Rahasia di Balik Munada – Huruf-huruf Magis

Dari Buku:
Huruf-huruf Magis
(Judul Asli: Maniyyah al-Faqir al-Munjarid wa Sairah al-Murid al-Mutafarrid)
Oleh: Syaikh Abdul Qadir bin Ahmad al-Kuhaniy
Penerjemah: Diya' Uddin & Dahril Kamal
Penerbit: Pustaka Pesantren

Rangkaian Pos: 008 Rahasia-rahasia di Balik Isim-isim yang Dinashabkan - Huruf-huruf Magis
  1. 1.Rahasia-rahasia di Balik Isim-isim yang Dinashabkan – Huruf-huruf Magis
  2. 2.Rahasia di Balik Maf’ul Bih – Huruf-huruf Magis
  3. 3.Rahasia di Balik Mashdar – Huruf-huruf Magis
  4. 4.Rahasia di Balik Zharaf Zaman dan Zharaf Makan – Huruf-huruf Magis
  5. 5.Rahasia di Balik Hal – Huruf-huruf Magis
  6. 6.Rahasia di Balik Tamyiz – Huruf-huruf Magis
  7. 7.Rahasia di Balik Istitsna’ – Huruf-huruf Magis
  8. 8.Rahasia di Balik La – Huruf-huruf Magis
  9. 9.Anda Sedang Membaca: Rahasia di Balik Munada – Huruf-huruf Magis
  10. 10.Rahasia di Balik Maf’ul Min Ajlih – Huruf-huruf Magis
  11. 11.Rahasia di Balik Maf’ul Ma’ah – Huruf-huruf Magis

8 Rahasia di Balik Munādā

 

بَابُ الْمُنَادَى

وَ الْمُنَادَى خَمْسَةُ أَنْوَاعٍ الْمُفْرَدُ الْعَلَمُ وَ النَّكِرَةُ الْمَقْصُوْدَةُ وَ النَّكِرَةُ غَيْرُ الْمَقْصُوْدَةِ وَ الْمُضَافُ وَ الْمُشَبِّهُ بِالْمُضَافِ

فَأَمَّا الْمُفْرَدُ الْعَلَمُ وَ النَّكِرَةُ الْمَقْصُوْدَةُ فَيُبْنَيَانِ عَلَى الضَّمِّ مِنْ غَيْرِ تَنْوِيْنٍ نَحْوُ يَا زَيْدُ وَ يَا رَجُلُ

وَ الثَّلَاثَةُ الْبَاقِيَةُ مَنْصُوْبَةٌ لَا غَيْرُ

Munādā ada lima macam, yaitu mufrad ‘alam (satu nama), nakirah maqshūrah (nakirah termaksud), nakirah ghairu maqshūdah (nakirah tidak termaksud), mudhāf dan musyabbih bil-mudhāf (yang menyerupai mudhāf).

Adapun mufrad ‘alam dan nakirah maqshūdah, keduanya di-mabnī-kan dhammah tanpa disertai tanwīn, seperti: yā zaidu dan yā rijalu.

Sedang tiga yang lain harus di-nashab-kan, bukan yang lain.

Munādā (yang dipanggil, dimintai pertolongan) di segala zaman, segala kesulitan, dan segala tujuan ada lima. Pertama, mufrad ‘alam: satu nama, yaitu al-Ḥaqq jalla jalāluhu. Inilah yang dimaksud dengan Dzat. Sedang empat yang lain merupakan wasilah-wasilah (perantara).

Terkadang, mufrad ‘alam ditujukan kepada Rasulullah s.a.w., karena kesendirian beliau dalam sifat-sifat kesempurnaan, serta kejelasan beliau dengan membawa mukjizat-mukjizat, sebagaimana jelasnya api perjamuan di malam hari, melebihi semua nama.

Mengenai hal itu, penulis al-Burdah mengisyaratkan:

Engkau khafadhkan segala maqam,
Dengan idhāfah
Ketika Engkau dipanggil dengan rafa‘
Sebagaimana munādā mufrad ‘alam.

Tidak diragukan lagi, Rasulullah s.a.w. adalah pintu gerbang menuju Allah yang terbesar dan sarana mencapai syafaat-Nya yang paling mulia. Dengannya, longgarlah segala kesusahan dan terpenuhilah segala kesulitan. Betapa Allah memuliakan Sayyidi al-Bakri ash-Shiddiqi saat berkata:

Karena pembelaannya
Dalam segala yang kamu harapkan
Dialah pemberi syafaat
Yang selalu diterima, selamanya

Dan karena penolakannya
Dari segala yang kamu takutkan
Maka kepadanya tempat kembali
Dan pengharapan.

(Kedua) Nakirah maqshūdah adalah rahasia kewalian. Bila seseorang berhasil mencapainya, dia menjadi salah satu pintu di antara pintu-pintu menuju Allah yang menjadi tempat berlindung dari kesulitan-kesulitan. Dengan pertolongannya, kebutuhan-kebutuhan bisa terpenuhi karena dia adalah pengganti Rasulullah s.a.w. yang merupakan pintu gerbang terbesar.

(Ketiga) Sedang nakirah ghairu maqshūdah adalah sifat kekhususan yang tetap berada dalam kesamarannya, sampai pelakunya meninggal dunia. Dia adalah satu di antara simpanan-simpanan kesamaran dan penganten al-Ḥadhrat yang tidak dikenal, kecuali oleh sesamanya dan orang-orang yang dekat dengannya.

(Keempat) Orang yang dikelompokkan (mudhāf) pada waliyullah karena mendapatkan pengajaran dan melayani keperluannya, dia disamakan dalam tempat kembalinya.

(Kelima) Sementara orang yang berusaha menyerupai (mutasyābih) mereka dalam pengelompokan (mudhāf) adalah orang yang berhias dengan hiasan mereka dan berusaha mengelompokkan diri bersama mereka. Namun dia tidak memiliki tekad yang kuat untuk mencapai kawasan ruhani mereka. Tidak diragukan lagi, dia bisa mendapatkan barakah-barakah mereka, dan cahaya-cahaya mereka berlaku baginya. Sebagaimana ungkapan seorang penyair:

Aku memiliki tuan-tuan,
Karena kecintaan kepada mereka
Tapak-tapak kaki mereka berada di atas kening
Walaupun aku tidak termasuk golongan mereka
Namun cukup bagiku,
Dalam mencintai mereka
Terdapat kemuliaan dan kedudukan.

Adapun mufrad ‘alam (yang dimaksud adalah Rasulullah s.a.w.) dan nakirah maqshūdah (Yaitu nabi-nabi keturunan Ibrahim), melihat (dhamm) kepada Allah dan berkumpul dengan-Nya, tanpa tanwin. Artinya, tanpa memperhatikan atsar karena menyaksikan al-Munatstsir. Sehingga mereka tidak akan berpisah dari-Nya, walau sesaat.

Sedang tiga yang lain, dihadapkan (manshūb) pada ketentuan-ketentuan takdir yang telah ditentukan berlaku bagi mereka, disertai ketenangan di bawah arus perjalanan takdir itu. Bila Allah mendekatkan mereka, maka itu dengan anugerah-Nya. Bila Dia menjauh dari mereka, itu dengan keadilan-Nya. Tirai penutup masa ajalnya menimbulkan kebahagiaan.

Wa billāh-it-taufīq.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *