Doa yang Terkabul – Al-Ma’tsurat

Al-Ma’tsūrāt
Kitab Doa Tertua

Diterjemahkan dari: Ad-Du‘ā-ul-Ma’tsūru wa Ādābuhu wa Mā Yajibu ‘alad-Dā’i Ittibā‘uhu
Karya: Abū Bakr ath-Thurthūsyī al-Andalūsī
 
Penerjemah: Muhammad Zaenal Arifin
Penerbit: Zaman

5.

Doa yang Terkabul

 

Diriwayatkan dari Abū Dāwūd bahwa Nabi s.a.w. bersabda: “Tiga doa yang pengabulannya tak diragukan lagi; doa kedua orang tua, doa orang yang bepergian, dan doa orang yang terzhalimi.”

Doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa yang dipanjatkan untuk kebaikan orang lain. Diriwayatkan oleh al-Bukhārī dari Ibnu ‘Abbās bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda kepada Mu‘ādz: “Takutlah kepada doa orang yang terzhalimi. Sesungguhnya tidak ada penghalang di antara doanya dan Allah.”

‘Alī ibn Abī Thālib berkata: “Bagaimana pun juga, doa orang yang terzhalimi akan dikabulkan. Sebab, orang yang terzhalimi memohon haknya kepada Allah, sementara Allah s.w.t. takkan menghalangi seseorang untuk mendapatkan haknya.”

Dikatakan bahwa doa seseorang takkan dikabulkan kecuali dirinya tulus-ikhlash berdoa. Diriwayatkan oleh Mālik di al-Muwaththa’ bahwa ‘Umar pernah menugaskan seseorang bernama Hunay agar menjaga daerah Hima (kawasan dengan sumber air dan rerumputan, penerj.). ‘Umar berkata pada Hunay: “Wahai Hunay, jagalah dirimu dari manusia, dan takutlah pada doa orang yang terzhalimi karena doa mereka dikabulkan. Masukkanlah ke sini (Hima) orang-orang miskin yang hanya memiliki unta dan gembala sedikit, dan cegahlah hewan gembala Ibnu ‘Affān dan Ibnu ‘Awf masuk ke sini karena meskipun gembala keduanya binasa maka keduanya masih bisa kembali ke Madīnah dan memanfaatkan ladang dan pohon kurmanya. Sementara itu, jika gembala orang-orang miskin yang binasa maka mereka akan mendatangiku bersama keluarganya dan berteriak: “Wahai Amīr-ul-Mu’minīn! Wahai Amīr-ul-Mu’minīn! Bukankah mereka (orang-orang kaya semisal Ibnu ‘Affān dan Ibnu ‘Awf) telah mengabaikan aku? Sungguh, air dan rerumputan itu jauh lebih ringan bagiku ketimbang emas dan perak.” Demi Allah, mereka (orang-orang miskin) akan menganggapku telah menzhalimi mereka. Demi merebutkan tanah dan air, mereka telah saling bunuh di masa Jahiliah dulu, lalu menyerahkan itu semua di masa Islam. Demi Dzāt yang menggenggam jiwaku, seandainya saja harta mereka tidak dipergunakan untuk berjihad di jalan Allah, niscaya aku takkan pernah melindungi sejengkal pun tanah mereka.”

Diriwayatkan oleh Muslim bahwa Nabi s.a.w. bersabda: “Barang siapa yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu malaikat yang diwakilkan padanya akan berkata: “Amin, dan engkau juga beroleh manfaat yang sama.

Riwayat lain menyebutkan: “Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu adalah mustajāb (diterima), dan di sisi kepalanya seorang malaikat yang ditugaskan oleh Allah. Setiap kali ia mendoakan saudara muslimnya dengan doa yang baik, malaikat itu akan berkata: “Amin, dan engkau juga beroleh manfaat yang sama.”

Hadits ini mengandung makna yang begitu besar. Jika doamu untuk saudaramu itu dikabulkan karena engkau mendoakannya tanpa sepengetahuan dirinya, maka kami berharap agar doa malaikat untukmu juga akan dikabulkan karena engkau tidak mengetahuinya.

Makna seperti ini juga terkandung pada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Allah s.w.t. mewahyukan kepada Mūsā: “Berdoalah kepada-Ku dengan lisan yang tidak bermaksiat kepada-Ku.”

Diriwayatkan oleh Mālik dari ‘Ubādah ibn Shāmit dan selainnya bahwa Rasūlullāh s.a.w. pernah bersabda: “Barang siapa yang bangun dari tidur pada malam hari, lalu mengucap: lā ilāha illā Allāhu waḥdahu lā syarīka lahu, lah-ul-mulku wa lah-ul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’ qadīr, alḥamdulillāh, subḥānallāh, allāhu akbar, wa lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh, lalu mengucapkan allāhumm-aghfir lī (Ya Allah, ampunilah segala dosaku) dan berdoa maka doanya akan dikabulkan.”

Ibnu ‘Athā’ berkata: “Doa yang paling besar kemungkinannya dikabulkan adalah doa dalam situasi darurat (du‘ā’-ul-ḥāl). Artinya, orang yang berdoa harus berada dalam keadaan darurat dan mendesak. Dalam keadaan seperti ini, barang siapa yang berdoa dan memohon suatu permintaan maka doanya akan dikabulkan Allah s.w.t. berfirman: “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan doa orang yang tengah berada dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya.” (al-Naml [27]: 62).”

Ini menunjukkan bahwa orang yang tengah mengalami kesulitan dan kesusahan hendaknya tidak mencegah diri untuk berdoa, selain menunjukkan bahwa doanya akan diterima dan dikabulkan.

Allah s.w.t. berfirman: “(Ingatlah) ketika kamu memohon perlindungan kepada Tuhanmu, lalu diperkanankan-Nya bagimu.” (al-Anfāl [8]: 9).

Ayat ini dan ayat semisalnya menggugurkan pandangan orang yang menyebutkan bahwa seorang hamba takkan mendapatkan manfaat apa-apa dari doa yang dipanjatkan. Padahal, ayat di atas secara gamblang menyebutkan bahwa Allah s.w.t. mengabulkan doa orang yang memohon kepada-Nya.

Situasi darurat atau kesulitan yang dimaksud oleh Ibnu ‘Athā’ di atas adalah seperti orang yang tengah tenggelam atau orang yang kehabisan air di padang pasir hingga membuatnya kehausan dan hampir meninggal dunia.

‘Abdullāh ibn al-Makānisī berkata: “Aku tengah bersama al-Junayd, lalu seorang perempuan datang kepadanya dan berkata: “Berdoalah kepada Allah s.w.t. untukku. Anakku telah hilang.” Al-Junayd lalu berkata: “Pulanglah dan sabarlah.” Perempuan itu pulang, lalu kembali lagi menemui Junayd. Ia kemudian mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakannya saat pertama kali menemui al-Junayd, dan al-Junayd pun mengatakan jawaban yang sama. Ini terjadi sampai tiga kali. Al-Junayd berkata: “Bersabarlah dan pulang-lah kembali ke rumah.” Perempuan itu menjawab: “Kesabaranku telah habis, dan aku tidak mempunyai lagi tenaga. Berdoalah kepada Allah s.w.t. untukku.” Al-Junayd kemudian berkata: “Jika benar apa yang engkau katakan, pulanglah. Anakmu sudah kembali ke rumah.” Perempuan itu pun pulang, lalu tak lama berselang kembali lagi menemui al-Junayd dan mengucap terimakasih kepadanya. Dikatakan pada al-Junayd: “Dari mana engkau tahu jika anaknya telah kembali ke rumah?” al-Junayd menjawab: “Allah s.w.t. telah berfirman: “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan doa orang yang tengah berada dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya”.” (an-Naml [27]: 62).”

Jadi, salah satu sebab terkuat dikabulkannya doa adalah ketika seseorang benar-benar berada dalam keadaan kesulitan dan darurat. Hal ini juga bisa dilihat pada sebuah hadits riwayat al-Bukhārī tentang kisah tiga orang laki-laki yang bersembunyi di sebuah gua, lalu sebongkah batu besar runtuh dari atas gunung dan jatuh menutupi pintu gua. Ketiganya pun terkurung dan tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka saling berkata satu sama lain: “Renungkanlah amal kebaikan yang telah engkau lakukan. Berdoalah kepada Allah s.w.t. (dengan amal kebaikan itu), semoga Dia membebaskan kita dari kesulitan ini.” Salah seorang dari mereka berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai dua orang tua yang sudah renta dan anak-anak yang masih kecil. Aku selalu menjaga dan melindunigi mereka. Sore hari sebelum kembali ke mereka, aku terlebih dahulu memerah susu untuk mereka. Aku pun mulai dengan kedua orangtuaku; aku memberi minum keduanya terlebih dahulu sebelum anak-anakku. Suatu hari, aku pulang terlambat dan mendapati keduanya sudah tertidur pulas. Aku memerah susu sebagaimana biasa, lalu membawa susu itu dan berdiri dekat kepala keduanya. Aku tidak ingin membangunkan mereka, dan aku juga tidak mau mendahulukan memberi minum susu anak-anakku meminta minum susu. Keadaan ini terus berlangsung sampai fajar tiba. Kiranya Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu semua semata-mata ingin mencari keridaan-Mu, maka buatlah kami bisa melihat langit.” Tak lama berselang, Allah s.w.t. mengabulkan doanya, dan membuatkan sebuah lubang sehingga ketiganya bisa melihat langit.
Seorang yang lain berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai seorang sepupu perempuan yang sangat aku cintai sebagaimana cinta laki-laki pada perempuan. Ku memintanya agar menyerahkan dirinya, tapi ia menolak sampai aku bisa memberinya uang sebesar seratus dinar. Aku pun bersusah payah mengumpulkan uang itu sampai akhirnya berhasil. Aku lalu mendatanginya dengan uang itu. Ketika aku menjatuhkan diriku di antara kedua kakinya, ia berkata kepadaku: “Wahai ‘Abdullah, bertaqwalah kepada Allah. Jangan engkau buka cincin (merusak kehormatan) ini kecuali dengan haknya (pernikahan).” Aku langsung berdiri meninggalkannya. Kiranya Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu semua semata-mata ingin mencari keridaan-Mu, maka buatlah kami gembira dengan sebuah lubang yang darinya kami bisa melihat langit.” Tak lama berselang, Allah s.w.t. mengabulkan doanya, dan membuatkan sebuah lubang sehingga ketiganya bisa melihat langit.
Orang ketiga dari mereka berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku pernah memberi upah kepada seorang laki-laki dengan sekarung besar beras. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, ia berkata: “Berikanlah upahku.” Aku pun memberinya upah itu, tapi ia tidak mau menerimanya. Dari upahnya itu, aku berhasil membeli seekor sapi dan penggembalanya. Suatu hari, laki-laki itu datang kepadaku dan berkata: “Berikanlah upahku.” Aku pun berkata padanya: “Ambillah sapi itu berikut penggembalanya.” Ia balik berkata: “Jangan mempermainkanku.” Aku menjawabnya: “Aku tidak mempermainkanmu. Ambillah itu semua.” Ia pun mengambilnya. Kiranya Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu semua semata-mata ingin mencari keridaan-Mu, maka buatlah kami gembira dengan sebuah lubang yang darinya kami bisa melihat langit.” Tak lama berselang, Allah s.w.t. mengabulkan doanya, dan membuatkan sebuah lubang. (321)

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhārī.

Inilah rahmat Allah s.w.t. kepada kita semua. Kasih-sayang Dzāt Maha Pengasih-Pemaksa kepada orang-orang yang memohon kepada-Nya ketika tengah berada dalam kesulitan.

Diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dari Mu‘ādz ibn Jabal bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda: “Tak ada seorang muslim yang tidur dalam keadaan suci (mempunyai wudhu’), lalu terbangun pada malam hari dan memohon kebaikan di dunia dan akhirat kepada Allah, kecuali Allah s.w.t. akan memberikan apa yang dimintanya itu.” (332)

Diriwayatkan oleh ‘Abdullāh ibn Shāmit bahwa Ja‘far ash-Shādiq berkata: “Barang siapa yang ditimpa suatu masalah, lalu mengucap “rabbanā, rabbanā” sebanyak lima kali dan berdoa, niscaya Allah s.w.t. akan menyelamatkannya dari apa yang ditakutkannya dan memberikan apa yang diinginkannya”. Di sini, Ja‘far ash-Shādiq mendasarkan diri pada firman Allah s.w.t.: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari ‘adzab neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zhalim. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang-orang yang menyeru kepada iman: “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasulMu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat. Sungguh, Engkau tidak pernah mengingkari janji.” Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, karena sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lain.” (Āli ‘Imrān [3]: 191-195).

Ibnu ‘Abbās (343) mengatakan, ketika turun ayat: “Rasūl (Muḥammad) beriman kepada yang diturunkan kepadanya (al-Qur’ān) dari Tuhannya.” (al-Baqarah [2]: 285), Rasūlullāh s.a.w. membacanya. Saat beliau membaca ayat: “Ampunilah kami ya Tuhan kami, (al-Baqarah [2]: 285). Allah s.w.t. berfirman: “Aku telah mengampunimu”. Saat beliau membaca ayat: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan.” (al-Baqarah [2]: 286). Allah s.w.t. berfirman: “Aku tidak akan menghukummu.” Saat beliau membaca ayat: “Ampunilah kami.” (al-Baqarah [2]: 286). Allah s.w.t. berfirman: “Aku telah mengampunimu.” Saat beliau membaca ayat: “Tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (al-Baqarah [2]: 286). Allah s.w.t. berfirman: “Aku telah menolongmu.”

Ja‘far ibn ash-Shādiq berkata: “Aku heran terhadap orang yang diuji dengan suatu penyakit, mengapa dirinya lupa untuk mengucap: “Ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (al-Anbiyā’ [21]: 83), padahal Allah s.w.t. telah berfirman: “Maka Kami kabulkan doanya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya.” (al-Anbiyā’ [21]: 84). Aku heran terhadap orang yang diuji dengan kedukaan, mengapa dirinya lupa untuk mengucap: “Tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zhalim.” (al-Anbiyā’ [21]: 87), padahal Allah s.w.t. telah berfirman: “Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan.” (al-Anbiyā’ [21]: 88).

“Aku heran terhadap orang yang takut atas sesuatu, mengapa dirinya lupa untuk mengucap: “Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung.” (Āli ‘Imrān [3]: 173), padahal Allah s.w.t. telah berfirman: “Maka mereka kembali dengan ni‘mat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak ditimpa suatu bencana.” (Āli ‘Imrān [3]: 174).

“Aku heran terhadap orang yang ditipu dalam suatu persoalan, mengapa dirinya lupa untuk mengucap: “Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya.” (Ghāfir [40]: 44), padahal Allah s.w.t. telah berfirman: “Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka.” (Ghāfir [40]: 45). Aku heran terhadap orang yang takut kehilangan ni‘mat yang telah diberikan oleh Allah s.w.t. kepadanya, mengapa dirinya lupa untuk mengucap: “Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan: Mā syā’ Allāh lā quwwata illā billāh.” (al-Kahfi [18]: 39).”

Demikianlah ajaran Allah s.w.t. Orang yang tulus meminta perlindungan kepada-Nya takkan pernah disentuh oleh kedukaan, kesusahan, dan penyakit.

Abū Bakar az-Zaqqāq (354), salah seorang fuqahā’ madzhab Mālikī terkemuka, mengatakan: “Barang siapa yang ingin harta dan anaknya melimpah dan rezekinya membawa keberkahan, hendaknya ia membaca: Astaghfirullāh innahu kāna ghaffāra. (Aku memohon ampun kepada Allah, sesungguhnya Dia Maha Pengampun) sebanyak tujuh puluh kali dalam sehari. Allah s.w.t. telah berfirman: “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (Nūḥ [71]: 10-12).

Diriwayatkan oleh Anas bahwa Nabi s.a.w. pernah bersabda: “Tuhan kalian berfirman: bahwa ada tiga hal: satu untuk-Ku, satu untuk kalian, dan satu lagi antara Aku dan kalian. Satu perkara untuk-Ku adalah ikhlaslah dalam menyembah-Ku dan jangan menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun. Satu perkara untuk kalian adalah apa yang kalian paling butuhkan akan Aku cukupi. Satu perkara di antara Aku dan kalian adalah kalian berdoa dan Aku akan mengabulkannya.” (365).

Doa orang yang tulus-ikhlas beribadah kepada Allah s.w.t. akan dikabulkan. Allah s.w.t. berfirman: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama.” (al-Bayyinah [97]: 5). Makna ikhlas beribadah adalah menyucikan ibadah dari segala hal selain keinginan mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Ikhlas adalah hilangnya pandangan makhluk dalam beribadah kepada Sang Pencipta, dalam arti terbebas dari keinginan mencari atau menyukai pujian. Renungkanlah perkataan Iblīs ini: “Demi kemuliaan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hambaMu yang terpilih di antara mereka.” (Shād [38]: 83). Jadi, seandainya seseorang tidak mau ikhlas dalam beribadah, berarti ia telah melemparkan dirinya ke jerat dan tipu daya Iblīs.

Catatan:

  1. 32). Shaḥīḥ-ul-Bukhārī, Kitab al-Adab, Bab Ijābat-ud-du’ā’i min Birr-ul-Wālidayn, X/404, (hadits no. 5974), dari hadits Ibnu ‘Umar.
  2. 33). Sunan Abī Dāwūd, Kitab al-Adab, Bba an-Nawmu ‘alā Thahārah, (hadits no. 5042).
  3. 34). Ini disebutkan al-Qurthubī dalam penafsirannya atas surah al-Baqarah ayat 426-428.
  4. 35). Abū Bakar az-Zaqqāq adalah Muḥammad ibn ‘Abdillāh. Dirinya sering disebut az-Zaqqāq kecil untuk menbedakan dirinya dengan az-Zaqqāq besar. Ibnu al-Mulqīn berkata: “Ia salah seorang syaikh yang memiliki kemuliaan tinggi. Meninggal dunia pada tahun 270 H.”
  5. 36). Majma‘-uz-Zawā’id, X/149, dari hadits Salmān.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.