَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّيْ أَمَدًا. عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَّسُوْلٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا. لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوْا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَ أَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَ أَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا.

072: 25. Katakanlah: “Aku tidak mengetahui, apakah adzab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan) adzab itu, masa yang panjang?”

072: 26. (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

072: 27. Kecuali kepada rasūl yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.

072: 28. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasūl-rasūl itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.

(al-Jinn [72]: 25-28).

Allah s.w.t. berfirman, memerintahkan kepada Rasūl-Nya untuk mengatakan kepada manusia bahwa sesungguhnya tiada pengetahuan baginya tentang waktu hari kiamat, tiada seorang pun yang mengetahui apakah kiamat itu sudah dekat waktunya ataukah masih jauh.

قُلْ إِنْ أَدْرِيْ أَقَرِيْبٌ مَّا تُوْعَدُوْنَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّيْ أَمَدًا.

Katakanlah: “Aku tidak mengetahui, apakah adzab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan) adzab itu, masa yang panjang?” (al-Jinn [72]: 25).

Yaitu masa yang masih panjang. Di dalam ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa hadits yang banyak beredar di kalangan orang-orang bodoh – yaitu yang menyebutkan bahwa Nabi s.a.w. tidak dikebumikan di bawah tanah – merupakan hadits yang dusta, tidak ada asalnya, dan tidak kami lihat pada sesuatu pun dari kitab-kitab hadits yang menyebutnya. Bahkan beliau pernah ditanya tentang saat hari kiamat, maka beliau tidak menjawab. Dan ketika Jibrīl menampakkan diri kepadanya dalam rupa seorang Badui, lalu di antara pertanyaan yang diajukannya menyebutkan: “Ceritakanlah kepadaku, hai Muḥammad, tentang hari kiamat.” Maka Nabi s.a.w. menjawab:

مَا الْمَسْئُوْلُ بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ.

Tidaklah orang yang ditanya mengenainya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.

Dan ketika ada seorang Badui bertanya kepadanya dengan suara yang lantang: “Hai Muḥammad, bilakah kiamat terjadi?” Maka Nabi s.a.w. menjawab:

وَيْحَكَ! ِإنَّهَا كَائِنَةٌ فَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟

Celakalah kamu, lalu apakah yang telah engkau persiapkan untuknya, sesungguhnya ia (hari kiamat) pasti akan terjadi.

Lalu lelaki Badui itu menjawab: “Adapun mengenai diriku, sesungguhnya aku belum dapat mempersiapkan untuk menyambutnya dengan banyak shalat, tidak pula dengan banyak puasa, tetapi aku cinta kepada Allah dan Rasūl-Nya.” Maka Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

فَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ.

Maka engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.

Anas mengatakan bahwa maka kaum muslim amat gembira dengan hadits ini, tiada sesuatu pun yang lebih menggembirakan mereka selain hadits ini.

Ibnu Abī Ḥātim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muḥammad ibnu Madhā, telah menceritakan kepada kami Muḥammad ibnu Jubair, telah menceritakan kepadaku Abū Bakar ibnu Abī Maryam, dari ‘Athā’ ibnu Abī Rabāḥ, dari Abū Sa‘īd al-Khudrī r.a., dari Nabi s.a.w. yang telah bersabda:

يَا بَنِيْ آدَمَ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ فَعُدُّوْا أَنْفُسَكُمْ مِنَ الْمَوْتَى وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ إِنَّمَا تُوْعَدُوْنَ لَآتٍز

Hai manusia, jika kamu berakal, buatlah persiapan untuk dirimu dalam menghadapi kematian. Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya apa yang diancamkan kepadamu benar-benar pasti terjadi (yakni hari kiamat).

Abū Dāūd di dalam akhir Kitāb-ul-Malāhīm mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mūsā ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Ḥajjāj ibnu Ibrāhīm, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Mu‘āwiyah ibnu Shāliḥ, dari ‘Abd-ur-Raḥmān ibnu Jubair, dari ayahnya, dari Abū Tsa‘labah al-Khusyānī yang mengatakan bahwa Rasūlullāh s.a.w. pernah bersabda:

لَنْ تَعْجِزَ اللهُ هذِهِ الْأُمَّةً مِنْ نِصْفِ يَوْمٍ.

Tiada yang menghalangi Allah untuk menghisab umat ini selama setengah hari.

Abū Dāūd meriwayatkannya secara munfarid. Kemudian Abū Dāūd mengatakan, telah menceritakan kepada kami ‘Amr ibnu ‘Utsmān, telah menceritakan kepada kami Abul-Mughīrah, telah menceritakan kepadaku Shafwān, dari Syuraiḥ ibnu ‘Ubaid, dari Sa‘d ibnu Abī Waqqāsh, dari Nabi s.a.w. bahwa beliau s.a.w. pernah bersabda:

إنِّيْ لَأَرْجُوْ أَنْ لَا تَعْجِزَ أُمَّتِيْ عِنْدَ رَبِّهَا أَنْ يُؤَخِّرَهُمْ نِصْفَ يَوْمٍ.

Sesungguhnya aku benar-benar berharap semoga tiada yang menghalangi umat ini di hadapan Tuhan mereka, jangan sampai Dia menangguhkan (hisab) mereka (lebih) dari setengah hari.

Lalu ditanyakan kepada Sa‘d: “Berapa lamakah setengah hari di sisi Tuhan?” Sa‘d menjawab: “Lima ratus tahun.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abū Dāūd secara munfarid.

Firman Allah s.w.t.:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَّسُوْلٍ

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasūl yang diridhai-Nya. (al-Jinn [72]: 26-27).

Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

وَ لَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ.

dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. (al-Baqarah: 255).

Demikian pula disebutkan dalam surat ini bahwa sesungguhnya Dia mengetahui semua yang ghaib dan yang nyata, dan sesungguhnya Dia tidak memperlihatakan sesuatu pun dari ilmu-Nya kepada seseorang dari makhluk-Nya kecuali sebatas apa yang diperlihatkan oleh Dia kepadanya. Karena itu, maka disebutkan dalam firman-Nya:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَّسُوْلٍ

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasūl yang diridhai-Nya. (al-Jinn [72]: 26-27).

Hal ini mencakup utusan dari kalangan manusia dan malaikat. Kemudian dalam firman berikutnya disebutkan:

فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا.

maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (al-Jinn [72]: 27).

Yakni Allah memberikan kekhususan kepadanya dengan kawalan para malaikat yang menjaganya atas perintah dari Allah s.w.t. Para malaikat itu mengawal dia berikut wahyu Allah yang ada padanya. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوْا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَ أَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَ أَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا.

Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasūl-rasūl itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (al-Jinn [72]: 28).

Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan dhamīr yang terdapat di dalam firman-Nya: “Liya‘lama,” yakni kepada siapa merujuk?

Menurut suatu pendapat, dhamīr ini kembali kepada Nabi s.a.w. Ibnu Jarīr mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ḥumaid, telah menceritakan kepada kami Ya‘qūb al-Qummī, dari Ja‘far, dari Sa‘īd ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَّسُوْلٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا.

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasūl yang diridhai-Nya. maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (al-Jinn [72]: 26-27).

Yakni empat malaikat penjaga yang menemani malaikat Jibrīl.

لِيَعْلَمَ

Supaya dia (rasul) mengetahui. (al-Jinn [72]: 28).

Artinya, supaya Muḥammad mengetahui.

أَنْ قَدْ أَبْلَغُوْا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَ أَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَ أَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا.

bahwa sesungguhnya rasūl-rasūl itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (al-Jinn [72]: 28).

Ibnu Abī Ḥātim telah meriwayatkan hal ini melalui hadits Ya‘qūb al-Qummī dengan sanad yang sama. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh adh-Daḥḥāk, as-Suddī, dan Yazīd ibnu Abī Ḥabīb. ‘Abd-ur-Razzāq telah meriwayatkan dari Ma‘mar, dari Qatādah sehubungan dengan makna firman-Nya:

لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوْا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ.

Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasūl-rasūl itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya. (al-Jinn [72]: 28).

Bahwa supaya Muḥammad Nabi Allah mengetahui bahwa utusan-utusan itu telah menyampaikan risalah Allah kepadanya dan bahwa para malaikat telah menjaga dan membelanya. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Sa‘īd ibnu Abī ‘Arūbah, dari Qatādah, lalu dipilih oleh Ibnu Jarīr.

Pendapat yang lainnya mengatakan hal yang lain, seperti yang diriwayatkan oleh Al-‘Aufī, dari Ibnu ‘Abbās sehubungan dengan makna firman Allah s.w.t.:

إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَّسُوْلٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا.

kecuali kepada rasūl yang diridhai-Nya. maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (al-Jinn [72]: 27).

Yakni para malaikat yang mengawal dan memelihara Nabi s.a.w. dari gangguan syaithan, sehingga orang-orang yang Nabi s.a.w. diutus kepada mereka jelas atas duduk perkaranya. Demikian itu di saat Rasūl s.a.w. berkata agar orang-orang musyrik mengetahui bahwa para utusan malaikat itu telah menyampaikan kepadanya risalah-risalah Tuhan mereka. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abī Nājiḥ, dari Mujāhid sehubungan dengan makna firman-Nya:

لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوْا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ.

Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasūl-rasūl itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya. (al-Jinn [72]: 28).

Mujāhid mengatakan bahwa makna ayat ialah supaya orang yang mendustakan rasūl-rasūl mengetahui bahwa para malaikat itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya. Akan tetapi, pendapat ini masih perlu diteliti kebenarannya.

Al-Baghawī mengatakan bahwa Ya‘qūb membaca firman-Nya, “Liya‘lama,” menjadi “Liyu‘lima” dengan memakai dhammah, artinya supaya dipermaklumkan kepada manusia bahwa rasūl-rasūl itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya.

Dapat pula dita’wilkan bahwa dhamir yang ada pada lafazh “Liya‘lama” kembali (merujuk) kepada Allah s.w.t. Ini menurut suatu pendapat yang diriwayatkan oleh Ibn-ul-Jauzī di dalam kitab Zād-ul-Masīr. Dengan demikian, makna ayat ialah bahwa Allah memelihara rasūl-rasūlNya dengan pengawalan para malaikat yang menjaganya agar mereka dapat menunaikan risalah-risalahNya, juga memelihara wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada mereka. Supaya Dia mengetahui (dengan pengetahuan yang nyata) bahwa mereka telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya. Dan ini berarti semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

وَ مَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ.

Dan Kami tidak menetapkan qiblat yang menjadi qiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikut Rasūl dan siapa yang membelot. (al-Baqarah: 143).

Dan semakna dengan firman-Nya:

وَ لَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ لَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِيْنَ.

Dan supaya Allah benar-benar mengetahui (dengan nyata) orang-orang yang beriman, dan supaya Dia benar-benar mengetahui (dengan nyata) orang-orang yang munafik. (al-‘Ankabūt: 11).

Dan masih banyak ayat lainnya yang menunjukkan bahwa Allah s.w.t. mengetahui segala sesuatu sebelum kejadiannya dan ini merupakan suatu kepastian. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

وَ أَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَ أَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا.

sedangkan (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (al-Jinn [72]: 28).

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *