Keutamaan Bershalawat – Dala’il-ul-Khairat (1/3)

Cover Buku Dalailul Khairat - Imam al-Jazuli - Penerbit Zaman

Dalā’il-ul-Khairāt
Ungkapan Cinta Terindah untuk Allah dan Rasūlullāh

Oleh: Muḥammad ibn Sulaimān al-Jazūlī
(w. 870 H./1465 M.)
 
Diterjemahkan dari Dalā’il-ul-Khairāti wa Syawāriq-ul-Anwār fī Dzikr-ish-Shalāti ‘alan-Nabiyy-il-Mukhtar.
Karya: Muḥammad ibn Sulaimān al-Jazūlī
 
Penerjemah: Tatam Wijaya
Penerbit: Zaman

Rangkaian Pos: Keutamaan Bershalawat - Dala'il-ul-Khairat

Keutamaan Bershalawat

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ. الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَ الْإِسْلَامِ. وَ الصَّلَاةُ عَلَى مُحَمَّدٍ نَبِيِّهِ الَّذِي اسْتَنْقَذْتَنَا بِهِ مِنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ وَ الْأَصْنَامِ. وَ عَلَى آلِهِ النُّجَبَاءِ الْبَرَرَةِ الْكِرَامِ.

Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat dan salam kepada tuan kami Muḥammad dan juga keluarga dan para sahabatnya. Segala puji hanya milik Allah yang telah memberi kami petunjuk ke jalan iman dan Islam. Curahan shalawat semoga dilimpahkan kepada Muḥammad Nabi-Nya, yang dengannya Engkau menyelamatkan kami dari menyembah patung dan berhala. Curahan shalawat juga semoga dilimpahkan kepada keluarganya yang terpandang, baik, dan mulia.

Buku ini membahas ihwal shalawat kepada Nabi s.a.w. sekaligus ragam keutamaannya. Namun, kami tidak menyajikan sanad riwayatnya dengan harapan lebih memudahkan pembaca menghafalnya. Pembahasan ini menjadi bagian terpenting bagi siapa pun yang hendak mendekatkan diri kepada Allah. Tuhan para tuhan. Penulis menamai buku ini dengan Dalā’il-ul-Khairāti wa Syawāriq-ul-Anwār fī Dzikr-ish-Shalāti ‘alan-Nabiyy-il-Mukhtar dengan mengharap ridha Allah s.w.t., cinta dan salam kepada Rasūl-Nya yang mulia. Muḥammad s.a.w. Allah-lah yang bertanggung-jawab menjadikan kami sebagai pengikut sunnahnya dan menjadikan kami sebagai pecinta diri mulianya. Sesungguhnya, Allah Maha Kuasa atas semuanya. Tiada tuhan selain Dia. Tiada kebaikan selain kebaikan-Nya. Dialah pelindung dan penolong terbaik. Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Berkenaan dengan keutamaan shalawat itu sendiri, Allah s.w.t. telah berfirman:

إِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salām penghormatan kepadanya.”.

Diriwayatkan, pada suatu hari Nabi s.a.w. datang dengan kebahagiaan terpancar di wajahnya. Beliau lantas bersabda:

إِنَّهُ جَاءَنِيْ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ أَمَا تَرْضَى أَنْ لَا يُصَلِّيْ عَلَيْكَ أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِكَ إِلَّا صَلَّيْتَ عَلَيْهِ عَشْرًا وَ لَا يُسَلِّمُ عَلَيْكَ إِلَّا سَلَّمْتُ عَلَيْهِ عَشْرًا.

Aku ditemui Malaikat Jibrīl a.s. dan ditanya: “Tidakkah engkau rela, Muḥammad, jika ada seorang umatmu bershalawat kepadamu maka aku bershalawat sepuluh kali untuknya. Tidak ada seorang umatmu yang menyampaikan salam kepadamu kecuali aku akan menyampaikan salam sepuluh kali untuknya”.”

Dalam hadits lain, beliau bersabda:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِيْ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً.

Sesungguhnya, manusia paling mulia di sisiku adalah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku.”

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ يُصَلِّيْ عَلَيَّ فَلْيُقْلِلْ عِنْدَ ذلِكَ أَوْ لِيُكْثِرْ.

Siapa yang bershalawat kepadaku maka para malaikat akan bershalawat kepadanya selama ia bershalawat. Ketika itu, sedikitkanlah atau perbanyaklah membacanya.”

بِحَسْبِ الْمَرْءِ مِنَ الْبُخْلِ أَنْ أَذْكُرَ عِنْدَهُ وَ لَا يُصَلِّيْ عَلَيَّ.

Termasuk orang yang pelit adalah bila namaku disebut, ia tak mau mengucap shalawat kepadaku.”

أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ.

Perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari Jum‘at.”

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مِنْ أُمَّتِيْ كُتِبَتْ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَ مُحِيَتْ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ.

Siapa umatku yang bershalawat kepadaku maka dicatat baginya sepuluh kebaikan dan dihapus darinya sepuluh keburukan.”

مَنْ قَالَ حِيْنَ يَسْمَعُ الْأَذَانَ وَ الْإِقَامَةَ: اللهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَ الصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةُ وَ الْفَضِيْلَةَ وَ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَ عَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Siapa yang pada saat mendengar adzan dan iqamat membaca doa: “Ya Allah, Dzāt Pemilik seruan sempurna dan shalat yang ditegakkan, berikanlah Muḥammad wasilah dan keutamaan, serta anugerahilah kedudukan mulia yang telah Engkau janjikan.” Maka ia berhak atas syafaatku pada hari Kiamat.”

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِيْ كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّيْ عَلَيْهِ مَا دَامَ اسْمِيْ فِيْ ذلِكَ الْكِتَابِ.

Siapa yang bershalawat kepadaku dengan menuliskannya di buku maka para malaikat akan terus-menerus bershalawat selama namaku tertulis di buku tersebut.”

Abū Sulaymān ad-Dāranī pernah menyatakan bahwa siapa yang hendak memohon suatu hajat kepada Allah maka perbanyaklah shalawat kepada Nabi s.a.w. Kemudian, sampaikan hajatnya kepada Allah dan akhiri lagi dengan shalawat. Sesungguhnya Allah akan mengabulkan permintaan antara dua shalawat, dan itu lebih utama daripada ia meninggalkan di antara keduanya.

Nabi s.a.w. juga bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ مِائَةَ مَرَّةٍ غُفِرَتْ لَهُ خَطِيْئَةُ ثَمَانِيْنَ سَنَةً.

Siapa yang bershalawat kepadaku pada hari Jum‘at sebanyak seratus kali maka kesalahannya selama delapan puluh tahun akan diampuni.”

Abū Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi s.a.w. menuturkan:

لِلْمُصَلِّيْ عَلَيَّ نُوْرٌ عَلَى الصِّرَاطِ وَ مَنْ كَانَ عَلَى الصِّرَاطِ مِنْ أَهْلِ النُّوْرِ لَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ النَّارِ.

Orang yang bershalawat kepadaku akan memiliki cahaya di atas ash-Shirāth. Sedangkan siapa pun yang memiliki cahaya saat di atas ash-Shirāth maka artinya ia bukan penghuni neraka.”

مَنْ نَسِيَ الصَّلَاةَ عَلَيَّ فَقَدْ أَخْطَأَ طَرِيْقَ الْجَنَّةِ.

Orang yang lupa bershalawat kepadaku sejatinya dia salah menempah jalan surga.

Yang dimaksud lupa dari orang tersebut adalah meninggalkan shalawat. Sebab, jika yang dimaksud meninggalkan adalah salah jalan maka yang bershalawat kepadanya sesungguhnya sedang menempuh jalan surga.

Dalam riwayat ‘Abd-ur-Raḥmān ibn ‘Awf, Rasūlullāh s.a.w. mengisahkan:

جَاءَنِيْ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ لَا يُصَلِّيْ عَلَيْكَ أَحَدٌ إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ وَ مَنْ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ.

Jibrīl menemuiku dan berkata: “Wahai Muḥammad, tidaklah seseorang bershalawat kepadamu, kecuali tujuh puluh ribu malaikat bershalawat kepadanya. Sementara orang yang dishalawat oleh para malaikat adalah ahli surga.”

أَكْثَرُكُمْ عَلَيَّ صَلَاةً أَكْثَرُكُمْ أَزْوَاجًا فِي الْجَنَّةِ.

Orang yang paling banyak bershalawat kepadaku adalah yang paling banyak pasangannya di surga.”

Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *