Pondasi Thariqah – Kenapa Harus Berthariqah? (2/2)

Cover Buku Kenapa Harus Berthariqah - Penerbit Yayasan ar-Raudah Ihsan Foundation

KENAPA HARUS BERTHARIQAH?
Oleh: Abul-Fadhl ‘Abdullah bin Muhammad ash-Shiddiq al-Ghumari al-Idrisi al-Hasani
 
Penerjemah: Muhammad Fahruddin
Penerbit: Yayasan ar-Raudah Ihsan Foundation

Rangkaian Pos: Pondasi Thariqah - Kenapa Harus Berthariqah?

Barang siapa yang mengaku-ngaku bahwa ḥāliyyah (keadaan)-nya telah bersama Allah, lalu muncul salah satu dari lima sikap di bawah ini maka ia adalah pembohong atau tercerabut ḥāliyyah-nya, lima penyakit itu adalah:

  1. Tidak mengendalikan anggota badannya dari maksiat.
  2. Melakukan ketaatan secara pura-pura.
  3. Memiliki sifat thama‘ (mengharap-harap) pada makhluk.
  4. Bermusuhan dengan Ahlullāh.
  5. Tidak menjaga kehormatan kaum muslimin sebagaimana yang diperintahkan Allah.

Orang-orang yang terjangkit oleh penyakit di atas maka jarang sekali dari mereka yang meninggal dalam keadaan ḥusn-ul-khātimah.

Beberapa syarat bagi seorang syaikh yang layak diikuti oleh murid, yaitu:

  1. Memiliki perasaan yang peka.
  2. Memiliki ilmu yang benar.
  3. Mempunyai cita-cita yang tinggi.
  4. Memperoleh posisi yang diridhai.
  5. Mempunyai bashīrah yang nyata.

Kedudukan syaikh akan gugur apabila salah satu yang lima ini ada padanya:

  1. Bodoh terhadap agama.
  2. Mengorbankan kehormatan kaum muslimin.
  3. Ikut campur dalam masalah yang tidak bermanfaat.
  4. Dalam segala urusan cenderung mengikuti hawa nafsunya.
  5. Tidak memperdulikan keburukan akhlaknya.

Lima adab seorang murid kepada syaikh dan ikhwan:

  1. Tetap mengikuti perintah syaikh meskipun sepintas tampak tidak sesuai.
  2. Menjauhi larangannya walaupun larangan tersebut menyebabkan murid dalam keadaan sulit.
  3. Menjaga kehormatan syaikh ketika ia hadir ataupun ghaib, baik semasa syaikh masih hidup maupun setelah wafat.
  4. Memenuhi hak-haknya semaksimal mungkin tanpa mengurangi sedikitpun.
  5. Seorang murid hendaklah mengesampingkan pandangan pemikiran, ilmu dan kedudukannya kecuali (pengajuannya) atas persetujuan syaikhnya.

Meskipun di antara mereka sudah ada sosok syaikh yang membimbing namun dalam berinteraksi sesama ikhwannya seorang murid harus saling membantu mengingatkan (lima perkara tersebut) dengan nasihat dan pencerahan, dan apabila terdapat kekurangan dari sosok syaikh berkenaan syarat kemursyidan yang lima maka hendaklah seorang murid berpegang pada aspek kemursyidan yang dianggap telah sempurna sementara aspek lainnya disikapi secara ukhuwah.

Ḥāl (Keadaan) Ahlullāh.

Akhlak mulia adalah pondasi tharīqah dan pijakan utama bagi para ahli tashawwuf dalam membangun kualitas spiritualnya, Rasūlullāh s.a.w. telah bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ. (رواه أحمد).

Aku telah diutus untuk benar-benar menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Imām Aḥmad).

Dalam riwayat lain, beliau bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ فِي الْمِيْزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ. (رواه الترمذي).

Yang paling berbobot dalam timbangan amal (kelak di akhirat) adalah akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzī).

Berdasarkan hal tersebut, Imām Abū Bakar al-Kittānī r.a. berkata: “Tashawwuf adalah akhlak, karena itu barang siapa yang telah membuatmu menjadi tambah berakhlak berarti ia sungguh telah menambah derajatmu dalam tashawwuf.”

Sayyid Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh r.a. mengatakan: “Ada tiga hal yang termasuk akhlak para wali yaitu ketulusan jiwa, kemurahan hati dan berbaik sangka kepada hamba-hamba Allah.”

Dalam wasiat Sayyid Syaikh Muḥammad bin Shiddīq al-Ghumarī r.a. tampak jelas gambaran – bagaimana seharusnya – keadaan Ahlullāh, beliau telah berwasiat:

Alḥamdulillāh, wa ba‘du, Aku berwasiat kepadamu untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah dalam keadaan sepi maupun ramai, melepas segala perkara yang menyebabkan tercegahnya karunia sebab sesungguhnya meminta limpahan anugerah tanpa kesiapan jiwa ibarat bepergian tanpa membawa bekal, aku berwasiat agar engkau menjaga (dzikir) pada semua hembusan nafas, menjaga panca indra, bersikap ridha kepada Allah, bersabar atas kehilangan, menepati janji-janji, memperbanyak shalat, menyerahkan perencanaan dan ikhtiar kepada Sang Maha Mengatur dan Menentukan, mengamalkan sunnah, mengikuti para imam, menemani orang-orang shalih dan taat, berkumpul bersama ahli ibadah yang khusyu‘, bergaul dengan para penepat janji, berkunjung/menziarahi orang-orang shalih.

Jadilah engkau sebagai orang yang berdaya pikir luas, berdzikir dengan lisan dan hati, berilmu banyak, mempunyai keagungan sifat ḥilm dan berhati luas, tertawalah dengan tersenyum, bertanyalah dengan maksud belajar, jadilah penasihat bagi orang yang lengah, pengajar pada orang jahil, jangan menyakiti orang yang menyakitimu, jangan terbawa pada urusan yang tidak bermanfaat, jangan berbahagia atas penderitaan orang lain, jangan mengotori lisanmu dengan gunjingan.

Jadilah orang yang jujur dalam ucapan, berlepas diri dari upaya dan kekuatan (membaca lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh), menahan diri dari berbagai syubhat, menjadi bapak bagi anak yatim, tampakkanlah kegembiraan di wajahmu dan sembunyikan kesedihan dalam hatimu, sibuk mengurus (‘aib) diri sendiri, jangan menyebarkan rahasia dan membuka tabir ‘aib.

Perbanyaklah ibadah dan mohonlah tambahan hidayah, banyak diam, bertahan dari gangguan orang jahil, memaafkan orang yang berbuat buruk kepadamu, sayangi orang yang lebih muda dan hormati orang yang lebih tua, terpercaya mengemban amanah jauh dari sifat khianat, sabar dalam berbagai kesulitan, tidak merepotkan orang lain dan banyak memberi pertolongan, berlama-lama dalam berdiri (shalat), sering berpuasa, shalatlah dengan penuh rasa tersipu, puasalah dengan rasa penuh harap, tundukkan pandangan, sedikit dosa, banyak beramal, penuh adab kepada para auliyā’.

Hiasi ucapanmu dengan kandungan hikmah dan tatapanmu dengan penuh ‘ibrah, jangan banyak mengeluh dan jangan suka membuka aurat/‘aib (sesama), jangan menjadi penghasut dan pendengki, carilah kemuliaan/keridhaan Allah dari setiap urusan, bersemangatlah memakmurkan bumi dengan jasadmu namun ruhmu senantiasa mengingat kematian dan akhirat, selimuti dirimu dengan busana ketawadhuan, tanggalkanlah berbagai pengharapan (thama‘) pada makhluk dan jadilah orang yang bertawakkal kepada Sang Maha Mengatur lagi Maha Pencipta.”

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *