Shalawat Ke-11-20 – 70 Shalawat Pilihan

70
SHALAWAT PILIHAN
RIWAYAT, MANFAAT DAN KEUTAMAANNYA

 
Diterjemahkan dari buku:
Mukhtasharu fī Ma‘ānī Asmā’ Allāh al-Ḥusnā, bab Ash-Shalātu ‘alan-Nabiy, karya al-Ustadz Mahmud Samiy.
 
 
Penerjemah: Idrus Hasan
Diterbitkan oleh: PUSTAKA HIDAYAH

Rangkaian Pos: Contoh-contoh Shalawat & Riwayat Penggunaannya - 70 Shalawat Pilihan

SHALAWAT KE-11

(الصَّلَاةُ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ)

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ بَحْرِ أَنْوَارِكَ. وَ مَعْدِنِ أَسْرَارِكَ وَ عَرُوْسِ مَمْلَكَتِكَ. وَ إِمَامِ حَضْرَتِكَ وَ طِرَازِ مُلْكِكَ وَ خَزَائِنِ رَحْمَتِكَ. وَ طَرِيْقِ شَرِيْعَتِكَ. الْمُتَلَذِّذِ بِتَوْحِيْدِكَ. إِنْسَانِ عَيْنِ الْوُجُوْدِ وَ السَّبَبِ فِيْ كُلِّ مَوْجُوْدٍ. عَيْنِ أَعْيَانِ خَلْقِكَ. الْمُتَقَدِّمِ مِنْ نُوْر ضِيَائِكَ. صَلَاةً تَدُوْمُ بِدَوَامِكَ وَ تَبْقَى بِبَقَائِكَ لَا مُنْتَهَى لَهَا دُوْنَ عِلْمِكَ صَلَاةً تُرْضِيْكَ وَ تَرْضَى بِهَا عَنَّا يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas junjungan kami Muḥammad, samudera cahaya-Mu, tambang rahasia-Mu, singgasana kerajaan-Mu, imam hadhrat-Mu, bingkai kerajaan-Mu, perbendaharaan rahmat-Mu, jalan syari‘at-Mu, yang mendapat kelezatan dengan tauhid-Mu, insan yang menjadi sebab segala yang maujud, penghulu para makhluq-Mu, yang memperoleh pancaran sinar cahaya-Mu, dengan shalawat yang kekal sekekal diri-Mu, dan tetap sebagaimana tetap-Mu; tidak ada akhir di balik ilmu-Mu, shalawat yang meridhakan-Mu dan meridhakannya serta meridhakan kami dengannya, wahai Tuhan semesta alam.”

Penjelasan dan Kegunaannya:

Sayyidī Aḥmad ash-Shāwī dan lainnya mengatakan: “Shalawat ini saya dapatkan tertulis di atas sebongkah batu dengan tulisan qudrati, dinamakan shalawat “cahaya kiamat”. Shalawat ini disebut demikian, karena banyaknya cahaya yang akan diperoleh oleh orang yang membacanya, pada Hari Kiamat kelak.”

Di dalam Syaraḥ Dalā’il disebutkan, bahwa sebagian pemuka para wali mengatakan bahwa, shalawat ini berbanding dengan 14.000 shalawat lainnya.

 

SHALAWAT KE-12

(الصَّلَاةُ الْثَّانِيَةَ عَشْرَةَ)

الَلَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ صَلَّى عَلَيْهِ. وَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ لَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ. وَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا أَمَرْتَ بِالصَّلاَةِ عَلَيْهِ، وَ صَلَّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا تُحِبُّ أَنْ يُّصَلَّ عَلَيْهِ، وَ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا تَنْبَغِي الصَّلاَةُ عَلَيْهِ

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muammad sebanyak jumlah orang yang bershalawat kepadanya; limpahkanlah shalawat kepada Muammad sebagaimana shalawat yang Engkau perintahkan kepadanya; limpahkanlah shalawat kepada Muammad sebagaimana Engkau suka agar dibacakan shalawat atasnya; dan limpahkanlah pula shalawat kepada Muammad sebagaimana seharusnya shalawat atasnya.”

Shalawat tersebut di atas dinamakan shalawat Ash-Shalāt-ul-‘Adādiyyah.

SHALAWAT KE-13

(الصَّلَاةُ الثَّالِثَةَ عَشْرَةَ)

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ كُلَّمَا ذَكَرَكَ الذَّاكِرُوْنَ، وَ غَفَلَ عَنْ ذِكْرِكَ الْغَافِلُوْنَ.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Nabi kami Muḥammad selama orang-orang yang ingat menyebut-Mu, dan orang-orang yang lalai melupakan menyebut-Mu.”

Penjelasan dan Kegunaannya:

Shalawat ini dan shalawat sebelumnya (no. 12) adalah dua sighat shalawat dari Imām Syāfi‘ī r.a.

Tentang shalawat pertama (no. 12) telah diceritakan di dalam Syaraḥ Dalā’il, bahwa Imām Syāfi‘ī r.a. mimpi bertemu seseorang, lalu dikatakan kepadanya: “Apa yang telah diperbuat Allah atas Tuan?”

Imām Syāfi‘ī menjawab: “Allah telah mengampuni aku.”

“Dengan amal apa?” orang itu bertanya lagi.

“Dengan lima kalimat yang aku pergunakan untuk memberi shalawat kepada Nabi s.a.w.,” jawab Imām Syāfi‘ī.

“Bagaimana bunyinya?”

Lantas beliau mengucapkan shalawat tersebut di atas.

Sedangkan shalawat kedua (no. 13), diceritakan oleh al-Muzanī sebagai berikut: “Saya bermimpi melihat Imām Syāfi‘ī r.a., saya bertanya kepada beliau: “Apa yang telah diperbuat Allah terhadap Tuan?”

“Beliau menjawab: “Allah telah mengampuni aku berkat shalawat yang aku cantumkan di dalam kitab ar-Risālah, yaitu: Allāhumma Shalli ‘Alā Muḥammad Kullamā Dzakarak-adz-Dzākirūn, wa Shalli ‘Alā Muḥammad Kullamā Ghafala ‘an Dzikrika-l-Ghāfilūn.”

Dan Imām al-Ghazālī di dalam kitab Iḥyā’ mengatakan: “Abul-Ḥasan asy-Syāfi‘ī berkata: “Saya telah bermimpi melihat Rasūlullāh s.a.w. lalu saya bertanya: “Ya Rasūlullāh, dengan apa Syāfi‘ī diganjar dari sebab ucapannya dalam kitab ar-Risālah: Allāhumma Shalli ‘Alā Muḥammad Kullamā Dzakarak-adz-Dzākirūn, wa Shalli ‘Alā Muḥammad Kullamā Ghafala ‘an Dzikrika-l-Ghāfilūn.”

Rasulullah s.a.w. menjawab: “Ia tidak ditahan untuk dihisab.”

 

SHALAWAT KE-14

(الصَّلَاةُ الْأَرْبَعَةَ عَشْرَةَ)

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى نُوْرِ الْأَنْوَارِ، وَ سِرِّ الْأَسْرَارِ، وَ تِرْيَاقِ الْأَغْيَارِ وَ مِفْتَاحِ بَابَ الْيَسَارِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُخْتَارِ وَ آلِهِ الْأَطْهَارِ وَ أَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ، عَدَدَ نِعَمِ اللهِ وَ إِفْضَالِهِ.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas cahaya di antara segala cahaya, rahasia di antara segala rahasia, penawar duka, dan pembuka pintu kemudahan, Sayyidinā Muḥammad, manusia pilihan; juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah keni‘matan Allah dan karunia-Nya.”

Penjelasan dan Kegunaannya:

Shalawat ini bersumber dari Sayyidī Aḥmad al-Badawī r.a., dan Sayyid Aḥmad Ruslān mengomentari shalawat ini: “Shalawat ini sangat mujarrab untuk menunaikan hajat, mengusir kesusahan, menolak bencana, dan memperoleh cahaya; bahkan sangat manjur untuk segala keperluan.”

 

SHALAWAT KE-15

(الصَّلَاةُ الْخَامِسَةَ عَشْرَةَ)

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلِّمْ. عَدَدَ مَا عَلِمْتَ. وَ زِنَةَ مَا عَلِمْتَ. وَ مِلْءَ مَا عَلِمْتَ.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah shalawat (dan salam) atas Muḥammad, Nabi yang ummi; juga kepada keluarga dan para sahabatnya, sebanyak jumlah apa yang Engkau Ketahui, keindahan apa yang Engkau Ketahui, dan sepenuh apa yang Engkau Ketahui.”

Penjelasan dan Kegunaannya:

Shalawat ini bersumber dari Sayyidī Syams-ud-Dīn Muḥammad al-Ḥanafī r.a. (sultan Ḥanafī), dan ia termasuk salah seorang keturunan Abū Bakar ash-Shiddīq r.a. Ia telah menjabat kedudukan sebagai Quthb Auliyā’ selama 46 tahun 3 bulan dan beberapa hari. Selama masa jabatannya itu, ia merupakan Quthb Ghauts Mufrad Jāmi‘. Banyak sekali cerita-cerita berkenaan dengan riwayat hidup dan karamahnya. Di antaranya, ia tidak pernah berdiri satu kali pun bila menyambut kedatangan raja-raja. Bahkan jika ada salah seorang di antara raja-raja itu datang kepadanya, maka raja tadi merendah diri di hadapannya, duduk dengan sopan tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan selama berada di hadapan beliau.

 

SHALAWAT KE-16

(الصَّلَاةُ السَّادِسَةَ عَشْرَةَ)

اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النُّوْر الذَّاتِيْ وَ السِّرِّ السَّارِيْ فِيْ سَائِرِ الْأَسْمَاءِ وَ الصِّفَاتِ.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada Muḥammad, cahaya dzat, rahasia yang berjalan di malam hari, di dalam seluruh asma’ dan sifat.”

Penjelasan dan Kegunaannya:

Shalawat di atas bersumber dari Sayyidī Abul-Ḥasan asy-Syādzilī r.a., ia berbanding dengan seratus ribu shalawat lainnya. Dan ada yang mengatakan bahwa shalawat ini berguna untuk melepaskan kesulitan.

 

SHALAWAT KE-17

(الصَّلَاةُ السَّابِعَةَ عَشْرَةَ)

اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَ الْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ. وَ النَّاصِرِ الْحَقَّ بِالْحَقِّ، وَ الْهَادِيْ إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَ مِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada Sayyidinā Muḥammad, pembuka apa-apa yang terkunci, penutup dari apa-apa yang sudah lewat, penolong kebenaran dengan kebenaran, dan yang menunjukkan jalan kepada jalan-Mu yang lurus. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat kepadanya, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, sesuai dengan derajat dan kedudukannya yang tinggi.”

Penjelasan dan Kegunaannya:

Shalawat di atas berasal dari Sayyidī Abul-Makārim Syaikh Muḥammad Syams-ud-Dīn bin Abil-Ḥasan al-Bakrī r.a.

Di antara khasiat shalawat ini adalah: barang siapa membacanya walaupun hanya satu kali seumur hidupnya, maka ia tidak akan masuk neraka.

Sebagian ‘ulamā’ Maghribī mengatakan, bahwa shalawat ini turun ke atasnya dalam satu shaḥīfah dari Allah.

Dan ada pula yang mengatakan bahwa, satu kali shalawat ini menyamai sepuluh ribu – bahkan ada yang menyatakan pula enam ratus ribu – shalawat lainnya.

Barang siapa men-dawām-kan (membiasakan secara rutin) membacanya selama empat puluh hari, maka Allah akan mengampuninya dari segala dosanya. Dan barang siapa membacanya sebanyak seribu kali pada malam Kamis, Jum‘at atau Senin, maka ia akan berkumpul dengan Nabi s.a.w. Tetapi sebelumnya hendaklah ia lakukan shalat Sunnah 4 raka‘at, pada raka‘at pertama ia baca Surah al-Fātiḥah dan al-Qadr, pada raka‘at kedua sesudah al-Fātiḥah ia baca Surah al-Mu‘awwidzatain (qul a‘ūdzu bi rabb-il-falaq dan qul a‘ūdzu bi rabb-in-nās). Dan hendaklah ia membakar kemenyan ‘Arab ketika membaca shalawat tersebut.

 

SHALAWAT KE-18

(الصَّلَاةُ الثَّامِنَةَ عَشْرَةَ)

(صَلَاةُ السَّعَادَةِ)

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِيْ عِلْمِ اللهِ صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Sayyidinā Muḥammad, sebanyak apa yang ada di dalam pengetahuan Allah, shalawat yang kekal sebagaimana kekalnya kerajaan Allah.”

Penjelasan dan Kegunaannya:

Sayyidī Aḥmad ash-Shāwī menukil dari ‘ulamā’ lainnya mengatakan bahwa, shalawat tersebut di atas menyamai 600.000 shalawat lainnya, dan dikenal dengan sebutan: “Shalawat Kebahagiaan.”

Sedang Syaikh Dahlān memberikan komentarnya: “Shalawat ini merupakan sighat shalawat yang sempurna, dan orang yang membacanya secara rutin tiap-tiap hari Jum‘at sebanyak seribu kali, maka orang itu akan menjadi orang yang bahagia dunia akhirat.”

 

SHALAWAT KE-19

(الصَّلَاةُ التَّاسِعَةَ عَشْرَةَ)

اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ عَدَدَ كَمَالِ اللهِ وَ كَمَا يَلِيْقُ بِكَمَالِهِ.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada Sayyidinā Muḥammad dan keluarganya, sebanyak kesempurnaan Allah dan segala yang sesuai dengan kesempurnaan-Nya itu.”

Penjelasan dan Kegunaannya:

Shalawat ini dikenal di kalangan ahli tarekat sebagai shalawat “Kamāliyyah”. Dan para ahli tarekat telah memilih shalawat tersebut sebagai wirid, sebab pahalanya tak terhingga.

Ada yang menyatakan bahwa shalawat ini mempunyai pahala 14.000 salawat lainnya.

 

SHALAWAT KE-20

(الصَّلَاةُ الْعِشْرُوْنَ)

اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الْحَبِيْبِ الْعَالِي الْقَدْرِ الْعَظِيْمِ الْجَاهِ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلِّمْ.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam dan berkat kepada penghulu kami Muḥammad, Nabi yang ummi, yang terkasih, yang tinggi kedudukannya, dan yang besar wibawanya; juga kepada keluarga dan para sahabatnya.”

Penjelasan dan Kegunaannya:

Tentang shalawat ini, ada yang mengatakan bahwa Nabi s.a.w. bershalawat atas dirinya dengan shalawat tersebut.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *