Tujuh Hal yang Perlu Dijaga oleh Orang yang Berniaga – Yahya ibn Hamzah al-Yamani – Agar Rezeki yang Mencarimu

Sampul Buku Agar Rezeki yang Mencarimu Bukan Kau yang Mencarinya

“Di antara profesi yang banyak memakan waktu, cukup banyak risiko tapi juga potensi keuntungan, sekaligus dijalani oleh banyak orang adalah berniaga. Para pedagang punya tantangan tersendiri – yang tidak ringan – untuk bisa tetap di jalur tawakal, qanaah, syukur, dan taat kepada Allah. Oleh karena itu, kita akan hampiri salah satu bab kitab Tashfiyat al-Qulūb karya Syaikh Yaḥyā Ḥamzah al-Yamanī, yang menegaskan prinsip-prinsip penting dalam bekerja dan berniaga.”

 

7

TUJUH HAL yang PERLU DIJAGA oleh ORANG yang BERNIAGA.

Yaḥyā ibn Ḥamzah al-Yamanī (668-749 H.)

 

Allah menjadikan akhirat sebagai tempat menuai pahala dan dunia sebagai tempat yang sarat muslihat, huru-hara, kecongkakan dan usaha mencari harta. Dunia adalah ladang dan landasan untuk akhirat. Bersikap hemat itu terpuji, sedangkan bersikap boros itu tercela. Dan tidaklah orang bisa melakukan penghematan tanpa mencari penghidupan sesuai dengan tuntunan.

Pembahasan tentang macam-macam usaha, segi-segi penghasilan, akad jual-beli, macam-macam perniagaan, akad-akad transaksi, merupakan pembahasan yang panjang, namun kita di sini hanya akan fokus pada aspek yang berkaitan dengan akhirat, sehingga kita akan membahas keutamaan berusaha dan apa yang patut dilakukan untuk menjaga agama bila kita berusaha.

Keutamaan Bekerja.

Allah berfirman:

وَ جَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

Dan Kami menjadikan siang (sebagai waktu) untuk mencari penghidupan.” (an-Naba’ [78]: 11). Hal ini disebut di sela-sela penyebutan berbagai karunia kepada makhluk-Nya.

Allah juga berfirman:

وَ جَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ

“… dan di sana Kami sediakan (sumber-sumber) penghidupan untukmu....” (al-A‘rāf [7]: 10). Allah juga berfirman:

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلاً مِّنْ رَّبِّكُمْ

Bukanlah suatu dosa bagimu jika kamu mencari karunia dari Tuhanmu.” (al-Baqarah [2]: 198). Allah juga berfirman:

وَ آخَرُوْنَ يَضْرِبُوْنَ فِي الأَرْضِ يَبْتَغُوْنَ مِنْ فَضْلِ اللهِ

“… dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah...” (al-Muzzammil [73]: 20). Allah juga berfirman:

فَانْتَشِرُوْا فِي الأَرْضِ وَ ابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللهِ

“… maka bertebaranlah kamu di bumi, dan carilah karunia Allah….” (al-Jumu‘ah [62]: 10).

Nabi s.a.w. bersabda: “Ada dosa-dosa yang tidak terhapus kecuali dengan kesungguhan mencari nafkah keluarga,” atau dalam hadits lain: “…kecuali dengan mencari penghidupan.” Nabi juga bersabda: “Pedagang yang jujur dikumpulkan pada hari kiamat bersama orang-orang siddiq dan syuhada’” (Riwayat at-Tirmidzī, al-Ḥākim, dan Ibnu Mājah). Nabi juga bersabda: “Siapa mencari dunia secara halal untuk meringankan masalahnya, mencukupi keluarganya, atau berbuat baik kepada tetangganya, akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan wajahnya bak rembulan malam purnama.” (Riwayat Abusy-Syaikh, Abū Nu‘aim dan al-Baihaqī).

Nabi juga bersabda: “Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang berprofesi sehingga dengan profesi itu ia tidak bergantung pada orang lain, dan membenci hamba yang menekuni ilmu dan menjadikannya bisnis.” Dalam hadits yang lain dikatakan: “Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang profesional.” (Riwayat ath-Thabrānī dan Ibnu ‘Adī).

Nabi s.a.w. juga bersabda: “Yang paling halal adalah apa yang seseorang makan dari hasil usahanya, dan setiap jual beli yang baik.” (Riwayat Aḥmad, al-Ḥākim, dan al-Baihaqī). Nabi juga bersabda: “Kalian harus berdagang karena berdagang itu sembilan puluh persen dari rezeki.

Diriwayatkan bahwa Nabi ‘Īsā pernah bertanya kepada seseorang: “Apa yang kamu perbuat?”

Orang itu menjawab: “Aku beribadah.”

“Lalu siapa yang membantu hidupmu?” tanya Nabi ‘Īsā.

“Saudaraku,” jawabnya.

“Saudaramu lebih beribadah ketimbang kamu,” kata Nabi ‘Īsā.

Luqmān al-Ḥakīm pernah berkata kepada putranya: “Wahai putraku, hindarilah kefakiran dengan usaha yang halal. Tidaklah seseorang itu menjadi fakir kecuali ia ditimpa tiga hal: tipis agama, lemah akal, dan hilang harga diri. Dan yang lebih besar dari tiga hal ini adalah memandang remeh orang-orang.

‘Umar r.a. berkata: “Janganlah seseorang itu menyia-nyiakan peluang mencari rezeki, padahal ia berdoa: “Ya Allah, berilah aku rezeki,” sementara kalian tahu langit tidak menurunkan hujan emas ataupun perak.” Zaid ibn Aslam sedang berada di tanah miliknya, lalu ‘Umar berkata kepadanya: “Kamu benar. Jangan bergantung pada orang-orang. Itu lebih melindungi agamamu, dan lebih mulia bagimu.”

Ibnu Mas‘ūd berkata: “Aku sungguh benci kalau melihat orang tak mengerjakan sesuatu, entah untuk urusan dunia atau untuk urusan akhiratnya.”

Ibrāhīm ditanya tentang pedagang yang jujur, apakah lebih ia senangi atau orang yang melulu beribadah. Ia menjawab: “Pedagang yang jujur lebih aku sukai karena ia sedang berjihad.”

‘Umar berkata: “Tidak ada tempat di mana maut menjemputku yang lebih aku sukai ketimbang tempat di mana aku bertransaksi jual-beli untuk keluargaku.”

Bagaimana Berniaga Sembari Menjaga Agama

Seorang pedagang tidaklah sepatutnya disibukkan oleh pekerjaannya sampai melupakan persiapan akhiratnya sehingga umurnya hilang dan perniagaannya merugi. Keuntungan akhirat yang ia lewatkan tak sebanding dengan dunia yang ia dapatkan. Sementara ia menaruh perhatian pada agama dan jiwanya dengan menjaga modalnya dan modal agamanya, dan memelihara tujuh hal:

Pertama, niat dan akad yang baik di awal perniagaan. Ia berniat berdagang untuk menghindari meminta-minta atau bersikap tamak pada orang lain.

Kedua, memaksudkan pekerjaan pada perniagaannya sebagai salah satu fardu (keharusan) yang harus dijalankan oleh sebagian warga masyarakat. Pekerjaan kalau ditinggalkan, maka hilanglah berbagai macam pencaharian dan hancurlah perekonomian. Tertibnya urusan semua orang adalah dengan peran serta setiap orang, dan penugasan sekelompok orang untuk mengemban suatu pekerjaan. Kalau semua orang hanya mau melakukan satu pekerjaan, tentu terlantarlah pekerjaan yang lain.

Ketiga, janganlah sampai pasar dunia menghalanginya dari “pasar akhirat”, yakni masjid. Allah berfirman:

رِجَالٌ لاَّ تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَ لاَ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَ إِقَامِ الصَّلاَةِ وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ

Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat…” (an-Nūr [24]: 37).

Keempat, janganlah sampai fokus pada perniagaan saja tetapi juga membiasakan berzikir di pasar, menyibukkan diri bertasbih, bertahlil, dan berzikir di pasar di tengah orang-orang yang lalai.

Kelima, janganlah sampai terlalu bersemangat berada di pasar sehingga ia ingin menjadi yang pertama masuk pasar dan yang terakhir keluar pasar, atau ia harus mengarungi samudra untuk berniaga karena dikatakan siapa mengarungi samudra, ia terlalu serius mencari rezeki.

Keenam, janganlah hanya fokus pada menjauhi yang haram tetapi juga menghindari yang syubhat dan meragukan, dan tidak menunggu fatwa ulama tapi bertanya kepada diri sendiri. Apa yang janggal, ia tinggalkan, dan apa yang bagus, ia lakukan.

Ketujuh, senantiasa menjaga seluruh proses transaksinya dengan setiap orang, karena ia selalu diawasi dan dihitung amalnya, sehingga ia harus siap dengan jawaban atas setiap perbuatan dan ucapannya yang akan dimintai pada hari perhitungan dan penyiksaan. Ada yang berkata bahwa seorang pedagang akan dipertemukan dengan setiap orang yang pernah menjadi pembelinya, dan dihisab bersama setiap orang yang bertransaksi dengannya.

Demikianlah yang ingin kami sampaikan kepada para pedagang yang ingin memelihara agamanya. Wallāhu a‘lam.

“Celakalah orang yang tidak mau berusaha dan hanya berpangku tangan, mencari rezeki dari harta orang lain dengan mengatas-namakan agama.”‘Abd-ul-Qādir al-Jailānī.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *