01-4 Thariqah dalam al-Qur’an dan Hadits – Sabil-us-Salikin

Sabīl-us-Sālikīn – Jalan Para Sālik
Ensiklopedi Tharīqah/Tashawwuf

 
Tim Penyusun:
Santri Mbah KH. Munawir Kertosono Nganjuk
Santri KH. Sholeh Bahruddin Sengonagung Purwosari Pasuruan
 
Penerbit: Pondok Pesantren NGALAH

Rangkaian Pos: 001 Islam, Tashawwuf & Thariqah - Sabil-us-Salikin
  1. 1.01-1 Pendahuluan – Sabil-us-Salikin
  2. 2.01-2 Pengertian Tashawwuf – Sabil-us-Salikin
  3. 3.01-3 Tashawwuf dalam Konteks Keilmuan Islam – Sabil-us-Salikin
  4. 4.Anda Sedang Membaca: 01-4 Thariqah dalam al-Qur’an dan Hadits – Sabil-us-Salikin
  5. 5.01-5 Dasar al-Qur’an – Sabil-us-Salikin
  6. 6.01-6 Dasar Hadits – Sabil-us-Salikin
  7. 7.01-7 Thariqah, Tarekat dalam Pandangan Ibnu Taimiyah – Sabil-us-Salikin
  8. 8.01-8 Thariqah, Cara Mengamalkan Syari‘ah – Sabil-us-Salikin
  9. 9.01-9 Thariqah, Teknik Berdzikir Efektif – Sabil-us-Salikin
  10. 10.01-10 Lafal Dzikir yang Paling Utama – Sabil-us-Salikin

Tharīqah dalam al-Qur’ān dan Hadits

Tharīqah adalah jalan yang dilalui oleh orang sufi dalam perjalanannya menuju Tuhan. Tharīqah digambarkan sebagai jalan yang berpangkal pada syarī‘ah, sebab jalan utama disebut syari‘ sedangkan anak jalan disebut tharīq. Kata ini terambil dari kata tharq yang di antara maknanya adalah “mengetuk” seperti dalam ungkapan tharq-ul-bāb yang berarti “mengetuk pintu”.

Oleh karena itu, cara beribadah seorang sufi disebut tharīqah karena ia selalu mengetuk pintu hatinya dengan dzikrullāh atau mengingat Allah. Cara beribadah semacam ini oleh Nabi s.a.w. disebut dengan tharīqah ḥasanah (cara yang baik). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imām Aḥmad ibn Ḥanbal dalam musnadnya dengan perawi-perawi tsiqat (dipercaya), Nabi s.a.w. bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا كَانَ عَلَى طَرِيْقَةٍ حَسَنَةٍ مِنَ الْعِبَادَةِ ثُمَّ مَرِضَ قِيْلَ لِلْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ بِهِ اُكْتُبْ لَهُ مِثْلَ عَمَلِهِ إِذَا كَانَ طَلِيْقًا حَتَّى أَطْلَقَهُ أَوْ أَكْفَتَهُ إِلَى تَعْلِيْقِ شُعَيْبِ الْأَرْنَؤُوْطِ (صحيح و هذا إسناد حسن)

Sesungguhnya seorang hamba jika berpijak pada tharīqah yang baik dalam beribadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan (oleh Allāh s.w.t.) kepada malaikat yang mengurusnya: “Tulislah untuk orang itu pahala yang sepadan dengan amalnya apabila ia sembuh sampai Aku menyembuhkannya atau mengembalikannya kepada-Ku”.” (Musnad Aḥmad bin Ḥanbal, juz 2, halaman: 203).

Ungkapan Tharīqah ḥasanah dalam hadits tersebut menunjukkan kepada perilaku hati yang diliputi kondisi iḥsān (beribadah seolah-olah melihat Allāh s.w.t. atau kondisi khusyū‘) yakin berjumpa dengan Allāh s.w.t. dan kembali kepada-Nya.

الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُم مُّلَاقُوْا رَبِّهِمْ وَ أَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

“… (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (al-Baqarah, 2: 46).

Ibadah (misalnya shalat) yang dilakukan dengan hati yang lalai oleh Nabi disebut sebagai shalat al-munāfiq (salatnya orang munafik), yaitu yang di dalamnya ia tidak berdzikir kepada Allâh kecuali sedikit (lā yadzkurullāha fīhā illā qalīlan) Shaḥīḥ Muslim, 1: 434, dan pelakunya oleh Tuhan diancam dengan al-wail.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ. الَّذِيْنَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (4) (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya (5).” (al-Mā‘ūn [107]: 4-5).

Di dalam al-Qur’ān pun kata tharīqah muncul dalam konteks dzikrullāh sebagai aktualisasi tauhid yang sempurna.

Setelah Allāh s.w.t. menjanjikan karunia yang banyak kepada orang-orang yang istiqāmah di atas tharīqah, Allāh s.w.t. langsung memberikan ancaman siksa yang sangat pedih kepada orang yang tidak mau berdzikir kepada-Nya:

وَ أَلَّوِ اسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاء غَدَقًا. لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ وَ مَن يُعْرِضْ عَن ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا.

Seandainya mereka istiqāmah di atas tharīqah niscaya Kami beri minum mereka dengan air yang melimpah (karunia yang banyak): untuk Kami uji mereka di dalamnya, dan barang siapa tidak mau berdzikir kepada Tuhannya, niscaya Dia menimpakan ‘adzāb yang sangat pedih.” (al-Jinn [72]: 16-17).

Ibn-ul-Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Madārij-us-Sālikīn mengutip perkataan Abū Bakar ash-Shiddīq r.a. ketika menyinggung ayat tersebut. Sahabat agung ini pernah ditanya mengenai maksud al-istiqāmatu ‘alath-tharīqah dan ia menjawab: “Hendaknya engkau tidak menyekutukan Allāh s.w.t. dengan sesuatu (an lā tusyrika billāhi syay’an).” Jadi, kata Ibn-ul-Qayyim, yang dimaksud (al-istiqāmatu ‘alath-tharīqah) oleh Abū Bakar al-Shiddiq r.a. adalah al-istiqāmatu ‘alā mahdhī-t-tauḥīd konsisten di atas tauhid yang murni artinya, tharīqah dalam ayat tersebut adalah “jalan menuju tauhid yang murni”.

Tauhid yang murni ini pulalah yang menjadi tujuan syaikh-syaikh tharīqah sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibn Taimiyah: “Tauhid inilah yang dibawa oleh para rasūl dan kitab-kitab Allāh dan yang diisyaratkan oleh syaikh-syaikh tharīqah dan pakar-pakar agama.”

Dalam ayat yang lain tharīqah disandingkan dengan syarī‘ah yaitu ketika Allâh berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَ مِنْهَاجًا

Bagi tiap-tiap umat di antara kamu Kami berikan syir‘ah (peraturan) dan minhāj (metode)”. (al-Mā’idah [5]: 48).

Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa syir‘ah dalam ayat tersebut adalah syarī‘ah (peraturan) sedangkan minhāj adalah tharīqah (metode pelaksanaan syarī‘ah), dan kedua-duanya (syarī‘ah dan tharīqah) secara simultan bermuara pada tujuan pokok yang merupakan ḥaqīqat-ud-dīn (hakikat agama), yaitu tauhid yang murni, atau hanya menyembah Allāh s.w.t. semata (‘ibādat Allāh waḥdah).

Tidak diragukan lagi bahwa tashawwuf adalah bersumber dari al-Qur’ān dan Sunnah sebagaimana disiplin keilmuan Islam lainnya. Hal ini sebagaimana telah disampaikan oleh para imam tashawwuf, di antaranya:

  1. Imām Junaid mengatakan: “Sesungguhnya ilmu kita ini adalah berdasar al-Qur’ān dan as-Sunnah”
  2. Syaikh Sahl Tustarī mengatakan: “Ushūl kita (tashawwuf ada tujuh, yaitu berpegang teguh kepada al-Qur’ān, melaksanakan Sunnah Rasūlullāh, makan yang halal, mencegah yang menyakitkan, menjauhi dosa, taubat dan melaksanakan hak-hak.” (Thabaqāt-ush-Shūfiyyati, Abū ‘Abd-ir-Raḥmān Muḥammad bin al-Ḥusain as-Sulamī, halaman: 170).

قال سهل: أُصُوْلُنَا سَبْعَةُ أَشْيَاءَ: التَّمَسَّكُ بِكِتَابِ اللهِ تَعَالَى، وَ الْاِقْتِدَاءِ فِيْ سَنَةِ رَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: وَ أَكَالُ الْحَلَالِ، وَ كَفُّ الْأَذَى، وَ اجْتِنَابُ الْاَثَامِ، وَ التَّوْبَةُ، وَ اَدَاءُ الْحُقُوْقِ.

  1. Syaikh Ḥasan Syādzilī, “Apabila kasyafmu bertentangan dengan Qur’ān dan Sunnah maka lakukanlah sesuai dengan al-Qur’ān dan as-Sunnah dan tinggalkan kasyf dan ilham.” (Īqādh-ul-Humam (syarah matan Ḥikam), Aḥmad bin ‘Ajībah juz 2, halaman: 302-303)
  2. Syaikh Abū Ḥusain al-Warrāq mengatakan: “Tidaklah seorang hamba sampai kepada Allāh s.w.t. kecuali dengan Allāh s.w.t. (al-Qur’ān) dan sesuai dengan kekasih-Nya (Rasūlullāh) dalam melaksanakan syarī‘ah-Nya. Barang siapa menjadikan jalan wushūl tanpa melaksanakan as-Sunnah, maka ia (sebenarnya) menyesatkan meskipun dikira memberikan petunjuk.” (Thabaqāt-ush-Shūfiyati Abū ‘Abd-ir-Raḥmān Muḥammad bin al-Ḥusain as-Sulamī, halaman: 230).

قال: و قال أبو الحسين: لَا يَصِلُ الْعَبْدُ اِلَى اللهِ إِلَّا بِااللهِ، وَ بِمُوَافَقَةِ حَبِيْبِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ، فِيْ شَرَائِعِهِ. وَ مَنْ جَعَلَ الطَّرِيْقَةَ اِلَى الْوُصُوْلِ فِيْ غَيْرِ الْاِقْتِدَاءِ يَضِلُّ، مِنْ حَيْثُ يَظُنُّ أَنَّهُ مُهْتَدٌ.

  1. Syaikh Abd-ul-Wahhāb Sya‘ranī: “Sesungguhnya jalan kaum sufi adalah tertulis dalam al-Qur’ān dan Sunnah “ (Lathā’if al-Minan wal-akhlāq Wahhāb Sya‘ranī, juz I, halaman: 2).
  2. Abū Yazīd al-Busthāmī mengatakan ketika ditanya tentang sufi: “Allah, Yaitu yang meletakkan al-Qur’ān di sisi kanan dan Sunnah di sisi kiri.” (Syathaḥāt-ush-Shūfiyyah, ‘Abd-ur-Raḥmān Badawī, halaman: 96).
  3. Menurut Syaikh Amīn al-Qurdhī dalam kitab Tanwīr-ul-Qulūb halaman 409, pokok ajaran tashawwuf ada lima:
    1. Taqwallāh dalam keadaan tersembunyi dan terlihat direalisasikan dalam sifat wirā’ī dan istiqāmah.
    2. Mengikuti sunnah Nabi Muḥammad s.a.w. dalam ucapan, perbuatan direalisasikan dalam bentuk budi pekerti yang baik.
    3. Berpaling dari mahluk direalisasikan dalam sifat sabar dan tawakkal.
    4. Rela atas pemberian Allāh s.w.t. baik sedikit atau banyak diwujudkan dalam sifat qanā‘ah dan pasrah.
    5. Kembali kepada Allāh s.w.t. dalam setiap keadaan senang dan susah direalisasikan dalam syukur ketika senang dan mengembalikan segala sesuatu kepada Allāh s.w.t. dalam keadaan susah.

Masih banyak lagi pernyataan para imam tashawwuf yang senada. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa tashawwuf adalah bersumber dari al-Qur’ān dan Sunnah.

Al-Qur’ān dan Hadits merupakan kerangka acuan pokok yang selalu dipegangi oleh umat Islam. Sering didengar pertanyaan dalam kerangka landasan naqli ini, Apa dasar al-Qur’ān-Haditsnya sehingga anda berkata demikian?’ atau ‘Bagaimana al-Qur’ān dan Haditsnya? Pertanyaan-pertanyaan ini sering terlontar dalam benak pikiran kaum muslimin ketika hendak menerima atau menemukan persoalan-persoalan baru atau persoalan-persoalan unik, termasuk persoalan-persoalan tashawwuf.

Di sini sekilas akan disampaikan beberapa dasar al-Qur’ān dan Hadits yang melandasi teori dan amalan tashawwuf.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *