004-4 Hukum Membaca Basmalah – Wudhu’ | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam

TERJEMAH IBANAT-UL-AHKAM
(Judul Asli: Ibānat-ul-Aḥkāmi Syarḥu Bulūgh-il-Marām: Qism-ul-‘Ibādah)
Oleh: Hasan Sulaiman an-Nuri dan Alwi Abbas al-Maliki

Penerjemah: Mahrus Ali
Penerbit: Mutiara Ilmu.

Rangkaian Pos: 004 Wudhu' | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam
  1. 1.004-1 Wudhu’ | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam
  2. 2.004-2 Sifat Mengusap Kepala dan Hukum Mengusap Dua Telinga | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam
  3. 3.004-3 Menambah Basuhan pada Anggota Wudhu’ | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam
  4. 4.Anda Sedang Membaca: 004-4 Hukum Membaca Basmalah – Wudhu’ | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam
  5. 5.004-5 Mengulangi Wudhu’ | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam
  6. 6.004-6 Pertanyaan – Wudhu’ | Terjemah Ibanat-ul-Ahkam

Hukum Membaca Basmalah

46. عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ (ر) قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص): (لَا وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ). أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَ أَبُوْ دَاوُدَ وَ ابْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ ضَعِيْفٍ.

وَ لِلتِّرْمِذِيِّ عَنْ سَعِيْدِ بْنِ زَيْدٍ وَ أَبِيْ سَعِيْدٍ نَحْوُهُ وَ قَالَ أَحْمَدُ: لَا يَثْبُتُ فِيْهِ شَيْءٌ.

Abū Hurairah r.a. berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Wudhu’ tidak sempurna bagi orang yang tidak membaca Bismillāh (menyebut nama Allah padanya).

(HR. Aḥmad, Abū Dāūd, dan Ibnu Mājah dengan sanad yang lemah).

Imām Tirmidzī dari Sa‘īd bin Zaid dan Abū Sa‘īd juga meriwayatkan hadits yang mirip pengertiannya dengan hadits di atas. Imām Aḥmad berkata: “Tidak ada hadits yang sah masalah tersebut.”

Pengertian Hadits Secara Global

Ulama telah sepakat bahwa shalat tidak sah kecuali dengan bersuci sebab ada hadits dengan lafal sebagai berikut:

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَا وُضُوْءَ لَهُ وَ لَا وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ

Tiada shalat bagi orang yang tidak berwudhu’ dan tiada wudhu’ bagi orang yang tidak membaca Bismillāh.

Menurut ilmu nahwu, huruf (لَا) adalah nafiyah li jinsi. Pengertiannya bahwa tidak berwudhu’ dengan sempurna orang yang tidak membaca Bismillāh. Jadi hadits terakhir ini bermaksud wudhu’ yang tidak sempurna. Bukan wudhu’ yang tidak sah. Sebab para imām telah sepakat bahwa membaca Bismillāh dalam berwudhu’ adalah sunnat bukan rukun.

Uraian Lafal Hadits.

(يَذْكُرُ) : Dzikir adalah sesuatu yang dikatakan dengan lidah.

(بِإِسْنَادٍ ضَعِيْفٍ) : dengan sanad yang lemah. Sebab hadits tersebut diriwayatkan dari jalan Ya‘qūb bin Salamah dari ayahnya dari Abū Hurairah. Imām Bukhārī berkata bahwa Ya‘qūb bin Salamah tidak diketahui bahwa dia mendengarkan hadits dari ayahnya dan ayahnya juga tidak mendengar hadits dari Abū Hurairah.

(نَحْوُهُ) : Seperti hadits Abū Hurairah yang lalu.

(قَالَ أَحْمَدُ: لَا يَثْبُتُ فِيْهِ شَيْءٌ) : Sebab dalam beberapa sanadnya mendapat kritikan dari Imām ahli hadits. Namun jalur periwayatannya saling menguatkan di antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu Ibnu Abī Syaibah berkata: “Sungguh Nabi s.a.w. mengatakan hadits tersebut…..dengan jalur periwayatan kami.”

Kesimpulan Hadits

Anjuran menurut syara‘ untuk membaca Bismillāh dalam berwudhu’. Dalam hal ini, ulama mempunyai beberapa pendapat.

Imām Aḥmad berkata untuk itu membaca Bismillāh wajib sebelum berwudhu’ baik bagi yang ingat atau yang lupa. Untuk kebanyakan ulama menyatakan bahwa membaca Bismillāh hanyalah sunat karena hadits Abū Hurairah r.a. sebagai berikut:

(مَنْ ذَكَرَ اللهَ فِيْ أَوَّلِ وُضُوْئِهِ طَهُرَ جَسَدُهُ وَ إِذَا لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ لَمْ يَطْهَرْ إِلَّا مَوَاضِعُ الْوُضُوْءِ)

Barang siapa yang membaca Bismillāh pada permulaan wudhu’ maka tubuhnya bersih (dari dosa). Bila dia tidak membaca Bismillāh, maka tidak bersih dari dosa kecuali anggota wudhu’.

Perawi Hadits

Sa‘īd bin Zaid bin ‘Amar bin Nufail al-‘Adawī adalah salah seorang di antara sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira untuk masuk ke dalam surga dan sebagai orang yang berhijrah ke Madīnah pada gelombang pertama.

Beliau mengikuti beberapa peperangan kecuali perang Badar. Rasūlullāh s.a.w. pernah memberikan anak panah agar ditembakkan oleh Sa‘īd bin Zaid tersebut.

Beliau telah meriwayatkan tiga puluh delapan (38) hadits. Dan darinya, ‘Amar bin Ḥuraits, ‘Umair dan Abū ‘Utsmān an-Nahdī meriwayatkan. Beliau meninggal dunia pada tahun lima puluh satu (51 H.) Hijriyah dan dibawa ke Madīnah.

Mengumpulkan dan Memisahkan Antara Berkumur dengan Menghirup Air.

47. عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ (ر) قَالَ: (رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ (ص) يَفْصِلُ بَيْنَ الْمَضْمَضَةِ وَ الْاِسْتِنْشَاقِ). أَخْرَجَهُ أَبُوْ دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ ضَعِيْفٍ.

Dari Thalḥah bin Musharrif dari ayahnya kakeknya berkata: “Aku melihat Rasūlullāh s.a.w. memisahkan antara berkumur dengan menghirup air dengan hidung.

(HR. Abū Dāūd dengan sanad yang lemah).

Pengertian Hadits Secara Global

Rasūlullāh s.a.w. pernah memisahkan antara berkumur dengan menghirup air dengan hidung. Beliau mengambil air sendiri untuk keduanya sebagaimana beliau juga pernah berkumur dan menghirup air dengan hidung dengan sekali sauk.

Seluruhnya itu adalah kelonggaran dan mempermudah umat. Jadi di antara para imam ada yang menjalankan dengan sekali sauk untuk berkumur dan menghirup air dengan hidung, dan ada yang dua kali sauk.

Uraian Lafal Hadits.

(يَفْصِلُ) : Mengambil ari baru untuk masing-masing di antara berkumur dan menghirup air dengan hidung.

(الْمَضْمَضَةُ) : Berkumur atau menggerakkan air di mulut lalu ditumpahkan.

(الْاِسْتِنْشَاقُ) : Menghirup air dengan hidung, lalu dimasukkan ke ujungnya. Al-Istintsār adalah menyemprotkan air daripadanya. Namun dalam hadits tersebut tidak dijelaskan karena dianggap cukup difahami.

(بِإِسْنَادٍ ضَعِيْفٍ) : Dengan sanad yang lemah. Sebab ia diriwayatkan dari Laits bin Sulaim. Ulama telah sepakat atas kelemahan. Begitu juga Musharrif, orang tua Thalḥah, tidak dikenal identitasnya.

Kesimpulan Hadits

  1. Anjuran syara‘ untuk berkumur dan menghirup air dengan hidung dengan dua kali sauk. Jadi untuk masing-masing diambilkan air tersendiri.

Dalam hal ini, para ulama mempunyai beberapa pendapat:

  1. Dengan dua sauk lebih baik, demikian menurut Madzhab Imām Mālik dan Abū Ḥanīfah. Ia adalah salah satu pendapat Imām Syāfi‘ī.
  2. Dengan sesauk air dan itulah pendapat yang paling shaḥīḥ di antara dua pendapat Imām Syāfi‘ī.
  3. Boleh memilih, dan itulah menurut pendapat Imām Aḥmad.

Perawi Hadits

Thalḥah bin Musharrif bin Ka‘ab bin ‘Amr al-Yāmī Abū Muḥammad al-Kūfī adalah seorang ulama dan merekalah yang memberinya julukan tokoh ahli baca al-Qur’ān.

Menurut Abū Ḥātim dan Ibnu Ma‘īn, dia adalah perawi yang bisa dipercaya. Beliau meriwayatkan hadits dari ‘Abdullāh bin Abī Aufā, Anas, Sa‘īd bin Jubair dan Abū Shālih as-Simān.

Dari Thalḥah, Muḥammad anaknya, Abū Isḥāq, Syu‘bah dan beberapa orang lagi meriwayatkan hadits. Beliau meninggal dunia pada tahun 112 H.

Musharrif bin Ka‘ab bin ‘Amar al-Yāmī as-Subai’ī orang tua Thalḥah.

Untuk Ka‘ab bin ‘Amar al-Yāmī, darinya Musharrif meriwayatkan hadits. Dia adalah kakek Thalḥah.

 

48. عَنْ عَلِيٍّ (ر) فِيْ صِفَةِ الْوُضُوْءِ (ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْثَرَ ثَلَاثًا يُمَضْمِضُ وَ يَنْثُرُ مِنَ الْكَفِّ الَّذِيْ يَأْخُذُ مِنْهُ الْمَاءَ). أَخْرَجَهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَ النَّسَائِيُّ.

‘Alī r.a. menceritakan sifat wudhu’ Nabi s.a.w.: Beliau berkumur, menghirup air dengan hidup lalu disemprotkannya tiga kali. Beliau berkumur dan menghirup air dengan hidung lalu disemprotkannya dengan tapak tangan yang digunakan mengambil air.

(HR. Abū Dāūd dan Nasā’ī).

 

49. عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ (ر) – فِيْ صِفَةِ الْوُضُوْءِ – (ثُمَّ أَدْخَلَ بِيَدَيْهِ فَمَضْمَضَ وَ اسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدٍ يَفْعَلُ ذلِكَ ثَلَاثًا). مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

‘Abdullāh bin Zaid menceritakan sifat wudhu’ Rasūlullāh s.a.w. Beliau memasukkan kedua tangannya, lalu berkumur, dan menghirup ari dengan hidung dengan satu tapak tangan. Beliau melakukan hal itu tiga kali.

(Muttafaqun ‘alaih).

Pengertian Hadits Secara Global

Sungguh telah dibicarakan dua hadits tentang sifat wudhu’ Rasūlullāh s.a.w. pada nomor 30-31. Pengarang kitab ini hanya mencantumkan hadits yang digunakan untuk ḥujjah yang dikehendakinya yaitu berkumur dan menghirup air dengan hidung dengan sekali sauk dan dilakukan tiga kali. Ada yang tiga kali dengan tiga kali sauk.

Pelajaran yang kita ambil di sini adalah boleh memotong hadits yaitu dengan mengambil mana kalimat yang perlu dijadikan ḥujjah sebagaimana yang terdapat dalam kitab Shaḥīḥ Bukhārī.

Uraian Lafal Hadits.

(تَمَضْمَضَ) : Berkumur/yakni menggerakkan air di dalam mulut, lalu ditumpahkan.

(اسْتَنْثَرَ) : Menyemprotkan air setelah menghirupnya dengan hidung, itulah arti al-Istintsār (الْاِسْتِنْثَارُ).

(ثَلَاثًا) : Kalimat tsalatsan adalah menjadi maf‘ūl mutlak yang menduduki tempat Mashdar yang dibuang. Asalnya: Istintsāran tsalātsan (اِسْتِنْثَارًا ثَلَاثًا).

(وَ اسْتَنْشَقَ) : Al-Waw (الْوَاوُ) untuk mutaq-ul-jāmi‘. Boleh diartikan: “dan”. Sebagian ulama menerangkan bahwa al-Waw (الْوَاوُ) di situ mempunyai arti fā’ (الْفَاءُ): (maka) agar artinya setelah berkumur, lantas menghirup air dengan hidung secara berurutan. Jadi berkumur dahulu lantas menghirup air dengan hidung adalah sunat belaka.”

Kesimpulan Hadits

Berkumur dan menghirup air dengan hidung tiga kali dengan sekali sauk (air sepenuh tapak tangan) atau tiga kali sauk, di mana setiap sauk untuk berkumur dan menghirup air dengan hidung.

Seluruh perbuatan tersebut juga terdapat contoh dari Nabi s.a.w. dalam hadits beliau. Jadi boleh pilih salah satunya.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *