Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Azhar (Bagian 2)

Dari Buku:
Tafsir al-Azhar
Oleh: Prof. Dr. HAMKA

Penerbit: PT. Pustaka Islam Surabaya

Rangkaian Pos: Surah al-Jinn 72 ~ Tafsir al-Azhar

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang

I

 

قُلْ أُوْحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا. يَهْدِيْ إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَ لَنْ نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا. وَ أَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَ لَا وَلَدًا. وَ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ سَفِيْهُنَا عَلَى اللهِ شَطَطًا. وَ أَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَّنْ تَقُوْلَ الْإِنْسُ وَ الْجِنُّ عَلَى اللهِ كَذِبًا. وَ أَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًا.

072: 1. Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya telah mendengar sekumpulan dari al-jinn, lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengar al-Qur’ān yang menakjubkan itu.”

072: 2. Memberi petunjuk kepada jalan yang bijaksana, maka kamipun berimanlah kepadanya dan sekali-kali kami tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Tuhan kami.

072: 3. Dan sesungguhnya Dia, Yang Maha Tinggi, Kebesaran Tuhan kami, tidaklah Dia mengambil istri dan tidak pula beranak.

072: 4. Dan bahwasanya orang yang bebal di antara kami mengatakan terhadap Allah kata-kata yang tidak keruan.

072: 5. Dan sesungguhnya kami, berat persangkaan kami bahwasanya sekali-kali tidaklah akan mengatakan manusia dan jinn terhadap Allah, kata-kata yang dusta.

072: 6. Dan sesungguhnya adalah lelaki dari kalangan manusia memperlindungkan diri kepada beberapa laki-laki dari kalangan jinn, maka mereka itu telah menjadikan mereka menyombong kacau balau.

Maka tersebutlah dalam sebuah hadits yang dirawikan oleh Bukhārī dari Ibnu ‘Abbās, (yang maknanya saja kita nukilkan di sini), bahwa pada suatu hari Rasūlullāh s.a.w. diiringkan oleh beberapa orang sahabat beliau pergi bersama-sama menuju Pasaran ‘Ukkādz. Kononnya pada waktu itu dalam kalangan syaithan-syaithan timbul hiruk-pikuk tidak berketentuan, karena perhubungan dari langit terputus, sehingga berita dari langit tidak ada lagi yang menetes turun ke muka bumi. Bahkan melayanglah apa yang sekarang kita namai meteor, yaitu batu pecahan bintang yang cepat sekali melayang di udara. Yang menurut keterangan Allah dalam wahyu, meteor itu adalah semacam panah Tuhan yang dipanahkan kepada syaithan-syaithan atau jinn yang mencoba memasang telinga hendak mendengar berita-berita langit. Maka di saat Rasūlullāh s.a.w. itu pergi menuju Pasar ‘Ukkādz itu, itu, yaitu pasaran tahunan tempat orang ‘Arab zaman jahiliah berjual beli dan berlomba bersyair, tertutup sama sekali berita langit itu, bahkan batu meteor melayang di udara tandanya ada syaithan kena panah!

Lalu terjadilah keributan dalam kalangan syaithan-syaithan memperkatakan apa sebab jadi begini. Maka yang terkemuka di antara mereka menyuruh anak buahnya menyelidiki ke seluruh permukaan bumi, ke timur dan ke barat untuk menyelidiki apa sebab terjadi demikian.

Tersebutlah bahwa di antara yang disuruh itu sampailah ke lembah Tihāmah. Di satu perkebunan kurma bertemulah dengan rombongan Rasūlullāh s.a.w. yang hendak menuju pasar ‘Ukkādz itu. Didapatinya Rasūlullāh sedang melakukan sembahyang subuh diikuti oleh sahabat-sahabatnya. Beliau membaca al-Qur’ān dengan jahar. Lalu mereka dengarkan dengan tekun.

Sesudah mereka dengarkan, kembalilah mereka kepada tempatnya berkumpul dengan kawan-kawannya tadi, lalu dia berkata: “Kami telah mendengar al-Qur’ān, sungguh menakjubkan sekali kandungannya. Dia memberi petunjuk kepada jalan yang bijaksana, jalan yang cerdik dan benar. Karena telah percaya akan isi al-Qur’ān itu dan mulai sekarang kami tidak mau lagi mempersekutukan Tuhan kami dengan yang lain sesuatu juapun.”

Inilah menurut riwayat Bukhārī dan Ibnu ‘Abbās itu asal-usul turun ayat. Ada lagi dua tiga hadits yang lain yang hampir sama maknanya dengan hadits ini. Muslimpun merawikan juga dengan susun kata yang lain.

Katakanlah!” – (Pangkal ayat 1), yaitu perintah Tuhan kepada Rasūlullāh s.a.w. supaya hal ini beliau sampaikan kepada manusia. Ini adalah permulaan wahyu: “Telah diwahyukan kepadaku, bahwasanya telah mendengar sekumpulan dari al-jinn”, yaitu bahwa sekumpulan dari al-jinn telah mendengar bunyi al-Qur’ān seketika Rasūlullāh melakukan sembahyang shubuh bersama sahabat-sahabat beliau dengan suara jahar, lalu didengarkan baik-baik oleh al-jinn itu; “Sesungguhnya kami telah mendengar al-Qur’ān yang menakjubkan itu.” (Ujung ayat 1).

Lalu al-jinn itu meneruskan lagi bagaimana kesan yang tinggal dalam diri mereka mendengar bunyi al-Qur’ān; “Memberi petunjuk kepada jalan yang bijaksana” (Pangkal ayat 2). Inilah kesan pertama yang tinggal dalam diri mereka setelah mendengar al-Qur’ān dibaca Nabi. Mula-mula mereka takjub, merasa heran tercengang mendengar ayat itu dibaca. Sebabnya ialah karena isi kandungannya teramat bijaksana sekali, sehingga tidak ada jalan buat membantah dan menolak, kalau hati benar-benar bersih: “maka kamipun berimanlah kepadanya”. Setelah mengakui bahwa isi al-Qur’ān itu penuh dengan petunjuk kepada kebijaksanaan, tidak dapat tidak mustilah timbul Iman atau Kepercayaan akan kebenaran isinya. Maka oleh sebab telah mengaku beriman kepada al-Qur’ān dengan sendirinya timbullah akibat dari Iman itu, yaitu; “Dan sekali-kali tidaklah kami akan mempersekutukan sesuatupun dengan Tuhan kami.” (Ujung ayat 2).

Dari ayat ini, dan berdasar kepada Hadits Ibnu ‘Abbās ini, ahli tafsir al-Māwardī mengambil kesan; bahwa Jinn beriman setelah mendengar al-Qur’ān. Ar-Rāzī mengambil kesan bahwa Jinn – pun faham rupanya akan bahasa manusia. Dan kesan lain lagi ialah bahwa jinn yang beriman melakukan da‘wah pula kepada sejenisnya yang belum beriman.

Dan didapat pula kesan, setelah dipersambungkan dengan ayat dalam Sūrat-ul-Isrā’ yang mengatakan bahwa Iblīs adalah bangsa jinn dan yang dalam Sūrat-ur-Raḥmān, bahwa jinn terjadi daripada nyala api, bahwa di antara jinn dan iblīs, dan kadang-kadang disebut juga ‘ifrit, semuanya itu adalah makhluk Allah dari jenis yang satu, tetapi ada yang kafir sebagaimana telah kita lihat pada kisah Iblis tidak mau sujud kepada Ādam ketika diperintah oleh Tuhan, dan ada pula yang Islam sebagaimana yang kita lihat dengan jelas dalam ayat ini. Cuma dalam pemakaian bahasa sehari-hari saja telah kita biasakan menyebut bahwa Iblīs seluruhnya adalah kafir dan jinn ada yang Islam.

Dalam ayat yang pertama inipun dapat kita memahamkan bahwa Nabi Muḥammad s.a.w. sendiri tidaklah bertemu berhadapan dengan jinn yang menyatakan diri beriman setelah mendengar Nabi membaca al-Qur’ān dengan jahar di kala sembahyang shubuḥ itu. Bahkan ayat membayangkan bahwa Nabi sendiripun tidak tahu menahu. Baru beliau tahu setelah wahyu ini datang memberitahukan.

Kemudian bertemu lagi sebuah hadits yang dirawikan oleh Muslim dalam shaḥīḥnya; Dia berkata: “Telah mengatakan kepada kami Muḥammad bin al-Mutsannā, telah menyatakan kepada kami ‘Abd-ul-A‘lā, telah menyatakan kepda kami Dāūd yaitu Ibnu Abī Hindun, diterimanya dari ‘Āmir. ‘Āmir ini berkata: “Aku tanyakan kepada ‘Alqamah: “Adakah Ibnu Mas‘ūd turut menyaksikan bersama Rasūlullāh seketika terjadi malam kedatangan jinn itu? ‘Alqamah pun menjawab: “Akupun telah menanyakan kepada Ibnu Mas‘ūd, adakah dia turut bersama Rasūlullāh di malam kedatangan jinn itu?

‘Abdullāh bin Mas‘ūd menjawab: “Tidak! Tetapi yang kejadian ialah bahwa pada suatu malam pergi bersama Rasūlullāh. Lalu kami kehilangan beliau, sampai kami cari-cari beliau ke balik-balik bukit dan ke lembah-lembah, namun tidak juga bertemu. Sampai ada di antara kami yang bertanya: “Lenyap! Ke mana! Apa beliau telah dibunuh orang? Pendeknya pada malam yang semalam itu kami merasakan sangat risau. Setelah datang waktu subuh barulah beliau muncul dari jurusan Bukit Ḥirā’. Lalu kami bertanya: “Engkau tiba-tiba hilang dari kami, ya Rasūlullāh! Ke mana saja engkau? Sehingga semalam ini kami dalam kesusahan semua! Lalu beliau menjawab: “Datang menghadap kepadaku jemputan dari jinn. Lalu utusan mereka aku ikuti dan aku pergi dan aku ajar al-Qur’ān kepada mereka.

Di hadits yang dirawikan oleh Muslim dari Ibnu Mas‘ūd ini dikatakan bahwa Rasūlullāh sampai menjumpai jinn-jinn itu. Imam Hadits yang terkenal, al-Baihaqī mengatakan bahwa di antara kedua hadits itu tidak berlawan,  melainkan keduanya itu sama-sama kejadian. Pada pertemuan yang dirawikan Bukhārī dari Ibnu ‘Abbās, dan yang jadi dasar dari ayat ke-1 Sūrat-ul-Jinn ini Nabi tidak sampai bertemu, hanya diberi tahukan oleh Tuhan. Tetapi pada Hadits Ibnu Mas‘ūd yang dirawikan oleh Muslim dijelaskan bahwa Nabi sampai bertemu dengan mereka dan Nabi ajarkan al-Qur’ān. Di hadits dan riwayat lain yang dibawakan oleh Ibnu Isḥāq dan tertulis dalam Sīrah Ibnu Hisyām, ketika Nabi kembali dan melakukan da‘wah kepada Kaum Syaqīf di Thā’if, di tengah jalan akan pulang ke Makkah datang tujuh jinn menemui beliau dan menyatakan Iman akan al-Qur’ān.

Dalam sebuah hadits yang dirawikan oleh at-Tirmidzī disebutkan bahwa pada suatu hari Rasūlullāh s.a.w. membacakan Sūrat-ur-Raḥmān di hadapan sahabat-sahabat beliau. Semua terdiam dan tafakkur mendengar ayat-ayat yang mempesona itu, apatah lagi sesampai pada ayat yang selalu berulang:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka ni‘mat Tuhan kamu yang manakah lagi yang akan kamu dustakan?

Melihat mereka duduk termenung tafakkur memasukkan pengertian isi ayat itu ke dalam jiwa mereka, bersabdalah Nabi s.a.w. “Jinn lebih mendalam sambutan mereka daripada kamu seketika ayat-ayat ini aku baca. Setiap aku sampai kepada ayat “fa bi aiyyi ālā’i rabbikuma tukadzdzibān”, jinn-jinn itu menyambut dengan ucapan:

لَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ، فَلَكَ الْحَمْدُ.

Tidak ada satupun ni‘mat Engkau yang kami dustakan, Ya Tuhan, bagi Engkaulah segala puji-pujian.

Riwayat at-Tirmidzī ini memperkuat riwayat Ibnu Mas‘ūd dan riwayat Ibnu Isḥāq, bahwa pernah Nabi kita s.a.w. berhadapan dengan jinn-jinn itu. Betapa tidak! Bukankah beliaupun diutus kepada jinn di samping kepada manusia? Niscaya sudah seyogianya beliaupun bertemu dengan mereka. Dan itulah kelebihan beliau, sehingga beliau dapat bertemu dengan makhluk yang tidak akan dapat ditemui oleh manusia-manusia biasa.

Dan sesungguhnya Dia, Yang Maha Tinggi, Kebesaran Tuhan kami”. (Pangkal ayat 3). Dalam suku kata pertama, dengan segala kesungguhan jinn itu menyatakan pengakuan atas Kemaha-tinggian Ilahi, setelah itu diakuinya pula Kebesaran-Nya, “Kebesaran Tuhan kami”. Merekapun telah sampai ke dalam inti kepercayaan dengan lanjutan pengakuan mereka: “Tidaklah Dia mengambil istri dan tidak pula beranak.” (Ujung ayat 3).

Itulah pengakuan Tauhid sejati, yang telah sampai kepada puncaknya; Bahwa Allah itu berdiri sendirinya, Maha Tinggi; tiada yang menyamai-Nya dalam ketinggian-Nya, “Kebesaran Tuhan kami”, mutlak kebesaran itu, sehingga; “Tidaklah Dia mengambil istri dan tidak pula beranak.” (Ujung ayat 3).

Sudah mesti, menurut akal yang sehat bahwa Tuhan Yang Maha Tinggi, Maha Mulia, Maha Agung dan mempunyai Kebesaran Yang Mutlak tidak beristri. Karena beristri adalah sifat dan alamat kekurangan yang ada pada makhluk yang bernyawa. Allah mengadakan sifat ‘alam “berjantan-berbetina” dengan syahwat faraj atau sex, untuk menyambung turunan. Karena kalau seseorang meninggal dunia, Allah mentakdirkan anaknya akan meneruskan kehidupan. Untuk beranak dia mesti beristri. Maka amat janggallah fikiran kalau sampai kepada kesimpulan bahwa Allah Yang Maha Agung itu memerlukan istri, karena istri akan memberinya anak. Tuhan tidaklah dapat diserupakan dengan raja-raja penguasa dunia, yang cemas kalau dia tidak meninggalkan putra mahkota yang akan menyambut kekuasaan kalau datang masanya dia meninggalkan dunia ini.

Lalu jinn-jinn yang telah Islam itu mengakui terus-terang bahwa dalam kalangan jinn-jinn itu sendiri ada yang bebal, berfikir kacau-balau; “Dan bahwasanya orang yang bebal di antara kami” (Pangkal ayat 4). Yaitu yang berfikir kacau-balau, yang jiwanya tidak bersih, yang pendapat akalnya tidak teratur: “mengatakan terhadap Allah kata-kata yang tidak keruan”. (Ujung ayat 4). Sebagai puncak kedustaan sebagai yang dijelaskan di ayat sebelumnya. Yaitu mengatakan Allah beristri dan kemudian itu Allah beranak. Misalnya dalam kalangan manusia pemeluk Keristen ada yang memandang Siti Maryam Ibu ‘Īsā al-Masīḥ adalah istri Tuhan, sebab dia melahirkan “Putra” Tuhan, yaitu ‘Īsā al-Masīḥ atau Yesus Keristus. Dalam ayat ceritera jinn ini, kepercayaan demikian timbul dari jinn yang safīh, yang berarti bebal; yaitu berfikir tidak jernih, atau menutup pintu buat orang berfikir. Padahal semuanya itu adalah tidak masuk akal, kalau kita hendak mendalami siapa yang dimaksud dengan Tuhan Yang Maha Esa, atau Allah s.w.t.

Dan sesungguhnya kami, berat persangkaan kami”. (Pangkal ayat 5). Di ayat ini mereka menjelaskan diri mereka dengan KAMI. Yaitu kami yang telah mengakui kebenaran Rasūl, kami yang telah mendengar bacaan Nabi akan al-Qur’ān di kala sembahyang shubuḥ itu, atau kami yang telah menemui Nabi di malam gulita sehingga Ibnu Mas‘ūd dan sahabat-sahabat yang lain kehilangan hampir semalam suntuk, atau kami yang bertemu tujuh jinn banyaknya di perjalanan pulang beliau dari Thā’if. Mereka mengatakan berat persangkaan kami, atau tidak berdetak di hati kami, atau tidaklah mungkin kejadian: “bahwasanya sekali-kali tidaklah akan mengatakan manusia dan jinn terhadap Allah, kata-kata yang dusta”(Ujung ayat 5). Kata-kata yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Karena Iman yang sejati tidaklah mungkin dicampur-adukkan dengan dusta.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *