Surah al-Humazah 104 ~ Tafsir Sayyid Quthb

Dari Buku:
Tafsīr fi Zhilāl-il-Qur’ān
Oleh: Sayyid Quthb

SURAH AL-HUMAZAH

Diturunkan di Makkah
Jumlah Ayat: 9.

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

 

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ. الَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَ عَدَّدَهُ. يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ. كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ. وَ مَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ. نَارُ اللهِ الْمُوْقَدَةُ. الَّتِيْ تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ. إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُّؤْصَدَةٌ. فِيْ عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ

104:1. Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,
104:2. yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya,
104:3. Ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya,
104:4. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Ḥuthamah.
104:5. Tahukah kamu apa Ḥuthamah itu?
104:6. Yaitu api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
104:7. yang (naik) sampai ke hati.
104:8. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,
104:9. (sedang mereka itu) diikat pada tiang yang panjang.

Surah ini berbeda dengan surah-surah lain di dalam menggambarkan realitas di dalam kehidupan dakwah pada masa-masa permulaannya. Pada waktu yang sama ia merupakan sebuah contoh kenyataan yang terjadi berulang-ulang pada setiap lingkungan. Surah ini menggambarkan seorang manusia yang tercela lagi kerdil jiwanya. Ia memberi kekuasaan kepada harta agar dapat menguasai dirinya, hingga ia tidak dapat melepaskan diri dari kungkungannya. Ia merasa bahwa harta itu memiliki nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan, ya‘ni nilai yang menjadikan semua nilai dan norma menjadi kecil di hadapannya, termasuk nilai dan harga diri manusia itu sendiri. Demikian pula nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai hakikat. Menurutnya, kalau seseorang memiliki harta kekayaan, berarti ia memiliki segala kemuliaan dan kehormatan manusia, tanpa terhitung nilainya.

Ia juga beranggapan bahwa harta kekayaan merupakan tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, yang mampu berbuat segala sesuatu, sehingga dapat menolak kematian dan mengekalkan kehidupan, dan dapat menolak qadhā Allah, hisab-Nya, dan pembalasan-Nya, jika ia masih berpandangan di sana (akhirat) ada hisab dan pembalasan.

Karena itu, ia tergila-gila terhadap harta ini, selalu menghitung-hitungnya, dan merasa enjoy dengan menghitung-hitungnya. Lantas, ia menyombongkan diri dan menganggap remeh terhadap seluruh kemuliaan dan kehormatan manusia, mengumpat dan mencelanya. Ia mencaci mereka dengan mulutnya dan menghina mereka dengan gerak-gerik dan tindakannya. Ia melakukan semua itu dengan menceritakan gerak-gerik dan suaranya dengan merendahkan sifat-sifat dan keadaannya, dengan perkataan ataupun dengan isyārat, dengan lirikan dan makian, dan dengan gaya meremehkan dan gerakan-gerakan yang menghinakan.

Itulah gambaran yang hina dan tercela bagi jiwa manusia ketika sudah kosong dari harga diri dan lepas dari iman. Islam membenci gambaran jiwa yang hina ini dan ia menghendakinya berakhlāq yang luhur. Islam melarang manusia dari perbuatan menghina, mencela, dan mencaci-maki sebagaimana dikemukakan dalam beberapa tempat dalam al-Qur’ān. Maka, disebutkanlah di sini tindakan mengumpat dan mencela itu dengan gambaran yang sangat buruk disertai dengan ancaman yang keras, yang memberikan kesan bahwa ia sedang menghadapi kondisi riil dari sebagian kaum musyrikin terhadap Rasūlullāh s.a.w. dan orang-orang mu’min. Maka, datanglah penolakan terhadap sikap demikian. Terdapat beberapa riwayat yang menyebut orang-orang tertentu, tetapi riwayat-riwayat tersebut tidak akurat. Karena itu, kami cukupkan dengan apa yang telah kami tetapkan di muka.

Ancaman ini dilukiskan dalam salah satu pemandangan dari pemandangan hari kiamat; dilukiskan dalam bentuk ‘adzāb jasmani dan ruhani; dan dilukiskan dengan lukisan api dalam bentuk indrawi dan ma‘nawi. Di situ, diperhadapkan antara wujud neraka, cara pembalasan, dan suasana siksaan.

Di sana dilukiskan tindakan mengumpat dan mencela, dengan merendahkan dan meremehkan orang lain, terhadap dirinya dan harga dirinya serta kekayaannya. Sedangkan, ia mengumpulkan dan menumpuk-numpuk harta karena ia mengira bahwa hartanya akan menjamin kekekalan hidupnya. Demikianlah gambaran seorang yang tinggi hati, merendahkan orang lain, dan merasa kuat dengan harta kekayaannya.

Kemudian dilukiskan dalam kondisi sebaliknya, yaitu sebagai orang yang dilemparkan, disia-siakan, dan dijatuhkan ke dalam neraka Ḥuthamah. Neraka yang menghancurkan segala sesuatu yang dilemparkan ke dalamnya, menghancurkan eksistensi dan kesombongannya. Ḥuthamah adalah “api Allah yang dinyalakan”. Dinisbatkannya api ini kepada Allah dan dikhususkannya penyebutannya ini mengisyaratkan bahwa ia adalah api yang bisa menembus, bukan api biasa, dengan sifat-sifatnya yang menakutkan dan mengerikan. Api itu naik sampai ke hati, yang menjadi sumber tindakannya mengumpat dan mencela, menghina, sombong, dan terpedaya.

Untuk melengkapi gambaran api neraka yang menghancurkan orang yang dilemparkan ke dalamnya itu, maka neraka ini ditutup rapat, tidak ada seorang pun penghuninya yang dapat lepas darinya dan tidak ada seorang pun di sana yang dapat ditanya. Di sana ia diikat di tiang-tiang api seperti binatang yang diikat dengan tidak hormat.

Tekanan suara pada lafal-lafal ayat itu sendiri menunjukkan kekerasannya, yaitu lafal: “‘Addadah! Kallā! Layunbadzanna! Taththali‘! Mumaddadah!” Ma‘na-ma‘na pernyataan kalimat itu juga menambah ketegasannya dengan berbagai metode penegasan: “Layunbadzanna fī-l-ḥuthamah. Wa mā adrāka mā-l-ḥuthamah. Nārullāh-il-mūqadah.” “Sesungguhnya ia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Ḥuthamah. Tahukah kamu apa Ḥuthamah itu? Yaitu api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan.”

Pernyataan yang bersifat global dan umum, kemudian pertanyaan yang menunjukkan kehebatannya, lantas jawaban dan penjelasannya, semua itu merupakan metode penegasan dan menunjukkan besarnya urusan itu. Ditambah lagi dengan perkataan-perkataan yang berisi ancaman: “WailuncelakalahLayunbadzanna benar-benar akan dilemparkan”, Ḥuthamah neraka Ḥuthamah”, Nārullāh-il-mūqadahapi Allah yang dinyalakan,” allatī taththali‘u ‘alal-af’idahyang naik sampai ke hati”, innahā ‘alaihim mu’shadahsesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka”, fī ‘amadin mumaddadahmereka diikat pada tiang yang panjang”!”.

Lukisan pemandangan dan perasaan ini serasi sekali dengan tindakan “mengumpat dan mencela, mencaci dan memaki”!

Al-Qur’ān selalu mengiringi peristiwa-peristiwa yang terjadi sekaligus memandunya. Ia sebagai pedang tajam yang dapat menghancurkan tipu daya para pernipu, menggoncangkan hati musuh, dan memantapkan jiwa orang-orang yang beriman.

Kita melihat dua ma‘na besar dalam perhatian Allah di dalam menolak sikap yang dilukiskan dalam surah ini.

Pertama, menunjukkan betapa jeleknya akhlāq yang rendah dan buruknya jiwa yang hina yang digambarkan dalam surah ini.

Kedua, menjaga dan memelihara jiwa kaum mu’minīn agar jangan sampai diresapi moralitas yang hina-dina ini. Juga menyadarkan mereka bahwa Allah senantiasa melihat apa saja yang terjadi pada mereka, tidak menyukai sikap-sikap yang demikian itu, dan akan memberikan hukuman atasnya.

Kiranya semua ini sudah cukup untuk meninggikan ruh dan mengangkat jiwa mereka sehingga tidak tertipu untuk melakukan perbuatan yang tercela itu.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *