Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir (2/5)

Tafsir Ibnu Katsir

Dari Buku:
Tafsir Ibnu Katsir, Juz 30
(An-Nabā’ s.d. An-Nās)
Oleh: Al-Imam Abu Fida’ Isma‘il Ibnu Katsir ad-Dimasyqi

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar L.C.
Penerbit: Sinar Baru Algensindo Bandung

Rangkaian Pos: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir
  1. 1.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir (1/5)
  2. 2.Anda Sedang Membaca: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir (2/5)
  3. 3.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir (3/5)
  4. 4.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir (4/5)
  5. 5.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir Ibni Katsir (5/5)

Al-Jinn, ayat 8-10

وَ أَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَ شُهُبًا. وَ أَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَّصَدًا. وَ أَنَّا لَا نَدْرِيْ أَشَرٌّ أُرِيْدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا.

072: 8. dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api,

072: 9. dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).

072: 10. Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.

(al-Jinn [72]: 8-10).

Allah s.w.t. menceritakan tentang keadaan jinn ketika Dia mengutus Rasūl-Nya Nabi Muḥammad s.a.w. dan menurunkan kepadanya al-Qur’ān. Dan tersebutlah bahwa di antara pemeliharaan (penjagaan) Allah kepada al-Qur’ān ialah Dia memenuhi langit dengan penjagaan yang ketat di semua penjuru dan kawasannya, dan semua syaithan diusir dari tempat-tempat pengintaiannya, yang sebelumnya mereka selalu menduduki pos-posnya di langit. Agar syaithan-syaithan itu tidak mencuri-curi dengar dari al-Qur’ān, yang akibatnya mereka akan menyampaikannya kepada para tukang tenung yang menjadi teman-teman mereka, sehingga perkara al-Qur’ān menjadi samar dan campur-aduk dengan yang lainnya, serta tidak diketahui mana yang benar. Ini merupakan belas-kasihan Allah s.w.t. kepada makhluk-Nya, juga merupakan rahmat dari-Nya kepada hamba-hambaNya, dan sebagai pemeliharaan-Nya terhadap Kitāb-Nya yang mulia. Karena itulah maka jinn mengatakan, sebagaimana yang diceritakan oleh firman-Nya:

وَ أَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَ شُهُبًا. وَ أَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَّصَدًا.

Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (al-Jinn [72]: 8-9).

Yaitu barang siapa di antara kami yang berani mencoba mencuri-curi dengar sekarang, niscaya ia akan menjumpai panah berapi yang mengintainya yang tidak akan luput dan tidak akan meleset darinya, bahkan pasti akan mengganyangnya dan membinasakannya.

وَ أَنَّا لَا نَدْرِيْ أَشَرٌّ أُرِيْدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا.

Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. (al-Jinn [72]: 10).

Yakni kami tidak mengetahui peristiwa apa yang terjadi di langit, apakah keburukan yang dikehendaki bagi penduduk bumi, ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka? Ini merupakan ungkapan etis kaum jinn karena mereka menyandarkan keburukan kepada yang bukan pelakunya, sedangkan kebaikan mereka sandarkan kepada pelakunya, yaitu Allah s.w.t. Di dalam sebuah hadits shaḥīḥ diungkapkan:

الشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ.

Keburukan itu bukanlah dinisbatkan kepada Engkau.

Sebelum itu memang pernah juga terjadi pelemparan bintang-bintang yang menyala-nyala (meteor), tetapi tidak banyak terjadi, melainkan hanya sesekali saja dan jarang terjadi. Seperti yang disebutkan di dalam hadits al-‘Abbās, yang menceritakan bahwa ketika kami sedang duduk bersama Rasūlullāh s.a.w., tiba-tiba ada bintang yang dilemparkan (di langit) sehingga bintang itu menyala dengan terang. Maka Rasūlullāh s.a.w. bertanya: “Bagaimanakah pendapat kalian tentang peristiwa ini?” Kami menjawab: “Kami beranggapan bahwa ada seseorang yang besar dilahirkan, atau ada orang besar yang meninggal dunia.” Maka Rasūlullāh s.a.w. menjawab: “Bukan demikian, tetapi apabila Allah memutuskan suatu urusan di langit…..” hingga akhir hadits. Kami telah mengemukakannya dengan lengkap dalam tafsir surat Saba’.

Peristiwa penjagaan langit dengan penjagaan yang ketat itulah yang menggerakkan jinn untuk mencari penyebabnya. Lalu mereka menyebar ke arah timur dan arah barat belahan bumi untuk mencari berita penyebabnya. Akhirnya mereka menjumpai Rasūlullāh s.a.w. sedang membaca al-Qur’ān dengan para sahabatnya dalam shalat. Maka mereka mengetahui bahwa karena orang inilah langit dijaga ketat, lalu berimanlah kepadanya jinn yang mau beriman, dan jinn yang lainnya tetap pada kedurhakaan dan kekafirannya. Hal ini disebutkan di dalam hadits Ibnu ‘Abbās pada tafsir surat al-Aḥqāf, tepatnya pada firman-Nya:

وَ إِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْمَعُوْنَ الْقُرْآنَ.

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jinn kepadamu yang mendengarkan al-Qur’ān. (al-Aḥqāf: 29), hingga akhir ayat.

Dan memang tidak diragukan lagi bahwa ketika peristiwa itu terjadi, yaitu banyaknya bintang yang menyala di langit dan selalu siap untuk dilemparkan bagi siapa yang akan mendekatinya, hal ini menyebabkan kegemparan di kalangan manusia dan jinn; mereka kaget dan merasa takut dengan peritsiwa tersebut. Mereka mengira bahwa alam ini akan hancur sebagaimana yang dikatakan oleh as-Suddī berikut ini:

Bahwa sebelumnya langit tidak dijaga, melainkan bila di bumi terdapat seorang nabi atau agama Allah akan memperoleh kemenangan. Tersebutlah pula bahwa syaithan-syaithan sebelum Nabi Muḥammad s.a.w. diutus mempunyai pos-posnya tersendiri di langit yang terdekat untuk mendengar-dengarkan berita dari langit menyangkut peristiwa yang akan terjadi di bumi. Dan setelah Allah s.w.t. mengutus Nabi Muḥammad s.a.w. sebagai rasul, syaithan-syaithan itu dilempari dengan panah-panah berapi di suatu malam, maka kagetlah penduduk Thā’if dengan peristiwa tersebut. Mereka mengatakan: “Penduduk langit telah binasa.” Mereka mengatakan demikian karena melihat hebatnya api yang menyala di langit dan bintang-bintang meteor di malam itu simpang-siur di langit menjadikan langit terang-benderang.

Maka mereka memerdekakan budak-budaknya dan melepaskan ternak mereka, lalu ‘Abdu Yalīl ibnu ‘Amr ibnu ‘Umair berkata kepada mereka: “Celakalah kalian, hai orang-orang Thā’if, tahanlah harta benda kalian. Dan lihatlah dengan baik olehmu tempat-tempat bintang-bintang itu. Jika bintang-bintang itu masih tetap tempatnya masing-masing, berarti penduduk langit tidak binasa. Sesungguhnya kejadian ini tiada lain karena Ibnu Abī Kabsyah, yakni Nabi Muḥammad s.a.w. Dan jika kalian lihat bintang-bintang tersebut tidak lagi berada di tempatnya masing-masing, berarti penduduk langit telah binasa.” Maka mereka memandang langit dengan pandangan yang teliti, dan ternyata mereka melihat bintang-bintang itu masih ada di tempatnya, akhirnya mereka menahan harta mereka dan tidak dilepaskannya lagi.

Syaithan-syaithan merasa terkejut dengan peristiwa tersebut di malam itu, maka mereka menghadap kepada Iblis pemimpin mereka dan menceritakan kepadanya peristiwa pelemparan yang dialaminya. Iblis memerintahkan kepada mereka: “Datangkanlah kepadaku dari tiap-tiap kawasan bumi segenggam tanah, aku akan menciumnya.” Lalu Iblis menciumnya dan berkata: “Ini gara-gara teman kalian yang ada di Makkah.” Maka Iblis mengirimkan tujuh jinn dari Nashibin, dan mereka datang ke Makkah, maka mereka menjumpai Nabi Allah sedang berdiri mengerjakan shalatnya di Masjidil Haram dalam keadaan membaca al-Qur’ān. Mereka makin mendekatinya karena ingin mendengarkan bacaan al-Qur’ān, dan hampir saja bagian yang menonjol dari tenggorokan mereka menyentuh Nabi s.a.w. Kemudian mereka masuk Islam, maka Allah s.w.t. menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi-Nya yang menceritakan perihal mereka. Kami telah menerangkan bagian ini secara rinci di permulaan pembahasan kebangkitan Rasūl dari kitab kami yang berjudul Kitāb-us-Sīrah, dengan keterangan yang panjang lebar.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *