6-0 Rahasia-rahasia di Balik Isim-isim yang Di-rafa’kan – Huruf-huruf Magis

Dari Buku:
Huruf-huruf Magis
(Judul Asli: Maniyyah al-Faqir al-Munjarid wa Sairah al-Murid al-Mutafarrid)
Oleh: Syaikh Abdul Qadir bin Ahmad al-Kuhaniy
Penerjemah: Diya' Uddin & Dahril Kamal
Penerbit: Pustaka Pesantren

Rangkaian Pos: 006 Rahasia-rahasia di Balik Isim-isim yang Di-rafa'kan - Huruf-huruf Magis
  1. 1.Anda Sedang Membaca: 6-0 Rahasia-rahasia di Balik Isim-isim yang Di-rafa’kan – Huruf-huruf Magis
  2. 2.6-1 Rahasia di Balik Fa’il – Huruf-huruf Magis
  3. 3.6-2 Rahasia di Balik Maf‘ul Pengganti yang Tidak Disebutkan Fa‘ilnya (Na’ibul Fa‘il) – Huruf-huruf Magis
  4. 4.6-3 Rahasia di Balik Mubtada’ dan Khabar – Huruf-huruf Magis
  5. 5.6-4 Rahasia di Balik ‘Amil-‘amil Mubtada’ dan Khabar – Huruf-huruf Magis

Rahasia-rahasia di Balik Isim2 yang Di-rafa‘-kan

بَابُ مَرْفُوْعَاتِ الْأَسْمَاءِ

الْمَرْفُوْعَاتُ سَبْعَةٌ وَ هِيَ الْفَاعِلُ وَ الْمَفْعُوْلُ الَّذِيْ لَمْ يُسَمَّ فَاعِلُهُ وَ الْمُبْتَدَأُ وَ خَبَرُهُ وَ اسْمُ كَانَ وَ أَخَوَاتِهَا وَ خَبَرُ إِنَّ وَ أَخَوَاتِهَا وَ التَّابِعُ لِلْمَرْفُوْعِ وَهُوَ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ النَّعْتُ وَ التَّوْكِيْدُ وَ الْعَطْفُ وَ الْبَدَلُ

Isim-isim yang di-rafa‘-kan ada tujuh: Fā‘il, maf‘ūl pengganti yang tidak disebutkan fā‘il-nya (nā’ib-ul-fā‘il), mubtadā’ beserta khabar-nya, isim dari kana dan lafazh-lafazh sejenisnya, khabar dari inna dan lafazh-lafazh sejenisnya, serta isim yang mengikut pada isim yang telah di-rafa‘-kan, yaitu empat hāl, na‘at, ‘athaf, taukīd, dan badal.

Nama-nama yang ditinggikan adalah nama-nama al-Haqq ta‘ala dan berjumlah banyak. Allah berfirman: “Allah memiliki nama-nama yang baik, maka berdoalah kalian kepada Allah menggunakan nama-nama itu.” (al-A‘raf [7]: 179).

Nama-nama yang dikenal berdasarkan “ketetapan” ada 99. Di antara nama-nama ini, nama yang tampak dalam wujud dan eksis di alam takwin ada tujuh, yaitu nama-nama yang muncul dari sifat-sifat ma‘ānī. Antara lain: qudrat (Maha Mampu), iradat (Maha Berinisiatif), ‘ilmu (Maha Tahu), ḥayāt (Maha Hidup), sama‘ (Maha Mendengar), bashar (Maha Melihat), dan kalām (Maha Berfirman).

Maka dikatakan qadīrun (Dzat Yang Maha Mampu), murīdun (Dzat Yang Maha Berinisiatif), ‘alīmun (Dzat Yang Maha Tahu), ḥayyun (Dzat Yang Maha Hidup), samī‘un (Dzat Yang Maha Mendengar), bashīrun (Dzat Yang Maha Melihat), dan mutakallimun (Dzat Yang Maha Berfirman).

Penampakan segala sesuatu, bentuk dan entitas (atsar), yang merupakan penyingkapan-penyingkapan Kebenaran Mutlak (al-Ḥaqq) menunjukkan adanya nama-nama Tuhan. Nama-nama menunjukkan adanya sifat-sifat. Dan, sifat-sifat menunjukkan adanya Sang Dzat dalam penyingkapan-penyingkapan itu. Karena, sifat tidak akan terpisah dari Yang Disifati.

Penampakan alam ini, menunjukkan adanya Sang Maha Mampu, yang menampakkannya dengan sifat qudrat-Nya. Nama Sang Maha Mampu menunjukkan kekonstanan sifat qudrat bagi-Nya. Dan adanya sifat qudrat menunjukkan adanya Sang Dzat dalam penyingkapan-penyingkapan itu. Karena, sifat tidak terpisah dari Dzat yang disifati. Ketika sifat-sifat menampak, berarti sang Dzat juga menampak. Dan, ketika Sang Dzat menampak, berarti sifat-sifat juga menampak.

Demikianlah makna ucapan ulama yang mengatakan: “Dzat merupakan esensi dari sifat-sifat.” Maksudnya, keduanya saling menunjang eksistensi satu sama lain, dalam penampakan dan penyingkapan.

Dalam al-Ḥikam disebutkan: “Dengan kewujudan nyata atsar-atsarNya, Allah menunjukkan adanya nama-namaNya. Dengan adanya nama-namaNya, Allah menunjukkan kestabilan sifat-sifatNya. Dan, dengan kestabilan sifat-sifatNya, Allah menunjukkan adanya Dzat-Nya.”

Bagi penempuh jalan spiritual (sālik), yang tersingkap pertama kali adalah nama-nama Allah, lalu naik sampai menyaksikan sifat-sifatNya. Di sana, tersingkaplah baginya kesempurnaan Dzat-Nya. Sedang seseorang yang terdorong dalam arus “kesadaran Tuhan” (majdzūb), mengalami kebalikannya. Demikian seterusnya hingga akhir.

 

Fā‘il: sang pelaku yang sebenarnya adalah Allah;

Nā’ib-ul-fā‘il: yang menggantikan-Nya adalah khalifah-Nya, yaitu manusia paripurna (al-insān-ul-kāmil);

Sungguh, Aku akan menjadikan di bumi seorang khalifah. (al-Baqarah [2]: 30). Yaitu, Adam beserta anak cucunya yang mencapai kesempurnaan;

Mubtadā’: permulaan, sebelum segala sesuatu adalah Allah ta‘ala;

Khabar: adalah segala yang menjadi perantara penyingkapan Sang Mubtadā’, yaitu atsar. Karena atsar mengungkapkan informasi tentang Sang Dzat beserta kesempurnaan-kesempurnaanNya;

Isim dari kāna: adalah Allah ta‘ala. Karena Dia-lah pelaku yang menggerakkan segenap ciptaan (al-kaun) yang merupakan cikal bakal ada (kāna);

(Catatan: Kāna Allāhu, wa yakun ma‘ahu syai’un).

Allah juga sebagai khabar dari inna. Karena hanya dengan-Nya hubungan-hubungan pertalian menjadi kukuh. Dia yang memantapkannya;

Tābi‘: pengikut dari Nama yang ditinggikan adalah wali yang sempurna. Karena dia tunduk mengikuti petunjuk Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Keduanya merupakan pangkal segala keluhuran, kehormatan, dan kemuliaan.

Wa billāh-it-taufīq.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *