Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Munir – Marah Labid (Bagian 2)

TAFSĪR AL-MUNĪR
(MARĀḤ LABĪD)
(Judul Asli: At-Tafsīr-ul-Munīru Lima‘ālim-it-Tanzīl)
Penyusun: Al-‘Allamah asy-Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi (Banten).

(Jilid ke 6 dari Surah al-Aḥqāf s.d. an-Nās)

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar, L.C.
Dibantu oleh: H. Anwar Abu Baka, L.C.

Penerbit: Penerbit Sinar Baru Algensindo Bandung

Rangkaian Pos: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Munir - Marah Labid
  1. 1.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Munir – Marah Labid
  2. 2.Anda Sedang Membaca: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Munir – Marah Labid (Bagian 2)
  3. 3.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Munir – Marah Labid (Bagian 3)

سُوْرَةُ الْجِنِّ

SURAH AL-JINN

(Bagian 2 dari 3)

 

وَ أَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَّنْ نُّعْجِزَ اللهَ فِي الْأَرْضِ وَ لَنْ نُّعْجِزَهُ هَرَبًا.

072: 12. Sesungguhnya kami (jinn) telah menduga, bahwa kami tidak akan mampu melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari)-Nya. (al-Jinn: 12).

(وَ أَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَّنْ نُّعْجِزَ اللهَ فِي الْأَرْضِ) “Sesungguhnya kami (jinn) telah menduga, bahwa kami tidak akan mampu melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi” yakni sesungguhnya kami mengetahui sekarang bahwa duduk perkara yang sebenarnya kami tidak sekali-kali dapat melepaskan diri dari kekuasaan Allah di mana pun kami berada di kawasan dunia ini.

(وَ لَنْ نُّعْجِزَهُ هَرَبًا.) “dan tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari)-Nya” yakni dengan larikan diri dari bumi ke langit, tiada jalan lari bagi kami kecuali kami berada dalam genggaman kekuasaan-Nya.

 

وَ أَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى آمَنَّا بِهِ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَ لَا رَهَقًا.

072: 13. Sesungguhnya ketika kami (jinn) mendengar petunjuk (al-Qur’ān), kami beriman kepadanya. Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka tidak perlu ia takut rugi atau berdosa. (al-Jinn: 13).

(وَ أَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى) “Sesungguhnya ketika kami (jinn) mendengar petunjuk” al-Qur’ān dari Nabi s.a.w. – (آمَنَّا بِهِ) “kami beriman kepadanya” yakni kepada al-Qur’ān.

(فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَ لَا رَهَقًا.) “Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka tidak perlu ia takut rugi atau berdosa” yakni barang siapa yang beriman kepada Allah, Tuhannya, maka dia tidak usah merasa takut akan dikurangi balasan kebaikannya, dan tidak pula dianiaya dengan ditambahi kesalahannya.

Hal ini menunjukkan bahwa sudah seharusnya bagi orang yang beriman kepada Allah s.w.t. untuk menjauhi kezhaliman dan perbuatan aniaya. Al-A‘masy membacanya Falā Yakhaf.

 

وَ أَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُوْنَ وَ مِنَّا الْقَاسِطُوْنَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُوْلئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا.

072: 14. Sesungguhnya di antara kami ada yang Islam dan ada yang menyimpang dari kebenaran. Siapa yang Islam, maka mereka itu telah memilih jalan yang lurus. (al-Jinn: 14).

(وَ أَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُوْنَ وَ مِنَّا الْقَاسِطُوْنَ) “Sesungguhnya di antara kami ada yang Islam dan ada yang menyimpang dari kebenaran” yakni sesungguhnya kami sesudah mendengarkan al-Qur’ān mempunyai penafsiran yang berbeda-beda. Di antara kami ada yang ikhlas dalam mengamalkan Islam dan ada yang menyimpang dari kebenaran.

(فَمَنْ أَسْلَمَ) “Siapa yang Islam” yakni ikhlas dalam tauhidnya – (فَأُوْلئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا.) “maka mereka itu telah memilih jalan yang lurus” yakni menuju ke jalan yang lurus.

 

وَ أَمَّا الْقَاسِطُوْنَ فَكَانُوْا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا.

072: 15. Adapun yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi bahan bakar bagi neraka Jahannam. (al-Jinn: 15).

(وَ أَمَّا الْقَاسِطُوْنَ) “Adapun yang menyimpang dari kebenaran” yakni menyimpang dari sunnah-sunnah Islam – (فَكَانُوْا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا.) “maka mereka menjadi bahan bakar bagi neraka Jahannam” dan makhluk Jinn sekalipun diciptakan dari api, api neraka Jahannam dapat membakar mereka sebagaimana membakar orang-orang kafir dari kalangan manusia. Karena sesungguhnya api yang kuat dapat memakan api yang lemah.

Menurut suatu pendapat disebutkan bahwa sampai di sinilah akhir dari ucapan jinn.

 

وَ أَنْ لَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَّاءً غَدَقًا.

072: 16. Sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan air yang cukup kepada mereka. (al-Jinn: 16).

(وَ أَنْ لَّوِ اسْتَقَامُوْا) “Sekiranya mereka tetap berjalan” huruf An merupakan bentuk ringan dari Anna yang memakai tasydīd, dan jumlah ini di-‘athaf-kan kepada Annahū-stama‘a. Artinya: Telah diwahyukan kepadaku bahwa duduk perkara yang sebenarnya, jikalau mereka, yakni jinn dan manusia tetap – (عَلَى الطَّرِيْقَةِ) “pada jalan yang lurus itu” yakni agama Islam.

(لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَّاءً غَدَقًا.) “niscaya Kami akan mencurahkan air yang cukup kepada mereka” yakni niscaya Kami akan meluaskan rezeki bagi mereka. Al-A‘masy membacanya dengan Wāwu yang di-dhammah-kan karena diserupakan dengan Wāwu dhamīr menjadi Lawustaqāmū.

 

لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ وَ مَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا.

072: 17. Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka. Barang siapa berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam adzab yang amat berat. (al-Jinn: 17).

(لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ) “Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka” yakni pada air itu yang merupakan ungkapan kinayah dengan maksud penghidupan yang luas. Karena sesungguhnya orang yang beriman kepada Allah, lalu Allah memberikan nikmat kepadanya, maka nikmat itu merupakan ujian baginya untuk diketahui bahwa apakah dia lalai mensyukurinya, ataukah tidak. Apakah dia menggunakan nikmat itu untuk meraih ridha Allah, ataukah mereka gunakan untuk memuaskan syaithan-syaithan.

(وَ مَنْ يُعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِ) “Barang siapa berpaling dari peringatan Tuhannya” yakni berpaling dari taat kepada-Nya dan ajaran Kitāb Tuhannya – (يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا.) “niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam adzab yang amat berat” yakni Allah akan memasukkannya ke dalam adzab yang keras.

‘Āshim, Ḥamzah dan al-Kisā’ī membacanya dengan memakai Yā’ karena merujukkan dhamīr-nya kepada Allah, sedangkan ulama yang lain membacanya dengan memakai Nūn menjadi Naslukhu.

‘Ikrimah telah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās r.a. bahwa Sha‘ada adalah sebuah gunung di dalam neraka Jahannam yang terdiri atas batu besar yang licin atau dari tembaga, lalu orang kafir dipaksa untuk menaikinya. Kemudian, dari bagian depannya ditarik dengan rantai dan dari bagian belakangnya dipukuli dengan gada besi, sehingga ia baru sampai ke puncaknya dalam masa empat puluh tahun. Apabila telah sampai ke puncaknya, maka ditariklah ia dari bawah hingga sampai ke bawah, lalu dipaksa lagi untuk menaikinya, demikianlah siksa yang dialaminya terus-menerus, selama-lamanya.

 

وَ أَنَّ الْمَسَاجِدَ للهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ أَحَدًا.

072: 18. Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah. (al-Jinn: 18).

(وَ أَنَّ الْمَسَاجِدَ للهِ) “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah” yakni dan telah diwahyukan kepadaku bahwa masjid-masjid itu milik Allah,

(فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللهِ أَحَدًا.) “Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah” yakni janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya selain Allah s.w.t.

Yang dimaksud dengan masjid adalah ruman-rumah yang dibangun oleh penganut berbagai agama sebagai tempat ibadah mereka masing-masing, sehingga termasuk ke dalam pengertiannya gereja-gereja, sinagog-sinagog dan masjid-masjid kaum muslim. Hal itu karena ahli kitab mempersekutukan Allah dengan yang lain-Nya dalam shalat mereka di sinagog-sinagog dan gereja-gereja, maka Allah memerintahkan kepada kaum muslim untuk mengesakan-Nya dan ikhlas kepada-Nya.

 

وَ أَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللهِ يَدْعُوْهُ كَادُوْا يَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِ لِبَدًا.

072: 19. Sesungguhnya ketika hamba Allah (Muḥammad) berdiri menyembah-Nya (melaksanakan shalat), hampir saja (jinn-jinn) itu berdesakan mengerumuninya. (al-Jinn: 19).

(وَ أَنَّهُ) “Sesungguhnya” yakni telah diwahyukan pula kepadaku bahwa duduk perkara yang sebenanya – (لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللهِ يَدْعُوْهُ كَادُوْا يَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِ لِبَدًا.) “ketika hamba Allah (Muḥammad) berdiri menyembah-Nya (melaksanakan shalat), hampir saja (jinn-jinn) itu berdesakan mengerumuninya” yakni ketika Nabi s.a.w. berdiri untuk shalat shubuhnya di lembah Nakhlah, jinn-jinn itu berdesakan mengerumuninya mengagumi cara ibadahnya dan para sahabatnya yang mengikutinya dalam semua ruku‘ dan sujudnya, dan kagum pula dengan al-Qur’ān yang dibacanya. Hal itu karena mereka belum pernah melihat dan mendengar hal yang semisal.

Nāfi‘ dan Syu‘bah membacanya dengan Hamzah yang di-kasrah-kan sebagai isti’nāf atas dasar anggapan bahwa kalām ini termasuk ucapan jinn, bukan dari bagian yang diwahyukan.

Maknanya: Sesungguhnya ketika Nabi s.a.w. berdiri menyembah Allah semata berbeda dengan cara ibadah kaum musyrik yang sujud kepada berhala, maka orang-orang musyrik mengerumuninya dengan berdesakan untuk menghapuskan kebenaran yang disampaikan olehnya, dan memadamkan cahaya Allah. Namun, Allah tetap menolongnya terhadap orang-orang yang memusuhinya.

Hisyām membaca Lubada dengan Lām yang di-dhammah-kan, sedangkan ulama yang lain membacanya dengan Lām yang di-kasrah-kan menjadi Libada.

Perlu diketahui bahwa anna yang di-tasydīd-kan dalan surah ini berjumlah enam belas, dua di antaranya wajib di-fatḥah-kan Hamzah-nya, yaitu Annah-ustama‘a dan Ann-al-Masājida Lillāh, dan yang satu wajib di-kasrah-kan yaitu Innā Sami‘nā, sedangkan tiga belas yang lainnya boleh dua cara.

Dua belas yang lain dibaca fatḥah oleh dua saudara, Ibnu ‘Āmir dan Ḥafsh, sedangkan ulama yang lain meng-kasrah-kannya. Yaitu, Annahū Ta‘ālā Jaddu Rabbinā, Annahū Kāna Yaqūlu, Annā Zhanannā, Annahū Kāna Rijālun, Annahum Zhannū, Annā Lamasnā-s-Samā’a, Annā Kunnā, Annā Lā Nadrī, Annā Minn-ash-Shāliḥūn, Annā Zhanannā, Annā Lammā Sami‘nā, Annā Minnā-l-Muslimūn. Yang satu lagi di-kasrah-kan oleh Ibnu ‘Āmir dan Abū Bakar, tetapi oleh yang lainnya di-fatḥah-kan, yaitu lafal Annahū Lammā Qāma ‘Abdullāhi.

 

قُلْ إِنَّمَا أَدْعُوْ رَبِّيْ وَ لَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا.

072: 20. Katakanlah (Muḥammad): “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.” (al-Jinn: 20).

(قُلْ إِنَّمَا أَدْعُوْ رَبِّيْ) “Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku” yakni aku hanya menyembah-Nya dan menyerukan kepada manusia untuk menyembah-Nya pula.

(وَ لَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا.) “dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya” yakni aku tidak mempersekutukan Tuhanku dalam hal penyembahan dengan seseorang. Sebagian besar ulama membaca Qāla dalam bentuk ghaibah (kata kerja orang ketiga), sedangkan ‘Āshim dan Ḥamzah membacanya Qul dalam bentuk amar (kata perintah) agar selaras dengan ayat selanjutnya.

Latar belakang turunnya ayat ini adalah orang-orang kafir Quraisy mengatakan kepada Nabi s.a.w.: “Sesungguhnya engkau datang dengan membawa perkara yang besar, dan engkau pun memusuhi semua orang, maka hentikanlah seruanmu itu dan kami akan melindungmu.” Kemudian, turunlah ayat ini. Hal ini menjadi hujjah bagi ‘Āshim dan Ḥamzah yang membacanya Qul dalam bentuk amar.

Orang yang membacanya Qāla mena’wilkan bahwa orang-orang kafir ketika mengatakan hal tersebut, Nabi s.a.w. menjawab mereka melalui sabdanya:

إِنَّمَا أَدْعُوْ رَبِّيْ

Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku.

kemudian, Allah menyitir kata-katanya dengan ucapan Qāla. Atau, hal itu merupakan kelanjutan dari kisah jinn dan hal-ihwal Rasūl s.a.w. dengan kaum jinn.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *