Surah al-‘Ashr 103 ~ Tafsir Ibni Katsir

Tafsir Ibnu Katsir

Dari Buku:
Tafsir Ibnu Katsir, Juz 30
(An-Nabā’ s.d. An-Nās)
Oleh: Al-Imam Abu Fida’ Isma‘il Ibnu Katsir ad-Dimasyqi

Penerjemah: Bahrun Abu Bakar L.C.
Penerbit: Sinar Baru Algensindo Bandung

Sūrat-ul-‘Ashr

(Masa)

Makkiyyah atau Madaniyyah, 3 ayat

Turun sesudah Sūrat-ul-Insyirāḥ

 

Mereka menyebutkan bahwa ‘Amr ibnul-Ash menjadi delegasi untuk menjumpai Musailamah al-Kadzdzab. Demikian itu terjadi sesudah Rasulullah s.a.w. diutus dan sebelum ‘Amr masuk Islam.

Musailamah berkata kepadanya: “Apakah yang telah diturunkan kepada temanmu sekarang ini?” ‘Amr menjawab bahwa telah diturunkan kepadanya surat yang pendek, tetapi padat akan makna. Maka Musailamah bertanya: “Surat apakah itu?” ‘Amr membacakan firman-Nya:

وَ الْعَصْرِ. إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَ تَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَ تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (al-‘Ashr: 1-3).

Maka Musailamah berpikir sejenak, kemudian ia mengatakan bahwa telah diturunkan pula kepadanya hal yang semisal. ‘Amr ibnul-‘Ash bertanya: “Apakah itu?” Musailamah berkata: “Hai kelinci, hai kelinci, sesungguhnya engkau hanyalah dua telinga dan dada, sedangkan anggota tubuhmu yang lain kecil mungil.”

Kemudian Musailamah berkata: “Bagaimanakah menurut pendapatmu, hai ‘Amr?” ‘Amr menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya engkau benar-benar mengetahui bahwa aku pasti meyakinimu sebagai pendusta.”

Penulis mengatakan bahwa ia pernah melihat kitab yang berjudul Musāw-il-Akhlāq karya tulis Abu Bakar al-Khara’ithi menyebutkan dalam juz kedua sesuatu dari kisah ini atau yang lebih mendekatinya. Al-Wabar artinya kelinci, bagian yang paling menonjol darinya adalah sepasang telinga dan dadanya, sedangkan anggota tubuh yang lain kecil mungil lagi jelek. Maka Musailamah bermaksud menyusun igauan ini untuk menandingi al-Qur’an. Akan tetapi, hal tersebut tidak mampu mempengaruhi penyembah berhala di masanya dan tidak pula dapat mengelabuinya.

Imam Thabrani menyebutkan melalui jalur Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari ‘Ubaidillah ibnu Hafsh yang menceritakan bahwa dahulu pernah ada dua orang sahabat Rasulullah s.a.w.; apabila keduanya bersua satu sama lainnya, maka keduanya tidak berpisah sebelum salah seorangnya membacakan al-‘Ashr kepada yang lainnya sampai akhir surat, lalu baru yang seorang mengucapkan salam kepada yang lainnya, salam perpisahan.

Imam Syafi‘i raḥimahullāh telah mengatakan bahwa seandainya manusia merenungkan makna surat ini, niscaya surat ini akan membuat mereka mendapat keluasan.

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Al-‘Ashr, ayat 1-3.

وَ الْعَصْرِ. إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَ تَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَ تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (al-‘Ashr: 1-3).

Al-‘Ashr artinya zaman atau masa yang padanya Bani Adam bergerak melakukan perbuatan baik dan buruk. Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam bahwa makna yang dimaksud adalah waktu ‘Ashr.

Tetapi pendapat yang terkenal adalah yang pertama. Allah s.w.t. bersumpah dengan menyebutkan bahwa manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, yakni rugi dan binasa.

إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. (al-‘Ashr: 3)

Maka dikecualikan dari jenis manusia yang terhindar dari kerugian, yaitu orang-orang yang beriman hatinya dan anggota tubuhnya mengerjakan amal-amal yang saleh.

وَ تَوَاصَوْا بِالْحَقِّ

dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran. (al-‘Ashr: 3)

Yakni menunaikan dan meninggalkan semua yang diharamkan.

وَ تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (al-‘Ashr: 3)

Yaitu tabah menghadapi musibah dan malapetaka serta gangguan yang menyakitkan dari orang-orang yang ia perintah melakukan kebajikan dan ia larang melakukan kemungkaran.

Demikianlah akhir tafsir sūrat-ul-‘Ashr, segala puji bagi Allah s.w.t. atas segala karunia-Nya.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *