3-3 Rahasia di Balik I‘rab bagi Isim dan Fi‘il – Huruf-huruf Magis

Dari Buku:
Huruf-huruf Magis
(Judul Asli: Maniyyah al-Faqir al-Munjarid wa Sairah al-Murid al-Mutafarrid)
Oleh: Syaikh Abdul Qadir bin Ahmad al-Kuhaniy
Penerjemah: Diya' Uddin & Dahril Kamal
Penerbit: Pustaka Pesantren

Rangkaian Pos: 003 Rahasia-rahasia di Balik I'rab | Huruf-huruf Magis
  1. 1.3-1 Rahasia di Balik Perubahan I‘rab – Huruf-huruf Magis
  2. 2.3-2 Rahasia di Balik Pembagian I‘rab – Huruf-huruf Magis
  3. 3.Anda Sedang Membaca: 3-3 Rahasia di Balik I‘rab bagi Isim dan Fi‘il – Huruf-huruf Magis

Rahasia di Balik I‘rāb bagi Isim dan Fi‘il

فَلِلْأَسْمَاءِ مِنْ ذلِكَ الرَّفْعُ وَ النَّصْبُ وَ الْخَفْضُ وَ لَا جَزْمَ فِيْهَا وَ لِلْأَفْعَالِ مِنْ ذلِكَ الرَّفْعُ وَ النَّصْبُ وَ الْجَزْمُ وَ لَا خَفْضَ فِيْهَا.

I‘rāb-i‘rāb yang dimiliki kalimah isim adalah rafa‘, nashab, dan khafadh. Tidak ada i‘rāb jazm di dalamnya. Sementara i‘rāb-i‘rāb yang dimiliki kalimah fi‘il adalah rafa‘, nashab, dan jazm. Tidak ada i‘rāb khafadh di dalamnya.

Telah dijelaskan terdapat tiga sisi keagamaan, yaitu syarī‘at, tharīqat, dan ḥaqīqat. Pengusung syarī‘at adalah mereka yang berpegangan pada ucapan-ucapan Rasulullah s.a.w. Para pelaku tharīqat adalah mereka yang berpegangan pada tindakan-tindakan beliau. Para pelaku ḥaqīqat adalah mereka yang berpegangan pada keadaan pribadi dan akhlak beliau.

Si pandai bicara diibaratkan dengan asmā’, karena mereka berkecimpung dalam kata-kata. Sebagian besar zikir mereka terfokus pada lisan, dan sebagian besar amal mereka berupa perbuatan badan.

Secara isyarat dapat dikatakan, di antara keempat keadaan spiritual yang dimiliki para pemegang asmā’ adalah:

Pertama: rafa‘. Suatu ketika, bila ucapan-ucapan mereka konsisten serta kuat dalil argumentasinya, mereka bisa naik mencapai derajat orang-orang saleh.

Kedua: nashab. Yaitu, keseimbangan antara ketinggian dan kerendahan. Mereka hanya diam, mengalir mengikuti arus perjalanan takdir. Ini adalah kondisi kebekuan dan ketidakpedulian mereka terhadap amal kebajikan (ataupun maksiat).

Ketiga: khafadh. Di saat yang lain, yakni dalam kemaksiatan mereka. Dari derajat saleh, mereka turun, jatuh terperosok ke martabat paling rendah, selama mereka tidak mendapat pertolongan, seperti pertolongan Allah kepada kaum muqarrabīn.

Mereka tidak mantap (jazm), sebagaimana kemantapan pencapai derajat ‘iyan. Sebab kemantapan sejati hanya bisa dicapai oleh para pencapai syuhūd dan ‘iyān. Berita tidak mungkin menyamai penyaksian langsung (Lais-al-khabaru kal-‘iyān).

Orang-orang yang terpaku pada penjelasan logis, sulit terbebas dari keinginan rendah dan keserupaan setani. Sebagian besar mereka beribadah kepada Allah hanya dengan persangkaan yang kuat saja. Karena itu, Allah mengungkapkan dengan bahasa zhann (menyangka), pada tempat yang seharusnya jazm (mantap). Dia berfirman: Mereka menyangka (dengan kuat sehingga mendekati yakin), bahwa mereka akan bertemu Tuhan mereka. (al-Baqarah [2]: 46).

Hal itu untuk mempermudah dan meringankan pengusung kekuatan argumen di kalangan kaum beriman. Karena jika Allah mengungkapkan dengan bahasa ‘ilm, akan ada banyak orang yang keluar dari kawasan Islam.

Kesimpulannya, manusia tidak akan keluar dari maqam sangkaan-sangkaan, sampai dia bergaul dengan kaum ‘ārif. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Pelajarilah keyakinan, karena aku sendiri juga mempelajarinya.

Dalam riwayat yang lain terdapat penambahan: “Dengan duduk bersama para pemilik keyakinan.

Mushannif kitab al-Jurumiyyah memberikan isyarat tentang para pelaku tarikat yang mencapai ‘ain-ul-yaqīn, dengan ungkapan: wa lil-af‘āli (bagi perbuatan-perbuatan).

Yang dimaksud dengan perbuatan-perbuatan di sini adalah mujāhadah dan mukābadah. Rafa‘, berarti naik menuju derajat paling tinggi. Nashab, yaitu ketegaran diri menghadapi arus perjalanan takdir dari Tuhan mereka dengan ridha dan pasrah. Jazm, yaitu kemantapan akidah-akidah dan ilmu-ilmu pengetahuan, yang timbul dari pencapaian syuhūd dan ‘iyān.

Tidak ada khafadh bagi para pelaku tarikat. Kejahatan tidak membahayakan mereka karena mendapat ‘ināyah dari Allah. Ketika khafadh mempengaruhi, segera disusul dengan kedatangan pengaruh rafa‘, sehingga mampu me-rafa‘-kan mereka. Maka selamanya tidak ada khafadh bagi merkea. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang khusus. Amin.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *