Macam-macam Fi’il Tsulatsi Mujarrad – Pedoman Dasar Ilmu Sharaf

Dari Buku:
Pedoman Dasar Ilmu Sharaf
(Terjemah Syarah Nazham Maqshud
Oleh: Al-Imam asy-Syaikh Muhammad Alish)
Penerjemah: Drs. H. Chatibul Umam dan Aceng Bahauddin
Penerbit: Darul Ulum Press Jkt.

Rangkaian Pos: Pembagian Fi‘il - Pedoman Ilmu Sharaf (Nazham Maqshud)

1. تَقْسِيْمُ الْفِعْلِ

1. Pembagian Fi‘il

 

A. Macam-macam Fi‘il Tsulātsī Mujarrad.

فِعْلٌ ثُلَاثِيٌّ إِذَ يُجَرَّدُ أَبْوَابُهُ سِتٌّ كَمَا سَتُسْرَدُ

Artinya:
 Fi‘il tsulātsī itu bilamana mujarrad (kata dasar atau belum mendapat imbuhan), maka fi‘il tersebut terdiri atas enam (macam), sebagaimana akan dikemukakan.”

Catatan:

1. Batasan fi‘il, kata kerja: (الْفِعْلُ):

وَ هُوَ كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى فِيْ نَفْسِهَا وَ اقْتُرنَتْ بِزَمَانٍ.

Artinya:

“Yaitu kata yang menunjukkan arti pada kata itu sendiri yang disertai oleh waktu”, seperti (دَرَسَ) telah belajar, (يَدْرُسُ) sedang belajar (سَيَدْرُسُ) akan belajar dan sebagainya.

2. Yang dimaksud dengan fi‘il tsulātsī mujarrad adalah fi‘il (kata kerja) yang hanya terdiri dari tiga huruf yang berfungsi:

a. Huruf pertama sebagai fā’ fi‘il (فَاءُ الْفِعْلِ)

b. Huruf kedua sebagai ‘ain fi‘il (عَيْنُ الْفِعْلِ)

c. Huruf ketiga sebagai lām fi‘il (لَامُ الْفِعْلِ)

3. Dua bait selanjutnya adalah merupakan rincian dari enam macam fi‘il tsulātsī tersebut di atas:

وَ إِنْ تُضَمَّ فَاضْمُمَنْهَا فِيْهِ أَوْ تَنْكِسَرْ فَافْتَحْ وَ كَسْرًا عِيْهِ.

Artinya:

 “Dan bilamana ‘ain fi‘il mādhī-nya itu di-dhammah-kan, maka hendaklah dalam mudhāri‘-nya juga. ‘Ain fi‘il tersebut di-dhammah-kan pula, atau bilamana ‘ain fi‘il mādhī-nya itu di-kasrah-kan, maka dalam mudhāri‘-nya hendaknya di-fatḥah-kan dan di-kasrah-kan. Peliharalah kasrah tersebut.”

Catatan:

Maksud dari kedua bait di atas adalah:

1. Fi‘il mādhī yang ber-‘ain fi‘il fatḥah itu terdiri dari tiga macam (bab), yaitu:

a. ‘Ain fi‘il mudhāri‘-nya kasrah, yakni: (فَعَلَ يَفْعِلُ). Pada umumnya berupa fi‘il muta‘addī (مُتَعَدِّ) atau fi‘il ghair muta‘addī (transitif), yaitu fi‘il yang menghendaki adanya maf‘ūl (مَفْعُوْلٌ) atau objek, seperti: (ضَرَبَ يَضْرِبُ) memukul, dan (رَمَى يَرْمِيْ) melemparkan, akan tetapi ada juga yang berupa fi‘il lāzim (لَازِمٌ), atau intransitif, yaitu fi‘il yang tidak menghendaki adanya maf‘ūl (مَفْعُوْلٌ) seperti: (جَلَسَ يَجْلِسُ) duduk.

b. ‘Ain fi‘il mudhāri‘-nya dhammah, yakni: (فَعَلَ يَفْعُلُ). Pada umumnya berupa fi‘il muta‘addī, seperti: (نَصَرَ يَنْصُرُ) menolong dan (قَتَلَ يَقْتُلُ) membunuh, akan tetapi ada juga yang berupa fi‘il lāzim, seperti: (عَثَرَ يَعْثُرُ) tergelincir dan (قَعَدَ يَقْعُدُ) duduk.

c. ‘Ain fi‘il mudhāri‘-nya fatḥah, yakni: (فَعَلَ يَفْعَلُ). Pada umumnya berupa fi‘il muta‘addī, seperti: (مَنَعَ يَمْنَعُ) menolak dan (فَتَحَ يَفْتَحُ) membuka, akan tetapi ada juga yang berupa fi‘il lāzim, seperti: (ذَهَبَ يَذْهَبُ) pergi dan (أَبَى يَأْبَى) membangkang.

2. Fi‘il mādhī yang ber-‘ain fi‘il dhammah dan hendaknya ‘ain fi‘il mudhāri‘-nya juga di-dhammah-kan pula, yakni (فَعُلَ يَفْعُلُ). Fi‘il yang mengikuti wazan ini hanya berbentuk lāzim saja, seperti: (عَظُمَ يَعْظُمُ) besar, agung dan (حَسُنَ يَحْسُنُ) bagus.

3. Fi‘il mādhī yang ber-‘ain fi‘il kasrah dan hendaknya ‘ain fi‘il mudhāri‘-nya:

Di-fatḥah-kan, yakni: (فَعِلَ يَفْعَلُ). Fi‘il yang mengikuti wazan (pola) tersebut berupa fi‘il muta‘addī, seperti: (عَلِمَ يَعْلَمُ) mengetahui dan (سَمِعَ يَسْمَعُ) mendengar, akan tetapi pada umumnya berupa fi‘il lāzim yang mengandung arti:

1. Sifat yang tetap, seperti: (شَنِبَ يَشْنَبُ) gigi lembut dan putih.

2. Sifat yang tidak tetap, seperti: (فَرِحَ يَفْرَحُ) sukacita, gembira, dan (يَئِسَ يَيْئَسُ) putus asa, putus harapan.

3. Warna, seperti: (سَوِدَ يَسْوَدُ) hitam dan (شَهِبَ يَشْهَبُ) abu-abu, kelabu.

4. Cacat anggota badan, seperti: (أَذِنَ يَأْذَنُ) besar dan panjang daun telinganya dan (عَيِنَ يَعَانُ) besar dan lebar hitam matanya.

b. Di-kasrah-kan, yakni: (فَعِلَ يَفْعِلُ). Pada umumnya berupa fi‘il lāzim, seperti: (وَثِقَ يَثِقُ) percaya, akan tetapi ada juga yang berupa fi‘il muta‘addī, seperti: (حَسِبَ يَحْسِبُ) mengira dan (وَرِثَ يَرِثُ) mewarisi.

وَ لَامٌ أَوْ عَيْنٌ بِمَا قَدْ فُتِحَا حَلْقِيْ سِوَى ذَا بِالشُّذُوْذِ اتَّضَحَا

Artinya:

 “Dalam fi‘il yang ‘ain fi‘il mādhī dan mudhāri‘-nya, kedua-duanya di-fatḥah-kan, Lām atau ‘Ain fi‘il-nya hendaknya berupa huruf ḥalq (tenggorokan). Adapun selain ini, maka dengan jelas hal itu hanya merupakan kekecualian (syadz).”

Catatan:

1. Huruf Alif (ا) dalam lafazh (اِتَّضَحَا) adalah merupakan Alif muthlak (أَلِفٌ إِطَّلَاقِيَّةٌ).

2. Maksud dari bait di atas adalah bahwa syarat bagi di-fatḥah-kan ‘Ain fi‘il mādhī dan mudhāri‘-nya itu, yakni: (فَعَلَ يَفْعَلُ), hendaknya Lām atau ‘Ain fi‘il-nya berupa huruf ḥalq, seperti: (سَأَلَ يَسْأَلُ) bertanya, meminta dan (مَدَحَ يَمْدَحُ) memuji. Huruf ḥalq semuanya ada enam: (هـ، غ، ع، خ، ح dan ء). Adapun bilamana ada fi‘il yang mengikuti wazan: (فَعَلَ يَفْعَلُ) akan tetapi Lām atau ‘Ain fi‘il-nya bukan dari salah satu huruf ḥalq, maka hal itu hanya berupa kekecualian saja dan jangan dijadikan standar (ukuran), seperti: (أَبَى يَأْبَى) membangkang.

Kesimpulan:

Fi‘il tsulātsī mujarrad semuanya ada enam bab (macam), sebagaimana tersusun dalam jadwal berikut ini:

الثُّلَاثِيُّ الْمُجَرَّدُ

Keterangan Mauzun Pola Bab
الإِيْضَاح الموزون الوزن بَاب
Fatḥah ‘Ain fi‘il mādhī dan dhammah ‘Ain fi‘il mudhāri‘-nya. نَصَرَ يَنْصُرُ فَعَلَ يَفْعُلُ 1
Fatḥah ‘Ain fi‘il mādhī dan kasrah ‘Ain fi‘il mudhāri‘-nya. ضَرَبَ يَضْرِبُ فَعَلَ يَفْعِلُ 2
Fatḥah ‘Ain fi‘il mādhī dan fatḥah ‘Ain fi‘il mudhāri‘-nya. فَتَحَ يَفْتَحُ فَعَلَ يَفْعَلُ 3
Kasrah ‘Ain fi‘il mādhī dan fatḥah ‘Ain fi‘il mudhāri‘-nya. عَلِمَ يَعْلَمُ فَعِلَ يَفْعَلُ 4
Kasrah ‘Ain fi‘il mādhī dan kasrah ‘Ain fi‘il mudhāri‘-nya. حَسِبُ يَحْسِبُ فَعِلَ يَفْعِلُ 5
Dhammah ‘Ain fi‘il mādhī dan dhammah ‘Ain fi‘il mudhāri‘-nya. كَرُمَ يَكْرُمُ فَعُلَ يَفْعُلُ 6

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *