Zikir Penenteram Hati (Miftah-ul-Falah) – Bagian Tentang Dzikir

Dari Buku:
Zikir Penenteram Hati
(Judul Asli: Miftah-ul-Falah)
Oleh: Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari
Penerjemah: Fauzi Faishal Bahresy
Penerbit: Zaman.

Rangkaian Pos: Zikir Penenteram Hati (Miftah-ul-Falah) – Bagian Tentang Dzikir

BAGIAN SATU

MAKNA ZIKIR
Mengapa Perlu Mengingat Allah (Berzikir).

1

Makna dan Macam Zikir

Zikir adalah melepaskan diri dari kelalaian dengan senantiasa menghadirkan kalbu bersama al-Haqq (Allah). Pendapat lain mengatakan bawa zikir adalah mengulang-ulang nama Allah dalam hati maupun lafal jalālah (Allah), sifat-Nya, hukum-Nya, perbuatan-Nya, atau suatu tindakan yang serupa. Zikir bisa pula berupa doa, mengingat para rasul-Nya, nabi-Nya, wali-Nya, dan orang-orang yang memiliki kedekatan dengan-Nya, serta bisa pula berupa taqarrub kepada-Nya melalui sarana dan perbuatan tertentu seperti membaca, mengingat, bersyair, menyanyi, ceramah dan bercerita.

Berdasarkan pemahaman tersebut, maka mereka yang berbicara tentang kebenaran Allah, atau yang merenungkan keagungan, kemuliaan, dan tanda-tanda kekuasaan-Nya di langit dan di bumi, atau yang mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sesungguhnya – dengan berbuat demikian – mereka tengah berzikir.

Zikir bisa dilakukan dengan lisan, hati, anggota badan, ataupun dengan ucapan yang terdengar orang. Orang yang berzikir dengan menggabungkan semua unsur tersebut berarti telah melakukan zikri secara sempurna. Yang dimaksud dengan zikir lisan adalah zikir dengan kata-kata semata tanpa kehadiran kalbu (hudhur). Itulah zikir lahiriah yang memiliki keutamaan besar seperti yang ditunjukkan oleh beberapa ayat al-Qur’an, hadis, dan atsar.

Zikir lisan terbagi lagi ke dalam beberapa bagian. Ada yang terikat dengan waktu dan tempat serta ada pula yang bebas. Yang terikat misalnya bacaan ketika dan setelah shalat, bacaan ketika haji, sebelum tidur, setelah bangun, sebelum makan, ketika menaiki kendaraan, zikir di waktu pagi dan petang, dan seterusnya. Sementara yang tidak terikat dengan waktu, tempat, ataupun kondisi, misalnya pujian kepada Allah seperti dalam untaian kalimat: “Subhānallāhi wal-hamdulillāhi wa lā ilāha illallāhu wallāhu akbaru wa lā haula wa lā quwwata illā billāh-il-‘aliyy-il-‘azhīm (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali degna pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung).” Contoh lainnya adalah zikir berupa doa seperti: “Rabbanā lā tu’ākhidznā in nasīnā au akhtha’nā….” atau munajat lainnya.

Demikian pula dengan bacaan shalawat atas Nabi s.a.w. yang akan memberi pengaruh yang lebih besar ke dalam kalbu para pemula ketimbang zikir yang tidak disertai munajat. Sebab, orang yang bermunajat, kalbunya merasa dekat kepada Allah. Ia termasuk sarana yang memberikan pengaruh tertentu dan menghiaskan rasa takut pada kalbu.

Zikir lisan ada yang bersifat ri‘āyah (memelihara ingatan dan kesadaran terhadap Allah), permintaan duniawi, atau permintaan ukhrawi. Yang bersifat ri‘āyah misalnya ketika mengucapkan kalimat: “Allah bersamaku, Allah melihatku”. Ucapan tersebut mengandung usaha untuk menjaga kemaslahatan kalbu. Ia adalah zikir untuk memperkuat kehadiran kalbu bersama Allah, memelihara etika di hadapan-Nya, menjaga diri dari sikap lalai, berlindung dari setan terkutuk, dan untuk bisa khusyuk dalam ibadah.

Setiap zikir memiliki pengaruh tertentu. Jika engkau sibuk dengan sebuah zikir, niscaya diberi yang lebih tinggi darinya. Zikir yang disertai kesiapan akan bisa membuka tirai, tetapi hal itu disesuaikan dengan kondisi orang yang melakukannya. Menurut Imam al-Ghazali, hakikat zikir adalah berkuasanya Allah di dalam kalbu diseratai kesirnaan zikir itu sendiri. Namun, dalam pandangan beliau, ia memiliki tiga kulit atau lapisan yang salah satunya lebih dekat kepada inti (lubb) daripada yang lainnya. Inti (lubb) tersebut berada di balik tiga kulit tadi. Kulit-kulit itu adalah sebagai jalan menuju inti (lubb). Kulit yang paling luar adalah zikir lisan semata.

Seorang pezikir selalu mengaplikasikan zikir lewat gerakan lisan disertai usaha menghadirkan kalbu. Karena, kalbu membutuhkan penyesuaian dengan lisan agar sanggup hadir dalam zikir. Seandainya, dibiarkan, ia akan sibuk dengan berbagai imajinasi yang melintas. Kondisi ini baru berakhir ketika kalbu mengikuti lisan serta cahayanya membakar syahwat dan setan. Saat itulah zikir kalbu menguat, sementara zikir lisan mulai melemah. Seluruh organ dan semua sisi tubuh dipenuhi cahaya, kalbu pun bersih dari hal-hal selain Tuhan, terputus dari berbagai bisikan, dan setan al-Khannas pun tak lagi tinggal di dalamnya. Dengan begitu, kalbu menjadi tempat masuknya anugerah Allah, serta cermin bagi segala manifestasi dan makrifat ilahiah. Ketika zikir itu menyeruak masuk ke dalam kalbu dan menyebar di seluruh organ tubuh, maka semua organ itu pun berzikir sesuai dengan kondisinya. Al-Jauhari bercerita: “Salah seorang sahabat kami senantiasa mengucap Allāh, Allāh. Lalu pada suatu hari, kepalanya, terkena batang pohon hingga pecah dan mengucurkan darah. Dari darah itu kemudian tertulis di atas tanah lafal Allāh, Allāh.”

Zikir laksana api yang bekerja secara aktif dan memberikan pengaruh. Ketika masuk ke dalam sebuah rumah zikir itu akan berucap: “Aku, tidak ada lagi selainku.” Itulah makna ungkapan lā ilāha iallallāh. Jika di dalam rumah itu bertemu dengan kayu bakar, zikir tersebut akan segera membakar. Jika rumah itu gelap, ia akan menjadi cahaya penerang. Dan jika rumah itu memang memiliki cahaya, ia akan menjadi cahaya di atas cahaya.

Zikir berfungsi menghilangkan endapan berlebih dalam tubuh yang diakibatkan oleh makan berlebihan dan mengkonsumsi barang haram. Ketika endapan kotor itu terbakar sehingga hanya yang baiklah yang bertahan, barulah ia bisa mendengar senandung zikir dari semua organ tubuhnya. Suara zikir itu seperti tiupan terompet. Pertama-tama, ia jatuh di sekitar kepala sehingga engkau akan mendengar suara seperti terompet. Zikir adalah penguasa, jika singgah di suatu tempat, ia akan singgah dengan membawa terpompet itu. Sebab, zikir menghadang apa saja selain al-Haqq. Ketika menempati suatu tempat, ia akan sibuk melenyapkan segala sesuatu yang menjadi lawannya laksana air bertemu api. Setelah itu, akan terdengar berbagai macam suara seperti desir air, deru angin, golakan api, derap kuda, dan suara dedaunan tertiup angin. Sebab, struktur tubuh manusia terdiri dari unsur mulia dan hina. Unsur yang hina meliputi tanah, air, api, udara, bumi dan langit, serta segala yang berada di antara keduanya. Jadi, semua suara tersebut berasal dari seluruh unsur asli di atas. Ketika suara itu terdengar, berarti ia sedang bertasbih dan mensucikan Allah dengan lisannya. Itulah hasil dari zikir lisan yang optimal.

Bisa jadi ketika seorang hamba diam tak berzikir, kalbu yang bertempat di dadanya akan segera bergerak meminta zikir seperti gerakan anak di perut ibunya. Dalam pandangan sebagian orang, kalbu manusia ibarat ‘Isa ibn Maryam a.s., sementara zikir adalah susunya. Ketika besar dan kuat, ia akan menangis dan berteriak karena rindu pada zikir dan objeknya (Allah).

Zikir kalbu ibarat suara lebah. Ia tidak terlalu nyaring dan mengganggu, tetapi tidak pula terlalu samar tersembunyi. Ketika objek zikir (Allah) sudah bersemayam dalam kalbu dan zikir itu menjadi samar dan tak tampak, maka sang pezikir pun takkan lagi menoleh pada zikir dan kalbu. Namun, kalau ia masih menoleh pada zikir atau pada kalbunya, berarti masih ada hijab.

Kondisi saat seseorang tidak lagi memperhatikan zikir dan kalbunya disebut kondisi fana. Dalam kondisi seperti itu, ia melenyapkan dirinya sehingga tak lagi merasakan keberadaan anggota tubuhnya, hal-hal lain di luar dirinya, ataupun lintasan-lintasan jiwanya.

Sanggahan (Disclaimer): Artikel ini telah kami muat dengan izin dari penerbit. Terima kasih.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.