Pemahaman Yang Keliru Tentang Syafa‘at – Mengetuk Pintu Syafa’at

Mengetuk Pintu Syafā‘at
Oleh: Syafiqul Anam al-Jaziriy
 
Penerbit: Pustaka Group

Pemahaman Yang Keliru Tentang Syafā‘at

 

Terkadang orang seringkali menganggap bahwa
syafā‘at itu bisa diberikan kapanpun ia mau
bahkan ada yang mengira bahwa mereka
bisa memberi manfaat
kepada mereka di sisi Allah s.w.t.
Sebagaimana mereka memberi manfaat kepada semua orang.
Memiliki kemampuan untuk memberikan kebaikan
kepada orang lain dan mencegah berbagai
keburukan dari mereka.
Itulah anggapan orang-orang bodoh,
orang-orang kuat dan orang-orang yang berlebihan
yang menganggap dirinya adalah super hero
bagi orang lain.

 

Sesungguhnya apa yang mereka pahami tentang syafā‘at hanyalah sebatas bagaimana mereka bisa memberikan kemanfaatan bagi orang lain tanpa mengetahui bagaimana dan apa syafā‘at itu sendiri.

Di antara mereka ada yang percaya kepada hari berbangkit, percaya bahwa para pahlawan itu bisa menjadi para pemberi syafā‘at kepada mereka di sisi Allah s.w.t. sehingga bisa menolak dari mereka segala macam hukuman dan siksa karena berbagai perbuatan buruk mereka.

Ketika para pahlawan itu meninggal dunia, berubahlah ‘aqidah mereka itu yang pada mulanya berkenaan dengan pribadi para pahlawan menjadi berkenaan dengan arwah mereka selanjutnya dengan kuburan mereka. Selanjutnya dengan patung-patung mereka yang mereka buat di atas kuburan para pahlawan tersebut, ya‘ni kepada semua patung dan berhala yang disembah oleh orang-orang setelah mereka. Mereka berkata: “Mereka itu adalah para pemberi syafā‘at kepada kami di sisi Allah.”

Di antara mereka yang sesat itu dengan keyakinannya adalah orang-orang Mesir kuno dan orang-orang Yunani. Pada perubahan kata-kata dan kalimat-kalimat dari tempatnya, yaitu mereka para ahli Kitab.

Berbagai keyakinan mendepak kebeneran adalah karena suatu sebab dan tidak berhimpun dengan kebenaran dengan alasan.

Berbagai keyakinan mengarahkan manusia kepada berbagai keburukan dan dosa dan mendorong mereka untuk menyeleweng dan melakukan kriminalitas. Memotivasi kepada berbagai kerusakan dan tidak menyeru kepada ketaatan atau kebaktian. Tidak memerintahkan untuk bertaqwā atau kebajikan. Tidak pula memerintahkan untuk sebuah keadilan atau iḥsān.

Karenanya, kebanyakan dari mereka yakin bahwa manusia sekali pun melakukan keburukan, dan sekali pun melakukan dosa, namun mereka tidak merasa takut dan tidak ada masalah selama mereka mendekatkan diri dengan berbagai macam qurban yang ditujukan kepada siapa yang mereka yakini bahwa ia memiliki kejujuran dan kedudukan di hadapan Rabb mereka. Jika mereka berbuat buruk, maka orang itu akan memberikan syafā‘at di sisi Rabbnya sehingga semua dosanya diampuni dan dihapuskan yang pada akhirnya ia menjadi bagian dari kalangan orang-orang yang dekat kepada Rabb yang tidak pernah merasa takut dan tidak pula merasa sedih hati.

Orang-orang penyembah berhala dari kalangan orang-orang ‘Arab beragama dengan ‘aqīdah semacam ini dan dengan itu mereka merasa tenteram dan tak ada sesuatu apa pun yang mampu memalingkan mereka dari ‘aqīdah sedemikian itu. Hal ini ditegaskan di dalam Kitābullāh yang ḥaqq, yang tidak dimasuki kebathilan, baik dari depan maupun dari belakang dan merupakan saksi yang paling adil.

Allah s.w.t. ketika menjelaskan kondisi mereka, mengetengahkan apa-apa yang sering mereka jadikan dalil berupa berbagai alasan ketika mereka terkena kehinaan atau dilemparkan kepada mereka berbagai keingkaran karena penyembahan berhala yang mereka lakukan.

Allah s.w.t. berfirman:

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafā‘at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (Yūnus: 18)

Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami kurniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafā‘at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).” (al-An‘ām: 94).

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (az-Zumar: 3).

Mereka yakin bahwa patung-patung itu dan telah kuketahui asalnya memiliki kehormatan dan kedudukan di sisi Allah. Patung-patung itu mendekatkan mereka kepada-Nya, menuntaskan berbagai hajat mereka, dan memberi mereka berbagai kebaikan, menolak berbagai keburukan dari mereka, memberi mereka syafā‘at jika mereka sakit karena dosa, oleh sebab itu, mereka menyembah patung-patung itu, mendekatkan diri kepadanya dengan berbagai macam qurban, berkeliling di sekitarnya, mengusap-usapnya, menyembelih sembelihan karenanya, membakar kemenyan di dekatnya, bernadzar kepadanya, berdiri di dekatnya sebagaimana seseorang yang sangat hina dengan tunduk atau seperti seorang hamba yang sangat khusyū‘ atau seperti seorang hina yang merengek dengan harapan mereka dihapuskan segala dosanya dan didekatkan kepada Rabbnya. Mereka merasa beberapa derajat ditinggikan di sisinya sehingga dirinya diberi keturunan. Turun kepadanya air hujan dan paceklik pun ditahan kedatangannya kepada mereka.

Sungguh ‘Ajaib dan mencengangkan di antara keanehan ‘aqīdah ini bahwa umatnya dari kalangan Islam yang berada di dalamnya kembali dan berjalan masuk ke dalam umat Islam, sebagaimana yang diinformsikan oleh Rabb yang Maha Perkasa, bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang dimunculkan kepada semua manusia, yang tujuan pertama-tama utusan Allah di dalamnya adalah dakwah kepada tauhid yang murni dan menghancurkan berhala-berhala dalam segala bentuknya.

Racun ‘aqīdah yang salah ini mengalir ke dalam umat ini sehingga kita sering menyaksikan kebanyakan mereka sungguh menyedihkan diriku jika aku harus mengatakan: “Termasuk para ‘Ulamā’ di dalamnya” memuji orang-orang yang suka mengunjungi kuburan-kuburan, hanya Allah sendiri yang mengetahui bagaimana akhir mereka yang dahulu terpencar-pencar itu menjadi disatukan. Jika mereka telah terpayungi oleh kubah-kubah kuburan tersebut mereka berhenti di dekat kuburan yang tak ada gerak itu dengan merengek dengan penuh kekhusyū‘an di mana jika kekhusyū‘an yang dilakukan oleh mereka itu diterapkan di haribaan Dzāt Pemilik segala keagungan dan kemuliaan ketika sedang shalat, tentu mereka menjadi hamba-hamba yang paling mukhlish, mereka bermunajat, berseru dengan menyebut nama-nama mereka, mengajukan berbagai hajat kepada mereka, mengadukan kepada mereka berbagai krisis yang dialami, dengan tangan-tangan meraka mengusap-usap tabir dan kain yang mengelilingi tiang-tiang yang ditegakkan di atas tanah maqam, lalu dengan tangan-tangan mereka mengusap muka dan dada. Di antara hal-hal yang bisa memutuskan kehidupan hati kaum Mu’minīn sehingga jiwa-jiwa mereka hilang dengan keadaan merugi adalah bahwa anda akan melihat di antara para penyembah kuburan ada beberapa orang yang menciumi ambang-ambang pintu ruangan yang mengelilingi maqam-maqam itu. Aku juga tidak tahu dari kelompok apa lagi yang turun menuju ambang-ambang pintu lalu menciuminya dan di antara mereka ada pula yang bersujud di depannya. Anda akan menyaksikan bahwa sebagian dari mereka dengan air matanya yang mengucur karena berlebih-lebihan dalam khusyū‘ yang terus-menerus diiringi berbagai ungkapan darinya yang terus membanjir. Jika dibacakan al-Qur’ān kepada mereka dari bagian awal hingga bagian akhirnya tidak pernah pelupuk mata mereka sedikit lembab atau mata mereka berkaca-kaca. Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan firman-Nya:

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (al-Baqarah: 165).

Demikianlah beberapa pemahaman yang keliru tentang syafā‘at. Semoga dengan adanya hal tersebut diharapkan sebagai umat Muslim mampu dan bisa membedakan mana yang benar-benar syafā‘at dan mana yang tidak atau sekedar ingin mendapatkan pamor dari orang lain.

Golongan Manusia Dalam Menyikapi Syafā‘at:

Ada tiga golongan manusia dalam menyikapi syafā‘at dan hanya ada satu golongan yang benar dalam menyikapinya.

Golongan pertama adalah yang berlebihan dalam menetapkan adanya syafā‘at bahkan mereka meminta syafā‘at tersebut langsung pada mayit, penghuni kubur, berhala, pohon, dan batu.

Sebagaimana terdapat pada firman Allah:

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafā‘at kepada kami di sisi Allah”” (Yūnus: 18)

Golongan kedua adalah golongan yang berlebihan dalam menolak syafā‘at seperti Mu‘tazilah dan Khawārij. Mereka menafikan adanya syafā‘at bagi pelaku dosa besar. Mereka jelas-jelas telah menyelisihi nash-nash al-Kitāb dan as-Sunnah yang diriwayatkan dalam banyak jalur yang jelas-jelas menetapkan adanya syafā‘at bagi pelaku dosa besar.

Di antara dalil tersebut adalah dari Anas bin Mālik, Nabi Muḥammad s.a.w. bersabda: “Syafā‘atku juga bagi pelaku dosa besar dari umatku.” (HR. Abū Dāūd no. 4739 dan Tirmidzī no. 2435. Syaikh al-Albānī dalam Shaḥīḥu wa Dha‘īfu Sunani Abī Dāūd mengatakan bahwa hadits ini shaḥīḥ).

Golongan Ketiga yaitu golongan yang bersikap pertengahan. Merekalah Ahl-us-Sunnah wal-Jamā‘ah. Mereka mengimani adanya syafā‘at sebagaimana yang telah disebutkan oleh Allah dan Rasūl-Nya tanpa bersikap berlebihan dan meremehkan.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.