Kedekatan Allah – Bab-ul-Maf‘ul Ma’ahu – Tata Bahasa Sufi

Dari Buku:
Tata Bahasa Sufi – Mengungkap Spiritualitas
Matan Jurumiyah
Oleh: Imam Ibnu ‘Ajibah al-Hasani r.a.

Penerjemah: H. Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.
Penerbit: Badan Penerbitan dan Penerjemahan Nahdlatul Wathan (BPPNW)

بَابُ الْمَفْعُوْلِ مَعَهُ

Kedekatan Allah

 

بَابُ الْمَفْعُوْلِ مَعَهُ
وَهُوَ الْاِسْمُ الْمَنْصُوْبُ الَّذِيْ يُذْكَرُ لِبَيَانِ مَنْ فُعِلَ مَعَهُ الْفِعْلُ نَحْوُ قَوْلِكَ جَاءَ الْأَمِيْرُ وَ الْجَيْشَ وَ اسْتَوَى الْمَاءُ وَ الْخَشَبَةَ
وَ أَمَّا خَبَرُ كَانَ وَ أَخَوَاتِهَا وَ اسْمُ إِنَّ وَ أَخْوَاتِهَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ فِي الْمَرْفُوْعَاتِ وَ كَذلِكَ التَّوَابِعُ فَقَدْ تَقَدَّمَ هُنَاكَ.

Maf‘ūl ma‘ah adalah yang bersamanya dan dengan kehadirannya berlaku segala sesuatu, yaitu Allah s.w.t. yang selalu mengawasi setiap jiwa, hadir di setiap perkara, dan bersama hamba di setiap ruang dan masa. Rasulullah s.a.w. bersabda:

أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَ الْخَلِيْفَةِ فِي الْأَهْلِ وَ الْمَالِ وَ الْوَلَدِ.

Engkaulah teman saat berkelana, dan Engkaulah pelindung keluarga dan harta serta anak.

Kedekatan Allah di sisi orang-orang biasa adalah kedekatan pengetahuan dan pengawasan, sedang di sisi orang-orang luar biasa adalah kedekatan sifat dan akhlak, sebagaimana Syaikh al-Wartajīsyī r.a. menjelaskan bahwasanya pengawasan Allah teruntukkan bagi orang-orang umum, sedang kedekatan-Nya teruntukkan bagi orang-orang khusus. Namun kedekatan-Nya dengan ilmu teruntukkan bagi orang-orang umum, sedang kedekatan-Nya dengan pancaran cahaya-Nya teruntukkan bagi orang-orang khusus. Allah s.w.t. berfirman:

ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى.

Kemudian ia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah ia dekat dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.” (471).

Maka apabila hamba telah bebas dari belenggu ruang, arah, dan waktu, kemudian dihadapkan dengan pancaran-pancaran cahaya Ilahi, maka ia telah siap untuk menyaksikan-Nya, dan senantiasa bersama-Nya, serta berakhlak dengan akhlak-Nya, dan Allah Maha Suci dari perpisahan dengannya, sebagaimana Ia-pun Maha Suci dari bersatu dengannya.

Seorang hamba yang telah mencapai kedekatan itu, wajahnya selalu berseri dengan sinar-sinar Ilahi, dan akhlaknya terciprat oleh sifat-sifat Ilahi. Nikmat ini sungguh tak dapat dimengerti apalagi diresapi selain mereka yang telah fanā’ atas didikan dan bimbingan seorang wali. Dan bagi mereka yang masih jauh perjalanannya, hendaklah mereka pasrahkan segalanya kepada para ahli yang telah menasehati:

وَ إِذَا لَمْ تَرَ الْهِلَالَ فَسَلِّمْلِأُنَاسٍ وَأَوْهُ بِالْأَبْصَارِ

Bila Tuhan tak mampu kau dekati,
Maka pasrahkan dirimu kepada sang wali.

Catatan:

  1. 47). An-Najm: 8-9.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.