Jalan-jalan Kesesatan – Bab Makhfudhat-il-Asma’ – Tata Bahasa Sufi

Dari Buku:
Tata Bahasa Sufi – Mengungkap Spiritualitas
Matan Jurumiyah
Oleh: Imam Ibnu ‘Ajibah al-Hasani r.a.

Penerjemah: H. Abdul Aziz Sukarnawadi, MA.
Penerbit: Badan Penerbitan dan Penerjemahan Nahdlatul Wathan (BPPNW)

بَابُ مَخْفُوْضَاتِ الْأَسْمَاءِ

Jalan-jalan Kesesatan

 

بَابُ مَخْفُوْضَاتِ الْأَسْمَاءِ
الْمَخْفُوْضَاتُ ثَلَاثَةٌ مَخْفُوْضٌ بِالْحَرْفِ وَ مَخْفُوْضٌ بِالْإِضَافَةِ وَ تَابِعُ لِلْمَخْفُوْضِ
فَأَمَّا الْمَخْفُوْضُ بِالْحَرْفِ فَهُوَ مَا يُخْفَضُ بِمِنْ وَ إِلَى وَ عَنْ وَ عَلَى وَ فِيْ وَ رُبَّ وَ الْبَاءُ وَ الْكَافُ وَ اللَّامُ وَ حُرُوْفُ الْقَسَمِ وَ هِيَ الْوَاوُ وَ الْبَاءُ وَ التَّاءُ وَ بِمُذْ وَ مُنْذُ
وَ أَمَّا مَا يُخْفَضُ بِالْإِضَافَةِ فَنَحْوُ قَوْلِكَ غُلَامُ زَيْدٍ وَ هُوَ عَلَى قِسْمَيْنِ مَا يُقَدِّرُ بِمِنْ فَالَّذِيْ يُقَدِّرُ بِاللَّامِ نَحْوُ غُلَامُ زَيْدٍ وَ الَّذِيْ يُقَدِّرُ بِمِنْ نَحْوُ ثَوْبُ خُزٍّ وَ بَابُ سَاجٍ وَ خَاتَمُ حَدِيْدٍ وَ مَا أَشْبَهَ ذلِكَ

Jalan-jalan yang menyesatkan hamba dari petunjuk para wali ada tiga jalan: Pertama, menyembah Allah karena tujuan-tujuan duniawi ataupun karena tujuan ukhrawi seperti pahala atau surga, karena ia beramal hanya ketika dijanjikan pahala dan imbalan, sehingga apabila ia tidak dijanjikan sesuatu atau telah mendapatkan apa yang menjadi tujuannya, maka ia merasa tenang dan tidak lagi beramal. Dan apabila ia berduka atau sedang mengalami kesusahan, maka ia segera kembali beribadah kepada-Nya. Hamba semacam itu akan merugi di dunia dan di akhirat.

Kedua, bersahabat dengan musuh-musuh para wali, sebab mereka sudah pasti akan menghalangi dari jalan para wali. Seorang ahli hikmah mengingatkan:

عَلَيْكَ بِأَرْبَابِ الصُّدُوْرِ فَمَنْ غَدَا
مُضَافًا لِأَرْبَابِ الصُّدُوْرِ تَصَدَّرَا
وَ إِيَّاكَ أَنْ تَرْضَى بِصُحْبَةِ سَاقِطٍ
فَتَنْحَطُّ قَدْرًا مِنْ عُلَاكَ وَ تَحَقَّرَا.

Dengan orang mulia silahkan berkawan,
Sebab bersamanya teguhlah pribadi.

Musuh wali jangan jadikan teman,
Karena bersamanya hidupmu tiada arti.”

Nabi ‘Īsā a.s. pernah mewasiatkan:

لَا تُجَالِسُوا الْمَوْتَى فَتَمُوْتُ قُلُوْبُكُمْ.

“Jangan bergaul dengan orang-orang yang mati, agar hatimu tidak mati.”

Kemudian para pengikut bertanya:

وَ مَنِ الْمَوْتَى يَا رُوْحَ اللهِ؟

“Siapakah orang-orang mati itu, wahai kekasih Allah?”

Nabi ‘Īsā a.s. menjawab:

الرَّاغِبُوْنُ فِي الدُّنْيَا الْمُحِبُّوْنَ لَهَا.

“Yang berlebihan mencintai dunia dan mengharapkannya.”

Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ.

Agama seseorang bergantung pada agama temannya.”

Dalam hadits lain:

مَنْ أَحَبَّ قَوْمًا حُشِرَ مَعَهُمْ وَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ.

Barang siapa mencintai suatu kaum maka ia akan dibangkitkan bersama mereka, karena seseorang akan dibangkitkan di akhirat nanti bersama kekasih hatinya.

Maka seorang hamba tidak akan pernah berhasil menempuh jalan-jalan para wali kecuali melalui bimbingan seorang wali dan pergaulan bersama para pecinta wali.

Ketiga, menuruti hawa nafsu, karena segala kemuliaan adalah dengan menentang hawa nafsu, dan segala kehinaan adalah dengan menuruti dan mengikuti hawa nafsu, sebagaimana kata penyair:

لَا تَتَّبِعِ النَّفْسَ فِيْ هَوَاهَاإِنَّ اتِّبَاعَ الْهَوَى هَوَان

Jangan turuti hawa nafsumu, kawan!
Atau hidupmu akan penuh kehinaan!

Dan sebagaimana kata Syaikh Ibnu Yazīd:

فَإِنْ طَالَبَتْكَ النَّفْسُ يَوْمًا بِشَهْوَةٍوَ كَانَ إِلَيْهَا الْخِلَافُ طَرِيْقُ
فَدَعْهَا وَ خَالِفْ مَا هُوَتْهُ فِإِنَّمَاهَوَاكَ عَدُوٌّ وَ الْخِلَافُ صَدِيْقُ

Jikalau nafsu menggoda hatimu,
Dan masih ada jalan untuk melawannya.

Maka lawanlah sekuat hatimu,
Karena nafsulah sejahat-jahat musuhnya, dan melawannya adalah teman.”

Dan dalam al-Qur’an telah disebutkan betapa kejinya hawa nafsu, yaitu dalam firman-Nya:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلهَهُ هَوَاهُ وَ أَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلْمٍ وَ خَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَ قَلْبِهِ وَ جَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيْهِ مِنْ بَعْدِ اللهِ أَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah? Dan mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (481).

Catatan:

  1. 48). Al-Jātsiyah: 23.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.