Ihya Ulumiddin: Penyakit yang Menempel pada Ilmu (Bagian 2)

Dari Buku:
Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama
(Judul Asli: Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn)
Jilid 1.
Oleh: Imam al-Ghazali

Penerjemah: Ibnu Ibrahim Ba‘adillah
Penerbit: Republika Penerbit

Rangkaian Pos: Penyakit yang Menempel pada Ilmu - Ihya ʻUlumiddin
  1. 1.Ihya Ulumiddin: Penyakit yang Menempel pada Ilmu (Bagian 1)
  2. 2.Anda Sedang Membaca: Ihya Ulumiddin: Penyakit yang Menempel pada Ilmu (Bagian 2)

Tanda kedua dari ulama akhirat adalah, seiring antara ucapan dengan perbuatan. Ulama yang berorientasi pada kepentingan akhirat tidak akan menganjurkan suatu amalan atau perbuatan sebelum ia sendiri menjadi orang pertama yang menjalankannya. Allah s.w.t. telah berfirman:

أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَ تَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ

Mengapa engkau menyuruh orang lain mengerjakan kebajikan, akan tetapi engkau melupakan itu bagi dirimu sendiri?” (al-Baqarah [2]: 44).

Allah s.w.t. juga berfirman:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُوْلُوْا مَا لاَ تَفْعَلُوْنَ

Sangat besar kebencian di sisi Allah jika engkau mengatakan apa-apa yang tidak engkau lakukan.” (ash-Shaff [6]: 3)

Allah ‘azza wa jalla juga telah berfirman sewaktu mengisahkan tentang Nabi Syu‘aib a.s.:

وَ مَا أُرِيْدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

Dan aku (Nabi Syu‘aib) tidak berkehendak menyalahi kalian dengan mengerjakan apa yang aku larang.” (Hūd [11]: 88).

Allah s.w.t. juga berfirman:

وَ اتَّقُوا اللهَ وَ يُعَلِّمُكُمُ اللهُ

Dan bertakwalah kepada Allah, di mana Allah telah mengajarimu.” (al-Baqarah [2]: 282).

Allah s.w.t. juga berfirman:

وَ اتَّقُوا اللهَ وَ اعْلَمُوْا

Bertakwalah kepada Allah, maka engkau akan tahu.” (al-Baqarah [2]: 196).

Dan,

وَ اتَّقُوا اللهَ وَ اسْمَعُوْا

Dan bertakwalah kepada Allah, lalu dengarkanlah [perintah-Nya].” (al-Mā’idah [4]: 108).

Allah s.w.t. pernah berfirman kepada Nabi ‘Isa a.s: “Wahai, putra Maryam, belajarlah untuk dirimu sendiri, dan kemudian berilah pelajaran kepada orang lain. Jika tidak demikian, malulah engkau kepada-Ku.”

Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda: “Pada malam ketika aku diisra’kan (maksudnya pada saat dimi‘rajkan) oleh Allah s.w.t., aku menyaksikan suatu kaum yang bibir mereka disayat-sayat menggunakan gunting yang terbuat dari api neraka. Kemudian aku bertanya kepada malaikat Jibril a.s.: “Siapakah mereka itu, wahai Jibril?” Malaikat Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang gemar menyuruh kebaikan, akan tetapi mereka sendiri tidak mau melakukan apa yang telah mereka suruh untuk mengerjakannya. Mereka melarang orang lain berbuat kejahatan, akan tetapi mereka sendiri mengerjakan kejahatan itu.” (2211).

Nabi s.a.w. juga pernah bersabda: “Orang berilmu yang zhalim dan ahli ibadah yang jahil merupakan penyebab utama atas kebinasaan pada umatku. Keburukan yang sangat menyesatkan adalah keburukan mereka yang memiliki ilmu – namun menyelewengkan fungsi ilmunya – sedangkan kebaikan yang bernilai mulia justru terletak pada kebaikan mereka yang memiliki ilmu.” (2222).

Al-Auza‘i raḥimahullāh pernah mengatakan: “Mereka yang terbiasa membuat peti untuk jenazah menduga, bahwa tidak ada bau yang lebih menyengat busuknya ketimbang mayat mereka yang tidak beriman kepada Allah s.w.t. Ternyata Allah menyatakan lain. Sebab, Dia telah mewahyukan bahwa perut dari ulama yang buruk jauh lebih busuk dari mayat mereka yang tidak beriman kepada-Nya.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh raḥimahullāh juga pernah mengatakan: “Telah sampai kabar ke telingaku bahwa para ulama yang gemar berbuat kefasikan akan lebih dahulu disiksa oleh Allah s.w.t. di Hari Pembalasan amal nanti ketimbang para penyembah berhala.”

Abud-Darda’ r.a. juga pernah mengatakan: “Siksa yang akan ditimpakan kepada mereka yang tidak mengamalkan perintah disebabkan tidak memiliki ilmu tentangnya bernilai satu kali. Sedangkan siksaan yang akan ditimpakan kepada ulama yang tidak mau mengamalkan ilmu yang dikuasainya bernilai tujuh kali lipat.”

Asy-Sya‘bi juga pernah mengatakan: “Di alam akhirat kelak, ada suatu golongan dari penduduk surga mengajukan pertanyaan kepada penduduk neraka yang kebetulan ketika berada di alam dunia mereka saling mengenal. Penduduk surga itu pun menanyakan: “Apa yang menyebabkan anda menjadi penduduk neraka? Padahal, Allah s.w.t. memasukkan kami ke dalam surga-Nya ini disebabkan ketika di dunia kami mengamalkan apa yang pernah anda ajarkan ilmunya kepada kami.” Penduduk neraka – yang kebetulan saat berada di dunia adalah seorang ulama yang buruk – pun menjawab, bahwa aku memasuki neraka ini diakibatkan pada saat berada di alam dunia gemar memerintahkan kepada orang lain untuk melakukan kebaikan, namun aku sendiri tidak pernah mengamalkannya. Juga selalu memerintahkan kepada orang lain agar tidak melakukan kemunkaran, sedangkan aku sendiri menjalaninya.”

Hatim al-Ashamm raḥimahullāh juga pernah mengatakan: “Tidak ada kerugian yang terbesar pada Hari Pembalasan amal kelak, selain orang yang ketika di alam dunia gemar menganjurkan orang lain mengerjakan amal kebaikan, lalu dilaksanakan perintah itu oleh orang yang mendapatkan anjuran, sementara orang yang menganjurkan sendiri tidak pernah melakukan apa yang dianjurkannya. Maka, para penerima anjuran mendapatkan kemenangan lantaran melaksanakan anjuran yang disampaikan kepadanya, sementara penganjur sendiri binasa (menderita kerugian) akibat tidak mau melakukan apa yang dianjurkannya kepada orang lain.”

Malik bin Dinar juga pernah mengatakan: “Orang yang memiliki ilmu, namun sepanjang hidupnya tidak pernah mau mengamalkan ilmu yang telah didapatinya, maka ilmu itu akan menguap laksana embun pagi yang segera hilang dari bukit Shafa pada saat matahari pagi mulai memancarkan sinarnya.”

Terdapat sya‘ir yang kandungan isinya mewakili apa yang telah digambarkan di atas:

Wahai siapa saja yang suka menganjurkan kebaikan kepada orang lain, kalian menjadi tertuduh.
Sampai kalian sendiri mau melaksanakan, apa yang telah kalian anjurkan.
Wahai siapa saja yang gemar melarang keburukan, kalian juga tertuduh.
Sampai kalian siap menghindarkan diri dari melakukan apa yang kalian sendiri larang.
Kalian hinakan dunia dan para pemujanya dalam nasihat.
Sedangkan kalian sendiri menjadi bagian dari pemuja dunia dan penggemarnya.

Penya‘ir lainnya mengatakan:

Jangan larang sesuatu kepada orang lain, apabila kalian tidak sanggup menghindarkan diri darinya.
Sebab hanya rasa malu yang tersisa, apabila kalian sendiri adalah pelakunya.”

Diriwayatkan oleh Makhul dari ‘Abd-ur-Rahman bin Ghanim, ia berkata: telah sampai kepada kami riwayat dari sepuluh orang sahabat Nabi s.a.w. yang mengatakan, bahwa pada saat kami tengah mempelajari sesuatu (ilmu) di dalam masjid Quba’, (2233) tiba-tiba Rasulullah s.a.w. menghampiri kami (para sahabat), kemudian menyampaikan pesan:

تَعَلَّمُوْا مَا شِئْتُمْ أَنْ تَعَلَّمُوْا فَلَنْ يَأْجَرُكُمُ اللهُ حَتَّى تَعْمَلُوْا.

Tuntutlah ilmu sebanyak yang kalian kehendaki. Akan tetapi ingatlah, bahwa Allah tidak akan memberi pahala hingga kalian mengamalkannya.” (2244).

Nabi ‘Isa a.s. pernah mengatakan: “Orang yang mempelajari ilmu, akan tetapi kemudian tidak mengamalkannya, laksana seorang wanita yang berselingkuh dengan pria, lalu dari perselingkuhan itu sang wanita tadi mengandung (hamil), dan ketika kehamilannya membesar serta terungkap ke hadapan umum, maka ia baru menyesali kesalahan yang telah ia lakukan. Demikian pula orang yang tidak beramal menurut ilmunya, Allah s.w.t. tidak merahmatinya di Hari Pembalasan nanti.”

Mu‘adz bin Jabal r.a. pernah berpesan: “Berhati-hatilah kalian terhadap kekeliruan yang muncul dari orang berilmu (ulama). Sebab, seorang ulama sangat dihormati oleh banyak orang, hingga mereka takut mengingatkan kekeliruan yang sudah dilakukannya, dan tetap mengikutinya dalam kekeliruan.”

Sayyidina ‘Umar ibn-ul-Khaththab r.a. pernah berkata: “Apabila seorang ulama melakukan kesalahan (yang cukup fatal – penerj) di hadapan umum, maka sama artinya ia telah menggelincirkan para pendengar atau pengikutnya dalam kebinasaan.”

Sayyidina ‘Umar ibn-ul-Khaththab r.a. juga pernah berkata: “Tiga perkara yang menyebabkan hancurnya suatu zaman, yang salah satunya adalah; tergelincirnya orang berilmu – namun tidak ada umat yang berani mengingatkan kekeliruannya.”

Ibnu Mas‘ud r.a. juga pernah berkata: “Akan segera datang suatu masa di mana kebaikan manusia akan lenyap dari muka bumi ini. Pada masa itu, orang berilmu dan orang yang mempelajari ilmu tidak dapat mengambil manfaat apa pun dari ilmu yang dimilikinya. Qalbu orang berilmu akan mengeras laksana batu tebing, hingga air hujan yang jatuh dari langit dan menimpanya tidak akan meresapkan setetes air pun ke dalam batu itu. Penyebabnya adalah, jiwa orang berilmu menjadi mabuk karena kecintaan mereka kepada dunia lebih daripada cinta mereka pada urusan akhirat. Lalu, Allah s.w.t. mengangkat (menarik kembali) sumber-sumber kebijaksanaan mereka dan memadamkan cahaya petunjuk dari qalbu mereka. Para ulama itu menyampaikan kebaikan kepada kalian dengan lisannya: “Bertakwalah kalian kepada Allah!” Akan tetapi, dalam tindak keseharian mereka sendiri kalian saksikan melakukan dosa dan kesalahan. Lalu, lidah mereka menjadi kelu dan jiwa mereka pun mengeras. Sebabnya adalah, mereka belajar dan mengajar bukan karena Allah s.w.t., akan tetapi karena yang selain-Nya. Di dalam kitab Taurat dan Injil juga telah disebutkan: “Janganlah kalian disibukkan dengan mencari ilmu yang belum kalian ketahui, sampai kalian mengamalkan apa yang telah kalian pelajari dan ketahui.”

Hudzaifah r.a. juga pernah mengatakan: “Sesungguhnya kalian berada di suatu zaman di mana apabila kalian meninggalkan sepersepuluh dari apa yang kamu ketahui, maka kamu akan binasa. Dan akan segera tiba suatu zaman di mana apabila seseorang mengerjakan sepersepuluh dari apa yang dia ketahui, maka dia akan selamat.”

Ketahuilah, bahwa kedudukan seorang yang berilmu (ulama) tidak ada bedanya dengan hakim atau qadhi. Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda untuk mereka:

الْقُضَاءُ ثَلَاثَةٌ: قَاضٍ قَضَى بِالْحَقِّ وَ هُوَ يَعْلَمُ فَذلِكَ فِي الْجَنَّةِ، وَ قَاضٍ قَضَى بِالْجَوْرِ وَ هُوَ يَعْلَمُ أَوْ لَا يَعْلَمُ فَهُوَ فِي النَّارِ، وَ قَاضٍ قَضَى بِغَيْرِ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ فَهُوَ فِي النَّارِ.

Ada tiga macam qadhi: Pertama, qadhi yang menghakimi dengan keadilan dan kebenaran, mereka ini akan dimasukkan Allah ke dalam surga. Kedua, qadhi yang menghakimi secara zhalim dan tanpa pengetahuan yang benar, mereka ini akan dimasukkan Allah ke dalam neraka. Ketiga, qadhi yang menghamiki suatu perkara dengan adil, akan tetapi ketetapannya itu bertentangan dengan hukum-hukum Allah, maka mereka ini juga akan dimasukkan Allah ke dalam neraka.” (2255).

Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda: “Terkadang setan melalaikan kalian dengan ilmu yang kalian miliki.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin setan sanggup melalaikan seorang yang berilmu (ulama), dan bagaimanalah cara setan melakukannya?” Beliau menjawab: “Setan akan berkata kepada ulama itu: “Tuntutlah ilmu, akan tetapi jangan dahulu beramal hingga engkau mendapatkan seluruh ilmu yang ada.” Dengan begitu, kalian terpedaya, dan akan disibukkan dalam urusan menuntut ilmu, akan tetapi tidak mau segera beramal dengan ilmu yang didapat, hingga kematian mendatangi kalian. Dan pada saat ajal kalian tiba, sungguh kalian tidak memiliki satu amalan pun yang bisa menyelamatkan kalian dalam mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah s.w.t.” (2266).

Sarri Saqathi pernah mengatakan: “Aku pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang tengah mengasingkan diri dari keramaian dunia dan dengan tekun menjalankan ibadah, mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Sebelum itu, ia dikenal sebagai laki-laki yang gemar menuntut ilmu. Aku pun menghampirinya dan menanyakan sesuatu perihal aktivitasnya belakangan ini. Ia pun memberikan jawaban yang sungguh mengejutkan. Ia berkata: bahwa dirinya pernah bermimpi pada suatu malam bertemu dengan seseorang yang di dalam mimpi itu berpesan kepadanya: “Seberapa banyaknya engkau menyia-nyiakan ilmu, maka akan sebanyak itu pula Allah s.w.t. menyia-nyiakan dirimu.” Disampaikannya kepada laki-laki yang ia jumpai dalam mimpi: “Aku melakukan semua itu demi menjaga atau memelihara ilmuku agar tetap selalu ada bersamaku.” Berkata orang yang muncul dalam mimpinya: “Memelihara ilmu itu hanya bisa dilakukan dengan mengamalkannya, bukan dengan menyimpannya saja.” Oleh karena itu, ia pun segera meninggalkan aktivitas belajar, dan mulai mengamalkan ilmu yang sudah didapatinya.”

Ibnu Mas‘ud pernah mengatakan: “Al-Qur’an diturunkan oleh Allah s.w.t. agar manusia dapat mengarahkan hidup sesuai dengan ajaran yang termuat di dalamnya. Oleh karena itu, arahkan kehidupan kalian berdasar pada apa yang kalian baca. Akan tetapi, akan datang suatu kaum yang memegang al-Qur’an seperti sebatang anak panah yang akan melesat, dan mereka bukan tergolong orang yang baik. Sebab, orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya, laksana seorang pasien yang menerangkan manfaat suatu obat tanpa pernah menggunakan atau mengonsumsinya. Juga laksana seorang yang lapar membayangkan kelezatan makanan tanpa pernah berhasil memakannya.”

Allah s.w.t. telah berfirman:

وَ لَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُوْنَ

Celakalah kalian disebabkan apa-apa yang telah kalian ucapkan.” (al-Anbiyā’ [21]: 18).

Dan, Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِيْ زِلَّةُ عَالِمٍ وَ جِدَالُ مُنَافِقٍ فِي الْقُرْآنِ.

Yang aku khawatirkan atas umatku adalah kesesatan orang yang berilmu, dan perdebatan orang-orang munafik tentang al-Qur’an.” (2277).

Catatan:

  1. 221). Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dari hadits Anas bin Malik r.a. Saya (muḥaqqiq) berpendapat, bahwa riwayat ini disampaikan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shaḥīḥ miliknya, Jilid 1, hadits nomor 53 dengan status (predikat) baik (ḥasan). Imam Ahmad juga meriwayatkan dalam Musnad miliknya, jilid 3, hadits nomor 120. Imam at-Tibrizi juga meriwayatkan hadits ini dalam al-Misykāt, hadits nomor 4801. Syaikh Nashiruddin al-Albani mengatakan, bahwa riwayat yang terdapat di dalam Musnad berstatus lemah (dha‘īf).
  2. 222). Diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi dari jalur al-Ahwash bin Hakim, dari ayahnya  secara mursal. Pada riwayat lain dengan redaksi yang sedikit berbeda dinyatakan, bahwa status periwayatannya tidak diketahui. Demikian, wallāhu a‘lam.
  3. 223). Masjid Quba’ adalah masjid pertama yang Rasulullah s.a.w. dan para sahabat Anshar dirikan ketika beliau s.a.w. sampai di Madinah dalam rangka hijrah yang pertama ke sana (Madinah) – penerj.
  4. 224). Hadits dari ‘Abd-ur-Rahman bin Ghanim yang disampaikan oleh sepuluh orang sahabat Nabi s.a.w. ini, ternyata pada seorang perawinya dinyatakan gugur oleh Ibnu ‘Abd-il-Barr. Sedangkan Ibnu ‘Adi, Abu Nu‘aim dan al-Khathib menyebutkan riwayat ini dalam bahasan mengenai “Ditetapkannya ilmu untuk diamalkan” dari hadits Mu‘adz bin Jabal r.a., kemudian menyatakan bahwa status sanād-nya adalah lemah (dha‘īf). Diriwayatkan pula oleh Imam ad-Darimi secara manqūf pada Mu‘adz dengan sanād shaḥīḥ.
  5. 225). Diriwayatkan oleh Ashḥāb-us-Sunan (para pemilik kitab Sunan) dari hadits Buraidah, dan statusnya shaḥīḥ.
  6. 226). Diriwayatkan dalam kitab al-Jāmi‘, dari hadits Anas bin Malik r.a., dengan sanād lemah (dha‘īf).
  7. 227). Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dari hadits Abud-Darda’. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dari hadits ‘Imran bin Husain. Saya (muḥaqqiq) berpendapat, bahwa riwayat ini disampaikan oleh Ibnu Hibban dengan redaksi yang berbeda. Jilid 1, hadits nomor 80, yang berbunyi: “Yang sangat aku (Nabi) khawatirkan atas kalian adalah, seorang munafik yang berilsan pandai.” Imam al-Albani menyebutkan riwayat ini dalam Shaḥīḥ-ul-Jāmi‘, hadits nomor 239, dan menyatakan bahwa statusnya adalah shaḥīḥ; dengan tidak mengomentari status jalur periwayatan lainnya.
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *