4-3-2 Rahasia di Balik Ya’- Huruf-huruf Magis

Dari Buku:
Huruf-huruf Magis
(Judul Asli: Maniyyah al-Faqir al-Munjarid wa Sairah al-Murid al-Mutafarrid)
Oleh: Syaikh Abdul Qadir bin Ahmad al-Kuhaniy
Penerjemah: Diya' Uddin & Dahril Kamal
Penerbit: Pustaka Pesantren

Rangkaian Pos: 004 Rahasia-rahasia di Balik Tanda-tanda I‘rab
  1. 1.4-0 Rahasia-rahasia di Balik Tanda-tanda I‘rab – Huruf-huruf Magis
  2. 2.4-1-0 Rahasia di Balik Tanda-tanda I‘rab Rafa‘ – Huruf-huruf Magis
  3. 3.4-1-1 Rahasia di Balik Dhammah – Huruf-huruf Magis
  4. 4.4-1-2 Rahasia di Balik Wau – Huruf-huruf Magis
  5. 5.4-1-3 Rahasia di Balik Alif – Huruf-huruf Magis
  6. 6.4-1-4 Rahasia di Balik Nun – Huruf-huruf Magis
  7. 7.4-2-0 Rahasia di Balik Tanda-tanda I‘rab Nashab – Huruf-huruf Magis
  8. 8.4-2-1 Rahasia di Balik Fathah – Huruf-huruf Magis
  9. 9.4-2-2 Rahasia di Balik Alif – Huruf-huruf Magis
  10. 10.4-2-3 Rahasia di Balik Kasrah – Huruf-huruf Magis
  11. 11.4-2-4 Rahasia di Balik Ya’ – Huruf-huruf Magis
  12. 12.4-2-5 Rahasia di Balik Membuang Nun – Huruf-huruf Magis
  13. 13.4-3-0 Rahasia di Balik Tanda-tanda I‘rab Khafadh – Huruf-huruf Magis
  14. 14.4-3-1 Rahasia di Balik Kasrah – Huruf-huruf Magis
  15. 15.Anda Sedang Membaca: 4-3-2 Rahasia di Balik Ya’- Huruf-huruf Magis
  16. 16.4-3-3 Rahasia di Balik Fathah- Huruf-huruf Magis
  17. 17.4-4-0 Rahasia di Balik Tanda2 I‘rab Jazm – Huruf-huruf Magis
  18. 18.4-4-1 Rahasia di Balik Sukun – Huruf-huruf Magis
  19. 19.4-4-2 Rahasia di Balik Membuang Huruf – Huruf-huruf Magis
  20. 20.4-5 Rahasia di Balik Kalimah-kalimah yang Di-i‘rab-i – Huruf-huruf Magis

Rahasia di Balik Yā’

وَ أَمَّا الْيَاءُ فَتَكُوْنُ عَلَامَةً لِلْخَفْضِ فِيْ ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ فِي الْأَسْمَاءِ الْخَمْسَةِ وَ فِي التَّثْنِيَةِ وَ الْجَمْعِ

Yā’ menjadi tanda bagi i‘rāb khafadh dalam tiga tempat, yaitu isim lima (al-asmā’-ul-khamsah), isim tatsniyah, dan jama‘.

Yā’-un-nisbah, mengikatkan diri dengan kaum sufi secara benar menjadi tanda kerendahan hati dan tawadhu‘ seorang murid, sehingga dia secara mapan mencapai apa yang dicapai kaum sufi, dalam tiga tempat.

Pertama, isim lima (al-asmā’-ul-khamsah). Rasa rendah hatinya tampak secara nyata di hadapan makhluk: manusia, jin, malaikat, beragam hewan, dan benda-benda mati. Seorang ‘arif bersikap tawadhu‘ di hadapan batu, tanah liat, dan segala sesuatu, karena sifat tawadhu‘nya timbul dari penyaksian dua sifat berlawanan.

Kedua, tatsniyah; dua sifat berlawanan dalam segala sesuatu. Dia tawadhu‘ pada hadirnya sifat ke-Tuhan-an, disertai sikap wajar terhadap sifat kehambaan.

Ketiga, jama‘ bersama semua teman. Dia bersikap tawadhu‘ kepada yang masih muda maupun yang sudah dewasa. Bersikap kasih sayang kepada yang muda dan memuliakan yang sudah dewasa.

Nabi s.a.w. bersabda: “Kasih sayangilah anak-anak muda kalian dan muliakanlah orang-orang dewasa kalian.” Atau sebagaimana sabda beliau dalam kitab al-Jāmi‘.

Betapa Allah memuliakan penyair yang berucap:

Berlakulah kasih sayang, wahai putraku
Kepada makhluk, seluruhnya
Tataplah mereka, dengan lembut dan belas kasihan
Muliakan orang berumur mereka, dan
Sayangilah anak muda mereka
Seorang pemimpin yang sebenarnya,
Pada setiap makhluk, ada hak dari budi pekertinya.

Wa Billāh-it-taufīq.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *