Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Munir – Marah Labid (Bagian 3)

TAFSĪR AL-MUNĪR
(MARĀḤ LABĪD)
(Judul Asli: At-Tafsīr-ul-Munīru Lima‘ālim-it-Tanzīl)
Penyusun: Al-‘Allamah asy-Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi (Banten).

(Jilid ke 6 dari Surah al-Aḥqāf s.d. an-Nās)

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar, L.C.
Dibantu oleh: H. Anwar Abu Baka, L.C.

Penerbit: Penerbit Sinar Baru Algensindo Bandung

Rangkaian Pos: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Munir - Marah Labid
  1. 1.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Munir – Marah Labid
  2. 2.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Munir – Marah Labid (Bagian 2)
  3. 3.Anda Sedang Membaca: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Munir – Marah Labid (Bagian 3)

سُوْرَةُ الْجِنِّ

SURAH AL-JINN

(Bagian 3 dari 3)

 

قُلْ إِنِّيْ لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَ لَا رَشَدًا.

072: 21. Katakanlah (Muḥammad): “Sesungguhnya aku tidak kuasa menolak mudharat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu.” (al-Jinn: 21).

(قُلْ) “Katakanlah” wahai makhluk yang paling mulia kepada orang-orang yang menentangmu – (إِنِّيْ لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَ لَا رَشَدًا.) ““Sesungguhnya aku tidak kuasa menolak mudharat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu”” yakni sesungguhnya aku tidak berdaya untuk menghindarkan mudharat dan darimu kekafiran, sebagaimana aku tidak dapat mendatangkan manfaat dan hidayah kepadamu.

Pendapat lain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan adh-dharr adalah kematian dan ar-Rusyd adalah kehidupan. Makna ayat: Yang memberi manfaat, mudharat, memberi petunjuk dan yang menyesatkan hanyalah Allah. Tiada seorang makhluk pun yang mampu melakukan hal tersebut.

Ubay membacanya Gayyan Wa lā Rasyada, bukan dharran wa lā Rasyada.

 

قُلْ إِنِّيْ لَنْ يُجِيْرَنِيْ مِنَ اللهِ أَحَدٌ وَ لَنْ أَجِدَ مِنْ دُوْنِهِ مُلْتَحَدًا.

072: 22. Katakanlah (Muḥammad): “Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat melindungiku dari (adzab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya.” (al-Jinn: 22).

(قُلْ إِنِّيْ لَنْ يُجِيْرَنِيْ مِنَ اللهِ أَحَدٌ) “Katakanlah (Muḥammad): “Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat melindungiku dari (adzab) Allah” jika aku durhaka kepada-Nya.

(وَ لَنْ أَجِدَ مِنْ دُوْنِهِ مُلْتَحَدًا.) “dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya” yakni tidak ada tempat belindung dan bersembunyi jika Dia menghendaki kemudharatan bagiku.

 

إِلَّا بَلَاغًا مِّنَ اللهِ وَ رِسَالَاتِهِ وَ مَنْ يَعْصِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا.

072: 23. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasūl-Nya maka sesungguhnya dia akan mendapat (adzab) neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (al-Jinn: 23).

(إِلَّا بَلَاغًا مِّنَ اللهِ وَ رِسَالَاتِهِ) “Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya” ini merupakan istitsnā dari kalimat Lā Amliku, dan lafal Risālātihī di-‘athaf-kan kepada Balāghan, dan minallāhi menjadi sifatnya bukan shilah-nya. Yakni, aku tidak mempunyai suatu kekuasaan pun bagimu selain menyampaikan peringatan dari-Nya dan menyampaikan risalah yang dipercayakan-Nya kepadaku.

(وَ مَنْ يَعْصِ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ) “Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasūl-Nya” dalam perintah untuk mengesakan-Nya – (فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ) “maka sesungguhnya dia akan mendapat (adzab) neraka Jahannam” pada umumnya ulama membacanya dengan Hamzah yang di-kasrah-kan menjadi Inna karena lafal yang sesudah fā’al jazā’ berkedudukan sebagai ibtida’. Oleh karena itu, Imām Sibawaih mena’wilkan kalimat-kalimat berikut: Man ‘Āda Fayantaqimullāhu Minhu, barang siapa yang bersikap memusuhi, maka Allah akan membalasnya dengan mengadzabnya. Man Kafara Fa’umatti‘uhū, barang siapa yang kafir maka Aku akan memberikan kesenangan kepadanya, dan Man Yu’min Birabbihī Falā Yakhāfu, barang siapa yang beriman kepada Allah, maka dia tidak usah merasa takut. Mubtada’ yang ada padanya disimpan.

Thalḥah membacanya dengan men-fatḥah-kan Hamzah menjadi Anna, dengan menganggap bahwa ia beserta lafal yang ada dalam jangkauannya berada dalam ta’wīl mashdar berkedudukan sebagai khabar mubtada’ yang disimpan, bentuk lengkapnya ialah maka balasannya adalah neraka Jahannam, atau keputusannya adalah neraka Jahannam, sama dengan makna firman-Nya:

فَإِنَّ للهَ خُمُسَهُ

Sesungguhnya seperlimanya untuk Allah. (al-Anfāl: 41).

(خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا.) “mereka kekal di dalamnya selama-lamanya” yakni tidak henti-hentinya karena menjadi penghuni tetapnya.

 

حَتَّى إِذَا رَأَوْا مَا يُوْعَدُوْنَ فَسَيَعْلَمُوْنَ مَنْ أَضْعَفُ نَاصِرًا وَ أَقَلُّ عَدَدًا.

072: 24. Sehingga apabila mereka melihat (adzab) yang diancamkan kepadanya, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit jumlahnya. (al-Jinn: 24).

(حَتَّى إِذَا رَأَوْا مَا يُوْعَدُوْنَ) “Sehingga apabila mereka melihat (adzab) yang diancamkan kepadanya” yang beraneka ragam di akhirat – (فَسَيَعْلَمُوْنَ) “maka mereka akan mengetahui” pada saat itu.

(مَنْ أَضْعَفُ نَاصِرًا وَ أَقَلُّ عَدَدًا.) “siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit jumlahnya” yakni paling sedikit jumlah penolongnya. Di sana menjadi nyatalah kekuatan dan jumlah, apakah berada di pihak kaum mu’min, ataukah di pihak orang-orang kafir.

 

قُلْ إِنْ أَدْرِيْ أَقَرِيْبٌ مَّا تُوْعَدُوْنَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّيْ أَمَدًا.

072: 25. Katakanlah (Muḥammad): “Aku tidak mengetahui, apakah adzab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menetapkan waktunya masih lama?” (al-Jinn: 25).

(قُلْ إِنْ أَدْرِيْ أَقَرِيْبٌ مَّا تُوْعَدُوْنَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّيْ أَمَدًا.) “Katakanlah: “Aku tidak mengetahui, apakah adzab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menetapkan waktunya masih lama?”” yakni masa yang cukup panjang.

Ketika kaum musyrik mendengar hal itu, an-Nadhr ibn-ul-Ḥārits berkata dengan nada ingkar dan memperolok-olok: “Bilakah saatnya kedatangan hari yang diancamkan itu?”, maka Allah menurunkan ayat ini. Yakni, katakanlah kepada orang-orang yang meminta adzab agar disegerakan kedatangannya, bahwa waktu kedatangannya pasti terjadi, akan tetapi saat kejadiannya tidak diketahui.

 

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا.

072: 26. Dia Mengetahui yang ghaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang ghaib itu. (al-Jinn: 26).

(عَالِمُ الْغَيْبِ) “Dia Mengetahui yang ghaib” lafal ini berkedudukan sebagai khabar dari mubtada’ yang tidak disebutkan, yakni Dia adalah Tuhan Yang mengetahui bilakah adzab itu diturunkan.

Menurut qirā’at lain dibaca nashab dengan makna madaḥ atau pujian. As-Suddī membaca ‘Ālim-al-Ghaib dan lafal al-ghaiba di-nashab-kan, yakni dia mengetahui yang ghaib.

(فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا.) “tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang ghaib itu” yakni Allah tidak memperlihatkan kepada siapa pun hal yang ghaib itu dengan penglihatan yang sempurna yang menyingkap tabir waktunya dengan jelas yakni kepada siapa pun di antara makhluk-Nya.

 

إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَّسُوْلٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا.

072: 27. Kecuali kepada rasūl yang diridhai-Nya, sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya. (al-Jinn: 27).

(إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَّسُوْلٍ) “Kecuali kepada rasūl yang diridhai-Nya” yakni kecuali kepada rasūl yang diridhai-Nya untuk memperlihatkan kepadanya sebagian dari perkara ghaib-Nya yang berkaitan dengan kerasulannya.

Al-Ḥasan membaca Yazhharu dengan Yā’ dan Hā’ yang di-fatḥah-kan kedua-duanya, dan Aḥadun menjadi fā‘il-nya dibaca rafa‘.

(فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ مِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا.) “sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga – malaikat – di depan dan di belakangnya” yakni sesungguhnya Allah s.w.t. menjadikan penjaga-penjaga dari kalangan malaikat di sekitar rasūl itu yang menjaganya dari jinn agar mereka tidak mendengar bacaan Jibrīl, karena mereka akan menyampaikannya kepada para tukang tenung sebelum rasūl. Para penjaga itu siap siaga sampai Jibrīl menyampaikan sebagian perkara ghaib yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya.

Muqātil dan lain-lain mengatakan bahwa apabila Allah mengutus seorang rasūl, iblīs datang kepada rasūl itu dalam rupa malaikat yang memberitahukan kepadanya. Oleh karena itu, Allah mengadakan di hadapan dan di belakang rasūl itu para penjaga malaikat yang menjaganya dan ditugaskan untuk mengusir syaithan dari rasūl itu. Apabila datang kepada rasūl itu syaithan yang berupa malaikat, para penjaganya memberitahukan kepadanya bahwa yang datang itu syaithan. Oleh karena itu, rasūl itu bersikap waspada terhadapnya. Tetapi apabila datang malaikat yang sebenarnya, maka mereka mengatakan kepada rasūl bahwa dia adalah utusan Tuhanmu.

 

لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوْا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَ أَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَ أَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا.

072: 28. Agar Dia mengetahui, bahwa rasūl-rasūl itu sungguh, telah menyampaikan risalah Tuhannya, padahal (ilmu-Nya) meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segalanya satu persatu. (al-Jinn: 28).

(رَبِّهِمْ لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوْا رِسَالَاتِ) “Agar Dia mengetahui, bahwa rasūl-rasūl itu sungguh, telah menyampaikan risalah Tuhannya” huruf Lām ber-ta‘alluq kepada yasluku, dan dhamīr ablaghū adakalanya merujuk kepada rashada, artinya: bahwa Allah s.w.t. menempatkan mereka di segala sisi orang yang diridhai-Nya, agar Dia mengetahui bahwa sesungguhnya para malaikat itu telah menunaikan dan menyampaikan risalah Tuhan mereka dalam keadaan selamat dari pencurian dan pencampuradukkan, yaitu dengan pengetahuan yang nyata.

Adakalanya merujuk kepada Man-irtadhā, maknanya: agar dia mengetahui dengan nyata bahwa rasūl-rasūl yang telah diberi wahyu itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhan mereka kepada umatnya masing-masing seperti apa adanya tanpa pencurian dan tanpa pencampuradukan, sesudah disampaikan oleh para malaikat penjaga kepada mereka.

(وَ أَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ) “padahal (ilmu-Nya) meliputi apa yang ada pada mereka” kalimat ini menjadi ḥāl dari fā‘il yaslaku, yakni Allah menempatkan mereka agar ilmu-Nya memantau dengan nyata, sekalipun kenyataannya Allah s.w.t. mengetahui apa yang terjadi pada para penjaga dan para rasūl itu.

(وَ أَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ) “dan Dia menghitung segalanya” yang telah lalu dan yang akan terjadi – (عَدَدًا.) “satu persatu” yakni satu demi satu. Kalimat ini berkedudukan menjadi tamyīz yang dinukil dari bentuk maf‘ūl bih. Menurut qirā’at lain dibaca Liyu‘lama dalam bentuk mabnī majhūl.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *