Definisi Nahwu dan Nahw-ul-Qulub – Nahw-ul-Qulub

Cover Buku Nahwul Qulub oleh Imam al-Qusyairi

نَحْوُ الْقُلُوْبِ
Naḥw-ul-Qulūb
(Tata Bahasa Qalbu)
 
BELAJAR MENGENAL ALLAH DAN RAHASIA KEHIDUPAN MELALUI ILMU TATA BAHASA ‘ARAB.
 
Karya: Imam al-Qusyairi
 
Penerjemah: Kiai Supirso Pati
Penerbit: WALI PUSTAKA

Rangkaian Pos: Kitab 1 - Nahw-ul-Qulub-il-Kabir - Nahw-ul-Qulub

KITAB PERTAMA

نَحْوُ الْقُلُوْبِ الْكَبِيْرِ

NAḤW-UL-QULŪB-IL-KABĪR

 

بسم الله الرحمن الرحيم
و به ثقتي

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Dan hanya kepada-Nya aku bergantung

الحمد لله رب العالمين، و صلواته على سيدنا محمد و آله و صحبه و سلم.
قال الأستاذ أبو القاسم عبد الكريم بن هوازن القشيري – رحمه الله:

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada baginda kami Nabi Muḥammad s.a.w., beserta keluarga dan para sahabatnya. Al-Ustādz Abul-Qāsim ‘Abd-ul-Karīm bin Hawāzin al-Qusyairī r.a. berkata:

 

بَيْنَ النَّحْوِ الظَّاهِرِ وَ النَّحْوِ الْبَاطِنِ

NAḤWU KONVENSIONAL (GRAMATIKA EKSOTERIK) DAN NAḤW-UL-QULŪB (GRAMATIKA ESOTERIS).

 

PASAL 1

DEFINISI NAḤWU DAN NAḤW-UL-QULŪB

 

Naḥwu secara etimologi berarti sebuah cara menuju suatu tujuan, yaitu mampu mengucapkan kalimat dengan benar (al-Qashdu ilā shawāb-il-Kalām). (21) Sebagaimana perkataan (نَحَوْتُ نَحْوَهُ): Aku mengikuti caranya melangkah (yang benar). Perkataaan ini sema‘na dengan perkataan (قَصَدْتُ قَصْدَهُ): Aku mengikuti caranya melangkah (yang benar). Perkataan semacam ini dalam bahasa ‘Arab juga disebut naḥwu karena menuju jalan yang benar atau mengikuti cara yang benar. Sebagaimana definisi naḥwu dalam naḥwu konvensional merupakan cara agar dapat mengucapkan kalimat dengan benar.

Dengan demikian, Naḥw-ul-Qulūb adalah suatu cara agar dapat mengucapkan perkataan terpuji berdasarkan hati (al-Qashdu ilā ḥamīd-il-Qauli bil-Qalb). Dan perkataan terpuji tersebut tidak lain adalah dialog manusia dengan Allah (al-Ḥaqq) melalui bahasa qalbu. Dialog ini terbagi menjadi dua, yaitu al-Munādāh (dengan cara memanggil-manggil Allah) dan al-Munājāh (dengan cara merasakan kehadiran Allah). (32).

Al-Munādāh merupakan sifat ahli ibadah, sedangkan al-Munājāh merupakan sifat orang-orang yang telah mengalami perjumpaan dengan Allah (ahli hakikat). Al-Munādāh terletak di pintu gerbang (keagungan Allah) (43), sedangkan al-Munājāh berada dalam kedekatan yang intim (dengan Allah). (54) Karena seorang ahli ibadah hanya sampai di pintu gerbang pengabdian, sedangkan orang yang telah berjumpa Allah telah sampai di dalam marba‘; (65) tempat yang sangat dekat dengan Allah.

 

(Teks Bahasa ‘Arab):

فصل [1]:

النحو (16) (في اللغة) هو القصد إلى صواب الكلام، يقال:
نحوت نحوه أي قصدت قصده (و هذا النوع في العربية يسمى نحوًا لأنه القصد إلى صواب الكلام)
فنحو القلب القصد إلى حميد القول بالقلب و جميد القول مخاطبة الحق بلسان القلب، و ينقسم ذلك إِلى:
المناداة و المناجاة، فالمناداة صفة العابدين، و المناجاة نعت الواجدين، المناداة على الباب، وَ المناجاة على بساط القرب، فموقف العابد أبواب الخدمة، و مَرْبَع (27) الواجد بساط القربة.

Catatan:

  1. 2). Sebuah jalan yang mengarah pada suatu tujuan. Tujuan itu berupa kemampuan dalam mengucapkan dan menuliskan kalimat secara benar dan fasih – Ed.
  2. 3). Jika naḥwu eksoterik bertujuan untuk menjaga kefasihan ucapan lisan dengan berdasarkan kaidah dan logika bahasa, maka naḥwu esoteris (sufistik) melatih seseorang berbicara dengan bahasa qalbu (intuisi), yang tujuannya adalah senantiasa mengingat Allah (dzikrullāh) dengan perkataan terpuji melalui dua cara yaitu al-Munādāh dan al-MunājāhEd.
  3. 4). Suara panggilan seorang hamba dari luar gerbang keagungan Allah – Ed.
  4. 5). Suara qalbu seorang kekasih dalam keintimnnya dengan yang terkasih, yaitu Allah – Ed.
  5. 6). Secara leksikal kata marba‘ memiliki arti suatu tempat yang dihuni oleh seseorang sebagai tempat khusus untuk menikmati musim semi yang indah (rabī‘). Bentuk plural dari kata marba‘ adalah marābi‘. Dalam uraian Imām al-Qursyairī. Kata marba‘ merupakan simbol dari tempat perjumpaan antara seorang ahli hakikat (Shūfī) dengan Allah (al-Ḥaqq). Penggunaan kata itu juga merupakan bentuk metafora yang mengilustrasikan betapa dekatnya seorang ahli hakikat dengan Allah – Ed.
  6. (1). النحو: إعراب الكلام العربي، و النحو: القصد و الطريق، يكون ظرفًا و يكون اسمًا، نحاه يتحوه و ينحاه نحوًا وانتحاه، و نحو العربية منه. إِنما هو انتحاء سَمْتِ كلام العرب في تصرفه من إعراب و غيره كالتثنية و الجمع و التحقير و التكبير و الإضافة و النسب و غير ذلك، ليلحق من ليس من أهل اللغة العربية بأهلها في الفصاحة فينطق بها و إن لم يكن منهم، أو إن شذّ بعضهم عنها رُدّ به إليها و هو في الأصل مصدر شائع أي نحوت نحوًا كقولك: قصدت قصدًا، ثم خُص به انتحاء هذا القبيل من العلم. (لسات العرب 15/309-310).
  7. (2). الْمَرْبَعُ: الموضع يقيم فيه الناس زمن الربيع على الخصوص (ج) مرابع.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *