Surah al-Haqqah 69 ~ Tafsir al-Qurthubi (4/6)

Tafsir al-Qurthubi

Dari Buku:
Tafsir al-Qurthubi
(Jilid 20 – Juz ‘Amma)
Oleh: Syaikh Imam al-Qurthubi
(Judul Asli: al-Jāmi‘-ul-Aḥkām-ul-Qur’ān)

Penerjemah: Dudi Rosyadi dan Faturrahman
Penerbit PUSTAKA AZZAM

Rangkaian Pos: Surah al-Haqqah 69 ~ Tafsir al-Qurthubi

Firman Allah:

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُوْنَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ.

69: 18. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).

(Qs. al-Ḥāqqah [69]: 18).

Firman Allah ta‘ālā (يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُوْنَ) “Pada hari itu kamu dihadapkan,” ya‘ni kepada Allah. Dalilnya adalah firman Allah ta‘ālā: (وَ عُرِضُوْا عَلَى رَبِّكَ صَفًّا) “Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris.” (Qs. al-Khafi [18]: 48). Penghadapan itu bukanlah penghadapan untuk mengetahui sesuatu yang belum diketahui. Akan tetapi ma‘na dari penghadapan itu adalah hisab dan menetapkan ‘amal perbuatan terhadap mereka untuk mendapatkan balasan.

Al-Ḥasan meriwayatkan dari Abū Hurairah, dia berkata: “Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

يُعْرَضُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلَاثَ عَرْضَاتٍ فَأَمَّا عَرْضَتَانِ فَجِدَالٌ وَ مَعَاذِيْرٌ وَ أَمَّا الْعَرْضَةُ الثَّالِثَةُ فَعِنْدَ ذلِكَ تَطِيْرُ الصُّحُفُ فِي الْأَيْدِيْ فَآخِذٌ بِيَمِيْنِهِ وَ آخِذٌ بِشِمَالِهِ.

Manusia akan dihadapkan (kepada Allah) pada hari kiamat kelak sebanyak tiga kali. Dua penghadapan (di antaranya) adalah perdebatan dan pemberian maaf, sedangkan penghadapan yang ketiga adalah, pada saat itulah lembaran akan diambil oleh tangan-tangan (manusia). Ada yang akan mengambilnya dari sebelah kanannya, dan ada pula yang mengambilnya dari sebelah kirinya.” (1161)

Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzī dan dia berkata: “Hadits ini tidak sah. Sebab Ḥasan tida pernah mendengar dari Abū Hurairah.”

Firman Allah ta‘ālā (لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ.) “Tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” Maksudnya, Allah mengetahui semua ‘amal perbuatan kalian. Dengan demikian, jika berdasarkan kepada pendapat ini, lafazh (خَافِيَةٌ) “yang tersembunyi) mengandung ma‘na (خُفْيَة) “samar”. Mereka menyembunyikan ‘amal perbuatan mereka. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Syajrah.

Menurut satu pendapat, tidak ada manusia yang samar baginya. Maksudnya, tidak akan ada manusia yang tidak dihisab.

‘Abdullāh bin ‘Amr bin al-‘Āsh berkata: “Orang yang mu’min tidak akan samar dari orang kafir, dan orang yang baik tidak akan samar dari orang yang durhaka.”

Menurut satu pendapat, tidak akan ada aurat kalian yang tertutup. Hal ini sebagaimana Nabi s.a.w. bersabda:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً.

Manusia akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang kaki dan tubuh telanjang bulat.” (1172).

Para ‘ulamā’ Kūfah – kecuali ‘Āshim – membaca firman Allah itu dengan: – (لَا يَخْفَى) – dengan huruf yā’. (1183) Sebab status mu’annats lafazh (خَافِيَةٌ) itu bukan hakikat. Contohnya adalah firman Allah ta‘ālā: (وَ أَخَذَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ) “Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zhalim itu.” (Qs. Hūd [11]: 67). Qirā’ah inilah yang dipilih oleh Abū ‘Ubaid. Sebab antara fi‘il dan fā‘il-nya terhalang oleh jārr-majrūr.

Adapun yang lain, mereka membaca firman Allah itu dengan huruf tā’ (لَا تَخْفَى). Qirā’ah dengan huruf tā’ inilah yang dipilih oleh Abū Ḥātim, karena lafazh (خَافِيَةٌ) itu berstatus mu’annats.

Firman Allah:

فَأَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِيْنِهِ فَيَقُوْلُ هَاؤُمُ اقْرَؤُوْا كِتَابِيَهْ. إِنِّيْ ظَنَنْتُ أَنِّيْ مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ. فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ. فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍ. قُطُوْفُهَا دَانِيَةٌ. كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا هَنِيْئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ. وَ أَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُوْلُ يَا لَيْتَنِيْ لَمْ أُوْتَ كِتَابِيَهْ. وَ لَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ. يَا لَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَ. مَا أَغْنَى عَنِّيْ مَالِيَهْ. هَلَكَ عَنِّيْ سُلْطَانِيَهْ. خُذُوْهُ فَغُلُّوْهُ. ثُمَّ الْجَحِيْمَ صَلُّوْهُ. ثُمَّ فِيْ سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوْهُ. إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللهِ الْعَظِيْمِ. وَ لَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ.

69: 19. Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)”.
69: 20. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku.
69: 21. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai,
69: 22. dalam surga yang tinggi.
69: 23. Buah-buahannya dekat,
69: 24. (kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.
69: 25. Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini),
69: 26. Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku,
69: 27. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.
69: 28. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.
69: 29. Telah hilang kekuasaanku dariku”.
69: 30. (Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.”
69: 31. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.
69: 32. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.
69: 33. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar.
69: 34. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.
(Qs. al-Ḥāqqah [69]: 19-34).

Firman Allah ta‘ālā (فَأَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِيْنِهِ) “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya.” Pemberian kitab dari sebelah kanan merupakan tanda selamat.

Ibnu ‘Abbās berkata: “Orang pertama yang kitabnya diberikan dari sebelah kanannya adalah ‘Umar bin al-Khaththāb. Ia memiliki cahaya seperti cahaya matahari.” Kepada Ibnu ‘Abbās ditanyakan: “Lalu, di mana Abū Bakar?” Ibnu ‘Abbās menjawab: “Jauh, jauh. Dia sudah dibawa malaikat ke surga.” Demikianlah yang dituturkan ats-Tsa‘labī. Atsar ini alḥamdulillāh sudah kami sebutkan secara marfū‘ dari hadits Zaid bin Tsābit lengkap dengan redaksi dan pengertiannya dalam kitab at-Tadzkirah.

Firman Allah ta‘ālā (فَيَقُوْلُ هَاؤُمُ اقْرَؤُوْا كِتَابِيَهْ.) “Maka dia berkata: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)”.” Maksudnya, dia berkata demikian karena percaya kepada Islam dan bahagia akan keselamatan dirinya. Sebab sebelah kanan, menurut bangsa ‘Arab, merupakan tanda kebahagiaan. Sedangkan kiri merupakan tanda kesedihan.

Penyair (1194) berkata:

أَبَيْنِيْ أَفِيْ يُمْنَى يَدَيْكَ جَعَلْتَنِيْفَأَفْرَحُ أَمْ صَيَرْتَنِيْ فِيْ شِمَالِكَ.

Adakah engkau menjadikanku di sebelah kananmu,

Sehingga aku akan bahagia, ataukah engkau menjadikanku di sebelah kirimu.”

Ma‘na (هَاؤُمُ) adalah kemarilah. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Zaid. Muqātil berkata: “(Ma‘nanya adalah) marilah.” Menurut satu pendapat, ma‘nanya adalah ambillah. Contohnya adalah hadits tentang riba:

إلَّا هَاءَ وَ هَاءَ

Kecuali mengambil dan menerima (tunai).” (1205).

Maksudnya, masing-masing pihak berkata kepada temannya: “Ambillah!”

Ibn-us-Sikkīt dan al-Kisā’ī mengatakan, bangsa ‘Arab berkata (untuk satu orang lelaki): (هَاءَ يَا رَجُلُ اِقْرَأْ) “ambillah olehmu wahai seorang lelaki, bacalah); untuk dua orang lelaki: (هَاؤُمَّا يَا رُجُلَانِ) “ambillah oleh kalian berdua wahai dua orang lelaki), dan (untuk beberapa orang): (هَاؤُمُ يَا رِجَالُ) “ambillah oleh kalian wahai beberapa orang”.

Sementara untuk satu orang perempuan (هَاءِ) “ambillah olehmu”; untuk dua orang perempuan: (هَاؤُمَا) “ambillah oleh kalian berdua”, dan untuk beberapa orang perempuan: (هَاؤُمَنَّ) “ambillah olehmu beberapa orang perempuan”. Asalnya adalah (هَاكُمْ), lalu huruf kāf ditukarkan kepada huruf hamzah. Demikianlah yang dikatakan oleh al-Qurthubī.

Menurut satu pendapat, kata (هَاؤُمُ) adalah kata yang diperuntukkan menjawab seruan orang yang menyeru, pada saat yang menjawab itu tengah berada dalam keadaan bahagia dan antusias. Sebab diriwayatkan bahwa Rasūlullāh s.a.w. pernah diseru oleh seorang ‘Arab Badui dengan suara yang keras, kemudian beliau menjawab: Hā’ummu (ya), seraya memanjangkan suaranya.

Menurut para ‘ulamā’ Kūfah, lafazh (كِتَابِيَهْ) di-nashab-kan oleh lafazh (هَاؤُمُ). Sedangkan menurut para ‘ulamā’ Bashrah, lafazh (كِتَابِيَهْ) di-nashab-kan oleh lafazh (اقْرَؤُوْا). Sebab lafazh (اقْرَؤُوْا) adalah ‘āmil yang paling dekat dari dua ‘āmil yang ada.

Asal lafazh (كِتَابِيَهْ) adalah (كِتَابِي), lalu huruf tā’ dimasukkan (ke dalam lafazh itu) agar fatḥah huruf tā’ menjadi jelas. Selain itu, huruf hā’ itu pun dimasukkan karena waqaf. Demikian pula dengan saudara-saudara lafazh (كِتَابِيَهْ), yaitu lafazh: (حِسَابِيَهْ), (مَالِيَهْ), (سُلْطَانِيَهْ) dan (مَاهِيَهْ) yang terdapat dalam surah al-Qāri’ah.

Qirā’ah mayoritas ‘ulamā’ adalah dengan menggunakan huruf hā’ pada semua lafazh tersebut, baik pada saat me-waqaf-kan qirā’ah maupun pada saat me-washal-kannya. Sebab semua lafazh itu tertera dalam mushḥaf dengan menggunakan huruf hā’, sehingga huruf hā’ itu tidak bisa ditinggalkan.

Sementara Abū ‘Ubaid lebih memilih untuk me-waqaf-kan lafazh tersebut. Hal ini dilakukan guna menyesuaikan dengan aturan bahasa yang menetapkan adanya huruf hā’ pada saat diam, juga untuk menyesuaikan dengan khath (tulisan) mushḥaf.

Adapun Ibnu Muḥaishin, Mujāhid, Ḥumaid dan Ya‘qūb, mereka membuang huruf hā’ itu pada saat me-washal-kan qirā’ah, dan menetapkannya pada semua lafazh tersebut pada saat me-waqaf-kan qirā’ah. (1216) Qirā’ah mereka itu disetujui oleh Ḥamzah hanya pada lafazh (مَالِيَهْ), (سُلْطَانِيَهْ) dan (مَاهِيَهْ) yang terdapat dalam surah al-Qāri‘ah saja.

Sementara Abū Ḥātim lebih memilih qirā’ah Ya‘qūb dan orang-orang yang sependapat dengannya guna mengikuti aturan bahasa. Barang siapa yang membaca lafazh-lafazh tersebut dengan huruf hā’ pada saat me-washal-kannya, itu karena dia berniat untuk me-waqaf-kan bacaan.

Firman Allah ta‘ālā (إِنِّيْ ظَنَنْتُ) “Sesungguhnya aku yakin,” ya‘ni yakin dan tahu. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās dan yang lainnya.

Menurut satu pendapat, maksud firman Allah itu adalah: Sesungguhnya aku menduga bahwa Allah akan menghukum ku karena kesalahan-kesalahanku. Namun Dia memberikan keutamaan dengan memberikan ampunanNya kepadaku, dan Dia tidak menghukumku karena kesalahan-kesalahanku itu.

Adh-Dhaḥḥāk berkata: “Setiap dugaan orang yang beriman (mu’min) yang terdapat dalam al-Qur’ān adalah keyakinan, dan setiap dugaan orang kafir adalah keraguan.”

Mujāhid berkata: “Dugaan akhirat adalah keyakinan, sementara dugaan dunia adalah keraguan.”

Al-Ḥasan berkata tentang ayat ini: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu berbaik sangka kepada Tuhannya, sehingga mereka pun memperbaiki amalan (mereka). Sementara orang munafiq berburuk sangka kepada Tuhannya, sehingga mereka pun memperburuk amalan mereka.”

Firman Allah ta‘ālā (أَنِّيْ مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ.) “Bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku,” ya‘ni di akhirat dan aku tidak mengingkari kebangkitan. Maksudnya, dia tidak akan selamat kecuali dengan takut terhadap hari penghisaban. Sebab dia yakin bahwa Allah akan melakukan hisab terhadap dirinya, sehingga dia pun mengerjakan amalan-amalan untuk akhiratnya.

Firman Allah ta‘ālā (فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ.) “Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridai,” ya‘ni dalam kehidupan yang diridhai Allah dan tidak dibenci oleh-Nya.

Abū ‘Ubaidah dan al-Farrā’ berkata: “Ma‘na (رَّاضِيَةٍ) (ḥarfiyyah: yang ridha) adalah “yang diridhai”. (1227) Contohnya adalah ucapanmu: mā’un dāfiq (air yang memancar), ya‘ni dipancarkan.”

Menurut satu pendapat, maksud dari lafazh tersebut adalah yang memiliki keridhaan. Jelasnya, pemilik kehidupan itu diridhai, contohnya adalah lābin (pemilik susu) dan tāmir (pemilik) kurma.

Dalam hadits shaḥīḥ diriwayatkan dari Nabi s.a.w.:

أَنَّهُمْ يَعِيْشُوْنَ فَلَا يَمُوْتُوْنَ أَبَدًا، وَ يَصِحُوْنَ فَلَا يَمْرُضُوْنَ أَبَدًا، وَ يَنْعِمُوْنَ فَلَا يَرَوْنَ بَؤْسًا أَبَدًا، وَ يَشْبُوْنَ فَلَا يَهْرِمُوْنَ أَبَدًا.

Bahwa mereka – orang-orang yang memiliki kehidupan itu atau orang-orang yang kitabnya diberikan dari sebelah kanan – akan hidup dan mereka tidak akan mati selama-lamanya, mereka akan sehat dan mereka tidak akan sakit selama-lamanya, akan mendapatkan keni‘matan dan mereka tidak akan mengalami kesulitan selama-lamanya, mereka akan muda dan mereka tidak akan tua selama-lamanya.” (1238).

Firman Allah ta‘ālā (فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍ.) “Dalam surga yang tinggi,” yang agung di dalam jiwa, (قُطُوْفُهَا دَانِيَةٌ.) “Buah-buahannya dekat,” ya‘ni dekat untuk mengambilnya, di mana buah-buahan ini bisa diambil oleh orang yang berdiri, duduk dan juga terbaring, sebagaimana yang akan dijelaskan pada surah al-Insān. (قُطُوْفٌ) adalah jama‘ dari (قِطْفٌ), yaitu buah-buahan yang diambil/dipetik. Sedangkan (قَطْفٌ) adalah mashdar (yang berarti petik/ambil). Adapun (قِطَافٌ) atau (قَطَافٌ) adalah waktu memetik/mengambil.

Firman Allah ta‘ālā (كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا) “Makan dan minumlah.” Maksudnya, kepada mereka dikatakan perkataan itu. (هَنِيْئًا) “dengan sedap,” ya‘ni dengan tiada kekeruhan padanya dan tiada pula gangguan, (بِمَا أَسْلَفْتُمْ) “Disebabkan amal yang telah kamu kerjakan,” ya‘ni karena amalan-amalan yang telah kalian kerjakan, (فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ.) “Pada hari-hari yang telah lalu,” ya‘ni di dunia.

Allah berfirman: (كُلُوْا) “Makanlah”, setelah berfirman: (فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ.) “Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai,” karena firman-Nya: (وَ أَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ) “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya.” (Qs. al-Ḥāqqah [69]: 29). Sebab lafazh (مَنْ) “orang” itu mencakup semua orang.

Adh-Dhaḥḥāk menuturkan bahwa ayat ini diturunkan tentang Abū Salamah ‘Abdullāh bin ‘Abd-il-Asad al-Makhzūmī. Pendapat ini pun dikemukakan oleh Muqātil. Sementara ayat berikutnya diturunkan tentang saudaranya yaitu al-Aswad bin ‘Abd-il-Asad. Ini menurut pendapat Ibnu ‘Abbād dan adh-Dhaḥḥāk juga. Pendapat ini pun dikemukakan oleh ats-Tsa‘labī.

Dengan demikian, orang itu berikut saudaranya, merupakan sebab diturunkannya ayat-ayat ini. Namun demikian, ma‘na ayat-ayat ini mencakup semua orang yang sengsara dan bahagia. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah ta‘ālā: كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا) “Makan dan minumlah.

Menurut satu pendapat, orang yang dimaksud oleh firman Allah itu adalah semua orang yang diikuti dalam hal kebaikan dan keburukan. Jika seseorang merupakan pemimpin dalam hal kedudukan, maka dia akan mengajak kepada keburukan dan memerintahkannya, sehingga para pengikutnya menjadi banyak. Dia akan dipanggil dengan namanya dan juga nama ayahnya, lalu dia pun maju.

Ketika dia sudah dekat, dikeluarkanlah kitabnya yang putih dengan tulisan yang berwarna putih, di mana di bagian dalam kitab itu terdapat keburukan-keburukannya, sementara di bagian luarnya terdapat kebaikan-kebaikannya. Dia mulai membaca kitabnya dengan bagian keburukan, sehingga wajahnya menjadi pucat dan airmukanya pun berubah.

Ketika dia telah sampai di akhir kitab, dia menemukan catatan: “Inilah keburukan-keburukanmu, namun Aku telah mengampunimu.” Maka ketika itulah dia merasa sangat bahagia. Setelah itu dia membalikkan kitabnya dan membaca kebaikan-kebaikannya, dan itu tidak menambahnya kecuali semakin bahagia. Ketika dia sampai di akhir kitab, dia menemukan, “Inilah kebaikan-kebaikanmu, dan Aku telah melipatgandakannya untuknya.” Maka bersinarlah wajahnya dan dia pun diberikan mahkota yang dipasangkan di atas kepalanya.

Dia kemudian diberikan dua perhiasaan yang dipakaikan kepadanya. Setiap persendiannya dibalut dengan perhiasan. Dia kemudian meninggi menjadi enam puluh hasta, dan ini merupakan tinggi Nabi Ādam a.s. Kepadanya dikatakan: “Pergilah kepada sahabat-sahabatmu, lalu beritahukan dan sampaikan kabar baik kepada mereka, bahwa masing-masing orang dari mereka akan mendapatkan hal seperti ini. Ketika dia pergi, dia berkata: (هَاؤُمُ اقْرَؤُوْا كِتَابِيَهْ. إِنِّيْ ظَنَنْتُ أَنِّيْ مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ.) “Ambillah, bacalah kitabku (ini)”. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku” Allah kemudian berfirman: (فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ.) “Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai,” ya‘ni yang diridhai.

(فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍ.) “dalam surga yang tinggi,” di langit. (قُطُوْفُهَا) “Buah-buahannya,” ya‘ni buah-buahannya berikut tandan-tandannya, (دَانِيَةٌ) “dekat”, ya‘ni didekatkan kepada mereka. Dia kemudian berkata sahabat-sahabatnya: “Apakah kalian mengenaliku?” Mereka berkata: “Sesungguhnya engkau dipenuhi dengan kemuliaan. Siapa engkau?” Dia menjawab: “Aku adalah fulan bin fulan. Aku memberikan kabar gembira kepada masing-masing orang dari kalian, bahwa dia akan mendapatkan hal seperti ini.

(كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا هَنِيْئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ.) “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” Ya‘ni yang telah kalian lakukan di dunia.

Catatan:

  1. 116). HR. at-Tirmidzī pada pembahasan sifat kiamat, bab: Hadits tentang Penghadapan, no. 2425, Ibnu Mājah pada pembahasan zuhud, bab: Penuturan tentang Kebangkitan, no. 4277, dan Aḥmad dalam al-Musnad (4/414).
  2. 116). HR. at-Tirmidzī pada pembahasan sifat kiamat, bab: Hadits tentang Penghadapan, no. 2425, Ibnu Mājah pada pembahasan zuhud, bab: Penuturan tentang Kebangkitan, no. 4277, dan Aḥmad dalam al-Musnad (4/414).
  3. 118). Qirā’ah dengan huruf yā’ adalah qirā’ah sab‘ah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam al-Iqnā’ (2/791), dan Taqrīb-un-Nasyr, h. 183.
  4. 119). Penyair itu adalah Ibn-ud-Damīnah. Bait ini pun tertera dalam Tafsīr-ul-Māwardī (6/83).
  5. 120). HR. al-Bukhārī pada pembahasan jual-beli, bab: Menjual Gandum dengan Gandum. Muslim pada pembahasan paroan hasil kebun, bab: Penukaran dan Penjualan Emas dan Perak Secara Tunai. Mālik pada pembahasan Jual-Beli, bab: Hadits tentang Penukaran. Ibnu Mājah pada pembahasan Perniagaan, bab: 48. Ad-Dārimī pada pembahasan jual-beli: 41. Aḥmad dalam al-Musnad (1/24).
  6. 121). Qirā’ah dengan membuang huruf hā’ tersebut merupakan qirā’ah mutawātir. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Taqrīb-un-Nasyr, h. 79.
  7. 122). Lih. Majāz-ul-Qur’ān karya Abū ‘Ubaidah (2/268).
  8. 123). HR. Muslim pada pembahasan surga (4/2182) dengan redaksi yang sedikit berbeda, at-Tirmidzī pada pembahasan tafsir surah az-Zumar (5/374), dan Aḥmad dalam al-Musnad (2/319).
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *