Hakikat Tasawwuf: Keutamaan dan Faedah Zikir

Hakekat Tasawwuf | Syaikh 'Abdul Qadir as-Sufi

Dari Buku:
Hakikat Tasawwuf
(Judul Asli: Haqa’iq-ut-Tasawwuf)
Oleh: Syaikh ‘Abdul-Qadir ‘Isa
Penerjemah: Khairul Amru Harahap, Lc., MHI dan Afrizal Lubis, Lc.
Penerbit: Qisthi Press

Rangkaian Pos: Hakikat Tasawwuf - Bab Tentang Dzikir | Syaikh 'Abdul Qadir 'Isa
  1. 1.Hakikat Tasawwuf – Bab Tentang Dzikir
  2. 2.Hakikat Tasawwuf: Arti Kata Dzikir
  3. 3.Hakikat Tasawwuf: Keutamaan Dzikir Dalam Perspektif Para Ulama
  4. 4.Hakikat Tasawwuf: Dalil-Dalil Dzikr dari al-Qur’an dan Hadits
  5. 5.Hakikat Tasawwuf: Macam-Macam Zikir (Bagian 1)
  6. 6.Hakikat Tasawwuf: Macam-Macam Zikir (Bagian 2)
  7. 7.Hakikat Tasawwuf: Lafaz-lafaz dan Pola Zikir
  8. 8.Hakikat Tasawwuf: Agar Kita Tidak Meninggalkan Zikir
  9. 9.Hakikat Tasawwuf: Gerakan Badan dalam Zikir
  10. 10.Hakikat Tasawwuf: Membacakan dan Mendengarkan Syair di Masjid
  11. 11.Anda Sedang Membaca: Hakikat Tasawwuf: Keutamaan dan Faedah Zikir
  12. 12.Hakikat Tasawwuf: Wiridnya Kalangan Sufi

Bab II Bagian ke 4.
Dzikir

Banyak sekali hadis-hadis yang menjelaskan tentang keutamaan dan faedah zikir kepada Allah. Di antaranya:

  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Sa‘id al-Khudri bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَا مِنْ قَوْمٍ يَذْكُرُوَنَ اللهَ إِلاَّ حَفَّتْ بِهِمُ الْمَلاَئِكَةُ وَ غَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَ ذَكَرَ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

Tidak satu kaum pun berdzikir kepada Allah melainkan para malaikat akan mengitari mereka, rahmat akan melingkupi mereka, kedamaian akan turun kepada mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya. (H.R. Muslim dan Tirmidzi). (1491).

  1. Diriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Khudri bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah berfirman:

مَنْ شَغَلَهُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَنْ مَسْأَلَتِيْ وَ ذِكْرِيْ أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِيَ السَّائِلِيْنَ

Barang siapa disibukkan oleh al-Qur’an dan dzikir dari meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberikannya sesuatu yang paling utama di antara apa-apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta kepada-Ku. (H.R. Tirmidzi dan Baihaqi).

  1. Diriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Khudri bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

Di hari Kiamat, Allah akan memberi tahu kepada semua orang tentang golongan yang paling mulia.” Seorang sahabat bertanya: “Siapakah golongan yang paling mulia itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka adalah golongan yang mengadakan majlis-majlis dzikir dalam masjid. (H.R. Ahmad, Baihaqi dan Ibnu Hibban).

  1. Diriwayatkan dari Mu‘wiyah, bahwa Nabi pernah bergabung dengan halaqah para sahabat dan berkata:

Mengapa kalian duduk di majlis ini?” Para sahabat menjawab: “Kami sedang berdzikir dan bertahmid kepada Allah.” Kemudian beliau bersabda: “Jibril datang kepadaku dan memberitahukan bahwa Allah membangga-banggakan kalian di hadapan para malaikat. (H.R. Muslim dan Tirmidzi).

  1. Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Tidak satu kaum pun berkumpul untuk berdzikir kepada Allah dengan hanya mengharap ridha-Nya, melainkan akan ada yang menyeru dari langit: “Berdirilah! Kalian telah memperoleh ampunan dan keburukan-keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan.” (H.R. Ahmad).

  1. Diriwayatkan dari Tsabit bahwa pada suatu hari Salman berada dalam sebuah kelompok yang sedang berdzikir kepada Allah. Ketika Nabi s.a.w. melintas, mereka diam. Beliau bertanya:

Apa yang sedang kalian ucapkan?” Mereka menjawab: “Kami sedang berdzikir kepada Allah.” Beliau bersabda: “Aku melihat rahmat telah turun dan aku sangat senang bergabung dengan kalian dalam kelompok zikir ini. (H.R. Ahmad dan Hakim).

Ibnu Qayyim al-Jauziah menyatakan bahwa faedah dzikir lebih dari seratus. Di antaranya:

  1. Dzikir dapat mengusir, mengekang dan meremukkan setan.
  2. Dzikir dapat mendatangkan ridha dari Yang Maha Pengasih.
  3. Dzikir dapat menghilangkan rasa sedih dan gelisah dari hati.
  4. Dzikir dapat mendatangkan kebahagiaan dalam hati.
  5. Dzikir dapat menyinari wajah dan hati.
  6. Dzikir dapat menguatkan hati dan badan.
  7. Dzikir dapat mendatangkan rezeki.
  8. Dzikir dapat memberikan wibawa, ketenangan dan keceriaan kepada orang yang berdzikir.
  1. Dzikir dapat mendatangkan maḥabbah (cinta) yang merupakan roh Islam, serta sumber kebahagiaan dan keselamatan. Allah telah menetapkan sebab bagi segala sesuatu. Dan Dia menjadikan sebab dari maḥabbah adalah ketekunan dalam berdzikir. Barang siapa ingin memperoleh cinta kasih Allah, maka dia harus selalu mengingat-Nya. Sebab dzikir adalah pintu maḥabbah, syiarnya yang paling agung dan jalannya yang paling lurus.

  2. Dzikir dapat mendatangkan muraqabah (perasaan selalu dalam pengawasan Allah), sehingga seseorang dapat masuk ke dalam pintu ihsan. Dia menyembah Allah seolah dia melihat-Nya. Seorang yang lalai dari dzikir tidak akan mungkin sampai kepada maqām iḥsān, sebagaimana seorang yang duduk tidak akan sampai ke rumah yang ditujunya.

  3. Dzikir dapat mendatangkan inābah, yakni kembali kepada Allah. Barang siapa banyak kembali kepada-Nya dengan dzikir, maka hatinya akan selalu kembali kepada-Nya di setiap saat. Sehingga, Allah akan menjadi tempat berlindung, tempat mengadu, kiblat hati dan tempat melarikan diri saat terjadi kesusahan dan bencana.

  4. Dzikir dapat mendatangkan kedekatan dengan Allah. Sejauh dzikir seseorang kepada Allah, sejauh itu pula kedekatannya dengan-Nya. Dan sejauh kelalaian seseorang terhadap Allah, sejauh itu pula jaraknya dari-Nya.

  5. Dzikir dapat membuka pintu-pintu makrifat. Semaking banyak seseorang berdzikir, maka makrifatnya akan semakin bertambah.

  6. Dzikir dapat membuat orang yang berdzikir merasakan wibawa dan keagungan Tuhannya. Hal itu disebabkan karena kuatnya Allah menguasai hatinya dan kehadirannya bersama Allah.

  7. Allah akan mengingat orang-orang yang senantiasa berdzikir kepada-Nya, sebagaimana firman Allah:

“Ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepada kalian.” (al-Baqarah: 152).

Jika dzikir tidak memiliki keutamaan selain ini, maka ini sudah cukup sebagai keutamaan dan kemuliaan baginya. Nabi s.a.w. meriwayatkan dari Allah:

مَنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ وَ مَنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ

Barang siapa mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan mengingatnya dalam hati. Dan barang siapa mengingat-Ku di hadapan para makhluk, maka Aku akan mengingatnya di hadapan para makhluk yang lebih baik dari mereka.(H.R. Bukhari).

  1. Dzikir dapat menghidupkan hati. Ibnu Taimiah berkata: “Dzikir bagi hati adalah ibarat air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan jika dia dikeluarkan dari air?”

  2. Dzikir dapat membuat hati bersih dari karatnya. Segala sesuatu memilik karat. Karat hati adalah kelalaian dan nafsu. Dan yang membersihkannya adalah dzikir, tobat dan istighfar.

  3. Dzikir dapat menghapus segala kesalahan atau dosa. Sebab, dzikir adalah amal baik yang paling agung. Dan amal-amal baik menghapus amal-amal buruk.

  4. Dzikir dapat menghilangkan rasa asing antara hamba dan Tuhannya. Antara orang yang lalai dan Allah terdapat keterasingan yang tidak bisa hilang kecuali dengan dzikir.

  5. Jika seseorang mengingat Allah dengan dzikir di kala lapang, maka Allah akan mengingatnya di kala sulit. Dalam sebuah atsar disebutkan jika seorang hamba yang selalu taat dan ingat kepada Allah menemui kesulitan, atau dia memohon suatu hajat kepada-Nya, maka malaikat akan berkata: “Wahai Tuhan, itu adalah suara baik dari seorang hamba yang baik.” Dan jika seorang hamba yang lalai dan berpaling dari Allah berdoa, atau memohon kepada-Nya, maka malaikat akan berkata: “Wahai Tuhan, itu adalah suara mungkar dari seorang hamba yang ingkar.”

  6. Dzikir dapat menyelamatkan orang yang melakukannya dari siksa Allah, sebagaimana diriwayatkan oleh Mu‘adz:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلاً قَطُّ أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللهِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ

Tidak ada perbuatan yang dikerjakan oleh anak Adam yang paling menyelamatkan dari azab Allah, selain dzikir kepada Allah. (H.R. Tirmidzi).

  1. Dzikir dapat menyebabkan turunnya ketenangan, rahmat dan naungan malaikat bagi orang yang melakukannya, sebagaimana diberitahukan oleh Nabi s.a.w.

  2. Dzikir dapat menyebabkan lisan terhindar dari ghibah, adu domba, dusta, perkataan keji dan segala sesuatu yang batil. Orang hidup pasti berbicara. Jika tidak berdzikir, maka kemungkinan untuk membicarakan hal-hal yang haram akan sangat besar sekali. Dan satu-satunya jalan untuk menghindarinya adalah dengan selalu berdzikir kepada Allah. Barang siapa membiasakan lisannya dengan berdzikir kepada Allah, maka lisannya akan terhindar dari sesuatu yang batil dan sia-sia. Dan barang siapa tidak menghiasi lisannya dengan dzikir, maka lisannya akan dihiasi oleh segala yang batil, yang sia-sia, dan yang keji. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.

  3. Majlis dzikir adalah majlis para malaikat. Sementara tempat-tempat hiburan dan bersenang-senang adalah tempatnya setan. Seseorang bebas memilih mana yang lebih menarik dan lebih baik baginya.

  4. Dzikir dapat mendatangkan kebahagiaan bagi orang yang melakukannya dan yang mengikuti majlisnya. Orang ini akan selalu mendapatkan berkah di mana pun dia berada. Sebaliknya, orang yang lalai dan selalu melakukan kesia-siaan, akan sengsara karena kelalaian dan kesia-siaannya, dan dia akan menyengsarakan orang-orang yang bersamanya.

  5. Dzikir dapat menyelamatkan orang yang dzikir dari penyesalan di akhirat. Sebab, setiap tempat yang di dalamnya seseorang tidak mengingat Tuhannya, maka dia akan menyesalinya di akhirat.

  6. Dzikir disertai tangisan dalam khalwat akan menyebabkan seseorang mendapat naungan dari Allah pada hari yang sangat panas (Kiamat) di bawah naungan ‘Arasy-Nya.

  7. Kesibukan berdzikir dapat menyebabkan orang yang berdzikir memperoleh karunia Allah yang paling utama yang dianugerahkan kepada orang-orang yang memohon kepada-Nya. Diriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Khudri dari Rasulullah s.a.w., beliau bersabda:

Allah berfirman: “Barang siapa disibukkan oleh al-Qur’an, dan dzikir dari meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberikannya sesuatu yang paling utama di antara apa-apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta kepada-Ku. (H.R. Tirmidzi dan Baihaqi).

  1. Dzikir merupakan ibadah yang paling mudah dikerjakan, padahal dia adalah ibadah yang paling mulia dan utama. Gegakan lisan dalam dzikir merupakan gerakan anggota tubuh yang paling ringan dan mudah. Seandainya anggota tubuh manusia dalam sehari semalam bergerak seperti jumlah gerakan lisannya, maka hal itu akan memberatkannya, bahkan tidak mungkin terjadi.

  2. Dzikir adalah tanaman surga. Diriwayatkan dari Abdulalh ibn Mas‘ud dari Rasulullah s.a.w., beliau bersabda:

لَقِيْتُ إِبْرَاهِيْمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلاَمَ وَ أَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَ أَنَّهَا قِيْعَانٌ وَ أَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللهِ وَ الْحَمْدُ للهِ وَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ اللهُ أَكْبَرُ

Pada malam isra’, aku bertemu dengan Ibrahim al-Khalil a.s. Dia berkata: “Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu. Beritahukanlah kepada mereka bahwa surga itu tanahnya bagus, airnya segar dan luas. Dan tanamannya adalah kalimat: Subḥānallāhi, wal-ḥamdulillāhi, wa lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. (H.R. Tirmidzi).

  1. Anugerah dan karunia yang dihasilkan oleh dzikir tidak sama dengan amal-amal lainnya. Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah s.a.w. beliau bersabda:

مَنْ قَالَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَ لَهُ الْحَمْدُ، وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، فِيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلُ عَشْرِ رِقَابٍ وَ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَ مُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَ كَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَومَهُ ذلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذلِكَ

Barang siapa mengucapkan kalimat “Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lah-ul-mulku wa lah-ul-ḥamd, wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr”, seratus kali dalam sehari, maka pahalanya sama dengan memerdekakan sepuluh hamba sahaya, dicatat baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus kesalahan dan dia akan memiliki tameng dari setan pada hari itu sampai sore hari. Tidak ada yang diganjar lebih baik dari dari apa yang diperolehnya itu kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak darinya. (H.R. Bukhari).

Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ فِيْ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَ إِنْ كَانَتْ مِثْلِ زَبَدِ الْبَحْرِ

Barang siapa mengucapkan “Subḥānallāhi wa bi ḥamdih”, sehari seratus kali, niscaya akan dihapus dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di laut. (H.R. Muslim).

  1. Ketekunan dalam berdzikir kepada Allah menjadikan seseorang tidak pernah lupa kepada-Nya. Dan lupa kepada Allah merupakan penyebab dari sengaranya seseorang dalam kehidupan dunia dan akhirat. Lupa kepada Allah adalah penyebab lupanya seseorang terhadap dirinya sendiri dan maslahatnya. Allah berfirman:

Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. (al-Hasyr: 19).

  1. Dzikir dapat dikerjakan oleh seorang hamba saat dia berbaring di ranjang, dalam keadaan sehat atau sakit, dalam keadaan memperoleh nikmat dan seterusnya. Tidak ada amal yang dapat dikerjakan di setiap waktu dan kondisi selain dzikir. Bahkan dzikir dapat dikerjakan di kala seseorang tertidur pulas di ranjangnya. Dan dengan dzikir tersebut, dia dapat mengungguli orang yang melakukan ibadah malam dengan hati lalai. Pagi harinya, dia sudah sampai di tujuan, padahal malamnya dia hanya berbaring di ranjangnya. Sedangkan orang yang mengerjakan ibadah dengan hati lalai, masih berada di atas kendaraannya. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya.

Dalam sebuah riwayatkan, dikisahkan ada seorang ahli ibadah yang bertamu kepada seseorang. Si ahli ibadah menghabiskan waktu malamnya untuk shalat. Sedangkan si tuan rumah hanya berbaring di ranjangnya. Pada pagi harinya, si ahli ibadah berkata kepada si tuan rumah: “Engkau telah ketinggalan kafilah.” Si tuan rumah menjawab: “Keutamaan bukanlah milik seseorang yagn berjalan sepanjang malam, dan ketika pagi tiba dia masih berada di atas kendaraannya. Tapi keutamaan adalah milik orang yang sepanjang malam berbaring di ranjangnya, dan ketika pagi tiba dia sudah sampai di tujuan.”

Kisah di atas dan semisalnya memiliki dua penafsiran, yang satu benar dan yang lain salah. Barang siapa menafsirkan bahwa orang yang berbaring di atas ranjangnya mengungguli orang yang beribadah sepanjang malam, maka penafsirannya salah. Penafsiran yang benar adalah bahwa ia tuan rumah yang berbaring di atas ranjang itu menambatkan hatinya dengan Tuhannya dan meletakkan isi hatinya dengan ‘Arasy-Nya, sehingga sepanjang malam hatinya berkeliling di sekitar ‘Arasy-Nya bersama para malaikat. Dunia dan isinya telah hilang dari hatinya. Dia terhalang untuk bangun pada malam hari karena sakit. Atau karena dingin, atau karena dia takut atas keselamatan dirinya apabila ada musuh yang sedang mencarinya, atau alasan lainnya, sehingga dia berbaring di atas ranjang. Dan Allah Maha Tahu akan apa yang ada dalam hatinya. Sedangkan si ahli ibadah, dia terjaga, shalat dan membaca al-Qur’an, sementara di dalam hatinya terdapat hasrat pamer, ujub serta keinginan untuk mendapat penghormatan dan pujian dari manusia. Atau hatinya berada di suatu tempat dan raganya di tempat lain. Dengan demikian, tidak ada keraguan bahwa di pagi hari si tuan rumah yang berbaring telah mengungguli si ahli ibadah dalam beberapa tingkatan.

  1. Dzikir adalah pangkal dari semua yang pokok dan jalan bagi kalangan sufi secara umum. Barang siapa dibukakan hatinya dengan dzikir, maka telah dibukakan baginya pintu menuju Allah. Jika dia mensucikan hatinya, lalu menemui Tuhannya, niscaya dia akan mendapatkan apa yang dikehendaki di sisi-Nya. Jika dia telah menemukan Tuhannya, maka dia telah memperoleh segala sesuatu. Dan jika meninggalkan Tuhannya, niscaya dia akan kehilangan segala sesuatu.

  2. Dzikir adalah pohon yang buahnya adalah makrifah dan kondisi spiritual yang para sālik berupaya untuk meraihnya. Tidak ada metode untuk memperoleh buah itu kecuali melalui pohon dzikir. Setiap kali pohon itu tumbuh besar, maka akarnya akan semakin kokoh dan buahnya akan semakin banyak. Dzikir akan membuahkan maqām yaqzhah (kesadaran) dan maqām tauḥīd. Dan kedua maqām ini adalah dasar yang di atasnya dibangun semua maqām, sebagaimana dibangunnya dinding di atas pondasi, atau dibangunnya atas di atas dinding. Jika orang tidak sadar, maka dia tidak mungkin menempuh perjalanan. Dan dia tidak akan sadar kecuali dengan dzikir. Sedangkan kelalaian adalah tidur atau matinya hati.

  3. Orang yang berdzikir akan selalu dekat dengan obyek dzikir (Allah) dan Allah akan selalu bersamanya. Kebersamaan ini adalah kebersamaan khusus, bukan kebersamaan dalam arti pengetahuan Allah yang bersifat umum. Kebersamaan ini adalah kebersamaan dengan kedekatan, perlindungan, cinta kasih, pertolongan dan taufik.

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (an-Nahl: 128).

“Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (al-Ankabut: 69).

“Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al-Anfal: 66).

“Janganlah engkau berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (at-Taubah: 40).

Kebersamaan ini akan mendatangkan keuntungan yang sangat banyak bagi orang yang selalu berdzikir, sebagaimana dijelaskan dalam hadis qudsi: “Allah telah berfirman:

أَنَا مَعَ عَبْدِيْ مَا ذَكَرَنِيْ وَ تَحَرَّكَتْ بِيْ شَفَتَاهُ

Aku bersama hamba-Ku selama dia berdzikir kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku. (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim dan Ibnu Hibban).

Dalam hadis lain disebutkan:

Golongan yang selalu berdzikir kepada-Ku adalah golongang yang selalu beserta-Ku di majlis-Ku. Golongan yang bersyukur kepada-Ku adalah golongan yang Aku tambahi nikmat mereka. Golongan yang taat kepadaku adalah golongan yang mulia di sisi-Ku. Dan golongan yang durhaka kepada-Ku adalah golongan yang Aku tidak menghalangi mereka dari rahmat-Ku. Jika mereka bertobat kepada-Ku, niscaya Aku akan mengasihi mereka. sesungguhnya Aku mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan diri. Jika mereka tidak bertobat, maka Aku adalah ibarat tabib bagi mereka. Aku akan menguji mereka dengan beragam musibah, sehingga Aku mensucikan mereka dari kesalahan-kesalahan mereka. (H.R. Ahmad).

Kebersamaan yang diperoleh oleh orang yang senantiasa berdzikir adalah kebersamaan yang tidak serupa dengan kebersamaan apa pun. Kebersamaan itu lebih khusus dari kebersamaan yang diperoleh oleh orang yang berbuat baik dan bertakwa. Kebersamaan itu tidak bisa diungkap dengan kata-kata dan tidak bisa dikatakan. Dia hanya dapat diketahui dengan perasaan atau intuisi.

  1. Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa dan lisannya selalu basah karena dzikir kepada-Nya. Orang tersebut akan selalu mengerjakan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya dan menjadikan dzikir kepada Allah sebagai syiarnya. Takwa akan mengantarkannya untuk masuk surga dan selamat dari siksa neraka. Dan inilah yang disebut dengan pahala. Sedangkan dzikir akan mengantarkannya untuk selalu dekat dengan Allah dan dia akan memperoleh kedekatan di sisi-Nya. Dan inilah yang disebut dengan manzilah (kedudukan di sisi Allah).

  2. Di dalam hati terdapat kekerasan yang tidak dapat dicairkan kecuali dengan dzikir kepada Allah. Dengan demikian, seseorang dituntut untuk mengobati kekerasan hatinya itu dengan berdzikir kepada Allah.

Hamad ibn Zaid menyebutkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Hasan: “Wahai Abu Sa‘id (Hasan), aku mengadu kepadamu tentang kekerasan yang ada dalam hatiku.” Hasan berkata: “Cairkanlah dia dengan dzikir.”

Jika hati semakin lalai, maka kekerasannya akan semakin bertambah. Dan dzikir kepada Allah akan dapat mencairkan kekerasan hati tersebut, sebagaimana cairnya timah dalam api. Barang siapa ingi kekerasan hatinya cair, maka hendaklah dia melakukan dzikir kepada Allah.

  1. Dzikir adalah obat bagi hati dan kelalain adalah penyakitnya. Hati yang sakit hanya dapat diobati dan disembuhkan dengan dzikir kepada Allah. Makhul berkata: “Dzikir kepada Allah adalah obat. Dan mengingat manusia adalah penyakit.” (151).

  2. Dzikir adalah pangkal dan pokok untuk memperoleh perlindungan dan bimbingan dari Allah. Dan kelalaian adalah pangkal dan pokok permusuhan dengan-Nya. selama seorang hamba tekun berdzikir kepada Allah, niscaya Allah akan mencintainya dan menjadikannya sebagai wali-Nya (kekasih-Nya). Dan selama dia lalai terhadap Allah, niscaya Allah akan memarahi dan memusuhinya. Al-Auzai meriwayatakan dair Hasan ibn ‘Athiah, dia berkata: “Seorang hamba tidak memusuhi Tuhannya dengan sesuatu yang lebih besar dari keengganannya untuk berdzikir kepada-Nya atau kebenciannya terhadap orang yang berdzikir kepada-Nya. Permusuhan tersebut disebabkan oleh kelalaian. Jika dia terus lalai, maka dia akan enggan berdzikir kepada-Nya dan membenci orang yang berdzikir kepada-Nya. Dan akhirnya, Allah akan menjadikannya sebagai musuh-Nya, sebagaimana Dia menjadikan orang yang selalu tekun berdzikir sebagai wali-Nya.

  3. Orang yang terus-menerus berdzikir akan masuk ke dalam surga dengan tertawa, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Darda’, dia berkata: “Orang-orang yang lisan mereka selalu basah karena berdzikir kepada Allah akan masuk surga dengan tertawa.”

  4. Dzikir dapat menjadi penghalang antara seseorang dengan neraka jahannam. Jika ada di antara amalannya ada yang mengharuskannya ke neraka, maka dzikirnya akan menghalangi pintu neraka tersebut. Jika dzikirnya sempurna, maka penghalang tersebut akan sulit ditembus. Dan jika tidak, maka sesuai dengan kadarnya.

  5. Semua amalan syariat dimaksudkan untuk menegakkan dzikir kepada Allah. Dengan kata lain, sasaran yang hendak dicapai dari semua amal adalah untuk mengingat Allah. Allah berfirman:

“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14) (152).

Barang siapa ingin mengetahui lebih mendalam tentang faedah dzikir, sebaiknya dai merujuk kitab-kitab yang mengkaji tentang dzikir, seperti kitab al-Adzkār karya Nawawi, kitab Miftāḥ-ul-Falāḥ karya Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari, kitab ‘Amal-ul-Yaum wal-Lailah karya Jalaluddin as-Suyuthi dan kitab-kitab lainnya.

Kalangan sufi mengerjakan dzikir kepada Allah secara berkesinambungan di setiap saat, sehingga mereka dapat meraih beragam faedahnya. Dengan demikian, mereka berbicara tentang faedah-faedah dzikir berdasarkan pengalaman yang mereka alami secara yakin. Dan mereka menasehati orang lain untuk banyak-banyak berdzikir kepada Tuhan, sebagai pengalaman terhadap hadis:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak beriman seorang di antara kalian, sebelum dia mencintai sesuatu untuk saudaranya sebagaimana dia mencintainya untuk dirinya sendiri. (H.R. Bukhari, Nasa’i dan Tirmidzi).

Hasan Bashri berkata: “Hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling banyak dzikirnya dan paling takwa hatinya.”

Dzun-Nun al-Mishri berkata: “Dunia tidak indah kecuali dengan dzikir kepada Allah. Akhirat tidak indah kecuali dengan ampunan-Nya. Dan surga itu tidak indah kecuali dengan melihat-Nya.”

Abu Sa‘id al-Kharraz berkata: “Sesungguhnya di hari akhir kelak Allah akan mendahulukan roh-roh para kekasih-Nya untuk merasakan kelezatan berdzikir kepada-Nya dan mencapai kedekatan dengan-Nya. Allah akan mendahulukan raga mereka dengan berbagai kenikmatan dan melimpahkan karunia-Nya kepada mereka di atas yang lainnya. Kehidupan raga mereka adalah kehidupan para penghuni surga dan kehidupan roh mereka adalah kehidupan rabbani.” (153).

Dzikir terbagi ke dalam dua golongan dzikir orang awam dan orang khawwāsh. Dzikir orang awam adalah dzikir kepada Allah dengan dzikir yang dia kehendaki, sementara dia tetap berakhlak dengan akhlak tercela, seperti pamer, sombong, ujub, dengki dan sifat lainnya.

Sedangkan dzikir orang khawwāsh adalah dzikir yang disertai kehadiran hati. Yaitu, seorang hamba berdzikir kepada Allah dengan dzikir-dzikir khusus dan dengan cara-cara yang khusus pula untuk memperoleh makrifat kepada Allah, disertai penyucian dirinya dari akhlak-akhlak yang tercela dan menghiasinya dengan semua budi pekerti yang luhur. Dengan itu, dia berharap dapat keluar dari kegelapan raga dan mengetahui rahasia-rahasia rohani. Dianjurkan bagi orang yang berdzikir dengan model ini untuk menggunakan tasbih yang dengannya dia menghitung jumlah dzikir yang dia kehendaki, sehingga dia terbebas dari kesusahan menghitung jumlahnya.” (154).

Dzikir akan menyinari hati para murīd (sufi) dan membuka pintu karunia. Dzikir juga merupakan metode untuk mencapai tajalli dalam hati. Dan dengan dzikir, para murīd akan berakhlak dengan akhlak Nabi.

Catatan:


  1. 149). Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan-shahih. 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *