001 Pendahuluan – Metode Praktis Tashrif

Metode Praktis

TASHRĪF

التَّصْرِيْفُ

(Suatu Teori Mentashrif Bahasa ‘Arab Untuk Menguasai Kaidah Sharaf)

 

BAB 1

PENGERTIAN SHARF, TASHRĪF, SHĪGHAT DAN WAZAN

 

الصَّرْفُ وَ التَّصْرِيْفُ

SHARAF DAN TASHRĪF

Sharaf, berarti penukaran, pengembalian dan pemindahan. Tetapi setelah dijadikan Ma‘rifah (definitive noun) seperti di atas, maka menjadi suatu nama, yaitu ilmu Sharaf.

Tashrīf, berarti: pengubahan, yaitu pengubahan bentuk kata bahasa ‘Arab, yang disebut Shīghat.

 

الصِّيْغَةُ وَ الْوَزَنُ

SHĪGAT DAN WAZAN

Shīghat, berarti bentuk kata. Pada pokoknya, ada tiga macam shīghat (bentuk kata) dalam bahasa ‘Arab, yaitu: Fi‘il (kata kerja/verb), isim (kata benda/noun) dan ḥurūf (particle).

Dari fi‘il ada empat macam shīghat, yaitu:

1. Fi‘il Mādhī, yaitu kata kerja lampau (past tense).

2. Fi‘il Mudhāri‘, yaitu kata kerja sedang atau akan datang (present tense).

3. Fi‘il Amr, yaitu kata kerja perintah (imperetive verb).

4. Fi‘il Nahī, yaitu kata kerja larangan.

 

Dari isim ada sepuluh shīghat, yaitu:

1. Shīghat Mashdar (bentuk kata dasar).

2. Mashdar Mīm (mashdar yang mendapat tambahan (huruf) mīm).

3. Isim Fā‘il (kata benda yang menunjukkan pengertian pelaku).

4. Shifat Musyabbihan bism-il-fā‘il (kata sifat yang disamakan dengan isim fā‘il).

5. Shīghat Mubālaghah (bentuk penyangatan) yang biasa diartikan: Maha.

6. Isim Tafdhīl (kata benda yang mengandung pengertian lebih).

7. Isim Maf‘ūl (kata benda yang menunjukkan pengertian penderita).

8. Isim Makān (kata benda yang menunjukkan pengertian tempat).

9. Isim Zamān (kata benda yang menunjukkan pengertian waktu).

10. Isim Ālāt (kata benda yang menunjukkan pengertian alat).

 

Wazan, berarti timbangan: Yaitu timbangan kata (semacam rumus); karena setiap perubahan shīghat mengikuti wazan-nya. Karena asal kata semua bahasa ‘Arab adalah tiga huruf, maka dipilihkan kata yang tiga huruf pula menjadi wazan-nya, yaitu Kata Fa‘ala terdiri dari tiga huruf, dengan uraian sebagai berikut:

Fā’, disebut Fā’-ul-fi‘il.

‘Ain, disebut ‘Ain-ul-fi‘il.

Lām, disebut Lām-ul-fi‘il.

 

Semua huruf (suku kata) dari kata-kata lain harus disebut seperti penyebutan huruf dari kata yang menjadi wazan itu. Contoh:

Kataba (telah menulis) (كَتَبَ)

Kāf disebut fā‘ul-fi‘il, harakatnya adalah fatḥah.

Tā’ disebut ‘Ain-ul-fi‘il, harakatnya adalah fatḥah.

Bā’ disebut lām-ul-fi‘il, harakatnya adalah fatḥah.

Bā’ dan yā’: Lām-ul-fi‘il-nya adalah fatḥah. Kiaskan pada kata-kata lain.

 

Contoh lain dari fi‘il Mudhāri‘.

Yaktubu (sedang/akan menulis) (يَكْتُبُ). Uraiannya sebagai berikut:

Fā’-ul-fi‘il-nya Sukūn.

‘Ain-ul-fi‘il-nya Dhammah.

Lām-ul-fi‘il-nya Dhammah.

 

Jadi, yā’ dipermulaannya tidak termasuk, karena yā’ adalah tambahan saja, yang dikenal dengan ḥurūf Mudhāra‘ah (huruf tanda fi‘il mudhāri‘).

 

LATIHAN

Coba uraikan kata tersebut seperti di atas:

1. ‘Abada-Ya‘budu (Menyembah) (عَبَدَ – يَعْبُدُ)

2. Dzhaba-Yadzhabu (Pergi) (ذَهَبَ – يَذْهَبُ)

3. Jalasa-Yajlisu (Duduk) (جَلَسَ – يَجْلِسُ)

4. ‘Alima-Ya‘lamu (Mengetahui) (عَلِمَ – يَعْلَمُ)

5. Watsiqa-Yatsiqu (Pecaya) (وَثِقَ – يَثِقُ)

6. Ba‘uda-Yab‘udu (Jauh) (بَعُدَ – يَبْعُدُ)

7. Dharatha-Yadhrithu (Kentut) (ضَرَطَ – يَضْرِطُ).

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *