Kalam – Nahw-ul-Qulub

Cover Buku Nahwul Qulub oleh Imam al-Qusyairi

نَحْوُ الْقُلُوْبِ
Naḥw-ul-Qulūb
(Tata Bahasa Qalbu)
 
BELAJAR MENGENAL ALLAH DAN RAHASIA KEHIDUPAN MELALUI ILMU TATA BAHASA ‘ARAB.
 
Karya: Imam al-Qusyairi
 
Penerjemah: Kiai Supirso Pati
Penerbit: WALI PUSTAKA

Rangkaian Pos: Kitab 1 - Nahw-ul-Qulub-il-Kabir - Nahw-ul-Qulub

الْكَلَامُ

KALĀM.

 

PASAL 2

SUSUNAN KALĀM

 

Kalām (71) adalah suatu rangkaian kalimat yang terdiri dari isim, fi‘il, dan ḥurūf yang menghasilkan ma‘na. Dalam Naḥw-ul-Qulūb, isim adalah Allah. Fi‘il adalah segala sesuatu yang berasal dari Allah. Sedangkan ḥurūf ada yang khusus melekat pada isim. Melekatnya huruf pada isim akan menetapkan suatu hukum bagi isim. Sebagaimana dalam ilmu naḥwu konvensional, ketika ḥurūf melekat pada isim, maka berlaku hukum nashab, jarr, atau lainnya bagi isim. Selain itu, ada ḥurūf yang khusus melekat pada fi‘il. Melekatnya ḥurūf pada fi‘il akan menetapkan suatu penisbahan bagi fi‘il. Sebagaimana (dalam ilmu naḥwu konvensional) ḥurūf dapat menetapkan hukum nashab dan jazm pada fi‘il.

Dengan demikian, dalam Naḥw-ul-Qulūb (misalnya) sifat ‘ilm (82) (ḥurūf) yang melekat pada Allah (isim) akan menetapkan sifat “al-‘Ālim” (93) bagi-Nya. Begitu juga sifat qudrah (104), ḥayāh (115), dan sifat-sifat Dzāt Allah yang lain (shifat-udz-Dzāt). Sementara dalam relasi-Nya dengan makhluq (alam semesta), segala perbuatan-Nya (af‘āl-ul-Ḥaqq) – yang merupakan keniscayaan dari sifat-sifatNya (shifat-udz-Dzāt) – akan menetapkan isim shifat bagi-Nya (sebagai penisbahan). (126).

 

PASAL 3

ISIM, FI‘IL DAN ḤURŪF

 

Dalam Naḥw-ul-Qulūb, isim adalah informasi yang datang dari Allah (al-Ḥaqq). Fi‘il adalah keinginan yang disampaikan oleh seorang hamba kepada Allah. Sementara huruf adalah ikatan yang menyempurnakan ma‘na (fā’idah) dari bahasa qalbu. (137).

 

PASAL 4

KALĀM MUFĪD DAN KALĀM GHAIRU MUFĪD

 

Kalām yang memiliki ma‘na atau kalām mufīd adalah kalām yang tersusun dari isim dan isim, atau fi‘il dan isim. (148). Adapun selain dua susunan itu, disebut kalām yang tidak memiliki ma‘na atau kalām ghairu mufīd.

Dalam Naḥw-ul-Qulūb, juga terdapat kalām mufīd dan kalām ghairu mufīd. Kalām ghairu mufīd adalah kalām yang bukan untuk Allah. Sementara kalām mufīd adalah kalām yang didengar dari Allah atau digunakan untuk berbicara kepada Allah. Adapun selain kalām mufīd adalah kalām yang kosong (sia-sia).

Dikatakan: Kalām mufīd berupa kalām yang menunjukkan ma‘na tentang Dzāt Allah, mengisyaratkan ma‘na tentang sifat-Nya dan mengandung ungkapan yang berma‘na tentang ciptaan-Nya. Pembagian ini secara keseluruhan tercakup dalam kalām mufīd. Dengan demikian, tidak satu pun bentuk kalām mufīd yang keluar dari tiga hal tersebut. (159).

 

(Teks Bahasa ‘Arab):

فصل [2]:

الكلام (110) اسم، و فعل، و حرف جاء لمعنى:
و في نحو (القلوب): الاسم هو الله و الفعل ما كان من الله، و الحرف إما يختص بالاسم فيوجب له حكمًا، أو يختص بالفعل فيقتضي له نسبة، و كما أن الحرف إذا دخل على اسم أوجب له إما حكم النصب أو الخفض أو غيره، فالوصف الذي هو العلم (مثلًا) يوجب لله حكم العالم…..و كذلك القدرة و الحياة و سائر صفات الذات.
و كما أن من الحروف ما يوجب للفعل حكم النصب و الجزم فوقوع أفعال الحق على أوصاف يوجب له نعت الاسم في الخلق.

فصل [3]:

و الاسم في نحو القلب ما كان مخبرًا عنه في مخاطبة الحق، و الفعل ما كان خبرًا في مخاطبة العبد مع الحق.
و الحروف رباطات تتم بها فوائد نطق القلب.

فصل [4]:

و الكلام المفيد ما كان اسمًا و اسمًا، أو فعلًا وَ اسمًا وَ مَا عداه من الاقسام غير مفيد.
و في نحو القلب مفيد و غير مفيد، فغير المفيد ما ليس لله، و المفيد ما يسمع من الحق أو يخاطب به الحق، و ما سواه فلغو.
و يقال: المفيد إما دل على الذات، أو أشار إلى الصفات، أو كان عبارة عن المصنوعات… هذا هو التقسيم الحاوي لجميع المعاني، لا يشذ عنه قسم من أقسام الخطاب الذي هو مفيد.

Catatan:

  1. 7). Para pakar naḥwu konvensional (gramatika eksoterik) mendefinisikan kalam sebagai kata yang dapat memberi pesan memahamkan (lafzhun mufīdun), sehingga pendengarnya langsung diam (paham) tidak lagi menanyakan pesan yang terkandung di dalam kata (yuḥsan-us-sukūtu ‘alaihā). Contohnya seperti perkataan kita: (حَضَرَ زَيْدٌ) “Zaid telah hadir” (أَكْرَمْتُ ضَيْفِيْ) “Aku telah memuliakan tamuku” (سَعْدٌ كَرِيْمٌ) “Sa‘ad seorang yang mulia”, atau (اِسْتَقِمْ) “tegaklah”. Menurut para pakar ini, minimal kalām terdiri dari dua rangkaian kalimat yang memiliki arti. Dua rangkaian kalimat itu bisa berupa dua isim atau gabungan dari satu fi‘il dan satu isim. Lihat an-Naḥwu wash-Sharf, hlm. 3, karya Dr. ‘Āshim Bahjah al-Baithār.
  2. 8). Artinya Mengetahui – Ed.
  3. 9). Maha Mengetahui – Ed.
  4. 10). Artinya Kuasa. Sifat qudrah (Kuasa) akan menetapkan sifat al-Qādir (Yang Maha Kuasa) – Ed.
  5. 11). Artinya Hidup. Sifat ḥayāh (hidup) akan menetapkan sifat al-Ḥayy (Yang Maha Hidup) – Ed.
  6. 12). Tampaknya kalām yang dimaksud oleh Imām al-Qusyairī dalam Naḥw-ul-Qulūb secara substansi cukup berbeda dengan kalām dalam terminologi ‘ulamā’ naḥwu konvensional. Kalām yang dijelaskan oleh Imām al-Qusyairī selain bernuasa sufistik juga bernuansa teologis. Hal ini wajar karena Imām al-Qusyairī termasuk ‘ulamā’ yang juga pakar ‘ilmu kalam. Dalam ‘ilmu kalam, kata kalām merupakan salah satu shifat-udz-Dzāt yaitu sifat ilahiah qadīm yang melekat pada Dzāt Allah, seperti halnya sifat Waḥdāniyyah (Esa), as-Sam‘ (Mendengar), al-Bashr (Melihat), al-Irādah (Menghendaki), al-‘Ilm (Mengetahui), dan al-Ḥayāh (Hidup). Selain shifat-udz-Dzāt, Allah juga memiliki shifat-ul-Fi‘il yaitu sifat yang berkaitan erat dengan kehendak dan perbuatan-Nya dalam relasi-Nya dengan alam semesta, seperti al-Khāliq (Maha Pencipta), al-Wahhāb (Yang Maha Pemberi Karunia), ar-Razzāq (Yang Maha Pemberi Rezeki), al-Muḥyī (Yang Maha Menghidupkan), al-Mumīt (Yang Mahah Mematikan), al-Hādī (Yang Maha Pemberi Petunjuk), al-Mun‘im (Yang Maha Pemberi Kenikmatan), dan lainnya. Sifat-sifat ini (shifat-ul-Fi‘il) ber-tajalli dalam alam semesta dan pada diri mukhluq. Sementara nama Allah merupakan nama Dzāt Allah (ism-udz-Dzāt). Hanya Allah yang disebut dengan nama Allah, dan tidak ada satu pun makhluq yang menyandang nama ini. Lihat Ibrāhīm Basyūnī dan Aḥmad ‘Ilm-ud-Dīn al-Jundī dalam Naḥw-ul-Qulūb al-Kabīr; Taḥqīqu wa Syarḥu wa Dirāsah, hlm. 111 dan 121 – Ed.
  7. 13). Dalam naḥwu konvensional, isim adalah sesuatu yang menunjukkan ma‘na dirinya yang tidak berkaitan dengan salah satu dari tiga pembagian waktu: mādhī (lampau), ḥāl (sekarang), dan mustaqbal (yang akan datang). Sedangkan fi‘il adalah sesuatu yang menunjukka ma‘na dirinya yang berkaitan dengan salah satu dari tiga pembagian waktu: mādhī (lampau), ḥāl (sekarang), dan mustaqbal (yang akan datang). Hubungan antara isim dan fi‘il adalah hubungan antara ashl (akar) dan far‘ (cabang). Dan fi‘il merupakan cabang dari isim. Adapun ḥurūf adalah sesuatu yang tidak menunjukkan ma‘na dirinya. Ḥurūf justru menunjukkan ma‘na yang bukan dirinya, dalam arti dia melekat pada ma‘na isim dan fi‘il.

    Dalam Naḥw-ul-Qulūb, isim dinisbatkan kepada Dzāt Allah. Isim menegaskan bahwa Dzāt Allah tidak didahului oleh apa pun dan tidak berkaitan dengan waktu, baik mādhī, ḥāl, atau mustaqbal. Dia bahkan melampaui waktu itu sendiri (fauq-az-Zamāniyyah). Sementara fi‘il adalah representasi perbuatan Allah dalam bentuk relasi Diri-Nya dengan makhluq, yaitu alam semesta dan segala sesuatu di dalamnya. Relasi ini merupakan relasi al-Ḥaqq dengan manifestasi-Nya (tajalliyāt) dalam tataran alam fenomenal yang berkaitan dengan waktu, baik mādhī, ḥāl, atau mustaqbal. Relasi Allah dengan manifestasi-Nya dilandasi oleh kehendak dan pengetahuan-Nya. Oleh karena itu, fi‘il menegaskan bahwa Allah adalah akar (ashl) dari segala sesuatu di alam semesta (far‘). Adapun huruf merupakan ikatan yang bertujuan agar misi (ma‘na) dari perkataan terpuji (bahasa qalbu) – yang objeknya adalah Allah – bisa tercapai secara sempurna. Ketika hati seorang hamba mengatakan bahwa hanya Allah yang berhak mengklaim: “Segala sesuatu adalah dari-Ku, demi Aku, dan atas kuasa-Ku,” maka dia telah mencapai misi dari bahasa qalbu secara sempurna. Karena hal ini berarti seorang hamba (far‘) berada dalam ikatan yang erat dengan Allah yang berhak mengucapkan klaim itu. Namun jika hati seorang hamba justru mengatakan “Itu dariku, demi aku dan atas kuasaku,” maka misi dari bahasa qalbu tida pernah tercapai. Karena dengan klaim tersebut, dia tidak mengikat dirinya (sebagai far‘) dengan Allah (sebagai ashl). Dalam arti dia tidak meyakini Allah sebagai ashl. Lihat Ibrāhīm Basyūnī dan Aḥmad ‘Ilm-ud-Dīn al-Jundī dalam Naḥw-ul-Qulūb al-Kabīr, Taḥqīqu wa Syarḥ-ud-Dirāsah, hlm. 131-132. – Ed.

  8. 14). Maksud dari isim dan isim, adalah jumlah ismiyyah, yaitu susunan mubtada’ dan khabar seperti (الْإِنْسَانُ مَخْلُوْقٌ) “manusia adalah makhluq”. Sementara maksud dan fi‘il dan isim adalah jumlah fi‘liyyah, yaitu susunan fi‘il dan fā‘il seperti (نَزَلَ الْوَحْيُ) “wahyu telah turun”. Kedua susunan ini menghasilkan ma‘na (fā’idah) yang dapat dipahami (kalām mufīd). Dalam susunan pertama (mubtada’ dan khabar), ma‘na bisa tercapai (dihasilkan) ketika khabar ditopang oleh mubtada’ (isnād-ul-khabar ilal-mubtada’). Sementara dalam susunan kedua (fi‘il dan fā‘il), ma‘na bisa tercapai ketika fi‘il ditopang oleh fā‘il (isnād-ul-fi‘li ilal-fā‘il) – Ed.
  9. 15). Dalam Naḥw-ul-Qulūb, ma‘na (fā’idah) bisa tercapai ketika seluruh susunan kalām disandarkan kepada Allah (al-isnād kulluhu lillāh). Isim adalah Allah (ism-udz-Dzāt); Allah adalah mubtada’ sekaligus khabar dan fā‘il. Sementara alam semesta adalah fi‘il. Karena alam semesta beserta isinya merupakan teofani Allah (tajalliyāt-al-Ḥaqq) yang mana keberadaannya merepresentasikan perbuatan Allah (af‘āl Allāh). Dengan demikian, kalām mufīd dalam Naḥw-ul-Qulūb adalah kalām yang mengandung dzikir kepada Allah, baik tentang Dzāt Allah, nama-Nya yang agung, sifat dzātiyyah maupun sifat fi‘liyyah. Kaum shūfī mengamalkannya, baik dalam al-Munādah, al-Munājah, dzikir, doa, maqāmāt, aḥwāl, ataupun lainnya. Lihat Ibrāhīm Basyūnī dan Aḥmad ‘Ilm-ud-Dīn al-Jundī dalam Naḥw-ul-Qulūb al-Kabīr, Taḥqīqu wa Syarḥ-ud-Dirāsah, hlm. 130 dan 133. – Ed.
  10. (1). الكلام عند النحاة: هو اللفظ المفيد فائدة يُحسن السكوت عليها. كقولنا: حضر زيد أو أكرمت ضيفي أو سعدٌ كريم أو استقِمْ، و أقلّ ما يتألف منه الكلام كلمتان، و قد تكونان اسمين أو فعلًا و اسمًا. (النحو و الصرف ص 3. د. عاصم بهحة البيطار)
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *