01-1 Pendahuluan Ilmu Tajwid – Panduan Lengkap Ilmu Tajwid

Panduan Lengkap Ilmu Tajwid
Kaidah Membaca al-Qur’ān yang Disusun Secara Sistematis dan Aplikatif

Penulis: Muhammad Ahmad Mu‘abbad
Penerjemah: Rosyad Nur Ilyas, Lc.

Penerbit: TAQIYA Publishing.

Allah berfirman:

وَ رَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيْلًا

Dan bacalah al-Qur’ān itu dengan tartil.”

(al-Muzzammil: 4)

Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

Seorang yang pandai membaca al-Qur’ān bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan yang membaca al-Qur’ān dengan berbata-bata dan kesulitan ia mendapatkan dua pahala.

(HR. al-Bukhārī dan Muslim).

Imam Ibn-ul-Jazariy berkata:

Membaca al-Qur’ān dengan tajwid itu hukumnya wajib. Berdosalah yang tidak memperbaiki bacaan al-Qur’ān, karena dengan tajwidlah Allah menurunkannya, dan demikian pula al-Qur’ān itu sampai kepada kita. Tajwid juga hiasan dalam membaca. Tajwid adalah memberi huruf sesuai haknya dari sifatnya dan hukum-hukum baru yang timbul setelah hak-hak huruf.

 

BAB 1

Pendahuluan Ilmu Tajwid

PENDAHULUAN ILMU TAJWID

1. ADAB MEMBACA AL-QUR’ĀN

2. NASIHAT NABI BAGI PEMBACA AL-QUR’ĀN

3. KESALAHAN DALAM MEMBAC AL-QUR’ĀN

4. ISTI‘ĀDZAH

5. BASMALĀH

6. METODE MEMULAI BACAAN

7. TINGKATAN MEMBACA AL-QUR’ĀN

PENDAHULUAN ILMU TAJWID

 

T:       Apakah tajwid itu?

J:        Tajwid secara bahasa artinya memperindah.

Tajwid secara istilah adalah memberi setiap huruf hak-nya dan hukum-hukum baru yang timbul setelah hak-hak huruf, berupa makhrāj (tempat keluar), sifat, ghunnah (dengung), tarqīq (tipis), tafkhīm (tebal), dan lainnya yang termasuk dalam hukum-hukum ilmu tajwid.

T:       Apa hukum tajwid secara syar‘i?

J:        Secara syar‘i hukum mengetahuinya adalah fardhu kifāyah, sedangkan mengamalkannya fardhu ‘ain bagi setiap Muslim dan Muslimah sesuai dengan firman Allah:

وَ رَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيْلًا

“…..Dan bacalah al-Qur’ān itu dengan tartil.” (al-Muzzammil: 4)

T:       Apa tema yang dibahas dalam ilmu tajwid?

J:        Lafal-lafal al-Qur’ān.

T:       Apakah hasil mempelajari ilmu ini?

J:        Hasilnya adalah menjaga lisan dari kesalahan dalam pengucapan kata-kata al-Qur’ān.

T:       Siapa yang menyusunnya?

J:        Para imam ahli qirā’ah.

T:       Apa sandaran ilmu ini?

J:        Ilmu ini disandarkan pada al-Qur’ān sebagaimana firman Allah:

وَ رَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيْلًا

Dan bacalah al-Qur’ān itu dengan tartil.” (al-Muzzammil: 4)

Juga sunnah Nabi sebagaimana diketahui dari metode qirā’ah Rasūlullāh s.a.w., metode qirā’ah para sahabat setelah beliau, para tabi‘in, pengikut mereka, dan para imam qurrā’ yang sampai kepada kita secara mutawātir (urut dan bersambung). (11).

T:       Apa tujuannya?

J:        Mendapat kemenangan berupa kebahagiaan dunia dan akhirat.

T:       Apa keutamaannya?

J:        Ilmu tajwid adalah ilmu yang paling mulia dan utama, karena berhubungan dengan kitab yang paling mulia dan utama, yaitu al-Qur’ān.

 

 

Catatan:

 

 


  1. 1). Kitab Hidāyat-ul-Qāri karya al-Murshify, hal. 39. 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *