Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Azhar (Bagian 4)

Dari Buku:
Tafsir al-Azhar
Oleh: Prof. Dr. HAMKA

Penerbit: PT. Pustaka Islam Surabaya

Rangkaian Pos: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Azhar
  1. 1.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Azhar
  2. 2.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Azhar (Bagian 2)
  3. 3.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Azhar (Bagian 3)
  4. 4.Anda Sedang Membaca: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Azhar (Bagian 4)
  5. 5.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Azhar (Bagian 5)
  6. 6.Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Azhar (Bagian 6)

II

وَ أَنَّهُمْ ظَنُّوْا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَّنْ يَبْعَثَ اللهُ أَحَدًا. وَ أَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَ شُهُبًا. وَ أَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَّصَدًا. وَ أَنَّا لَا نَدْرِيْ أَشَرٌّ أُرِيْدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا. وَ أَنَّا مِنَّا الصَّالِحُوْنَ وَ مِنَّا دُوْنَ ذلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا. وَ أَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَّنْ نُّعْجِزَ اللهَ فِي الْأَرْضِ وَ لَنْ نُّعْجِزَهُ هَرَبًا. وَ أَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى آمَنَّا بِهِ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَ لَا رَهَقًا.

072: 7. Dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamupun menyangka bahwa sekali-kali tidaklah akan dibangkitkan Allah seorang juapun,

072: 8. Dan sesungguhnya kami telah kami sentuh langit itu, maka kami dapati dia dipenuhi dengan penjagaan yang kuat dan panah api.

072: 9. Dan sesungguhnya kami menduduki daripadanya tempat-tempat duduk untuk mendengar; Tetapi barang siapa yang mendengar sekarang, niscaya akan didapatinya panah-panah api pengintai.

72: 10. Dan sesungguhnya kami tidaklah mengetahui apakah yang buruk yang dikehendaki terhadap orang yang ada di bumi atau Tuhan mereka menghendaki yang baik.

73: 11. Dan sesungguhnya di antara kami ada yang shalih-shalih dan di antara kami tidak demikian. Sesungguhnya adalah kami menempuh jalan bersimpang-siur.

72: 12. Dan sesungguhnya kami telah yakin bahwa tidaklah kami akan sanggup melepaskan diri dari Allah di muka bumi dan tidak pula sanggup akan lari.

72: 13. Dan sesungguhnya kami setelah kami mendengar petunjuk, berimanlah kami dengan dia; Maka barang siapa yang beriman kepada Tuhan-nya, tidaklah dia akan takut kerugian dan tidak pula penambahan adzab.

***

Dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamupun menyangka bahwa sekali-kali tidaklah akan dibangkitkan Allah seorang juapun” (Ayat 7). Dalam ayat ini diterangkanlah bahwa di kalangan jinn itu ada juga terdapat yang kafir sebagai di kalangan manusia, yaitu mereka yang tidak percaya bahwa kelak manusia akan dibangkitkan di hari kiamat. Tentu saja di kalangan jinn mungkin ada yang tidak mempercayai itu, atau manusia sendiri tidak dapat memikirkan bagaimana jinn akan dibangkitkan kembali, padahal jinn tidak bertubuh jasmani sebagai manusia. Mereka adalah semacam makhluk halus yang tidak kelihatan. Bagaimana mereka akan mati? Dan kalau mereka tidak akan mati, bagaimana mereka akan berbangkit?

Tuhan menceriterakan dalam wahyu ini, untuk menjadi pengajaran bagi kaum Quraisy yang selalu menantang Nabi Muḥammad s.a.w. Padahal tidak mau percaya akan hari berbangkit itu adalah salah satu penghambat bagi manusia akan berbuat baik, sebagaimana juga bagi jinn.

Dan sesungguhnya kami telah kami sentuh langit itu”. (Pangkal ayat 8). Maksud jinn menyentuh langit, ialah bahwa jinn itu telah sampai juga terbang ke tempat yang tinggi, ke lawang langit, karena hendak mengetahui rahasia yang tersembunyi di langit, mencoba hendak mengetahuinya untuk melebihkan pengetahuannya dari manusia, atau untuk diajarkannya atau diberitahukannya kepada manusia-manusia yang selalu membuat hubungan dengan jinn sebagai disebut dalam ayat ke-6 di atas tadi.

Tetapi apa yang mereka temui? – “maka kami dapati dia dipenuhi dengan penjagaan yang kuat dan panah api” (Ujung ayat 8). Rupanya langit itu mempunyai penjaga-penjaga yang kuat. Masing-masing mempunyai panah dari api. Itulah batu-batu meteor yang kelihatan bertebaran di angkasa luar! Tiap-tiap si jinn, terutama jinn jahat yang mencoba mendekati dinding langit, tiap itu pula penjaga yang kuat itu bertindak memanahnya, sehingga tidak dapat mendekat lagi.

Dan sesungguhnya kami menduduki daripadanya” (Pangkal ayat 9). Yaitu daripada langit itu; “tempat-tempat duduk untuk mendengar”. Dalam ayat ini difahamkan bahwa karena tidak berhasil mendekati ke tepi dinding langit, mereka menyediakan tempat-tempat duduk buat mendengar dari jauh apa gerak di langit. Malah setengah ahli tafsir menyatakan bahwa jinn, iblis atau syaithan itu mencoba mendengarkan suara qalam Ilahi seketika menuliskan Irādah Allah yang akan mengeluarkan Kalimat KUN! Karena jinn, iblīs, syaithan dan ‘ifrit itu masih berusaha hendak mempengaruhi manusia, apatah lagi mereka ada mempunyai “agen-agen”, yaitu dukun-dukun dan tukang-tukang tenung. Tetapi apa pula jadinya usaha mereka itu? Mereka mengaku terus-terang bahwa keadaan telah berobah sekarang. Sambungan kata mereka dikisahkan Tuhan demikian; “Tetapi barang siapa yang mendengar sekarang, niscaya akan didapatinya panah-panah api pengintai” (Ujung ayat 9).

Bilakah yang mereka katakan sekarang itu?

Menurut catatan al-Qurthubī dalam tafsirnya ialah bahwa al-Kalbī menafsirkan yang dimaksud dengan sekarang itu ialah sejak Nabi Muḥammad diutus Allah menjadi Rasūl. Usaha jinn, iblīs, syaithan, dan ‘ifrit hendak mendekati langit, atau menyediakan tempat duduk buat mendengar-dengarkan “rahasia langit” itu sudah tidak dapat lagi. Kalau dahulu tidak dapat sampai ke tepi dindingnya, sekarang dari jauh sajapun sudah ada penjaga yang mengintip buat memanah kalau mendekat.

‘Abd-ul-Mālik bin Shabūr mengatakan pula bahwa di zaman fitrah, kekosongan syari‘at di antara ‘Īsā dengan Muḥammad jalan untuk mendengar dan mengintip-ngintip ke langit itu tidaklah dijaga keras, baru sesudah Nabi Muḥammad s.a.w. penjagaan itu sangat diperketat, sehingga bersihlah turunnya wahyu kepada Rasūl yang suci, dibawa oleh Jibrīl, Rasūl yang suci pula.

Dan sesungguhnya kami tidaklah mengetahui apakah yang buruk yang dikehendaki terhadap orang yang ada di bumi atau Tuhan mereka menghendaki yang baik.” (Ayat 10). Al-Qurthubī di dalam tafsirnya menyalinkan pendapat Ibnu Zaid tentang tafsir ayat ini. Menurut Ibnu Zaid, ayat ini masih kisah perkataan jinn-jinn ketika mereka tidak dapat lagi mendekati langit, karena kerasnya penjagaan. Mereka pada mulanya belum tahu bahwa pintu buat mendengarkan berita langit sudah ditutup sama sekali dan turunnya wahyu tidak boleh diganggu lagi, jinn-jinn itu berkata sesamanya; apa gerangan sebabnya maka telah tertutup berita langit buat kita? Apakah bahaya yang akan menimpa isi bumi ataukah keadaan yang baik?

Dalam riwayat yang lain ialah bahwa meteor-meteor itu telah kelihatan di langit. Melayang dengan cepatnya, sehingga jinn atau iblis yang mendekati langit tercampak tidak dapat mendekati lagi. Berita tentang sebab-sebabnya belum mereka ketahui. Maka timbullah cemas, baik di kalangan manusia ataupun di kalangan jinn; Apakah agaknya yang akan terjadi di muka bumi, yang burukkah atau yang baik. Kemudian barulah diketahui bahwa maksud Allah adalah yang baik, sebab Nabi sudah diutus. Suaranya yang lantang seketika sembahyang shubuh membaca al-Qur’ān sudah kedengaran oleh jinn-jinn yang ada dekat di sana.

Dalam ayat terdapat cara pemakaian bahasa untuk mensucikan dan untuk menyatakan rasa hormat kepada Allah. Disuku yang pertama dikatakan atas nama Iblīs dan Jinn-jinn: “Kami tidaklah mengetahui apakah yang buruk yang dikehendaki terhadap orang yang di bumi”. Di suku kata ini tidak disebutkan siapa yang menghendaki yang buruk itu, melainkan dikatakan yang dikehendaki, dibina bagi yang majhūl. Sebab tidaklah layak dan tidaklah hormat kalau dikatakan: “Kami tidaklah mengetahui apakah Allah menghendaki yang buruk bagi yang di bumi”. Tetapi pada suku lanjutan ayat dikatakan: “Atau Tuhan mereka menghendaki yang baik.”

Oleh sebab menyebut buruk, nama Tuhan tidak disebut. Tetapi setelah menyebutkan menghendaki yang baik, baru dinyatakan nama Tuhan.

Dan sesungguhnya di antara kami ada yang shalih-shalih dan di antara kami tidak demikian….” (Pangkal ayat 11). Ayat inipun masih rangkaian dari ayat-ayat yang sebelumnya. Yaitu setelah pendekatan ke langit dijaga ketat dan meteor telah mengawal ruang angkasa dari penerobosan Iblīs dan jinn, dan setelah kemudian mereka dengar suara Nabi Muḥammad membawa al-Qur’ān dengan jahar dalam sembahyang shubuḥ, adalah di antara mereka yang terus insaf dan tunduk kepada Tuhan. Itulah yang dinamai jinn Islam. Mereka adalah jinn-jinn yang shāliḥ-shāliḥ, mengaku kerasulan Muḥammad dan kepada mereka Nabi kita pun turut diutus. Tetapi ada pula yang tidak demikian. Artinya tidak shāliḥ.

Lawan dari shāliḥ ialah thāliḥ. Shāliḥ artinya orang baik. Thāliḥ artinya orang yang tidak memperdulikan segala peraturan. Mereka melanggar, menyeleweng dan mendurhaka. Di dalam ayat inipun terdapat didikan memakai bahasa yang halus. Yaitu untuk menekan perasaan kepada ke-shāliḥ-an tidaklah layak disebut lawannya, misalnya dikatakannya “Wa min-nath-Thāliḥūn.” (di antara kami ada yang thāliḥ). Sebab dengan susun kata sebagai tersebut di ayat ini, jinn yang membicarakannya memberikan isyarat bahwa dia sendiri adalah termasuk yang shāliḥ. Dalam susunan bicara tidak pula dia mau menyebut kata-kata yang kurang layak; lalu disebutnya saja; di antara kami tidak demikian”. Lalu diujunginya saja dengan kata: “Sesungguhnya kemi adalah menempuh jalan bersimpang siur”. (Ujung ayat 11).

QIDADAN kita artikan bersimpang-siur. Tidak sama tujuan; karena ada yang menuju yang baik yang diridhai Allah dan ada pula yang menuju jalan lain menurut kehendak hatinya saja. Maka jalan yang ditempuh selain jalan Allah bersimpang siurlah tujuannya, kadang-kadang sebanyak kehendak orang yang melaluinya pula.

Dan sesungguhnya kami telah yakin bahwa tidaklah kami akan sanggup melepaskan diri dari Allah” (Pangkal ayat 12). Artinya, bahwasanya Maha Kekuasaan Allah tidaklah kami sanggup melepaskan diri dari ikatan ketentuan Allah itu: “Dan tidak pula sanggup akan lari”. (Ujung ayat 12). Sehingga misalnya dibiarkan Tuhan kami berlepas diri, dilepaskan oleh Tuhan dari genggaman Kebesarannya, namun kami terpaksa tetap di dalam lingkungan kuasa itu juga. Kami tidak sanggup lari. Ke mana kami akan lari, padahal tidak ada suatu daerah lainpun yang di luar dari jangkauan kekuasaan Tuhan.

Dan sesungguhnya kami setelah kami mendengar petunjuk, berimanlah kami dengan dia”. (Pangkal ayat-13). Inilah keinsafan dari jinn yang Islam, yang mengakui nubuwwat Rasūlullāh s.a.w. Mereka mengakui, bahwa setelah mereka mendengar petunjuk. Petunjuk itu ada dalam 7 ayat al-Fātiḥah, didengar oleh jinn, Nabi s.a.w. menjaharkannya di waktu shalat shubuḥ, langsunglah mereka beriman. “Maka barang siapa yang beriman kepada Tuhan-nya, tidaklah dia akan takut kerugian,” tidak takut kerugian karena pahalanya tidak akan kurangi; “dan tidak pula penambahan adzab”. (Ujung ayat 13). Artinya tidak usah dia takut akan diberatkan kepadanya kesalahan orang lain.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *