Tenanglah Soal Rezeki – Ibnu ‘Atha’illah – Agar Rezeki yang Mencarimu (1/3)

Rangkaian Pos: Tenanglah Soal Rezeki - Ibnu ‘Atha’illah - Agar Rezeki yang Mencarimu

Membaca buku bagi sebagian orang mungkin hanyalah di sisa waktu. Waktu utama mereka gunakan untuk “mencari rezeki”. Ada perasaan “sayang” kalau waktu-waktu diisi dengan hal selain itu. Tapi sekarang cobalah berpikir berbeda. Membaca buku bisa menjadi pintu ke rezeki yang lebih baik. Jadi tenang saja. Tak usah ragu untuk membaca buku ini dengan tenang. Agar tambah tenang, kita akan mulai “tamasya kitab klasik” kali ini dengan membaca nasihat tentang “apa yang perlu disikapi dengan tenang dan apa yang lebih patut untuk dirisaukan” dari Syekh Ibnu ‘Athā’illāh yang tertuang dalam salah satu bab di kitab Bahjat al-Nufūs karyanya.

 

1.

TENANGLAH SOAL REZEKI

Ibnu ‘Athā’illāh as-Sakandarī (648-709 H).

 

Betapa banyak hal yang tersembunyi dalam dirimu. Bila kau cermati secara saksama barulah engkau bisa melihatnya. YANG PALING BERBAHAYA ADALAH DOSA RAGU KEPADA ALLAH. SESUNGGUHNYA RAGU TERHADAP REZEKI BERARTI RAGU TERHADAP DZĀT YANG MEMBERIKAN REZEKI. Sesungguhnya dunia ini terlalu hina untuk dirisaukan.

Kalau engkau sadar, pastilah engkau merisaukan sesuatu yang lebih besar, yaitu masalah akhirat. Orang yang merisaukan masalah kecil lalu melupakan masalah besar berarti ia bodoh. Karena itu, lakukanlah kewajiban untuk melaksanakan ibadah dan semua perintah Tuhan, Dia pun akan mejalankan apa yang menjadi kewajiban-Nya terhadapmu. Kalau kumbang, tokek, dan cacing saja diberi rezeki, akankah engkau dilupakan?

Allah berfirman:

وَ أْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَ اصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَ الْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Suruhlah keluargamu untuk shalat dan sabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak menuntut rezeki darimu. Kamilah yang memberimu rezeki. Balasan yang baik akan diberikan kepada yang bertaqwa.” (Thāhā [20]: 132).

KALAU ENGKAU MENYAKSIKAN ORANG YANG RISAU KARENA REZEKI, KETAHUILAH BAHWA SEBETULNYA IA JAUH DARI ALLAH. Seandainya ada yang berkata kepadamu: “Besok kamu tak usah bekerja. Cukup kamu kerjakan ini saja, saya akan memberimu sepuluh dirham,” pastilah engkau percaya dan mematuhi perintahnya. Padahal, ia makhluk yang fakir, tak bisa memberi manfaat ataupun madarat. Lalu mengapa engkau tidak merasa cukup dengan Allah Yang Maha Kaya dan Maha Mulia yang telah menjamin rezekimu sepanjang hidup? Allah berfirman:

وَ مَا مِنْ دَآبَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَ مُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِيْ كِتَابٍ مُّبِيْنٍ

Tidak ada makhluk melata di muka bumi kecuali Allah-lah yang menjamin rezekinya. Dia mengetahui tempat tinggal binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis di Lauḥ Maḥfūzh.” (Hūd [11]: 6).

Siapa bergembira karena mendapat dunia, ia betul-betul dungu. Lebih dungu lagi orang yang sedih ketika kehilangan dunia. Ia tak ubahnya seperti orang yang didatangi ular yang siap menggigit. Tiba-tiba ular tersebut pergi dan ia diselamatkan oleh Allah dari ular tersebut, namun ia sedih karena ular itu tak jadi menggigitnya. DI ANTARA TANDA KELALAIAN DAN PENDEKNYA AKAL IALAH KALAU ENGKAU MERASA RISAU DENGAN SESUATU YANG BELUM PASTI, SERTA KHAWATIR JATUH MISKIN SEBELUM KEMISKINAN ITU TIBA. Sementara itu, di sisi lain, engkau tidak pernah risau dengan sesuatu yang pasti terjadi, yaitu mati. Engkau bertanya-tanya: “Bagaimana kondisi keluarga besok?” “Bagaimana keadaan sampai akhir bulan?” “Bagaimana kita mencari penghasilan tahun ini?” Padahal kasih dan karunia Allah bisa datang dari arah yang tak terduga dan tak kau ketahui.

Yang dicuri oleh seorang pencuri atau dirampas oleh seorang perampok memang merupakan rezekinya. Selama engkau hidup rezekimu takkan berkurang sedikit pun.

Sungguh bodoh dan dungu bila engkau mencemaskan hal yang kecil dan melupakan sesuatu yang besar. Yang mestinya kau cemaskan adalah akankah engkau mati dalam keadaan muslim atau kafir? Akankah engkau bahagia atau celaka? Risaukanlah neraka yang kekal abadai itu. Risaukanlah apakah pada hari kiamat engkau akan menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri. Inilah yang seharusnya kau risaukan. Jangan merisaukan masalah sesuap nasi yang hendak kau makan atau seteguk minuman yang akan kau minum. Mungkinkah Sang Majikan yang menjadikanmu pelayan takkan memberimu makan? Mungkinkah engkau yang sedang berada dalam tempat jamuan tak dilayani dan disia-siakan?

Ketaatan yang paling disukai adalah yakin pada-Nya. Allah berfirman:

وَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَ اتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Datangilah rumah-rumah itu dari pintunya dan bertaqwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (al-Baqarah [2]: 189). Pintu rezeki itu terletak pada ketaatan kepada Sang Pemberi rezeki. Bagaimana mungkin rezeki-Nya diminta tetapi disertai oleh maksiat? Bagaimana mungkin karunia-Nya dimohon dengan cara menentang-Nya?

Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Apa yang di sisi Allah tak mungkin diperoleh dengan membuat-Nya murka.” Artinya, rezeki-Nya hanya bisa diminta dengan rida dan taat kepada-Nya. Itu sesuai dengan firman Allah:

وَ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَجًا. وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَ مَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar untuknya dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Siapa yang bertawakkal kepada Allah, Dia akan mencukupinya.” (ath-Thalaq [65]: 2-3).

Karena itu, Syekh Abul-‘Abbās al-Mursī berkata dalam ḥizibnya: “Yang disebut rezeki menyenangkan adalah yang tak membuat kita terhijab di dunia, serta tak dihisab, tak ditanya, dan tak dihukum di akhirat. Pemilik rezeki tersebut berada dalam hamparan ilmu tauhid dan syariat. Mereka selamat dari hawa nafsu, syahwat, dan rasa tamak.”

Orang yang risau dengan urusan dunia dan lalai terhadap urusan akhirat, seperti orang yang didatangi binatang buas yang siap menerkam tapi ia malah sibuk mengusir lalat dari wajahnya daripada berlindung dari terkaman binatang buas tadi. Tentu saja orang tersebut sangat dungu dan tak punya akal. Seandainya berakal, pastilah ia sibuk berlindung dari serangan singa ketimbang memikirkan lalat kecil yang tidak ada artinya.

Demikianlah keadaan orang yang risau dengan urusan dunia sehingga lupa berbekal untuk akhirat. Itu menunjukkan kebodohannya. Seandainya cerdas, niscaya ia akan bersiap-siap menuju negeri akhirat. Sebab, di sana nanti ia akan ditanya di hadapan Allah.

Janganlah kau sibuk dengan masalah rezeki. Sebab, rezeki dunia kalau diukur dengan akhirat, seperti lalat kecil diukur dengan singa yang sedang menyerang.

Keberadaan seorang hamba bersama Allah di dunia ini seperti anak kecil bersama ibunya. Sang ibu takkan membiarkan anaknya tak terurus. Ia akan mengasuhnya dengan baik. Ia juga tak pernah membiarkan anak itu terlantar. Demikianlah pula kondisi seorang hamba beriman bersama Allah. Allah-lah yang memberinya nafkah secara baik. Ia akan diberi berbagai kenikmatan sekaligus dilindungi dari berbagai ujian.

Seorang hamba yang bersama Allah tak ubahnya seperti pelayan upahan yang dibawa oleh raja ke istananya. Pelayan itu pun disuruh bekerja. Tentu, tak mungkin raja tersebut mendatangkan seorang pelayan lalu disuruh bekerja di istananya tanpa diberi makan. Dalam hal ini, Allah jauh lebih pemurah dari raja tersebut.

Begitulah kondisi hamba dan Allah. Istana tersebut adalah istana-Nya, sedangkan pelayan upahan itu adalah engkau sendiri, wahai orang beriman. Pekerjaan yang diperintahkan kepadamu adalah ketaatan. Upahnya adalah surga pada hari kiamat. Allah tak pernah menyuruhmu melakukan suatu perbuatan dan tak pernah memberikan sesuatu kecuali untuk kebaikan.

Diceritakan bahwa ada seorang penggali kubur yang bertobat kepada Allah. Kemudian suatu hari ia berkata kepada gurunya: “Wahai guruku, kira-kira aku sudah menggali seribu kubur. Ku saksikan wajah mereka berpaling dari kiblat.” Mendengar hal tersebut, gurunya itu berkomentar: “Wahai anakku, itu terjadi karena mereka ragu dalam masalah rezeki.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.