01-10 Lafal Dzikir yang Paling Utama – Sabil-us-Salikin

Lafal Dzikir yang Paling Utama Di dalam al-Qur’ān perintah berdzikir diungkapkan berkali-kali dan pada umumnya muncul dalam tiga redaksi, yaitu: وَ اذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَ أَصِيْلًا، (ألإنسان :٢٥) “Sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang” (QS. al-Insān [76]: 25), atau قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّيَ آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ إِلَّا رَمْزًا وَ اذْكُر رَّبَّكَ كَثِيْرًا وَ سَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَ الْإِبْكَارِ ، (آل عمران :٤١) “Berkata…

01-9 Thariqah, Teknik Berdzikir Efektif – Sabil-us-Salikin

Tharīqah, Teknik Berdzikir Efektif Di samping menunjuk kepada pengertian-pengertian yang telah disebutkan sebelumnya, tharīqah juga dapat didefinisikan secara singkat sebagai “teknik berdzikir efektif”. Sebelumnya telah disebutkan bahwa istilah tharīqah dalam al-Qur’ān dan al-Ḥadīts digunakan dalam konteks dzikrullāh dalam kerangka tauhid. Dalam hadits al-Bukhārī berikut kata thuruq (bentuk jama‘ dari tharīq dan tharīqah) juga digunakan dalam konteks ini: وَ فِي الْحَدِيْثِ إِنَّ للهَ تَعَالَى مَلَائِكَةٌ سِيَاحِيْنَ فِي الدُّنْيَا سِوَى مَلَائِكَةِ الْخَلْقِ

01-8 Thariqah, Cara Mengamalkan Syari‘ah – Sabil-us-Salikin

Tharīqah, Cara Mengamalkan Syarī‘ah Dengan mengacu pada uraian sebelumnya, dapat dipahami bahwa tharīqah atau tharīq-ush-shāfiyyah (jalan para sufi) pada hakikatnya adalah: jalan yang ditempuh oleh para nabi dan rasūl dalam merealisasikan penghambaan diri dan tauhid yang murni dengan cara mengosongkan qalbu dari hal-hal selain Allāh, serta memenuhinya dengan dzikrullāh dalam setiap keadaan (berdiri, duduk, dan berbaring). (Dasarnya: ) الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَ قُعُوْدًا وَ عَلَى جُنُوْبِهِمْ وَ يَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ

01-7 Thariqah, Tarekat dalam Pandangan Ibnu Taimiyah – Sabil-us-Salikin

Tharīqah dalam Pandangan Ibnu Taimiyah Penjelasan Ibn Taimiyah mengenai tarekat sangat penting untuk dikemukakkan lebih jauh di sini, sebab – sekali lagi – selama ini ia sering dituding sebagai antitharīqah, bahkan dijadikan rujukan utama oleh sebagian kecil umat untuk menentang tharīqah. Padahal Ibnu Taimiyah tidak pernah menentang tharīqah/tashawwuf kecuali yang nyata sekali bertentangan dengan al-Qur’ān dan as-Sunnah. Ketika memuji Imām al-Junaid al-Baghdādī berkenaan dengan kewajiban seorang salik (Orang yang berjalan…

01-6 Dasar Hadits – Sabil-us-Salikin

Dasar Hadits Sejalan dengan apa yang disitir dalam al-Qur’ān, sebagaimana dijelaskan di atas, ternyata tashawwuf juga dapat dilihat dalam kontek Hadits. Umumnya yang dinyatakan sebagai landasan dan dasar ajaran-ajaran tashawwuf adalah hadits-hadits berikut. مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُBarang siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka akan mengenal Tuhannya.” (Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn, juz 4, halaman: 301) كُنْتُ كَنْزًا مَخْفِيًّا فَأَحْبَبْتُ اَنْ اُعْرَفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ فَبِهِ عَرَفُوْنِيْAku adalah

01-5 Dasar al-Qur’an – Sabil-us-Salikin

Dasar al-Qur’ān Al-Qur’ān dan as-Sunnah adalah nash. Setiap muslim kapan dan di mana pun dibebani tanggung-jawab untuk memahami dan melaksanakan kandungannya dalam bentuk amalan yang nyata. Pemahaman terhadap nash tanpa pengamalan akan menimbulkan kesenjangan. Ketika ditanya tentang akhlak Rasūlullāh, ‘Ā’isyah menyawab: “al-Qur’ān”. Para sahabat dikenal sebagai orang-orang yang banyak menghafalkan isi al-Qur’ān dan kemudian menyebarkannya kepada yang lain dengan disertai pengamalan atau penjiwaan terhadap isinya. Mereka berusaha menerapkan akhlak atau…

01-4 Thariqah dalam al-Qur’an dan Hadits – Sabil-us-Salikin

Tharīqah dalam al-Qur’ān dan Hadits Tharīqah adalah jalan yang dilalui oleh orang sufi dalam perjalanannya menuju Tuhan. Tharīqah digambarkan sebagai jalan yang berpangkal pada syarī‘ah, sebab jalan utama disebut syari‘ sedangkan anak jalan disebut tharīq. Kata ini terambil dari kata tharq yang di antara maknanya adalah “mengetuk” seperti dalam ungkapan tharq-ul-bāb yang berarti “mengetuk pintu”. Oleh karena itu, cara beribadah seorang sufi disebut tharīqah karena ia selalu mengetuk pintu hatinya…

01-3 Tashawwuf dalam Konteks Keilmuan Islam – Sabil-us-Salikin

Tashawwuf dalam Konteks Keilmuan Islam Prof. Dr. H. S.S. Kadirun Yaḥyā Al-Khālidī menyatakan, tashawwuf adalah “saudara kembar” fikih. Fikih pada hakikatnya merupakan formulasi lebih lanjut dari konsep Islam, sementara tashawwuf merupakan perwujudan kongkret dari konsep iḥsān. Dua konsep ini tercetus bersama-sama dengan konsep iman (diformulasikan lebih jauh dalam ilmu kalam). Konsep iman itu tampak dalam dialog antara Jibrīl a.s. dan Nabi s.a.w., sebagaimana dikemukakan dalam hadits Abū Hurairah yang sangat…

01-2 Pengertian Tashawwuf – Sabil-us-Salikin

Benarkah tashawwuf dan tharīqah itu bid‘ah? Pengertian Tashawwuf Banyak sekali definisi tashawwuf yang telah dikemukakan, dan masing-masing berusaha menggambarkan apa yang dimaksud dengan tashawwuf. Tetapi pada umumnya definisi yang dikemukakan hanya menyentuh sebagian dari keseluruhan bangunan tashawwuf yang begitu besar dan luas. Definisi-definisi yang dikemukakan sama dengan yang dilakukan empat orang buta, dalam kisah Rumi, ketika mereka menggambarkan bentuk gajah. Masing-masing menggambarkan bentuk gajah sesuai dengan bagian tubuh yang disentuhnya.…