Shalawat yang Dikenal pada Masanya – Dala’il-ul-Khairat

Dalā’il-ul-Khairāt
Ungkapan Cinta Terindah untuk Allah dan Rasūlullāh

Oleh: Muḥammad ibn Sulaimān al-Jazūlī
(w. 870 H./1465 M.)
 
Diterjemahkan dari Dalā’il-ul-Khairāti wa Syawāriq-ul-Anwār fī Dzikr-ish-Shalāti ‘alan-Nabiyy-il-Mukhtar.
Karya: Muḥammad ibn Sulaimān al-Jazūlī
 
Penerjemah: Tatam Wijaya
Penerbit: Zaman

6. Shalawat yang Dikenal pada Masanya.

 

Untuk mengingatkan kembali, beberapa shalawat yang terdapat (dalam) Dalā’il-ul-Khairāt merupakan hasil gubahan sang imam. Juga ada beberapa shalawat yang diambil dari tradisi pembacaan shalawat yang dikenal pada masanya. Kita perlu menelusuri shalawat apa saja yang ada dan dikenal pada masa hidupnya. Untuk menemukannya, kita memiliki beberapa rujukan, di antaranya: Afdhal-ush-Shalawāt (Shalawat Utama) karya Imām Yūsuf (ibn Ismā‘īl) an-Nabhānī, Abwāb-ul-Faraj dan Syawāriq-ul-Anwār karya Imām as-Sayyid Muḥammad ibn ‘Alawī al-Mālikī al-Ḥasanī, Dūrūd-usy-Syarīf karya Khawāja Nithār Aḥmad (dalam bahasa Urdu), dan Majmū‘ah Wazhā’if karya Qārī Ridhā al-Mushthafā ‘Azhamī (dalam bahasa Urdu). Dengan demikian, kitab Dalā’il-ul-Khairāt telah dikenal para sarjana muslim selama beberapa abad.

Selain shalawat yang diajarkan Nabi Muḥammad s.a.w. Dalā’il-ul-Khairāt juga mengungkapkan beberapa shalawat gubahan para ‘ulamā’ terdahulu, termasuk Imām Syāfi‘ī (w. 204 H.), Syaikh Abul-Ḥasan al-Karkhī (sahabat Syaikh Ma‘rūf al-Karkhī, w. 200 H./815 M.), dan Ghawts-il-A‘zham Syaikh ‘Abd-ul-Qādir al-Jīlānī (470-561 H./1077-1166 M.). Beberapa shalawat yang ada dalam Dalā’il-ul-Khairāt sangat terkenal sehingga para ‘ulamā’ menyebutnya dengan nama khusus dan menjelaskan keutamaannya masing-masing. Di antaranya adalah shalawat Munjiya (atau Tunjiya), Shalawat Anwār, Shalawat Kawtsar, Shalawat Sa‘ādah, dan Shalawat Ulil ‘Azmi. Shalawat Munjiya, misalnya, sangat diutamakan sehingga kami menganjurkan untuk membacanya minimal seribu kali sepanjang hidup. Shalawat Syaikh ‘Abd-ul-Qādir al-Jīlānī telah kami kemukakan pada bab sebelumnya dan tidak akan diulangi di sini. Shalawat lainnya akan kami sampaikan di sini. Lafal yang dipergunakan seperti yang terdapat dalam Dalā’il-ul-Khairāt. Beberapa shalawat di antaranya dituliskan juga dalam buku lain dengan pelafalan yang sedikit berbeda.

Shalawat Imām Syāfi‘ī

Imām al-Ghazālī (450-505 H./1058-1111 M.) menyebutkan dalam Iḥyā’u ‘Ulūm-id-Dīn (jilid I, kitab 2, bab 2) bahwa Syaikh Abul-Ḥasan asy-Syāfi‘ī mimpi bertemu Nabi s.a.w. dan bertanya: “Dengan cara apa Imām Syāfi‘ī mendapatkan kedudukan mulia?” Beliau menjawab bahwa Imām Syāfi‘ī akan masuk surga tanpa hisab karena shalawat yang ditulisnya dalam kitab ar-Risālah. Shalawatnya itu adalah sebagai berikut:

وَ صَلِّ اللهُمَّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرِيْنَ وَ غَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُوْنَ.

Ya Allah, limpahkan kebaikan kepada Sayyidinā Muḥammad dan keluarga Sayyidinā Muḥammad selama orang yang ingat mengingatnya dan selama orang yang lalai tidak mengingatnya.”

Begitulah, ia tak meluputkan seorang pun dalam penyebutannya.

Adakah dzikir lain yang lebih penuh mengingat-Nya selain shalawat ini?

Shalawat Abul-Ḥasan al-Karkhī.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ مِلْءَ الدُّنْيَا وَ مِلْءَ الْآخِرَةِ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ مِلْءَ الدُّنْيَا وَ مِلْءَ الْآخِرَةِ وَ ارحَمْ مُحَمَّدًا وَ آلِ مُحَمَّدٍ مِلْءَ الدُّنْيَا وَ مِلْءَ الْآخِرَةِ وَ اجْزِ مُحَمَّدًا وَ آلِ مُحَمَّدٍ مِلْءَ الدُّنْيَا وَ مِلْءَ الْآخِرَةِ. وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ مِلْءَ الدُّنْيَا وَ مِلْءَ الْآخِرَةِ.

Ya Allah, limpahkan kebaikan kepada Sayyidinā Muḥammad dan keluarga Sayyidinā Muḥammad, kebaikan yang akan memenuhi dunia ini dan hari akhirat. Limpahkan berkah kepada Sayyidinā Muḥammad yang akan memenuhi dunia ini dan hari akhirat, limpahkan kasih-sayang kepada Sayyidinā Muḥammad dan keluarga Sayyidinā Muḥammad, kasih-sayang yang akan memenuhi dunia ini dan hari akhirat. Dan limpahkan kemuliaan kepada Sayyidinā Muḥammad dan keluarga Sayyidinā Muḥammad, kemuliaan yang akan memenuhi dunia ini dan hari akhirat. Limpahkan kedamaian kepada Sayyidinā Muḥammad dan keluarga Sayyidinā Muḥammad yang akan memenuhi dunia ini dan hari akhirat.”

Shalawat Munjiya

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنَجِّيْنَا (تُنْجِيْنَا) بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَ الْآفَاتِ وَ تَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَ تُطَهِّرُنَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ، وَ تَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَاجَاتِ، وَ تُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَ بَعْدَ الْمَمَاتِ.

Ya Allah, limpahkan kebaikan kepada Sayyidinā Muḥammad, kebaikan yang akan menyelamatkan kami dari segala petaka dan rasa takut, kebaikan yang akan memenuhi segala kebutuhan kami, yang akan menyucikan kami dari segala noda dosa, yang akan mengangkat kami pada tingkatan yang tinggi di sisi-Mu, dan mengantarkan kami pada tujuan yang paling luhur – berupa segala kebaikan di kehidupan dunia ini dan setelah kematian.”

Shalawat Anwār.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نُوْرِ الْأَنْوَارِ، وَ سِرِّ الْأَسْرَارِ، وَ سَيِّدِ الْأَبْرَارِ، وَ زَيْنِ الْمُرْسَلِيْنَ الْأَخْيَارِ، وَ أَكْرَمِ مَنْ أَظْلَمَ عَلَيْهِ اللَّيْلُ وَ أَشْرَقَ عَلَيْهِ النَّهَارِ، وَ عَدَدَ مَا نَزَلَ مِنْ أَوَّلِ الدُّنْيَا إِلَى آخِرِهَا مِنْ قَطْرِ الْأَمْطَارِ، عَدَدَ مَا نَبَتَ مِنْ أَوَّلِ الدُّنْيَا إِلَى آخِرِهَا مِنَ النَّبَاتِ وَ الْأشْجَارِ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ.

Ya Allah, limpahkan kebaikan kepada Sayyidinā Muḥammad, cahaya, rahasia dalam rahasia, pemimpin orang shalih, perhiasan para rasūl yang terpilih, yang lebih mulia daripada yang diliputi gelap malam dan disinari terang siang, sebanyak tetes air hujan yang jatuh sejak mula dunia hingga akhirnya, dan sebanyak hitungan tumbuhan dan pepohonan, yang tumbuh sejak mula dunia hingga akhirnya, shalawat yang tak pernah putus seiring tegaknya kerajaan Allah Yang Maha Esa, Yang Maha Berkuasa.

Shalawat Kawtsar.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ فِي الْأَوَّلِيْنَ، وَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ فِي الْآخِرِيْنَ، وَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ فِي النَّبِيِّيْنَ، وَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ فِي الْمُرْسَلِيْنَ، وَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ فِي الْمَلَإِ الْأَعْلَى إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Ya Allah, limpahkan rahmat kepada Sayyidinā Muḥammad di antara mereka yang paling awal, dan limpahkan rahmat kepada Sayyidinā Muḥammad di antara mereka yang paling akhir, dan limpahkan rahmat kepada Sayyidinā Muḥammad di antara para nabi dan limpahkan rahmat kepada Sayyidinā Muḥammad di antara para rasūl, dan limpahkan rahmat kepada Sayyidinā Muḥammad di antara para malaikat yang luhur hingga Hari Kebangkitan.”

Shalawat Sa‘ādah.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِيْ عِلْمِ اللهِ صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ.

Ya Allah, limpahkan rahmat kepada Sayyidinā Muḥammad sebanyak hitungan yang ada dalam pengetahuan-Mu, dengan shalawat yang tanpa putus, selama tegaknya kerajaan-Mu, ya Allah.”

Shalawat Ulil-Azmi

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ آدَمَ وَ نُوْحٍ وَ إبْرَاهِيْمَ وَ مُوْسَى وَ عِيْسَى وَ مَا بَيْنَهُمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَ الْمَرْسَلِيْنَ صَلَوَاتُ اللهِ وَ سَلَامُهُ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ.

Ya Allah, limpahkan rahmat kepada Sayyidinā Muḥammad, Nabi Ādam, Nabi Nūḥ, Nabi Ibrāhīm, Nabi Mūsā, Nabi ‘Īsā, serta semua nabi dan rasūl yang diutus di antara mereka. Semoga shalawat Allah dan kedamaian-Nya dilimpahkan kepada mereka.

Shalawat ini disebut Shalawat Ulil-Azmi karena menyebutkan nama lima nabi dan rasūl yang termasuk Ulul-Azmi, yaitu Sayyidinā Muḥammad, Sayyidinā Ibrāhīm, Sayyidinā Mūsā, Sayyidinā ‘Īsā, dan Sayyidinā Nūḥ. Imām Yūsuf bin Ismā‘īl an-Nabhānī menjelaskan dalam Afdhal-ush-Shalawat bahwa menurut Imām al-Jazūlī, jika seseorang membaca shalawat ini tiga kali, setara keutamaannya dengan membaca seluruh Dalā’il-ul-Khairāt. Untuk alasan inilah, mungkin, kami menganjurkan untuk membawa shalawat ini tiga kali.

Pada bagian ini, marilah kita membaca surah al-Ikhlāsh sebelas kali dan surah al-Fātiḥah satu kali, dan memohon kepada Allah agar melimpahkan pahalanya kepada para nabi, keluarga, dan para sahabat, para wali, dan orang-orang shalih yang telah disebutkan di bab ini.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَ لَمْ يُوْلَدْ. وَ لَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Katakanlah: Allah adalah Esa. Allah adalah tempat bergantung. Tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. (Q.S. al-Ikhlash [112]: 1-4).

Al-Fātiḥah!

 

7. Shalawat yang Terhitung dan yang Tak Terhitung.

Ada beberapa shalawat yang di dalamnya menyebutkan hitungan atau jumlah shalawat. Misalnya, pada bagian kedua Dalā’il-ul-Khairāt, kita menemukan shalawat berikut ini:

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَ مَوْلَانَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ قَطْرِ الْأَمْطَارِ.

Ya Allah, limpahkan rahmat kepada tuan dan pemimpin kami Muḥammad, sebanyak hitungan tetes air hujan yang jatuh ke bumi.”

Ada juga shalawat sebanyak kalam Allah yang tak terhitung, atau sebanyak catatan Pena pada Umm-ul-Kitāb, sebanyak hitungan bintang di langit, sebanyak hitungan daun pepohonan, sebanyak hitungan laki-laki dan perempuan, dan seterusnya, Kaum muslim tentu saja tidak akan pernah puas menghaturkan shalawat kepada Baginda Nabi s.a.w. Salah satu bacaan shalawat yang banyak disebutkan dalam Dalā’il-ul-Khairāt adalah shalawat yang memohonkan kebaikan sebanyak hitungan hari sejak Allah menciptakan dunia hingga Hari Kebangkitan. Salah satu contohnya adalah shalawat berikut ini:

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَدَدَ كُلِّ قَطْرَةٍ قَطَرَتْ مِنْ سَمَاوَاتِكَ إِلَى أَرْضِكَ مِنْ يَوْمِ خَلَقْتَ الدُّنْيَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Ya Allah, limpahkan rahmat kepada Sayyidinā Muḥammad sebanyak tetes air hujan yang jatuh dari langit-Mu ke atas bumi-Mu dari mula Kau menciptakan dunia hingga Hari Kebangkitan.”

Kaum muslim dianjurkan memperbanyak membaca shalawat ini setiap harinya.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.