Surah al-Haqqah 69 ~ Tafsir Ibni Katsir (3/6)

Tafsir Ibnu Katsir

Dari Buku:
Tafsir Ibnu Katsir, Juz 30
(An-Nabā’ s.d. An-Nās)
Oleh: Al-Imam Abu Fida’ Isma‘il Ibnu Katsir ad-Dimasyqi

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar L.C.
Penerbit: Sinar Baru Algensindo Bandung

Rangkaian Pos: Surah al-Haqqah 69 ~ Tafsir Ibni Katsir

Al-Ḥāqqah, ayat 13-18.

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّوْرِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ. وَ حُمِلَتِ الْأَرْضُ وَ الْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً. فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ. وَ انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ. وَ الْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا وَ يَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ. يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُوْنَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ.

69: 13. Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup,
69: 14. dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur.
69: 15. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat,
69: 16. dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah.
69: 17. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.
69: 18. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).

Allah s.w.t. menceritakan perihal huru-hara yang terjadi di hari kiamat, yang hal ini terjadi pada tiupan pertama yang mengagetkan. Kemudian diiringi dengan tiupan kematian, saat itulah semua makhluq yang ada di langit dan di bumi mati semuanya kecuali orang yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian dilakukanlah tiupan kebangkitan untuk menghadap kepada Tuhan semesta alam, maka bangkit dan hidup kembalilah semua makhluq. Dan itu terjadi pada tiupan yang disebutkan dalam ayat di atas yang diungkapkan dengan lafazh yang dikukuhkan, yaitu bahwa tiupan itu sekali; karena perintah Allah tidak dapat ditentang, tidak dapat dicegah, dan tidak perlu adanya ulangan atau pengukuhan. Menurut ar-Rabī‘, terjadinya peristiwa tersebut adalah pada tiupan yang terakhir. Tetapi pendapat yang jelas adalah seperti apa yang kami sebutkan pada permulaan. Karena itulah disebutkan dalam ayat ini:

وَ حُمِلَتِ الْأَرْضُ وَ الْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً.

dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur”. (Al-Ḥāqqah [69]: 14).

Ya‘ni bumi digelarkan sebagaimana digelarkan kulit yang dijajakan di pagar ‘Ukkazh, lalu bumi ini diganti dengan bumi lainnya.

فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ.

Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat”. (Al-Ḥāqqah [69]: 15).

Maksudnya, mulai terjadi hari kiamat.

وَ انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ.

dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah”. (Al-Ḥāqqah [69]: 16).

Sammāk telah meriwayatkan dari seorang syaikh, dari Bani Asad, dari ‘Alī yang mengatakan bahwa langit terbelah mulai dari bagian atasnya; demikianlah menurut riwayat Ibnu Abī Ḥātim. Ibnu Juraij mengatakan bahwa ayat ini sema‘na dengan firman-Nya:

وَ فُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا.

dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu.” (an-Naba’ [78]: 19).

Ibnu ‘Abbās mengatakan bahwa langit berlubang dan ‘Arasy tepat berada di atasnya.

وَ الْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا

Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit”. (Al-Ḥāqqah [69]: 17).

Al-Malak adalah isim jenis, ya‘ni para malaikat berada di semua penjuru langit. Menurut Ibnu ‘Abbās, mereka berada di bagian langit yang tidak lemah, ya‘ni di semua pinggirannya. Hal yang sama dikatakan oleh Sa‘īd ibnu Jubair dan al-Auzā‘ī. Adh-Dhaḥḥāk mengatakan bahwa Arjā’ihā artinya pinggiran-pinggirannya. Al-Ḥasan al-Bashrī mengatakan, ma‘na yang dimaksud ialah berada di pintu-pintunya. Ar-Rabī‘ ibnu Anas telah mengatakan sehubungan dengan ma‘na firman-Nya:

وَ الْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا

Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit”. (Al-Ḥāqqah [69]: 17).

Ya‘ni berada di atas bagian langit yang terbelah untuk melihat penduduk bumi.

Firman Allah s.w.t.:

وَ يَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ.

Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka”. (Al-Ḥāqqah [69]: 17).

Yaitu di hari kiamat ‘Arasy dipikul oleh delapan malaikat. ‘Arasy atau singgasana ini dapat diartikan ‘Arasy yang terbesar, atau ‘Arasy yang diletakkan di bumi pada hari kiamat nanti untuk memutuskan peradilan; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Di dalam hadits ‘Abdullāh ibnu ‘Umairah, dari al-Aḥnāf ibnu Qais, dari al-‘Abbas ibnu ‘Abd-il-Muththalib sehubungan dengan mereka yang memikul ‘Arasy, disebutkan bahwa mereka terdiri dari delapan ekor kijang jantan.

Ibnu Abī Ḥātim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abū Sa‘īd alias Yaḥyā ibnu Sa‘īd, telah menceritakan kepada kami Zaid ibn-ul-Ḥabbāb, telah menceritakan kepadaku Abus-Samḥ al-Bashrī, telah menceritakan kepada kami Abū Qīl alias Ḥuyay ibnu Hāni’; ia pernah mendengar ‘Abdullāh ibnu ‘Amr mengatakan bahwa para malaikat pemikul ‘Arasy ada delapan, jarak antara kedua sudut mata seseorang dari mereka sama dengan jarak perjalanan seratus tahun (saking besarnya).

Ibnu Abī Ḥātim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku yang mengatakan bahwa Aḥmad ibnu Ḥafsh ibnu ‘Abdillāh an-Naisābūrī menulis surat kepadanya yang mengatakan bahwa telah menceritakan kedapaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrāhīm ibnu Thuhmān, dari Mūsā ibnu ‘Uqbah, dari Muḥammad ibn-ul-Munkadir, dari Jābir yang mengatakan bahwa Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

أُذِنَ لِيْ أَنْ أُحَدِّثَكُمْ عَنْ مَلَكٍ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ بُعْدُ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ وَ عُنُقِهِ مَخْفَقُ الطَّيْرِ سَبْعَمِائَةِ عَامٍ.

Telah diidzinkan bagiku untuk menceritakan kepada kamu tentang malaikat-malaikat pemikul ‘Arasy, bahwa jarak antara daun telinganya sampai ke lehernya sama dengan jarak yang ditempuh burung terbang selama tujuh ratus tahun.”

Sanad hadits ini jayyid, semua perawinya tsiqah. Imām Abū Dāūd telah meriwayatkannya di dalam Kitāb-us-Sunnah, bagian dari kitab Sunan-nya, telah menceritakan kepada kami Aḥmad ibnu Ḥafsh ibnu ‘Abdillāh, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibrāhīm ibnu Thuhmān, dari Mūsā ibnu ‘Uqbah, dari Muḥammad ibn-ul-Munkadir, dari Jābir ibnu ‘Abdillāh, bahwa Rasūlullāh s.a.w. pernah bersabda:

أُذِنَ لِيْ أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكِ اللهِ تَعَالَى مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ أَنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيْرَةُ سَبْعَمِائَةِ عَامٍ.

Telah diidzinkan bagiku untuk menceritakan tentang seorang malaikat dari para malaikat pemikul ‘Arasy Allah s.w.t., bahwa jarak antara daun telinganya sampai ke pundaknya sama dengan jarak yang perjalanan tujuh ratus tahun.”

Ini menurut lafazh Imām Abū Dāūd.

Ibnu Abī Ḥātim mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abū Zur‘ah, telah menceritakan kepada kami Yaḥyā ibnu Mughīrah, telah menceritakan kepada kami Jarīr, dari Asy‘ats, dari Ja‘far, dari Sa‘īd ibnu Jubair sehubungan dengan ma‘na firman-Nya:

وَ يَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ.

Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka”. (Al-Ḥāqqah [69]: 17).

Bahwa ma‘na yang dimaksud ialah delapan baris malaikat. Ibnu Abī Ḥātim mengatakan bahwa telah diriwayatkan hal yang semisal dari asy-Sya‘bī, ‘Ikrimah, adh-Dhaḥḥāk, dan Ibnu Juraij. Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh as-Suddī, dari Abū Mālik, dari Ibnu ‘Abbās, bahwa ma‘na yang dimaksud ialah delapan baris malaikat. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh al-‘Aufī, dari Ibnu ‘Abbās. adh-Dhaḥḥāk mengatakan dari Ibnu ‘Abbās, bahwa mereka adalah Malaikat Karūbiyyūn, terdiri dari delapan bagian; setiap bagian (golongan) dari mereka sama banyaknya dengan bilangan manusia, jinn, syaithan, dan para malaikat lainnya.

Firman Allah s.w.t.:

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُوْنَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ.

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (Al-Ḥāqqah [69]: 18).

Ya‘ni kalian akan dihadapkan kepada Tuhan Yang mengetahui rahasia dan pembicaraan rahasia, Yang tiada sesuatu pun dari keadaanmu tersembunyi bagi-Nya. Bahkan Dia mengetahui semua yang nyata dan semua yang tersembunyi dan semua rahasia serta yang terkandung di dalam hati. Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ.

tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (Al-Ḥāqqah [69]: 18).

Ibnu Abud-Dunyā mengatakan, telah menceritakan kepada kami Isḥāq ibnu Ismā‘īl, telah menceritakan kepada kami Sufyān ibnu ‘Uyaynah, dari Ja‘far ibnu Barqān, dari Tsābit al-Ḥajjāj yang mengatakan bahwa ‘Umar ibn-ul-Khaththāb pernah mengatakan: “Hisablah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab, timbanglah perbuatanmu sendiri sebelum amal perbuatanmu ditimbang. Karena sesungguhnya cara ini lebih meringankan hisabmu di kemudian hari, bila kamu menghisab dan menimbang amalmu sendiri di hari sekarang untuk menghadapi hari hisab yang besar.”

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُوْنَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ.

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. (Al-Ḥāqqah [69]: 18).

Imām Aḥmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Wakī‘ telah menceritakan kepada kami ‘Alī ibnu Rifā‘ah, dari al-Ḥasan, dari Abū Mūsā yang mengatakan bahwa Rasūlullāh s.a.w. pernah bersabda:

يُعْرَضُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلَاثَ عَرَضَاتٍ، فَأَمَّا عَرْضَتَانِ فَجِدَالٌ وَ مَعَاذِيْرُ، وَ أَمَّا الثَّالِثَةُ فَعِنْدَ ذلِكَ تَطِيْرُ الصُّحُفُ فِي الْأَيْدِيْ فَآخِذٌ بِيَمِيْنِهِ وَ آخِذٌ بِشِمَالِهِ.

Kelak manusia dihadapkan kepada Tuhan mereka pada hari kiamat sebanyak tiga kali; pada penampilan yang pertama dan yang kedua terjadi perdebatan dan alasan-alasan. Sedangkan pada penampilan yang ketiga saat itu beterbanganlah semua buku catatan amal perbuatan diterima di tangan masing-masing; maka ada yang menerimanya dari sebelah kanannya, dan ada pula yang menerimanya dari sebelah kirinya.”

Ibnu Mas‘ūd meriwayatkannya dari Abū Bakar ibnu Abī Syaibah, dari Wakī‘. Imām Tirmidzī meriwayatkannya dari Abū Kuraib, dari Wakī‘, dari ‘Alī ibnu ‘Alī, dari al-Ḥasan, dari Abū Hurairah dengan lafazh yang sama. Ibnu Jarīr telah meriwayatkan dari Mujāhid ibnu Mūsā, dari Yazīd, dari Sulaim ibnu Ḥayyān, dari Marwān al-Ashghar, dari Abū Wā’il, dari ‘Abdullāh yang mengatakan bahwa manusia ditampilkan ke hadapan Tuhan mereka sebanyak tiga kali di hari kiamat; pada penampilan yang pertama dan yang kedua terjadi ungkapan alasan-alasan dan perdebatan, sedangkan pada penampilan yang ketiga kitab-kitab catatan amal perbuatan beterbangan diterima di tangan masing-masing dari mereka; ada yang menerimanya dari sebelah kanannya, ada pula yang menerimanya dari sebelah kirinya. Sa‘īd ibnu Abī ‘Arūbah telah meriwayatkannya dari Qatādah secara mursal dengan lafazh yang semisal.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *