000-3 Arti Ilmu Ma’ani, Bayan & Badi’ – Terjemah Jauhar-ul-Maknun

Dari Buku:
Terjemah Jauhar-ul-Maknūn
(Ilmu Balaghah)
Oleh: Abdurrahman al-Ahdori

Alih Bahasa: Achmad Sunarto
Penerbit: MUTIARA ILMU – Surabaya

PASAL II

ARTI ILMU MA‘ĀNĪ, BAYĀN DAN BADĪ‘

 

1. Ilmu Ma‘ānī

وَ حَافِظٌ تَأْدِيَةُ الْمَعَانِيْعَنْ خَطَاءِ يُعْرِفُ بِالْمَعَانِيْ

Artinya:

“Ilmu yang menjaga jangan sampai mutakallim itu salah di dalam menerangkan makna yang di luar makna yang dikehendaki, itu disebut Ilmu Ma‘ānī”.

Jadi, Ilmu Ma‘ānī adalah ilmu untuk menjaga kesalahan berbicara.

وَ مَا مِنَ التَّعْقِيْدِ فِي الْمَعْنَى يَقِيلَهُ الْبَيَانُ عِنْدَهُمْ قَدِ انْتَفِي

Artinya:

“Ilmu untuk menjaga kalām (ucapan) dari ta‘qīd yang berhubungan dengan makna (ta‘qīd Ma‘nāwī), itulah yang disebut Ilmu Bayān”.

Jadi, Ilmu Bayān adalah ilmu untuk menjaga pembicaraan yang tidak mengarah kepada tujuannya.

وَ مَا بِهِ وُجُوْهُ تَحْسِيْنِ الْكَلَامْتُعْرَفُ يُدْعٰى بِالْبَدِيْعِ وَ السَّلَامْ

Artinya:

“Ilmu untuk mengetahui cara-cara memperbaiki kalam atau ucapan, itulah yang disebut Ilmu Badī‘”.

Jadi, Ilmu Badī‘ adalah ilmu yang untuk menghias susunan kalimat.

 

Fann pertama Ilmu Ma‘ānī:

الْفَنُّ الْأَوَّلُ: عِلْمُ الْمَعَانِيْ

عِلْمٌ بِهِ لِمُقْتَضَى الْحَالِ يُرَىلَفْظًا مُطَابِقًا وَ فِيْهِ ذُكِرَا

Artinya:

Yaitu ilmu yang dengan ilmu itu dapat diketahui sesuatu lafazh muthābaqah (sesuai) dengang muqtadh-al-ḥālnya (keadaan situasi dan kondisinya) dan di dalam ilmu itu diterangkan mengenai:

إِسْنَادٌ مُسْنَدٌ إِلَيْهِ مُسْنَدُوَ مُتَعَلِّقَاتُ فِعْلٍ نُوْرَدُ
قَصْرٌ وَ إِنْشَاءٌ وَ فَصْلٌ وَصْلٌ أَوْإِيْجَازٌ إِطْنَابٌ مُسَاوَاةٌ رَأَوْ

Artinya:

1. Isnād, 2. Musnad ilaih, 3. Musnad, 4. Muta‘alliqāt-ul-fi‘li (lafazh yang dita‘alluq dengan fi‘il), 5. Qashar, 6. Insyā’, 7. Fashl dan Washal, 8. Ījāz, ithnāb dan Musāwāh. Para ulama telah melihat (akan semuanya itu).

 

الْبَابُ الْأَوَّلُ: أَحْوَالُ الْإِسْنَادِ الْخَبَرِيِّ

Bab pertama tentang keadaan isnād khabarī:

1. Isnād, ialah:

ضَمُّ كَلِمَةٍ أَوْ مَا يَجْرِيْ مَجْرَاهَا إِلَى أُخْرَى بِحَيْثُ يُفِيْدُ الْحُكْمِ بِأَنَّ مَفْهُوْمَ إِحْدَاهُمَا ثَابِتٌ لِمَفْهُوْمِ الْأُخْرَى أَوْ مَنْفِيٌّ عَنْهَا.

Artinya:

Menghimpun kalimat atau lafaz yang sejalan dengan kalimat itu (jumlah khabariyah atau mashdariyah) dengan kalimat lain sekira memberi faedah akan adanya hukum dengan cara, bahwa mafhum salah satu dari kedua kalimat yang dihimpun itu, tetap bagi maksud kalimat lainnya, seperti tetap hukum benarnya Zaid pada lafazh (زَيْدٌ كَاذِبٌ/كَذَبَ زَيْدٌ) atau tiadanya hukum itu dari padanya, seperti tiada hukum benarnya Zaid pada lafazh: (زَيْدٌ لَمْ يَكْذِبْ/لَمْ يَكْذِبْ زَيْدٌ).

2. Khabarī, merupakan nisbat dari lafazh khabar, ialah:

(مَا احْتَمَلَ الصِّدْقَ وَ الْكَذِبَ) Yaitu: Perkataan yang mungkin benar dan mungkin salah.

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *