Surah al-Ikhlash 112 ~ Tafsir al-Aisar

TAFSĪR AL-AISAR
(Judul Asli: أَيْسَرُ التَّفَاسِيْرِ لِكَلَامِ الْعَلِيِّ الْكَبِيْرِ)
Edisi Indonesia:
Tafsir al-Qur’an al-Aisar (Jilid 7)

Penulis: Syaikh Abū Bakar Jābir al-Jazā’irī

(Jilid ke 7 dari Surah Qāf s.d. an-Nās)

SURAT AL-IKHLĀSH

MAKKIYYAH
JUMLAH AYAT: 4 AYAT

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

 

Surat al-Ikhlāsh: Ayat 1-4

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَ لَمْ يُوْلَدْ. وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

112:1. Katakanlah (Muḥammad): “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
112:2. Allah tempat meminta segala sesuatu.
112:3. (Allah) tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
112:4. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.

PENJELASAN KATA

(قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ) Qul Huwallāhu Aḥad: Katakanlah wahai Nabi Kami kepada orang-orang yang bertanya kepadamu tentang Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah esa.

للهُ الصَّمَدُ) Allāh-ush-Shamad: Allah ta‘ālā adalah Dzāt yang harus disembah. Kata “ash-Shamadu” adalah tempat bergantung dari seluruh kebutuhan. Hanya Dia-lah tempat bergantung dari seluruh kebutuhan hamba dalam setiap saatnya.

(لَمْ يَلِدْ) Lam Yalid: Tidak akan hancur. Karena sesuatu yang dilahirkan pasti akan hancur.

(وَ لَمْ يُوْلَدْ) Wa Lam Yūlad: Bukan sesuatu yang baru, yaitu yang sebelumnya tidak ada kemudian ada. Akan tetapi, Allah ta‘ala merupakan Dzāt yang pertama kali ada dan kekal.

(وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ) Wa Lam Yakun Lahū Kufuwan Aḥad: Tidak ada seorang pun yang serupa dan setara dengan-Nya.

MAKNA AYAT 1-4 SECARA UMUM

Firman-Nya: “Katakanlah (Muḥammad): “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu.” (12031). Empat ayat yang penuh berkah ini diturunkan dalam rangka menjawab perkataan orang-orang musyrik kepada Rasūlullāh s.a.w.: “Sebutkanlah kepada kami nasab (12042) dan gambaran Rabbmu!” Maka Allah ta‘ālā berfirman kepada Rasūl-Nya, Muḥammad s.a.w.: “Katakanlah (Muḥammad): “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu.  (Allah) tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” Yaitu bahwa Rabbku adalah Allah ta‘ālā yang tidak ada sembahan, kecuali Dia dan tidak pantas untuk disembah, kecuali hanya Dia. Tidak ada yang berhak kecuali Dia, Tidak ada yang menyamai dan menyerupai Allah, karena Dia yang menciptakan segala sesuatu dan memilikinya. Tidak ada suatu ciptaan seperti ciptaan-Nya. Dia-lah yang menciptakan semua makhluk, yaitu Allah ta‘ālā yang berhak disembah dan tidak ada sembahan yang benar, kecuali Dia.

Allah ta‘ālā tempat bergantung segala sesuatu dan tidak membutuhkan bantuan hamba-Nya. Bahkan sebaliknya hamba-Nya sangat membutuhkan-Nya. Tidak melahirkan artinya tidak memiliki anak, karena Allah tidak membutuhkan teman. Karena anak pasti sejenis dengan bapaknya. Rasa memerlukan tidak akan dimiliki oleh Allah karena Allah tidak ada yang menyamai dan menyerupai-Nya. Allah ta‘ālā tidak dilahirkan artinya Allah tidak diciptakan.

Firman-Nya: “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” (12053) tidak ada seorang pun yang menyamai, menyerupai, dan setara dengan-Nya. Karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dia-lah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Allah ta‘ālā dikenal dengan sifat “al-aḥadiyyah” dan “ash-shamadiyyah”. Kata “al-aḥadiyyah” artinya bahwa Allah Maha Esa pada dzāt, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatanNya, serta tidak ada yang menyamai dan menyerupai-Nya.

Sedangkan “ash-shamadiyyah” artinya yang tidak (pernah) membutuhkan segala sesuatu dan sebaliknya, segala sesuatu membutuhkan keberadaan-Nya, sebagaimana diketahui dari nama-nama, sifat-sifat, dan ayat-ayatNya.

PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL DARI AYAT 1-5.

  1. Mengenal Allah ta‘ālā dengan nama-nama dan sifat-sifatNya.
  2. Penetapan tentang tauhid dan kenabian.
  3. Menisbatkan anak kepada Allah ta‘ālā adalah perkara yang batil.
  4. Kewajiban beribadah kepada Allah ta‘ālā dengan tidak menyekutukan-Nya, karena hanya Dia-lah yang berhak disembah oleh seluruh hamba-Nya.

Catatan:

  1. 1203). Keutamaan surat ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imām al-Bukhārī adalah menyamai sepertiga al-Qur’ān. Imām Muslim meriwayatkan dari ‘Ā’isyah r.a. bahwa Rasūlullāh s.a.w. mengutus seseorang dalam suatu peperangan. Ketika itu, ia mengimami shalat teman-temannya dan menutup shalatnya dengan membaca surat al-Ikhlāsh. Ketika mereka pulang, mereka memberitahukan hal ini kepada Nabi s.a.w. Maka beliau bersabda: “Tanyakan kepadanya, mengapa ia membacanya?” Maka mereka pun bertanya kepadanya. Ia menjawab: “karena di dalam surat al-Ikhlāsh ada sifat ar-Raḥmān dan saya suka membacanya.” Maka Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Kabarkan kepadanya bahwa Allah ta‘ālā mencintainya.”
  2. 1204). Imām at-Tirmidzī meriwayatkan dari Ubay bin Ka‘ab bahwa orang-orang musyrik pernah bertanya kepada Rasūlullāh s.a.w.: “Jelaskanlah ciri-ciri Rabbmu kepada kami!” Maka Allah ta‘ālā menurunkan: “Qul Huwallāhu Aḥad, Allah-ush-Shamadu” yaitu surat al-Ikhlāsh.
  3. 1205). Nāfi‘ membacanya dengan “kufu’an”, sedangkan Ḥafsh membacanya dengan “kufuwan” untuk meringankan cara membacanya.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *