Ihya Ulumiddin: Penyakit yang Menempel pada Ilmu (Bagian 1)

Dari Buku:
Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama
(Judul Asli: Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn)
Jilid 1.
Oleh: Imam al-Ghazali

Penerjemah: Ibnu Ibrahim Ba‘adillah
Penerbit: Republika Penerbit

Rangkaian Pos: Penyakit yang Menempel pada Ilmu - Ihya ʻUlumiddin
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Ihya Ulumiddin: Penyakit yang Menempel pada Ilmu (Bagian 1)
  2. 2.Ihya Ulumiddin: Penyakit yang Menempel pada Ilmu (Bagian 2)

Bab Keenam

Penyakit yang Menempel pada Ilmu.

Mengenai penyakit yang menempel pada ilmu, berikut tanda-tanda ulama akhirat dan ulama dunia yang buruk.

Pada pembahasan terdahulu, saya telah menyebutkan keutamaan ilmu dan orang berilmu (ulama). Dan, sekarang saya akan sampaikan pembahasan mengenai penyakit yang menempel pada ilmu, sekaligus peringatan yang ditujukan kepada ulama yang berlaku tidak jujur terhadap ilmu yang telah dimilikinya, dan sekaligus tidak jujur kepada diri sendiri. Oleh karena itu, kita harus mengetahui perbedaan antara ulama akhirat dan ulama dunia yang buruk. Yang saya maksud dengan ulama dunia yang buruk adalah ulama yang tujuan dari pencapaian maupun pengamalan ilmunya hanya diorientasikan untuk tujuan hidup di alam dunia ini, dengan kenyamanan serta kesenangan hidup lainnya. Juga untuk mendapat penghargaan atau penghormatan manusia lain. Rasulullah s.a.w. pernah mengingatkan di dalam sabda beliau:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَا يَنْفَعُهُ اللهُ بِعِلْمِهِ.

Sungguh di antara manusia yang akan menerima siksa sangat pedih pada Hari Berbangkit nanti adalah, orang berilmu yang tidak Allah berkahi ilmu yang dimilikinya.” (2021).

Beliau s.a.w. juga pernah bersabda:

لَا يَكُوْنُ الْمَرْءُ عَالِمًا حَتَّى يَكُوْنَ بِعِلْمِهِ عَامِلًا.

Seseorang tidak disebut berilmu, sampai ia berkenan mengamalkan ilmu yang telah dimilikinya.” (2032).

Pada riwayat yang lain, Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda:

الْعَالِمُ نَوْعَانٌ: عِلْمٌ عَلَى اللَّسَانِ فَذلِكَ حُجَّةُ اللهِ تَعَالَى عَلَى خَلْقِهِ، وَ عِلْمٌ فِي الْقَلْبِ فَذلِكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ.

Ilmu itu ada dua jenis, yaitu: ilmu yang terdapat di lisan, yang itu menjadi bukti bagi Allah atas makhluk (ciptaan)-Nya. Dan ilmu yang bersemayam di dalam dada (qalbu), yaitu ilmu yang sangat bermanfaat bagi pemiliknya.” (2043).

Beliau s.a.w. juga pernah bersabda:

يَكُوْنُ فِيْ آخِرِ الزَّمَانِ عِبَادٌ جُهَّالٌ وَ عُلَمَاءٌ فَاسِقٌ.

Pada akhir zaman nanti, di dunia ini akan ada ahli ibadah (‘abid) yang jahil, dan orang berilmu (‘alim) yang fasiq.” (2054).

Nabi s.a.w. juga pernah bersabda: “Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk menyombongkan diri di depan sesama orang berilmu, atau untuk berbantah-bantahan dengan orang-orang yang jahil, dan atau mengharapkan kemasyhuran di hadapan manusia. Siapa saja yang berbuat demikian, niscaya ia akan tinggal di dalam neraka.” (2065).

Beliau s.a.w. juga pernah bersabda: “Siapa saja yang menyembunyikan ilmu yang dimilikinya, maka Allah akan memberi tali kekang pada lehernya yang terbuat dari api neraka.” (2076).

Pada kesempatan berbeda, Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda: “Yang lebih aku takutkan akan menimpa kalian adalah, orang yang tampak seperti (menyerupai) Dajjal daripada diri Dajjal itu sendiri.” Mendengar sabda beliau, seorang sahabat mengajukan pertanyaan: “Siapakah yang menyerupai Dajjal itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Para penguasa (Imam) yang tersesat, dan juga menyesatkan manusia.” (2087).

Selain itu, Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda:

مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَ لَمْ يَزْدَدْ هُدَى لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلَّا بُعْدًا.

Siapa saja yang ilmunya bertambah, akan tetapi petunjuk pada diri maupun jiwanya tidak ikut bertambah, berarti ia semakin jauh dari cahaya petunjuk Allah.” (2098).

Nabi ‘Isa a.s. pernah mengatakan: “Bagaimana mungkin engkau akan memberi petunjuk ke jalan yang benar kepada para penempuh jalan menuju cahaya Allah, padahal engkau sendiri merasa kebingungan disebabkan kegelapan yang mendera jiwamu?”

Beberapa riwayat yang saya sampaikan di atas, dan masih terdapat sejumlah lainnya memperlihatkan tentang betapa bahaya penyakit yang menempel pada ilmu. Hingga orang yang berilmu selalu berhadapan dengan dua kemungkinan, yaitu: kebinasaan, dan atau kebahagiaan.

Adapun atsar (ucapan sahabat) yang ada di seputar bahaya penyakit yang menempel pada ilmu, dapat saya sebutkan berikut ini. Sayyidina ‘Utsman bin ‘Affan r.a. pernah berkata: “Yang paling aku takutkan pada umat ini adalah orang berilmu yang bersikap munafik.” Mendengar pernyataan ‘Utsman, sahabat lainnya segera mengajukan pertanyaan: “Bagaimana mungkin orang yang berilmu terjebak ke dalam sikap munafik?” ‘Utsman menjawa: “Apabila ilmu yang dimilikinya hanya menjadi penghias lisannya semata, sedangkan jiwa dan amalannya tanpa didasari ilmu yang benar.”

Al-Hasan al-Bashri raḥimahullāh juga pernah berkata: “Jangan sampai orang-orang yang berilmu di antara kalian, seperti para ahli hukum dan para ulama, dalam beramal (mengaplikasikan ilmu yang dimiliki) mereka lebih mirip seperti orang-orang jahil yang tidak berilmu.”

Seorang laki-laki datang kepada Abu Hurairah r.a., kemudian mengajukan pernyataan: “Sebenarnya aku sangat ingin mempelajari ilmu agama, namun aku takut tidak sanggup mengamalkannya dengan baik setelah aku mendapatkannya.” Abu Hurairah r.a. pun berkata kepadanya: “Dengan meninggalkannya saja atau tidak berkeinginan menuntut ilmu, sudah cukup bukti bahwa anda telah menyia-nyiakannya (ilmu agama).”

Seseorang mengajukan pertanyaan kepada Ibrahim bin ‘Uyainah: “Manusia seperti apakah yang sangat menderita dalam penyesalan atas dirinya?” Ibrahim bin ‘Uyainah menjawab: “Penyesalan terberat atas mereka di alam dunia ini seperti, jika seseorang mendapati orang lain yang tidak pandai berterima kasih, padahal ia telah berbuat sangat baik (maksimal) kepada orang tersebut dengan tulus. Sedangkan penyesalan terberat atas mereka di alam akhirat kelak seperti, apa yang menimpa diri seorang ulama, namun pada saat di dunia ia enggan mengamalkan ilmu yang dimilikinya.”

Khalil bin Ahmad juga pernah berkata: “Ada empat jenis manusia. Pertama, orang yang memiliki ilmu, dan ia mengetahui bahwa dirinya memiliki ilmu, lalu mengamalkannya. Terhadap jenis manusia seperti ini, maka ikuti atau contohlah ia. Kedua, orang yang mempunyai ilmu, namun ia tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki ilmu, hingga ia tidak beramal dengan ilmu yang dimilikinya itu. Terhadap jenis manusia seperti ini, berhati-hatilah kalian dari pengaruh buruk yang bisa saja ditimbulkannya. Ketiga, orang yang tidak memiliki ilmu, dan ia mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki ilmu. Hingga ia ingin memiliki ilmu, namun tidak mampu mengetahui harus memulai segala sesuatunya dari mana. Terhadap jenis manusia seperti ini, selayaknya diberikan bimbing yang dibutuhkannya. Dan yang keempat, orang yang tidak memiliki ilmu, namun ia tidak mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki ilmu. Hingga muncul kesombongan yang selalu menghiasi setiap langkah dan amalnya. Terhadap jenis manusia seperti ini, sebaiknya menjauhkan diri dari sisinya, atau tinggalkanlah ia.”

Sufyan ats-Tsauri raḥimahullāh juga pernah berkata: “Pasangan sejati bagi ilmu adalah mengamalkannya. Dengan mengamalkan ilmu, maka ia menjadi semakin kekal berada pada qalbu manusia. Sebaliknya, jika tidak segera diamalkan dan membiarkannya berlama-lama sia-sia, maka ilmu akan lenyap bersamaan dengan berjalannya waktu (masa).”

Ibn-ul-Mubarak pernah berkata: “Pada saat seseorang merasa belum cukup berilmu, hingga ia terus mencari dan menuntutnya (ilmu), maka selama itu pula akan bertambah ilmu yang telah dimilikinya. Sebab, pada saat seseorang merasa dirinya telah memiliki cukup ilmu, maka bersiap-siaplah menjadi manusia yang tidak mengetahui apa pun, atau tertinggal oleh perkembangan masa (waktu).”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh raḥimahullāh pernah mengatakan: “Aku menaruh perhatian yang khusus kepada tiga jenis manusia, yaitu: orang mulia yang dihinakan oleh kaumnya yang jahil, orang kaya yang mendadak jatuh miskin, dan orang berilmu yang direndahkan (dianggap bodoh) oleh masyarakat di mana ia tinggal (menetap).”

Al-Hasan al-Bashri raḥimahullāh juga pernah mengatakan: “Kebinasaan jiwa manusia merupakan siksaan terberat bagi orang yang berilmu. Sebab, kebinasaan jiwa berarti memburu (mengejar berlebihan) dunia dengan mengorbankan amalan akhirat.”

Seorang penya‘ir mengatakan:

Aku merasa heran melihat orang yang sudi membeli kesesatan dengan petunjuk.

Yang lebih mengherankan lagi, aku menyaksikan orang yang mau membeli urusan dunia dengan menggadaikan nilai akhiratnya.

Yang lebih mengherankan lagi, aku menyaksikan orang menukar keduanya petunjuk dan agamanya demi kepentingan dunia yang fana’.

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda mengenai orang berilmu yang zhalim:

إِنَّ الْعَالِمَ لِيُعَذَّبُ عَذَابًا يَطِيْفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ اسْتِعْظَامًا لِشِدَّةِ عَذَابِهِ.

Sebagian orang yang memiliki ilmu akan mengalami penderitaan yang demikian dahsyat akibat adzab Allah, sehingga para penduduk neraka pun mencari perlindungan karena menyaksikan kepedihan adzab atas mereka.” (2109).

Usamah bin Zain r.a. mengatakan, aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

يُؤْتَى بِالْعَالِمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فَيَدُوْرُ بِهَا كَمَا يَدُوْرُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَطَيْفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُوْلُوْنَ: مَا لَكَ؟ فَيَقُوْلُ: كُنْتُ آمُرُ بِالْخَيْرِ وَ لَا آتِيْهِ وَ أَنْهَى عَنِ الشَّرِّ وَ آتِيْهِ.

Pada Hari Berbangkit kelak, akan diseret orang yang berilmu, lalu dilemparkan ke dalam api neraka. Isi perutnya akan terburai dan ia akan berputar-putar bersama isi perutnya, seperti seekor keledai mengelilingi gilingan gandum. Para penduduk neraka bergerak mengitarinya sambil bertanya: “Mengapa engkau bisa sampai seperti ini?” Jawabnya: “Saat di dunia, aku menyuruh manusia melakukan kebaikan, akan tetapi justru aku sendiri tidak mengerjakannya. Aku juga melarang kejahatan, akan tetapi aku sendiri melakukannya.” (21110).

Dilipatgandakan siksa atas mereka yang berilmu (ulama) atas tindakan maksiat yang telah mereka lakukan. Sebab, kejahilan telah membelenggu ilmu yang mereka miliki. Sebagaimana Allah s.w.t. juga berfirman dalam al-Qur’an:

إِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah (kerak) dari neraka.” (an-Nisā’ [4]: 145)

Semua itu disebabkan mereka (orang-orang munafik) menolak menerima kebenaran setelah mereka memperoleh pengetahuan dan kebenaran tentangnya. Orang-orang Yahudi dinyatakan oleh Allah s.w.t. lebih buruk dibandingkan orang-orang Nashrani yang menyatakan bahwa Allah itu terangkai dalam trinitas (tiga dalam satu, dan satu dalam tiga), disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) mengingkari Allah setelah mereka memiliki ilmu tentang-Nya. Sebagaimana Allah s.w.t. telah sebutkan di dalam firman-Nya berikut ini:

يَعْرِفُوْنَهُ كَمَا يَعْرِفُوْنَ أَبْنَاءَهُمْ.

[Mereka] mengenal Muhammad (utusan Allah) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.” (al-Baqarah [2]: 146) (21211).

Juga pada firman Allah s.w.t.:

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوْا بِهِ فَلَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْكَافِرِيْنَ.

Mana setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Oleh itu, laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar.” (al-Baqarah [2]: 89).

Allah s.w.t. juga telah berfirman mengenai sebuah kisah tentang Bal‘am Ibnu Ba‘ura’ yang termuat di dalam al-Qur’an:

وَ اتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِيْ آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِيْنَ. وَ لَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَ لكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَ اتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian ia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu ia diikuti oleh setan, sampai ia tergoda. Maka jadilah ia termasuk orang-orang yang tersesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu. Akan tetapi, ia cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti seekor anjing, jika engkau menghalaunya, segera diulurkannya lidahnya. Dan jika engkau membiarkannya, ia pun mengulurkan lidahnya. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (al-A‘rāf [7]: 175-176).

Kedua ayat ini difirmankan oleh Allah s.w.t. berkenaan dengan ulama (ahli ilmu) yang buruk. Bal‘am juga mengetahui dan mengerti Kitabullāh (al-Qur’an), akan tetapi tetap saja menyibukkan diri dalam urusan duniawi. Disebabkan perilakunya itu, Bal‘am disamakan dengan seekor anjing.

Nabi ‘Isa a.s. pernah mengatakan: “Orang berilmu yang berperilaku buruk laksana sebutir batu yang jatuh ke dasar sungai. Batu itu tidak mampu menyerap air setetes pun, dan tidak pula menghalangi aliran air yang berjalan, apalagi menumbuhkan pohon yang darinya. Orang berilmu yang berperilaku buruk juga seperti saluran air kotor yang mengalir dari sebuah kebun yang dipenuhi bau busuk menyengat, karena membawa tanah bekas kuburan manusia. Permukaannya ditumbuhi tanaman, tetapi lapisan di bawahnya sarat dengan tulang-belulang orang yang sudah meninggal dunia.”

Beberapa riwayat, atsar dan kisah sejarah di atas menunjukkan bahwa orang berilmu atau ulama yang tergoda oleh nafsu serta lebih mendahulukan cinta kepada urusan dunia akan dihinakan oleh Allah s.w.t., dan akan ditimpa siksa yang kekal di akhirat kelak. Adapun orang-orang berilmu atau ulama yang lebih mencintai urusan akhirat, mereka pasti akan mendapatkan keselamatan dan menemukan kedekatan dengan Allah ‘azza wa jalla.

Adapun mengenai tanda-tanda ulama yang lebih cenderung terhadap urusan akhirat, terdapat pada sisi mereka beberapa tanda berikut ini. Tanda pertama, mereka tidak menukar kepentingan dunia dengan ilmu dan pengetahuan agama yang mereka miliki. Mereka memandang urusan dunia ini kecil, sedangkan kepentingan negeri akhirat nanti jauh lebih besar dan kekal. Mereka menganggap bahwa dunia ini dan akhirat nanti berlawanan secara kasat mata, satu dengan lainnya; seperti layaknya dua orang yang saling bermusuhan. Atau, seperti layaknya dua orang istri yang menjadi madu seorang suami. Jika salah seorang atau salah satu istri merasakan gembira dan ridha, maka istri lainnya atau madunya merasakan cemburu dan tidak ridha.

Dunia dan akhirat laksana timbangan. Jika satu sisi timbangan naik, maka sisi lainnya pasti akan berada di bawah (turun). Atau, laksana wilayah Timur dan Barat, yang tidak mungkin dipertemukan pada titik yang sama. Makin ke Timur kita berjalan, maka akan semakin jauh jarak kita dengan wilayah Barat. Dunia dan akhirat itu juga ibarat dua wadah, yang satu penuh dan yang lain masih kosong. Makin banyak air dituangkan dari wadah yang penuh, maka akan semakin banyak air mengisi wadah yang kosong. Sehingga wadah yang pertama menjadi kosong, dan wadah yang kedua penuh terisi. Ada kerusakan tertentu pada akhlak manusia yang tidak juga mau menyadari bahwa kesenangan dunia ini akan segera berlalu (fana’). Sebab, kebenaran masalah ini telah terbukti dan diakui berdasarkan pengalaman serta pemahaman yang teruji atas kebenarannya. Siapa saja yang tidak mengakui nilai penting dan kepastian negeri akhirat, maka ia bisa dianggap sebagai orang yang menentang (kafir), yang keimanannya patut diragukan. Siapa saja yang tidak memandang bahwa urusan dunia saat ini dan kepentingan akhirat nanti bertentangan satu dengan lainnya, maka berarti ia tidak memahami agama yang telah disampaikan oleh para Nabi, serta tidak percaya kepada kebenaran kandungan al-Qur’an sejak awal hingga akhir. Orang-orang yang berilmu (ulama), namun bertentangan antara ilmu dengan keimanan yang dimiliki, maka mereka tidak termasuk dalam kelompok atau golongan ulama akhirat.

Siapa saja yang mengetahui masalah ini, namun tetap tidak lebih mencintai urusan akhirat daripada kepentingan dunia, maka ia termasuk manusia yang telah terpedaya oleh setan. Allah s.w.t. telah berfirman dalam kitab (Zabur) yang telah diturunkan-Nya kepada Nabi Daud a.s.: “Jika seorang yang berilmu (ulama) lebih mencintai nafsu keduniaan daripada cintanya kepada-Ku, maka ketetapan-Ku atasnya adalah, Aku (Allah) akan mencabut darinya kelezatan bermunajat (ibadah) kepada-Ku. Wahai Daud, janganlah engkau amanahkan pesan Allah (firman-Nya) kepada orang berilmu (ulama) yang berperilaku buruk. Dunia telah memperdayainya, dan ia sanggup memalingkan engkau dari kecintaan-Ku kepadamu. Manusia semacam itu laksana penyamun yang siap mempengaruhi keimanan hamba-hamba Allah s.w.t. yang taat. Dan, jika engkau mendapati seorang hamba yang bergegas mencaci Aku (Allah), maka pastikan bahwa ia adalah hamba-Ku yang sejati. Wahai Daud, Aku menulis orang yang berlari menuju Aku sebagai manusia yang mengetahui kebenaran, dan Aku tidak akan pernah menyiksanya.”

Karena itu, al-Hasan al-Bashri raḥimahullāh pernah berkata: “Matinya jiwa adalah hukuman atau azab bagi orang yang berilmu. Sedangkan penyebab dari matinya jiwa adalah menukar amalan akhirat demi menggapai kepentingan dunia.”

Yahya bin Mu‘adz pernah mengatakan: “Ketika urusan dunia ini sudah dicari dan dibeli oleh manusia dengan menggunakan ilmu serta hikmah, maka cahaya ilmu dan hikmah berangsur-angsur akan lenyap dari permukaan bumi.”

Sa‘id Ibn-ul-Musayyab raḥimahullāh berkata: “Apabila kalian menyaksikan seorang ulama sering mendatangi kediaman seorang penguasa negeri, maka hakikatnya ia adalah seorang perampok.”

Sayyidina ‘Umar r.a. pernah mengatakan: “Jika kalian menyaksikan orang berilmu (ulama) dimabukkan dengan urusan dunia ini, maka jangan pernah hiraukan apa pun yang ia sampaikan dan bersikaplah waspada terhadap setiap tindak-tanduknya. Semua itu, demi menjaga keutuhan agama kalian. Sebab, setiap orang yang terlanjur mencintai sesuatu, maka pasti akan tenggelam (larut) dalam apa yang dicintainya.”

Malik bin Dinar raḥimahullāh pernah berkata: “Aku telah membaca dalam beberapa kitab terdahalu bahwa Allah s.w.t. berfirman: “Yang paling mudah Aku perbuat terhadap orang yang berilmu apabila ia lebih mencintai urusan dunia adalah, Aku keluarkan dari jiwanya kemampuan merasakan kelezatan bermunajat kepada-Ku.”

Seorang lelaki menulis surat kepada saudaranya yang berada di kejauhan (negeri lain). Isi surat yang ditulisnya berbunyi: “Wahai saudaraku, engkau telah diberi oleh Allah s.w.t. karunia berupa ilmu, maka janganlah sampai engkau memadamkan karunia yang sangat berharga itu dengan kegelapan dosa-dosamu. Sebab, selamanya nanti engkau akan kekal di dalam kegelapan bersamanya (dosa-dosa yang telah engkau perbuat), pada hari seluruh ahli ilmu (ulama) berjalan di bawah naungan cahaya ilmu mereka.”

Yahya bin Mu‘adz ar-Razi raḥimahullāh pernah berpesan kepada para ulama dunia: “Wahai para pemilik ilmu, istana kalian laksana istana Kaisar, rumah kalian laksana rumah Kisra’, pintu kalian laksana pintu kaum zhahiriyyah, sepatu kalian laksana sepatu Jalut, kendaraan kalian laksana kendaraan Qarun, bejana kalian laksana bejana Fir‘aun, upacara yang kalian lakukan laksana upacara kaum Jahiliyyah, dan madzhab kalian laksana madzhab setan. Lalu, di mana syari‘at Muhammad kalian letakkan?”

Ia lalu melantunkan sya‘ir berikut ini:

Seorang penggembala bertugas melindungi domba gembalaannya dari serangan srigala.

Lalu bagaimana jika si penggembala itu sendiri sebagai srigalanya?

Seorang penya‘ir lain mengatakan:

Wahai para pembaca al-Qur’an, kalian laksana garam bagi negeri,

Yang tidak membawa manfaat apa-apa jika garam telah rusak.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya yang pantas disandarkan kepada diri seorang ‘alim (ulama) yang taat beragama itu ialah, makanan, pakaian, tempat tinggal, dan semua yang berhubungan dengan kehidupannya di dunia ini, haruslah sewajarnya. Artinya, tidak condong kepada kemewahan, dan tidak pula terlalu kekurangan. Jika ia tidak mampu untuk mencapai tingkatan zuhud, maka sedapat mungkin jangan sampai ia berkolusi dengan para penguasa dan pendamba dunia. Karena, dikhawatirkan hal itu bisa menimbulkan fitnah bagi diri dan agamanya. Sebagaimana Allah s.w.t. telah berfirman:

وَ لَوْ لَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيْلًا.

Dan kalau Kami tidak memperkuat qalbumu, niscaya engkau hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.” (al-Isrā’ [17]: 74).

Ahli hikmah Sahal at-Tustari raḥimahullāh pernah berkata: “Setiap cabang ilmu itu bersifat duniawiah, kecuali ilmu agama yang jika diamalkan, maka ia baru bersifat ukhrawiah. Dan, setiap perbuatan yang dilakukan tanpa keikhlasan, maka ia hampa tanpa makna.”

Sahal at-Tustari raḥimahullāh juga pernah berkata: “Semua orang mati (tidak ada), kecuali orang-orang yang berilmu. Semua orang yang berilmu laksana pemabuk, kecuali mereka yang mau mengamalkan ilmunya. Semua orang yang mengamalkan ilmunya tersesat, kecuali mereka yang bersikap ikhlas. Semua orang yang ikhlas dalam mengamalkan ilmunya akan merasakan kekhawatiran, kecuali mereka yang mengetahui tujuan atas puncak kebaikan yang telah dilakukannya itu.”

Nabi ‘Isa a.s. pernah mengatakan: “Bagaimana mungkin seseorang dipandang sebagai orang berilmu apabila ia tetap asyik dalam perjalanan menggapai urusan dunia, meskipun ia mengaku berjalan menuju titian akhirat?”

Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah s.a.w. sendiri pernah bersabda:

مَنْ طَلَبَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَ بِهِ وَجْهُ اللهِ تَعَالَى لِيُصِيْبَ بِهِ عَرْضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Siapa saja yang menuntut ilmu yang diridhai oleh Allah, akan tetapi ia juga mencari kekayaan dunia menggunakan ilmu itu, maka ia tidak akan mencium bau surga pada Hari Berbangkit nanti.” (21312).

Allah s.w.t. menyebut tentang ulama yang buruk sebagai orang yang mencari dunia dengan menggunakan ilmunya, dan melukiskan ulama akhirat sebagai orang yang bertakwa serta bersikap zuhud terhadap urusan dunia. Allah s.w.t. berfirman tentang ulama duniawiah, di mana Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi al-Kitab:

وَ إِذْ أَخَذَ اللهُ مِيْثَاقَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَ لَا تَكْتُمُوْنَهُ فَنَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوُرِهِمْ وَ اشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلًا.

Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi al-Kitab, yaitu: “Hendaklah kalian menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan janganlah kalian menyembunyikannya dari manusia.” Akan tetapi, mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka, (21413) dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit.” (Āli ‘Imrān [3]: 187).

Allah s.w.t. juga telah berfirman mengenai ulama ukhrawi:

وَ إِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِيْنَ للهِ لاَ يَشْتَرُوْنَ بِآيَاتِ اللهِ ثَمَنًا قَلِيْلاً أُولئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ

Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab itu ada orang yang beriman kepada Allah, juga kepada apa yang diturunkan kepada kalian, serta apa yang diturunkan kepada mereka. Mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Allah, Rabb mereka,” (Āli ‘Imrān [3]: 199).

Sebagian dari ulama salaf mengatakan: “Para ulama akan dibangkitkan di Mahsyar nanti bersama para Nabi, sedangkan para ahli hukum (hakim) akan dibangkitkan bersama para penguasa mereka.” Yang dimaksudkan dengan para ahli hukum di sini termasuk para ahli fikih yang menjadikan ilmu mereka sebagai sarana meraih kemilaunya dunia.

Diriwayatkan dari Abu-Darda’, bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda: “Allah s.w.t. menurunkan wahyu kepada para Nabi. Isi wahyu tersebut berbunyi: “Mereka yang mempelajari ilmu fikih untuk tujuan selain agama, dan mereka yang mencari kekayaan dunia dengan amalan akhirat, laksana orang yang mengenakan kulit domba akan tetapi berjiwa seperti srigala di hadapan manusia. Lidah mereka lebih manis daripada madu, namun qalbu mereka lebih pahit daripada empedu. Mereka menipu dan mempermainkan Aku (Allah s.w.t.). Aku akan menimpakan fitnah kepada mereka yang bahkan membuat orang sabar pun merasa heran dengan fitnah itu.” (21514).

Diriwayatkan pula dari adh-Dhahhak, dari Ibnu ‘Abbas r.a., bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Ada dua golongan ulama dari umatku ini. Golongan yang pertama merupakan ulama yang diberi ilmu oleh Allah s.w.t., yang kemudian dengan ilmu itu mereka sebarkan kepada orang lain, dan mereka tidak mengharapkan apa pun dari dunia, tidak pula menjualnya dengan harga yang sedikit. Ulama seperti ini akan dido‘akan oleh burung-burung di angkasa, ikan-ikan di lautan, semua binatang di permukaan bumi, dan para malaikat pun mendo‘akan keberkahan bagi mereka. Mereka akan datang menghadap Allah s.w.t. pada Hari Berbangkit nanti sebagai orang yang mulia, dan mereka akan menjadi sahabat para Rasul. Adapun golongan yang kedua adalah ulama yang diberi ilmu oleh Allah s.w.t., namun mereka tidak mau menyebarkannya kepada orang lain. Mereka mengharapkan imbalan dunia, dan menukarnya dengan harga sangat murah. Ulama seperti ini akan datang ke hadapan Allah ‘azza wa jalla pada Hari Berbangkit nanti dengan terbelit tali kekang yang terbuat dari api neraka di mulutnya, dan mereka akan tampil di hadapan semua makhluk, lalu akan diserukan kepada makhluk-makhluk itu: “Mereka ini adalah anak si Fulan dan si Fulan, Allah s.w.t. telah mengaruniai mereka ilmu, akan tetapi mereka enggan memberikannya kepada sesama manusia, dan menukarnya dengan harga yang sangat sedikit, serta mengharapkan imbalan kekayaan dunia. Maka mereka akan mendapatkan adzab, hingga Allah ‘azza wa jalla selesai menghitung amalan manusia seluruhnya.” (21615).

Siksaan yang lebih dahsyat telah ditimpakan kepada jenis manusia berikut ini. Yaitu, seperti peristiwa yang pernah menimpa seorang pria yang pernah diminta secara khusus oleh Nabi Musa a.s. untuk menyampaikan, bahwa Nabi Musa, manusia pilihan Allah s.w.t., telah menceritakan kejadian ini kepadaku. Nabi Musa, manusia kepercayaan Allah s.w.t., telah mengisahkan ini kepadaku. Nabi Musa, manusia sekaligus sahabat dekat Allah s.w.t., telah mengatakan ini dan itu kepadaku. Sehingga dengan menyampaikan semua itu, ia menjadi kaya-raya. Akan tetapi, beberapa saat kemudian ia menghilang dari pandangan manusia. Nabi Musa pun berusaha mencarinya ke banyak tempat, akan tetapi tidak juga ditemukan. Suatu hari, datang seorang laki-laki dengan membawa seekor babi yang pada lehernya terlilit seutas tali. Nabi Musa bertanya kepada laki-laki tadi: “Tahukah engkau tentang kondisi si Fulan? Belakangan ini aku sangat sulit menjumpainya.” Laki-laki itu menjawab: “Aku tahu, wahai Nabi Allah. Seekor babi yang aku bawa ini adalah dirinya.” Kemudian Nabi Musa berdo‘a: “Ya Allah, kembalikanlah ia ke keadaannya semula, agar aku dapat bertanya mengapa keadaan ini sampai menimpanya.” Lalu Allah s.w.t. menurunkan wahyu kepada Nabi Musa: “Sekiranya engkau memohon kepada-Ku, sebagaimana apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Adam a.s. dan para penerusnya, Aku tidak akan menerima permohonanmu dalam masalah ini. Namun demikian, Aku (Allah) akan mengabarkan kepadamu mengapa ia sampai berubah menjadi seperti saat ini. Itu semua diakibatkan ia mencari dunia dengan agama.”

Kisah yang lebih berat pernah pula diriwayatkan dari Mu‘adz bin Jabal r.a. secara mauqūf, dan atau secara marfū‘. Dalam kisah itu diriwayatkan, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Salah satu penyakit yang sering menghinggapi seorang yang berilmu adalah, ia lebih suka berbicara daripada mendengar.” (21716).

Dalam pembicaraan yang disampaikan sering kali terdapat banyak sekali bias dan tambahan. Seorang pembicara tidak mungkin terhindar dari kekeliruan. Sedangkan dalam sikap diam (mendengar) terdapat keselamatan dan kebijaksanaan. Di antara orang-orang berilmu ada pula mereka yang suka menyimpan saja ilmunya rapat-rapat, dan tidak mau menyampaikannya kepada orang lain. Orang semacam ini justru akan menempati lapisan pertama di dasar neraka. Ada pula di antara orang-orang yang berilmu bersikap seperti raja terhadap ilmu yang dimilikinya. Dengan kata lain, jika ada yang mengkritik ilmunya, maka ia pun segera marah. Orang semacam ini akan menempati lapisan kedua dari dasar neraka. Ada pula di antara orang-orang berilmu yang menyampaikan ilmu, dan sekaligus menceritakan hadits hanya kepada orang yang berada (kaya), namun tidak kepada orang miskin yang membutuhkan. Maka, orang yang semacam ini akan menempati lapisan ketiga dari dasar neraka. Ada di antara orang-orang berilmu yang sibuk memberikan fatwa (putusan hukum), akan tetapi kerap keliru, dan merasa puas hanya dengan orang lain yang mengikutinya dalam melakukan ibadah. Orang yang seperti ini akan berada di lapisan keempat dari dasar neraka. Ada lagi di antara orang-orang berilmu yang menyampaikan materi dakwahnya dengan banyak mengutip ucapan orang-orang Yahudi maupun Nashrani, demi memamerkan ketinggian ilmunya. Maka, orang yang berilmu semacam ini akan ditempatkan di lapisan kelima dari dasar neraka. Ada pula di antara orang-orang berilmu yang menyampaikan materi dakwahnya demi kemegahan, kehormatan dan kemuliaan diri, lalu menganggap bahwa ucapannya adalah segala-galanya. Maka orang seperti ini akan menempati lapisan keenam dari dasar neraka. Di antara orang-orang berilmu ada juga yang menyampaikan materi dakwahnya dengan sombong dan angkuh. Sedangkan pada saat orang lain menyampaikan khutbah, ia pun melecehkan materi yang disampaikannya. Orang seperti ini akan ditempatkan di lapisan ketujuh dari dasar neraka.”

Dalam hadits lain Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda: “Ada seseorang yang demikian dipuji karena ilmu yang dimilikinya, sehingga pujian itu memenuhi ruang yang berada di antara belahan Timur dan Barat bumi. Akan tetapi, semua pujian itu tidak berharga bagi Allah s.w.t., bahkan tidak sebanding jika diukur dengan seberat sayap lalat pun.” (21817).

Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda: “Janganlah kalian duduk dengan seorang yang berilmu, kecuali ia mengajak kepada lima perkara berikut ini: Pertama, mengajak kepada keyakinan, bukan keraguan. Kedua, mengajak kepada sikap ikhlas, bukan riya’. Ketiga, mengajak kepada kesederhanaan, bukan kemegahan dunia. Keempat, mengajak kepada cinta, bukan permusuhan. Dan yang kelima, mengajak kepada sikap zuhud terhadap urusan dunia, bukan justru menggemarkan dengannya (urusan dunia).” (21918)

Sebagaimana Allah s.w.t. berfirman:

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِيْ زِيْنَتِهِ قَالَ الَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوْتِيَ قَارُوْنُ إِنَّهُ لَذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ. وَ قَالَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَ عَمِلَ صَالِحًا وَ لَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُوْنَ

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. (22019) Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Juga tidak didapat pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (al-Qashash [28]: 79-80).

Dengannya, ahli ilmu akan memahami kondisi yang ada, dan lebih memilih kepentingan akhirat ketimbang urusan dunia.

Catatan:


  1.  202). Takhrīj atas riwayat ini telah disebutkan pada pembahasan terdahulu – penerj. 
  2.  203). Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Raudhat-ul-‘Aqillā’. Diriwayatkan pula oleh Imam al-Baihaqi dalam al-Madkhal secara mauqūf pada Abid-Darda’ r.a., dan tidak sampai berstatus marfū‘. 
  3.  204). Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Imam al-Hakim dalam an-Nawadir, dan Ibnu ‘Abd-il-Barr, dari hadits al-Hasan secara mursal, dengan isnād shaḥīḥ. Imam al-Khathib juga menyebutkan riwayat ini dalam at-Tārīkh dari hadits al-Hasan, dari Jabir r.a., dengan isnād baik (jayyid). Demikian pula yang disampaikan oleh Ibn-ul-Jauzi raḥimahullāh. 
  4.  205). Diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dari hadits Anas bin Malik r.a., dengan status lemah (dha‘īf). 
  5.  206). Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari hadits Jabir bin ‘Abdullah r.a., dengan isnād shaḥīḥ. 
  6.  207). Takhrīj atas riwayat ini telah disebutkan pada pembahasan terdahulu – penerj. 
  7.  208). Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Dzarr al-Ghiffari r.a., dengan isnād baik (jayyid). 
  8.  209). Diriwayatkan oleh Abu Manshur ad-Dailami dalam Musnad al-Firdaus, dari hadits ‘Ali bin Abi Thalib r.a., dengan isnād lemah (dha‘īf). Namun, riwayat ini memiliki saksi yang menguatkan. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dalam Raudhat-ul-‘Aqillā’ secara mauqūf pada al-Hasan, dengan redaksi yang berbeda, namun kandungan maknanya serupa yaitu: “Siapa saja yang pemahamannya tentang Allah bertambah, namun kemudian kecintaanya kepada dunia meningkat, maka tidak semakin bertambah kedekatannya kepada Allah kecuali semakin menjauh.” Sebagaimana diriwayatkan pula oleh Abul-Fath al-Azdi dalam ad-Dhu‘afā’, dari hadits ‘Ali bin Abi Thalib dengan redaksi: “Siapa saja yang pemahamannya tentang Allah bertambah, namun kemudian bertambah pula kecintaannya kepada dunia, maka murka dan kemarahan Allah bertambah kepadanya.” 
  9.  210). Tidak ditemukan takhrīj-nya menggunakan redaksi ini. Redaksi ini justru merupakan makna penjelas dari hadits Usamah bin Zaid r.a. yang akan disebutkan setelah ini. 
  10.  211). Diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun ‘alaih), dari Usamah bin Zaid r.a., dengan redaksi: “orang berilmu” diganti dengan “seorang lelaki”. 
  11.  212). Mereka mengenal Muhammad s.a.w. seperti mereka mengenal sifat-sifatnya dengan baik, sebagaimana yang tersebut dan mereka baca dalam Taurat dan Injil – penerj. 
  12.  213). Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah dengan isnād jayyid (baik). Saya (muḥaqqiq) berpendapat, bahwa status riwayat ini adalah shaḥīḥ. Syaikh al-Albani menyebutkan riwayat ini dalam Shaḥīḥ Ibnu Mājah, hadits nomor 204. Maka kata ‘arfal jannati adalah dalam makna rīḥuhā (terhalang olehnya), terhalang lantaran dosa yang menyelimutinya. 
  13.  214). Di antara keterangan yang disembunyikan itu ialah tentang kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Rasul Allah – penerj. 
  14.  215). Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abd-il-Barr dengan isnād lemah (dha‘īf). 
  15.  216). Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dalam al-Ausath dengan isnād lemah (dha‘īf). 
  16.  217). Diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dan Ibn-ul-Jauzi raḥimahumāllāh dalam al-Maudhū‘āt. 
  17.  218). Redaksi seperti ini tidak pernah ditemukan. Dalam kitab ash-Shaḥīḥain dari hadits Abu Hurairah r.a. terdapat riwayat serupa dengan redaksi: “Sesungguhnya akan dihadapkan seorang lali-laki – pada Hari Berbangkit nanti – yang agung dan pernah dipuja oleh banyak orang saat di alam dunia, pada saat itu ia merasa tidak berharga sama sekali di hadapan-Nya, bahkan jika harus diukur dengan sayap seekor lalat.” 
  18.  219). Diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dalam al-Hilyah. Juga oleh Ibn-ul-Jauzi dalam al-Maudhū‘āt. 
  19.  220). Menurut ahli tafsir, ayat ini menggambarkan peristiwa Qarun yang saat itu tengah keluar dari istana megahnya dalam satu iring-iringan yang lengkap dengan sejumlah pengawal, hamba sahaya dan para pengasuh untuk memperlihatkan kemegahan yang ia miliki kepada kaumnya – penerj. 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *