004-1 Wudhu’ | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam

TERJEMAH IBANAT-UL-AHKAM
(Judul Asli: Ibānat-ul-Aḥkāmi Syarḥu Bulūgh-il-Marām: Qism-ul-‘Ibādah)
Oleh: Hasan Sulaiman an-Nuri dan Alwi Abbas al-Maliki

Penerjemah: Mahrus Ali
Penerbit: Mutiara Ilmu.

Rangkaian Pos: 004 Wudhu' | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam
  1. 1.Anda Sedang Membaca: 004-1 Wudhu’ | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam
  2. 2.004-2 Sifat Mengusap Kepala dan Hukum Mengusap Dua Telinga | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam
  3. 3.004-3 Menambah Basuhan pada Anggota Wudhu’ | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam
  4. 4.004-4 Hukum Membaca Basmalah – Wudhu’ | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam
  5. 5.004-5 Mengulangi Wudhu’ | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam
  6. 6.004-6 Pertanyaan – Wudhu’ | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam

BAB IV

WUDHU’

Siwak

  1. عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ (ر) عَنْ رَسُوْلِ اللهِ (ص) أَنَّهُ قَالَ: (لَوْ لَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ). أَخْرَجَهُ وَ صَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ، وَ ذَكَرَهُ الْبُخَارِيُّ تَعْلِيْقًا.

Dari Abū Hurairah r.a., bahwa Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Seandainya tidak memberatkan kepada umatku, niscaya aku memerintah mereka untuk bersiwak pada setiap akan berwudhu’.

(H.R. Mālik, Aḥmad, Nasā’ī, Ibnu Khuzaimah. Dan Imām Bukhārī menyebutnya dengan ta‘līq).

Pengertian Hadits Secara Global

Rasūlullāh s.a.w. gemar tidak memberikan sesuatu yang berat kepada umatnya dikhawatirkan mereka tidak mampu melakukan apa yang diperintahkannya. Oleh karena itu, beliau belas kasih kepada umatnya, beliau tidak memerintah mereka untuk bersiwak pada setiap akan berwudhu’ sekalipun mengandung beberapa faedah seperti menghilangkan bau busuk mulut, bau mulut menjadi segar, gusinya kuat dan berdialog dengan Allah Yang Maha Tinggi dalam keadaan yang paling sempurna.

Hal itu untuk menampakkan kemuliaan ibadah dan menghormati malaikat yang meletakkan mulutnya di mulut orang tersebut sebagaimana terdapat hadits yang menerangkan. Selain itu, giginya akan bersih dan kelihatan putih cemerlang.

Rasūlullāh s.a.w. telah menyatakan kesunnatan siwak ketika akan berwudhu’, melakukan shalat, membaca al-Qur’ān, ketika bangun tidur dan ketika bau mulut busuk. Tentang keutamaan siwak terdapat seratus hadis menerangkannya.

Sungguh heran amal perbuatan yang mempunyai keutamaan yang agung, lantas banyak orang yang menyia-nyiakannya, bahkan orang-orang yang terpelajar. Semoga Allah memberikan taufiq kepada seluruh umat untuk menjalankan yang disenangi dan diridhai oleh Allah.

Uraian Lafal Hadits

(الْوُضُوْءُ)                  : Dengan huruf wāw di-dhammah. Wudhu’ dan wadhah mempunyai arti bagus dan bersih. Diberi nama tersebut sebab orang yang berwudhu’ akan dibersihkan dengannya. Dan tampak indah. Menurut arti bahasa, wudhu’ adalah membasuh sebagian anggota secara mutlak. Menurut syara‘ adalah membasuh anggota tertentu dengan cara tertentu pula.

(أَشُقَّ) : Dari lafal masyaqqah (الْمَشَقَّةُ). Sebab Rasūlullāh s.a.w. memandang masalah tersebut sulit bagi umatnya.

(لَأَمَرْتُهُمْ) : Aku perintahkan mereka/kuwajibkan, bukan kusunnatkan .

(السِّوَاكُ) : Menurut arti bahasa, bersiwak. Menurut istilah ahli fiqih: Menggunakan kayu, lalu digosokkan di gigi untuk menghilangkan bau busuk mulut. Yang terbaik menggunakan kayu arak yang sederhana, tidak terlalu kering sehingga akan melukai gusi. Juga tidak terlalu basah sehingga tidak bisa menghilangkan apa yang hendak dihilangkan.

(تَعْلِيْقًا) : Hadits mu‘allaq. Seolah kalimat tersebut diambil dari kalimat ta‘līq-ul-jidār yakni memasang sangkutan di tembok untuk memutuskan hubungan. Tentang definisi hadits mu‘allaq terdapat di kata pengantar.

Kesimpulan Hadits

  1. Keutamaan mempermudah dalam masalah agama dan sesungguhnya apa yang memberatkan adalah makruh.
  2. Kalimat perintah bila tidak ada tanda-tanda lain yang menyatakan sunnat maka berarti wajib.
  3. Sunnah siwak bila akan berwudhu’. Ia termasuk amal perbuatan Rasūlullāh s.a.w. Dan inilah hadits siwak disebut dalam bab wudhu’ karena ada kaitannya.
  4. Rasūlullāh s.a.w. selalu belas kasih kepada umatnya.

 

  1. وَ عَنْ حُمْرَانَ: (أَنَّ عُثْمَانَ دَعَا بِوَضُوْءٍ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ وَ اسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ الْيُسْرَى مِثْلَ ذلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ الْيُسْرَى مِثْلَ ذلِكَ، ثُمَّ قَالَ: (رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ (ص) تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِيْ هذَا). مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Ḥumrān berkata: “Sesungguhnya ‘Utsmān (bin ‘Affān) minta agar diambilkan air wudhu’, lalu beliau membasuh dua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur, menghirup air dengan hidung, lalu disemprotkan. Kemudian beliau membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangannya yang kanan sampai siku tiga kali, lalu yang kiri begitu juga, lantas mengusap kepalanya, lalu membasuh kakinya yang kanan sampai dua mata kaki tiga kali. Lantas yang kiri begitu juga. Setelah itu, beliau berkata: “Aku melihat Rasūlullāh s.a.w. berwudhu’ sebagaimana wudhu’ku ini.

(Muttafaqun ‘alaih).

Sepuluh Sahabat yang Masuk Surga dan Enam Sahabat yang Diridhai.

  1. وَ عَنْ عَلِيٍّ (ر) عَنْهُ فِيْ صِفَةِ وُضُوْءِ النَّبِيِّ (ص) قَالَ: (وَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَاحِدَةً). أَخْرَجَهُ أَبُوْ دَاوُدَ.

Dari ‘Alī bin Abī Thālib r.a. tentang sifat wudhu’ Nabi s.a.w.: “Rasūlullāh s.a.w. mengusap kepalanya sekali.

(H.R. Abū Dāūd).

Pengertian Hadits Secara Global

Pelajaran secara praktek bisa dirasakan faedahnya dan diterima hati manusia dan bisa dihafal dengan cepat. Dalam hal ini, jelas telah didukung oleh beberapa pendidikan. Para ahli didik menganjurkan belajar seperti itu dan memerintahkannya.

Hadits di atas menerangkan kepada kita bagaimana Sayyidinā ‘Utsmān berwudhu’ di muka orang banyak agar orang-orang yang tidak mengetahui hal itu bisa melihatnya dan menghafalnya dengan cepat. Untuk hadis yang diriwayatkan dari ‘Alī bin Abī Thālib adalah tambahan yang tidak diterangkan dalam hadits yang dahulu yaitu mengusap kepala sekali dan anggota yang lain dibasuh tiga kali.

Uraian Lafal Hadits

(بِوَضُوْءٍ) : Dengan huruf wāwu di-fatḥah, artinya air yang di buat wudhu’.

(كَفَّيْهِ) : Dua telapak tangan – tatsniyah lafal kaffun (كَفٌّ). Tapak tangan diberi nama kaffun (menolak) sebab ia bisa menolak bahaya yang akan menimpa tubuh. Dianjurkan membasuh dua tapak tiga kali pada permulaan wudhu’ untuk menjaga air wudhu’, jangan-jangan kena kotoran yang biasanya melekat di tangan dan untuk mengetahui warna air yang sesungguhnya.

(تَمَضْمَضَ) : Berkumur yaitu menggerakkan air di mulut kemudian ditumpahkan. Berkumur lebih didahulukan daripada menyesap air dengan hidung sebab fungsi mulut lebih mulia dan untuk mengetahui rasa air.

(اِسْتَنْشَقَ) : Menyesap air dengan hidung, lalu disedotnya sampai ujung hidung. Dianjurkan menyesap air dengan hidung untuk membersihkan lubang hidung dari kotoran dan untuk mengetahui bau air.

(اِسْتَنْثَرَ) : Menyemprotkan air setelah dihirupnya dengan hidung.

(غَسَلَ وَجْهَهُ) : Membasuh wajahnya, maksud membasuh adalah mengalirkan air ke anggota wudhu’. Disunnatkan dimulai dari bagian atas wajah dan hendaklah mengambil air dengan kedua tangannya agar lebih sempurna.

Kalimat al-Wajhu (الْوَجْهُ) dari al-Muwājahah (الْمُوَاجَهَةُ). Batas wajah menurut panjangnya adalah daerah antara tempat tumbuh rambut sampai jenggot yang terakhir. Lebarnya antara dua cuping kedua telinga.

(إِلَى الْمِرْفَقِ) : Ke situ. Huruf ilā (إِلَى) asalnya mempunyai arti “ke”. Terkadang diartikan “bersama”. Dalam hadits di atas arti yang terakhir inilah yang dipakai dan itulah pendapat kebanyakan ulama.

Siku adalah tulang yang nonjol di akhir lengan. Siku diberi nama al-Mirfaq (penopang). Sebab bila seseorang bertopang dagu akan menggunakan siku sebagai penopangnya.

(ثُمَّ الْيُسْرَى مِثْلَ ذلِكَ) : Kemudian yang kiri begitu juga yakni sampai ke siku tiga kali.

(ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ) : Kemudian mengusap kepalanya. Lafal masaḥa (مَسَحَ) muta‘addī dengan huruf bā’ dan terkadang muta‘addī binafsihi. Jadi huruf bā’ tersebut lit-ta‘diyah.

Boleh dibuang atau ditetapkan.

(نَحْوَ وُضُوْئِيْ هذَا) : Sebagaimana wudhu’ku. Sebagaimana yang termaktub dalam Sunan Abū Dāūd menggunakan lafal sebagai berikut: (تَوَضَّأَ مِثْلَ وُضُوْئِيْ هذَا).

(مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ) : Muttafaqun ‘alaih. Terusannya hadits, lalu Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِيْ هذَا ثُمَّ صَلَّى رَكَعَتَيْنِ لَا يُحَدِّثُ فِيْهَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَ مَا تَأَخَّرَ.

Barang siapa yang berwudhu’ sebagaimana wudhu’ku ini, kemudian melakukan shalat dua rakaat, hatinya tidak membicarakan (masalah di dunia dan tidak ada sangkut-pautnya dengan shalat), maka dosa yang dahulu dan yang akan datang diampuni.

Kesimpulan Hadits.

  1. Boleh minta tolong untuk mengambilkan air secara ijma‘, tidak dimakruhkan. Berlainan dengan minta bantuan kepada orang untuk membasuh anggota wudhu’. Maka hal itu dimakruhkan kecuali bila diperlukan.
  2. Sunnat mencuci dua tangan tiga kali sebelum dimasukkan ke dalam tempat air.
  3. Sunnat menigakalikan kepada sebagian anggota wudhu’. Menurut pendapat kebanyakan ulama, hal itu tidak diwajibkan, setelah hadits dalam Shaḥīḥ Bukhārī yang menerangkan bahwa Nabi s.a.w. pernah berwudhu’ dengan membasuh anggotanya sekali-sekali.
  4. Dua siku adalah dibasuh ketika membasuh tangan. Begitu juga dua mata kaki dibasuh ketika membasuh dua kaki. Sebab bila (إِلَى) mempunyai arti “bersama”. Dalilnya perbuatan Rasūlullāh s.a.w. sedemikian.
  5. Mendahulukan anggota yang kanan dari yang kiri.
  6. Kewajiban mengusap kepala secara mutlak. Di sini terdapat perbedaan pendapat apakah cukup mengusap sebagian kepala ataukah harus seluruhnya. Menurut Imām Mālik dan Imām Aḥmad dalam salah satu riwayatnya, serta beberapa ulama dari madzhab Syāfi‘ī juga memilihnya. Mereka berpendapat wajib mengusap seluruh kepala.

Kebanyakan ulama Syāfi‘iyyah menyatakan cukup mengusap sebagian kepala. Mereka berkata: “Lafal dalam ayat al-Qur’ān menunjukkan wajib mengusap seluruh kepala bila huruf bā’ dalam lafal biru’usikum (بِرُؤُوْسِكُمْ) sebagai shilah. Atau boleh mengusap sebagian dan huruf bā’ tersebut diartikan sebagian (kepala). Kalimat tersebut masih global perlu keterangan.

Menurut hadits Nabi s.a.w. diperbolehkan mengusap sebagian kepala yaitu seperempatnya menurut pendapat Imām Abū Ḥanīfah. Atau mengusap yang paling sedikit sekalipun serambut, menurut pendapat Imām Syāfi‘ī.

  1. Dianjurkan tertib dalam berwudhu’. Dan menurut Imām Syāfi‘ī, tartīb adalah wajib. Begitu juga Imām Aḥmad. Sunnat menurut Mālik dan Abū Ḥanīfah.
  2. Mengajar orang dengan praktik di mukanya lebih merasuk kepadanya daripada dengan perkataan.
  3. Dianjurkan mengusap kepala sekali.

Perawi Hadits.

Ḥumrān bin Abān ialah budak yang dimerdekakan oleh ‘Utsmān bin ‘Affān – di mana Khālid bin al-Walīd yang mengirimkan budak tersebut kepada ‘Utsmān dari tawanan suku ‘Ain-ut-Tamrī.

Ibnu Sa‘īd berkata: “Dia banyak meriwayatkan hadits darinya. Beliau meninggal dunia setelah tahun 75 H.

‘Utsmān bin ‘Affān Abul-‘Ash al-Umawī Dzun-Nurain Amīr-ul-Mu’minīn orang yang membiayai pasukan ke Tabuk – terkenal dengan Jaisy-ul-Usrah. Dan salah seorang kesepuluh yang diberi kabar gembira dengan masuk surga (2) dan salah seorang enam yang diridhai (3). Dia mengisi seluruh malamnya dengan shalat. Dia meriwayatkan hadits sebanyak 143 buah. Terbunuh pada tahun 35, sedang usianya 82 tahun.

‘Alī bin Abū Thālib al-Hāsyimī ialah anak yang mula-mula masuk Islam dan keponakan Rasūlullāh s.a.w. serta suami Fāthimah yang sering beribadah. Dia dipanggil Abū Ḥasan dan Ḥusain. Ibunya bernama Fāthimah putri Asad. Dia juga dipanggil Abū Turāb.

‘Alī bin Abū Thālib mengikuti seluruh peperangan kecuali perang Tabuk, di mana Rasūlullāh sendiri meletakkannya sebagai khalīfah di Madīnah. Beliau mati syahid di Kūfah pada bulan Ramadhān, tahun empat puluh (40 H.) Hijriyyah, usianya 63 tahun.

Cara Mengusap Kepala

  1. وَ عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بِنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ (ر) فِيْ صِفَةِ الْوُضُوْءِ قَالَ: (وَ مَسَحَ رَسُوْلُ اللهِ (ص) بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَ أَدْبَرَ). مَتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَ فِيْ لَفْظٍ لَهُمَا: بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ الَّذِيْ بَدَأَ مِنْهُ.

‘Ubaidillāh bin Zaid bin ‘Āshim r.a., tentang sifat wudhu’ Rasūlullāh s.a.w. Dia berkata: “Rasūlullāh s.a.w. mengusap kepalanya mulai belakang lalu kemuka.

(Muttafaqun ‘alaih).

Menurut sebagian redaksi hadits riwayat Bukhārī dan Muslim sebagai berikut:

Rasūlullāh s.a.w. mulai mengusap kepala yang muka sehingga kedua tangannya diarahkan kepada tengkuknya. Lalu dikembalikan ke tempat semula.

Pengertian Hadits Secara Global

Hadits di atas mengandung keterangan sifat mengusap kepala dengan dua cara. Salah satunya hendaklah dimulai mengusap bagian belakang kepala lalu ke muka, lantas diputar ke belakang lagi. Cara yang kedua: Hendaklah dimulai mengusap kepala yang muka lalu ke belakang dan kembali yang kedua kali dari belakang ke muka.

Uraian Lafal Hadits

(وَ فِيْ لَفْظٍ لَهُمَا) : Menurut lafal hadits riwayat Bukhārī dan Muslim.

Kesimpulan Hadits

Tiga pendapat yang berbeda di antara para ulama tentang mengusap kepala.

  1. Menurut pengertian letterlek (harfiah atau literal) lafal hadits hendaklah dimulai mengusap kepala bagian depan yang dekat dengan wajah, lalu diarahkan ke belakang di tengkuk. Kemudian kedua tangan dikembalikan lagi ke tempat semula yaitu permulaan rambut yang tumbuh dekat batas wajah.
  2. Hendaklah dimulai mengusap dari kepala bagian belakang, lalu diarahkan ke arah wajah, kemudian dikembalikan ke kepala bagian belakang. Hal ini untuk menyesuaikan dengan lafal hadits (أَقْبَلَ فَأَدْبَرَ). Maksud Iqbāl ialah: mengarahkan kedua tangan ke muka. Sedang arti Idbār adalah kembali ke belakang. Cara sedemikian ini dikuatkan oleh satu hadits sebagai berikut: (بَدَأَ بِمُأَخِّرِ رَأْسِهِ).
  3. Hendaklah dimulai mengusap ubun, lalu diarahkan ke muka, kemudian diarahkan lagi ke arah belakang kepala kemudian dikembalikan ke tempat semula. Orang yang berpendapat sedemikian ini berpedoman dengan hadits (بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ) – Rasūlullāh s.a.w. mulai mengusap dari kepala bagian muka. Dan hal ini termasuk dalam kandungan pengertian Iqbāl.

Maksud pendapat-pendapat tersebut adalah meratakan seluruh kepala sewaktu mengusapnya. Dan yang disebutkan tadi hanyalah tata cara yang boleh dipilih salah satunya.

Perawi Hadits

‘Abdullāh bin Zaid bin ‘Āshim al-Anshārī al-Mazinī an-Najjārī al-Madanī adalah sahabat besar. Dialah yang membunuh Musailamah al-Kadzdzāb bersama Waḥsyī. Dia meriwayatkan 48 hadits. ‘Ubādah Ḥubaib, Ibn-ul-Musayyab dan Wāsi‘ bin Ḥibbān meriwayatkan hadits darinya. Al-Wāqidī berkata bahwa dia terbunuh di perang al-Ḥarrah tahun 63 H.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *