Hati Senang

Ihya Ulumiddin: Keutamaan Mengajar

Dari Buku:
Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama
(Judul Asli: Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn)
Jilid 1.
Oleh: Imam al-Ghazali

Penerjemah: Ibnu Ibrahim Ba‘adillah
Penerbit: Republika Penerbit

Waktu baca : ≈ 10 menit

Bab Pertama

Keutamaan Belajar dan Mengajar

 

Keutamaan belajar, mengajar, berikut dalil-dalilnya dari al-Qur’an, al-Hadis (naqli), dan juga dalil akal (‘aqli) mengenai ilmu.

Keutamaan Mengajar

Allah s.w.t. telah berfirman:

وَ لِيُنذِرُوْا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوْا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

“Supaya mereka dapat memberi peringatan kepada kaumnya apabila kaumnya itu telah kembali kepada mereka. Mudah-mudahan mereka dapat menjaga diri.” (at-Taubah [9]: 122).

Memberi peringatan yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah “mengajar” dan “memberi petunjuk” ke jalan yang diridhai oleh Allah s.w.t.”

Allah s.w.t. juga berfirman:

وَ إِذْ أَخَذَ اللهُ مِيْثَاقَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَ لاَ تَكْتُمُوْنَهُ

“Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi al-Kitab, yaitu: “Hendaklah engkau menerangkan isi al-Kitab itu kepada manusia, dan janganlah engkau menyembunyikannya.”” (Āli ‘Imrān [3]: 187).

Ini menjadi dasar hukum dan sekaligus dalil, bahwa mengajarkan ilmu itu berkedudukan wajib. Sebagaimana Allah s.w.t. juga berfirman:

وَ إِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ

“Sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (al-Baqarah [2]: 146).

Ayat ini menunjukkan, bahwa menyembunyikan ilmu itu sangat dilarang, sebagaimana firman-Nya s.w.t. tentang larangan menyembunyikan kesaksian,

وَ لاَ تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَ مَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ

“Dan janganlah engkau menyembunyikan kesaksian. Sebab perlakuan seperti itu hanyalah atas orang yang berdosa (sakit) jiwanya.” (al-Baqarah [2]: 283).

Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda:

مَا آتَى اللهُ عَالِمًا عِلْمًا إِلاَّ وَ أَخَذَ عَلَيْهِ مِنَ الْمِيْثَاقِ مَا أَخَذَ عَلَى النَّبِيِّيْنَ أَنْ يُبَيِّنُوْهُ لِلنَّاسِ وَ لاَ يَكْتُمُوْهُ

“Allah s.w.t. tidak akan memberikan ilmu kepada seseorang yang menuntut ilmu, melainkan Dia telah mengambil janji seperti yang diambil-Nya dari para Nabi, yaitu: mereka akan menerangkan ilmu itu kepada manusia, dan sekali-kali tidak akan menyembunyikannya.” (681).

Allah s.w.t. berfirman:

وَ مَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَ عَمِلَ صَالِحًا

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih?” (Fushshilat [41]: 33).

Allah s.w.t. juga berfirman:

أُدْعُ إِلِى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah manusia ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” (an-Nahl [16]: 125).

Allah s.w.t. juga berfirman:

وَ يُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَ الْحِكْمَةَ

“Dia mengajarkan al-Kitab dan al-Hikmah kepada mereka.” (al-Baqarah [2]: 129).

Sedangkan pada serangkaian hadis atau khabar dari Nabi Muhammad s.a.w., pernah diriwayatkan ketika beliau berpesan kepada Mu‘adz bin Jabal r.a. saat mengutusnya ke negeri Yaman.

لِأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَ مَا فِيْهَا

“Dan jika berkat pengajaranmu Allah s.w.t. memberi petunjuk kepada seseorang, maka bagimu itu lebih baik daripada dunia beserta isinya.” (692).

Nabi Muhammad s.a.w. juga pernah bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ لِيُعَلِّمَ النَّاسَ أُعْطِيَ ثَوَابَ سَبْعِيْنَ صِدِّيْقًا

“Siapa saja yang mempelajari satu bab dari suatu ilmu untuk kemudian diajarkannya kepada orang lain, maka baginya diberikan pahala sama dengan tujuh puluh orang shiddiq.(703).” (714).

Nabi ‘Isa a.s. diriwayatkan pernah bersabda: “Siapa saja yang berilmu dan beramal serta mengajarkannya, maka ia disebut sebagai seorang yang mulia di setiap lapisan langit.”

Kemudian Nabi s.a.w. juga pernah bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُوْلُ اللهُ سُبْحَانَهُ لِلْعَابِدِيْنَ وَ المُجَاهِدِيْنَ: اُدْخُلُوا الْجَنَّةَ، فَيَقُوْلُ الْعُلَمَاءُ: بِفَضْلِ عِلْمِنَا يَعْبُدُوْا وَ جَاهَدُوْا، فَيَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ: أَنْتُمْ عِنْدِيْ كَبَعْضَ مَلاَئِكَتِيَ اشْفَعُوْا تُشْفِعُوْا فَيَشْفَعُوْنَ ثُمَّ يُدْخِلُوْنَ الْجَنَّةَ

“Apabila Hari Kiamat datang, maka Allah s.w.t. berfirman kepada orang-orang yang gemar beribadah dan orang-orang yang berjihad: “Masuklah kalian ke dalam surga.” Berkatalah para ahli ilmu (ulama): “Dengan kelebihan ilmu yang telah Engkau anugerahkan kepada kami, maka para hamba-Mu dapat beribadah dan berjihad di jalan-Mu.” Maka Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Kalian di sisi-Ku seperti para malaikat-Ku, berikanlah syafa‘at, niscaya kalian mendapat syafa‘at.” Lalu mereka memberi syafa‘at, dan mereka pun masuk surga.” (725).

Derajat atau tingkat keutamaan para ulama itu disebabkan ilmu yang telah dianugerahkan Allah s.w.t. kepada mereka, yang selalu bertambah dan senantiasa mereka ajarkan kepada sesama manusia; bukan yang beku, yang tidak dikembangan, atau sengaja disembunyikan dari pengetahuan manusia lain. Sebagaimana Rasulullah s.a.w. pernah bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَنْتَزِعُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا مِنَ النَّاسِ بَعْدَ أَنْ يُؤْتِيَهُمْ إِيَّاهُ وَ لكِنْ يَذْهَبُ بِذَهَابِ الْعُلَمَاءِ، فَكُلَّمَا ذَهَبَ عَالِمٌ ذَهَبَ بِمَا مَعَهُ مِنَ الْعِلْمِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ إِلاَّ رُؤَسَاءَ جُهَّالاً إِنْ سُئِلُوْا أَفْتُوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَيَضِلُّوْنَ وَ يُضِلُّوْنَ

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak mencabut ilmu dari sisi manusia yang telah dianugerahi oleh-Nya. Akan tetapi, keberadaan ilmu justru Allah tarik (cabut) dari sisi manusia bersamaan meninggal dunianya para ulama. Setiap kali seorang ulama meninggal dunia, maka bersamanya pula diangkat keberadaan ilmu, sehingga tidak ada yang tertinggal di muka bumi selain orang-orang jahil yang apabila mereka dimintai fatwa akan memberinya tanpa ilmu. Maka tersesatlah mereka, dan tersesat pula orang lain atas kejahilan mereka yang berfatwa tanpa dilandasi ilmu.” (736).

Nabi s.a.w. juga pernah bersabda:

مَنْ عَلِمَ عِلْمًا فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

“Siapa saja yang mengetahui suatu ilmu, lalu menyembunyikannya dari sisi manusia, maka Allah s.w.t. akan mengalungkan pada lehernya tali kekang yang terbuat dari api neraka pada Hari Kiamat nanti.” (747).

Nabi s.a.w. juga pernah bersabda:

نِعْمَ الْعَطِيَّةُ وَ نِعْمَ الْهَدِيَّةُ كَلِمَةُ حِكْمَةٍ تَسْمَعُهَا فَتْطَوَى عَلَيْهَا ثُمَّ تَحْمِلُهَا إِلَى أَخٍ لَكَ مُسْلِمٍ تُعَلِّمُهُ إِيَّاهَا تَعْدِلُ عِبَادِةً سَنَةٍ

“Sebaik-baik pemberian adalah kata-kata yang mengandung hikmah. Engkau mendengar, lalu engkau menyimpannya baik-baik, kemudian engkau menyampaikan kepada saudaramu sesama Muslim, dengan cara engkau mengajarkan kepada mereka. Nilai amalan tersebut setara dengan ibadah yang dilakukan selama satu tahun penuh.” (758).

Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda pada riwayat yang lain:

الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِيْهَا إِلاَّ ذِكْرِ اللهِ سُبْحَانَهُ وَ مَا وَالاَهُ أَوْ مُعَلِّمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا

“Hinalah nilai dunia beserta isinya, kecuali bagi orang-orang yang selalu ingat kepada Allah (dzikrullah). Dan, hina pula nilai apa saja di permukaan bumi, kecuali segala sesuatu yang disukai oleh Allah, yaitu menjadi pengajar atau pelajar.”

Nabi Muhammad s.a.w. juga pernah menyatakan di dalam sabda beliau:

إِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَ مَلاَئِكَتَهُ وَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَ أَرْضِهِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِيْ جُحْرِهَا وَ حَتَّى الْحُوْتَ في الْبَحْرِ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Bahwasanya Allah s.w.t., para malaikat-Nya, isi langit dan bumi-Nya, bahkan semut-semut di dalam lubang beserta ikan-ikan di lautan, semua berdoa bagi kebaikan mereka yang gemar mengajarkan ilmu kepada oleh lain.” (769).

Nabi s.a.w. juga pernah bersabda:

مَا أَفَادَ الْمُسْلِمُ أَخَاهُ فَائِدَةً أَفْضَلَ مِنْ حَدِيْثٍ حَسَنٍ بَلَغَهُ فَبَلَّغَهُ

“Tidak ada amalan yang lebih utama bagi seorang Muslim terhadap sesama Muslim selain dari pembicaraan baik yang sampai kepadanya, lalu disampaikan kepada sesama Muslim lainnya.” (7710).

Nabi s.a.w. juga pernah bersabda:

كَلِمَةٌ مِنَ الْخَيْرِ يَسْمَعُهَا الْمُؤْمِنُ فَيُعَلِّمُهَا وَ يَعْمَلُ بِهَا خَيْرٌ لَهُ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ

“Seuntai kalimat bijak yang didengar seorang Mukmin, lalu diamalkan dan diajarkan kepada sesama, jauh lebih baik nilainya daripada ibadah (sunah – penerj.) yang dilakukan selama satu tahun penuh.” (7811).

Pada suatu hari, Rasulullah s.a.w. mengadakan perjalanan bersama beberapa orang sahabat beliau. Di tengah perjalanan, beliau mendapati ada dua majelis. Majelis yang pertama diisi dengan berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Sedangkan majelis yang lain tengah mengajarkan perkara-perkara agama. Melihat kedua kondisi tersebut, Nabi s.a.w. bersabda:

أَمَّا هؤُلاَءِ فَيَسْأَلُوْنَ اللهَ تَعَالَى فِإِنْ شَاءَ أَعْطَاهُمْ وَ إِنْ شَاءَ مَنِعَهُمْ، وَ أَمَّا هؤُلاَءِ فَيُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ وَ إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا، ثُمَّ عَدَّلَ إِلَيْهِمْ وَ جَلَسَ مَعَهُمْ

“Bagi mereka yang berdoa kepada Allah ta‘ala, jika Allah menghendaki pasti doa mereka akan terkabul. Dan jika Allah tidak menghendaki, maka pasti doa itu ditolak-Nya. Sedangkan mereka yang berada di majelis kedua, yang sedang mengajarkan ilmu kepada sesama, adalah seperti maksud Allah mengutusku ke dunia ini, yaitu untuk mengajarkan agama Islam. Kemudian Rasulullah s.a.w. bergabung ke dalam majelis yang kedua, lalu beliau duduk bersama mereka.” (7912).

Nabi s.a.w. juga pernah bersabda:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَ الْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيْرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا بُقْعَةً قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَ الْعُشْبَ الْكَثِيْرَ، وَ كَانَتْ مِنْهَا بُقْعَةً أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوْا مِنْهَا وَ سَقُوْا وَ زَرَعُوْا، وَ كَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةً قِيْعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَ لاَ تُنْبِتُ كَلَأَ

“Perumpamaan Allah ‘azza wa jalla mengutus aku dengan petunjuk (hidayah) dan ilmu laksana hujan lebat yang menyirami bumi. Ada tanah yang bisa menerima (menyerap) air hujan, lalu menumbuhkan rumput maupun tumbuhan lainnya. Ada pula tanah yang dapat menampung air hujan itu, sehingga tersimpan berbentuk seperti sungai atau laut. Lalu Allah ‘azza wa jalla memberi manusia karunia untuk memanfaatkannya. Maka manusia bisa minum, mencuci dan bercocok tanam dari air-air tersebut. Dan ada pula tanah yang gersang, tidak mampu menahan air, dan tidak pula bisa menumbuhkan rumput maupun tumbuhan lainnya.” (8013).

Perumpamaan yang pertama adalah contoh hidup bagi orang yang bisa menarik keuntungan dari ilmu yang dimilikinya. Perumpamaan yang kedua adalah contoh hidup bagi orang yang mampu memanfaatkan ilmu hidup bagi orang yang tidak memperoleh apa pun dari kedua contoh hidup sebelumnya.

Nabi Muhammad s.a.w. kemudian bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلَهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ:…..عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ

“Apabila seorang keturunan Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara; satu di antara ketiganya adalah…. ilmu yang bermanfaat.” (8114).

Nabi s.a.w. juga pernah bersabda:

الدَّالُّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

“Menuntun orang lain ke jalan kebajikan sama dengan mengerjakan kebajikan itu sendiri.” (8215).

Pada riwayat lainnya, Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٍ آتَاهُ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِيْ بِهَا وَ يُعَلِّمُهَا النَّاسَ، وَ رَجُلٍ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْخَيْرِ

“Tidak diizinkan bersikap iri kecuali pada dua perkata: terhadap seseorang yang diberi ilmu oleh Allah ‘azza wa jalla, sehingga keadilan ditegakkan karena ilmunya, dan diajarkan ilmu itu kepada sesama manusia. Yang kedua, terhadap seseorang yang diberi harta oleh Allah, yang dengan hartanya itu ia pergunakan untuk jalan kebajikan.” (8316).

Nabi s.a.w. pernah berujar kepada para sahabat beliau: “Semoga kasih sayang Allah senantiasa tercurah kepada para penerusku (para khalifah).” Salah seorang sahabat bertanya: “Siapakah para penerusmu itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka yang menghidupkan Sunnahku dan mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah.” (8417)

Adapun perkataan para sahabat (atsar) yang memuat perihal keutamaan mengajar adalah apa yang pernah disampaikan oleh ‘Umar Ibnul-Khaththab r.a.: “Siapa saja yang menceritakan sebuah hadis, lalu orang lain ikut mengamalkannya, maka baginya pahala seperti pahala yang diterima orang yang ikut mengamalkannya itu.”

Ibnu ‘Abbas r.a. juga pernah mengatakan: “Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang banyak, niscaya semua makhluk akan memintakan ampunan baginya; bahkan ikan-ikan di lautan pun turut mendoakannya.”

Sebagian ulama mengatakan: “Orang berilmu berada di antara Allah s.w.t. dan makhluk-Nya, maka hendaklah ia selalu memperhatikan bagaimana ia berada di antara keduanya.”

Sufyan ats-Tsauri (8518) raḥimahullāh pernah mendatangi satu wilayah yang bernama ‘Asqalan (8619), dan di sana ia sempat berhenti di suatu tempat di mana tiada satu orang pun menanyakan perihal ilmu agama kepada dirinya. Maka Sufyan pun berkata kepada salah seorang dari penduduk di wilayah tersebut: “Tolong sediakan untukku ruang (kesempatan) agar aku bisa membenahi wilayah ini. Sebab, di sini adalah satu wilayah yang kehidupan penduduknya seperti mati, lantaran mereka tiada menggemarkan diri dalam menuntut ilmu agama.” Sufyan ats-Tsauri mengatakan kalimat itu demi menjelaskan kepada penduduk wilayah ‘Asqalan betapa pentingnya arti belajar dan mengajarkan ilmu agama di sepanjang kehidupan.

‘Atha’ r.a. juga pernah menyampaikan: “Aku berkunjung ke kediaman Sa‘id bin al-Musayyab, dan ia aku dapati tengah menangis. Aku pun memberanikan diri bertanya perihal sebab mengapa ia sampai menangis? Sa‘id pun menjawab: “Aku menangis disebabkan sudah cukup lama tidak ada satu orang pun yang mau bertanya kepadaku mengenai ilmu agama”.

Al-Hasan al-Bashri raḥimahullāh berkata: “Kalau saja ulama tidak ada di tengah-tengah kita, niscaya pola kehidupan manusia laksana binatang (tanda kendali). Dengan kata lain, berkat jasa ulama yang mengajarkan ilmu, manusia bisa keluar dari alam kebinatangan dan masuk ke alam kemanusiaan yang dimuliakan.”

‘Ikrimah mengatakan: “Ilmu agama itu sungguh sangat berharga bagi manusia. Ditanyakan kepadanya: “Seperti apa harga sebuah ilmu agama?” Dijawab oleh ‘Ikrimah: “Jika engkau sematkan ilmu agama itu kepada diri seseorang, niscaya ia akan membawanya kepada kebaikan; dengan tidak menyia-nyiakan fungsi hidup di alam dunia ini.”

Yahya bin Mu‘adz mengatakan: “Ulama yang baik itu lebih mencintai umta Nabi Muhammad s.a.w. ketimbang ibu dan ayah mereka sendiri.” Lalu ditanyakan kepada Yahya bin Mu‘adz: “Bagaimana mungkin kondisi cinta semacam itu bisa terjadi?” Yahya menjawab: “Sebab, seorang ayah atau ibu akan menjaga anak-anak mereka dari jerat neraka dunia, sedangkan para ulama yang baik akan menjaga mereka dari jerat neraka akhirat; yang jauh lebih kekal.”

Ada pendapat yang mengatakan: “Permulaan ilmu itu diawali dengan berdiam (mempersiapkan) diri, kemudian mendengar, setela itu menghafal, kemudian mengerjakan (mengamalkan), dan setelah itu menyampaikannya kepada orang lain (mensyi‘arkannya).”

Pendapat lain mengatakan: “Ajarkanlah ilmu yang engkau miliki kepada siapa saja yang belum mengetahuinya. Di sisi lain, terus (tetap) belajarlah dari orang laing yang lebih berilmu atas apa saja yang tidak (belum) engkau ketahui. Apabila engkau berlaku seperti itu, niscaya engkau akan mengetahui apa saja yang belum sempat ketahui, dan engkau pasti akan mendapat keberkahan berupa me-refresh (menguatkan ingatan atas) ilmu yang sudah engkau miliki; dengan mengajarkannya kepada pihak lain.”

Mengutip hadis Nabi s.a.w., Mu‘adz bin Jabal r.a. berkata – secara marfū‘ -: “Tuntutlah ilmu, sebab menuntut ilmu karena Allah s.w.t. itu merupakan perwujudan dari sikap takwa kepada-Nya. Menuntut ilmu bagian dari ibadah, mengulang-ulanginya berarti tasbih. Membahas atau membicarakan ilmu senilai dengan berjihad di jalan-Nya. Mengajarkan ilmu kepada orang yagn tidak mengetahui berarti sedekah. Memperolehnya (ilmu) dari ahlinya (para ulama) berarti mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Ilmu adalah teman di kala sendirian, dan sahabat di waktu kesepian. Ilmu juga menjadi petunjuk menuju jalan agama, pemberi nasihat bagi kesabaran di waktu suka maupun duka, penghibur lara di tengah-tengah kegelisahan, teman sejawat serta kerabat dekat di tengah-tengah orang yang asing, dan sekaligus pelita bagi jalan menuju surga. Dengan ilmu, Allah s.w.t. mengangkat derajat beberapa kaum, menjadikan mereka peminpin, pembimbing, dan penunjuk jalan kepada kebajikan. Orang menjadikan mereka (para ulama) perintis dan penunjuk jalan menuju kebajikan. Jejak mereka diikuti, amal para ulama itu pun menjadi perhatian kita semua. Para malaikat suka kepada tindakan para ulama, menaungi mereka dengan sayap-sayap kemuliaan. Semua yang basah dan yang kering memintakan ampunan atas dosa para pengajar, bahkan ikan dan binatang di laut, binatang buas serta jinak di daratan, udara, sekaligus makhluk-makhluk di ruang angkasa dan bintang-gemintang juga turut mendoakan kebaikan bagi mereka.” (8720).

Ilmu agama mampu menghidupkan jiwa dari kegelapan yang melingkupinya, cahaya terang dari kegelapan rasa, dan sebagai tenaga dahsyat yang mampu membangkitkan diri dari kelemahan. Dengan ilmu, seorang hamba Allah s.w.t. akan sampai kepada derajat mulia. Menuntut ilmu sama nilainya dengan berpuasa, dan mengulang-ulanginya sama dengan mengerjakan shalat sunah. Dengan ilmu orang dapat berbuat ketaatan kepada Allah s.w.t., beribadah, bersumpah, bertauhid, berperilaku terpuji, bersikap wara‘, menjalin silaturrahim, mengetahui yang halal maupun haram. Kita memohon kepada Allah s.w.t., agar kiranya senantiasa mendapat petunjuk, taufik, dan hidayah dari sisi-Nya.

 

Catatan:


  1. 68). Diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dalam Fadhl-ul-‘Ālim-il-‘Afīf, dari hadits Ibnu Mas‘ud dengan sedikit perbedaan pada redaksinya. Dalam buku al-Khal‘iyāt juga terdapat riwayat serupa dengan sedikit perbedaan pada redaksinya, dari hadits Abu Hurairah r.a. Ibnu Jauzi rahimahullāh juga pernah meriwayatkan dalam Al-‘Ilal, Jilid 1, hlm. 104. Imam al-Albani raḥimahullāh mengomentari riwayat ini dalam Dha‘īf-ul-Jāmi‘, hadits nomor 4976, sangat lemah (dha‘īf jiddan). 
  2. 69). Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari hadits Mu‘adz bin Jabal r.a. Dalam kitab ash-Shaḥīḥain diriwayatkan dari hadits Sahal bin Sa‘ad, bahwa sesungguhnya Nabi s.a.w. Sallam pernah pula berpesan seperti itu, dan beliau sampaikan kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. 
  3. 70). Shiddīq adalah orang yang selalu berusaha untuk berbenah diri dan membenarkan apa yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Contohnya adalah, Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. – penerj. 
  4. 71). Diriwayatkan oleh Abu Manshur ad-Dailami dalam Musnad-u-Firdaus, dari hadits Ibnu Mas‘ud r.a. dengan sanad lemah (dha‘īf). 
  5. 72). Diriwayatkan oleh Abul-‘Abbas adz-Dzahabi dalam al-‘Ilm, dari hadits Ibnu ‘Abbas r.a. dengan sanad lemah (dha‘īf). 
  6. 73). Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun ‘alaih) dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar r.a. 
  7. 74). Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Imam al-Hakim dalam kitab Shaḥīḥ miliknya, dari hadits Abu Hurairah r.a. Imam at-Tirmidzi berkomentar, bahwa status riwayat ini adalah ḥasan. 
  8. 75). Riwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dari hadits Ibnu ‘Abbas r.a. dengan redaksi yang sedikit berbeda, dan status isnād-nya lemah (dha‘īf). 
  9. 76). Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari hadits Abu Umamah, dan mengatakan bahwa statusnya gharīb. Pada bagian riwayat milik Imam at-Tirmidzi yang lain disebutkan, bahwa status riwayat ini adalah shaḥīḥ. Saya (muḥaqqiq) berpendapat, Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dalam kitab Sunan miliknya, hadits nomor 2685. Imam al-Haitsami juga meriwayatkan dalam al-Mujma‘, Jilid I, hlm. 124. Imam al-Albani menyebutkan riwayat ini dalam Shaḥīḥ-ul-Jāmi‘, hadits nomor 1838, lalu menyatakan, status riwayat ini adalah shaḥīḥ. 
  10. 77). Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr dari jalur Muhammad bin al-Munkadir secara mursal dengan sedikit perbedaan pada redaksinya. Diriwayatkan pula oleh Abu Nu‘aim dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar r.a. (مَا أَهْدَى مُسْلِمَ لِأَخِيْهِ هَدِيَّةً أَفْضَلُ مِنْ كَلِمَةٍ تُزِيْدَهُ هُدًى أَوْ تُرَدُّهُ عَنْ رَدٍّى) “Tidak ada petunjuk seorang Muslim kepada saudaranya sesama Muslim yang lebih utama daripada kalimat petunjuk yang diikuti dengan amalan (contoh), atau dicontohkan sebelum disampaikan.” Saya (muḥaqqiq) berpendapat, redaksi ini adalah milik Imam al-Baihaqi, sebagaimana terdapat dalam asy-Syu‘ab, Jilid 2, hadits nomor 1764. Imam al-Albani mengatakan dalam Dha‘īf-ul-Jāmi‘, hadits nomor 5032, statusnya lemah (dha‘īf). 
  11. 78). Diriwayatkan oleh Ibnul-Mubarak dalam az-Zuhdu war-Raqā’iq dari riwayatkan Ziyad bin Aslam secara mursal dengan redaksi yang sedikit berbeda. Dalam Musnad al-Firdaus diriwayatkan pula dari hadits Abu Hurairah r.a. dengan sanad lemah (dha‘īf), (كَلِمَةٌ حِكْمَةٌ يَسْمَعُهَا الرَّجُلَ خَيْرٌ لَهُ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ) “Kalimat yang mengandung hikmah yang keluar dari lisan seorang pengajar (guru) jauh lebih baik nilainya daripada ibadah yang dilakukan selama satu tahun.” 
  12. 79). Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari hadits ‘Abdullah bin ‘Umar r.a. dengan sanad lemah (dha‘īf). 
  13. 80). Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun ‘alaih), dari hadits Abu Musa al-Asy‘ari r.a. 
  14. 81). Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah r.a. 
  15. 82). Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari hadits Anas bin Malik r.a. Imam at-Tirmidzi menyatakan, statusnya gharīb. Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim, Abu Dawud, dan Imam at-Tirmidzi, yang kemudian men-shaḥīḥ-kannya, dari hadits Abu Mas‘ud al-Badri dengan redaksi (مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلُهُ) “Siapa saja yang menuntun orang lain mengerjakan tindak kebajikan, maka baginya akan mendapatkan balasan sama (serupa) dengan orang lain yang ikut mengerjakan kebajikan tersebut.” Saya (muḥaqqiq) berpendapat status riwayat yang kami sampaikan ini adalah shaḥīḥ. Sebagaimana Syaikh al-Albani raḥimahullāh berpendapat dalam ash-Shaḥīḥah miliknya, hadis nomor 1660, dengan menjelaskan bahwa status riwayat ini adalah shaḥīḥ. 
  16. 83). Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim (Muttafaqun ‘alaih), dari hadis Ibnu Mas‘ud r.a. 
  17. 84). Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr dalam al-‘Ilm, juga oleh al-Harwi dalam Dzamm-ul-Kalām, dari hadis al-Hasan – ada pendapat yang menyatakan, bahwa al-Hasan yang dimaksudkan adalah Ibnu ‘Ali, dan ada pula pendapat yang mengatakan al-Hasan dimaksud adalah Ibnu Yassar al-Bashri – secara mursal. Diriwayatkan pula oleh Ibnus-Sunni dan Abu Nu‘aim dalam Riyādhat-ul-Muta‘allimīn, dari hadis ‘Ali dengan redaksi yang sedikit berlainan. 
  18. 85). Sufyan ats-Tsauri adalah Abu ‘Ubaidillah Sufyan bin Sa‘id bin Masruq ats-Tsauri, seorang ahli hadis dan mujtahid yang cukup dikenal dari Kufah. Meninggal dunia tahun 161 Hijrah. Lihat biografinya dalam Thabaqāt Ibni Sa‘ad, Jilid 6, hlm. 371 – penerj. 
  19. 86). ‘Asqalan merupakan wilayah yang cukup dikenal di Palestina, dan merupakan kota tepi pantai tempat asal dari kedua orang tua Ibnu Hajar al-‘Asqalani sebelum berhijrah ke Mesir. Penulis buku Bulūgh-ul-Marām min ‘Adillat-il-Aḥkām – penerj. 
  20. 87). Diriwayatkan oleh Abusy-Syaikh Ibnu Hayyan dalam kitab ats-Tsawāb. Juga oleh Ibnu ‘Abdil-Barr, dan ia mengatakan “Isnād pada riwayat ini bukanlah termasuk yang cukup kuat.” 

Bagikan ('Amal Jāriyah):

Tinggalkan Pesan

avatar
Lewat ke baris perkakas