Jenis-jenis Syafa‘at – Mengetuk Pintu Syafa’at (2/3)

Mengetuk Pintu Syafā‘at
Oleh: Syafiqul Anam al-Jaziriy
 
Penerbit: Pustaka Group

Rangkaian Pos: Jenis-jenis Syafa‘at - Mengetuk Pintu Syafa'at

Berikut ini adalah ayat-ayat yang menjelaskan orang-orang mu’min dan mereka yang terbunuh di jalan Allah adalah syāfi‘ yang kelak akan memberi syafā‘at, di antaranya:

Dan para sesembahan selain Allah tidak dapat memberikan syafā‘at. (Yang dapat memberi syafā‘at hanyalah) mereka yang bersaksi atas kebenaran dan mereka yang mengetahui.” (QS. az-Zukhruf: 86).

Mereka yang bersaksi atas kebenaran adalah orang-orang mu’min yang shāliḥ. Merekalah yang kelak akan dijadikan oleh Allah sebagai saksi atas semua umat bersama para nabi dan para washī (penerus misi para nabi).

Dalam ayat yang lain, Allah s.w.t. menyebutkan kaum mu’minīn sebagai para saksi.

Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasūl-Nya, mereka adalah orang-orang yang benar dan para saksi di sisi Tuhan mereka….” (QS. al-Ḥadīd: 19).

Banyak riwayat yang mendukung ayat ini dan menerangkannya lebih jauh lagi, di antaranya, hadits yang diriwayatkan oleh Shadūq dari Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

Ada tiga kelompok yang syafā‘at mereka di hari kiamat akan diterima oleh Allah s.w.t., yaitu para nabi, para ‘ulamā’, dan para syuhadā’ (syuhadā’: mereka yang menjadi saksi, termasuk mereka yang terbunuh di jalan Allah).” (al-Khishāl, hal. 142).

Sebelum beranjak meninggalkan bagian ini, kami ingin mengajak pembaca untuk memperhatikan sebuah poin penting yang sering disebut di dalam ayat-ayat yang menyebutkan tentang pemberi atau penerima syafā‘at, yaitu ridhā’ Allah. Al-Qur’ān telah menyebutkan bahwa mereka yang bisa memberi atau mendapat syafā‘at adalah orang-orang yang diridhā’i Allah. Dengan demikian, tanpa ridhā’ ini, syafā‘at tidak akan berguna. Singkatnya, syāfi‘ haruslah orang yang diridhā’i oleh Allah sehingga ia bisa memberikan syafā‘at dan penerima syafā‘at haruslah orang yang diridha’i Allah sehingga syafā‘at yang ia terima dari syāfi‘ bisa berguna untuk dirinya.

Ayat-ayat suci al-Qur’ān al-Karīm yang menyebutkan tentang ridhā’ Allah kepada sebagian hamba-Nya menunjukkan bahwa mereka adalah hamba yang memiliki sifat-sifat mulia. Di bawah ini, kami bawakan beberapa contoh ayat suci al-Qur’ān yang dengan jelas menyebut ridhā’ Allah kepada hamba-hambaNya yang shāliḥ.

Allah s.w.t. berfirman:

Ini adalah suatu hari di mana kebenaran para shiddīqīn (orang-orang yang benar) bermanfaat bagi mereka. Mereka mendapatkan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai; dan kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.; Allah ridhā’ terhadap mereka dan mereka pun ridhā’ terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar”. (QS. al-Mā’idah: 119).

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum shiddīqīn yaitu yang memiliki sifat jujur yang sebenarnya adalah kaum yang diridhā’i Allah s.w.t.

Ayat kedua adalah firman Allah s.w.t. berikut ini:

Mereka yang pertama kali (masuk Islam) dari kalangan kaum Muhājirīn dan Anshār dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya, akan diridhā’i Allah dan mereka pun ridhā’ kepada Allah. Allah telah menyediakan bagi mereka surga dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Mereka kekal di surga selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 100).

Ayat ketiga adalah:

Tidak akan engkau jumpai suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, mencintai orang-orang yang menentang Allah dan Rasūl-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak, anak, saudara atau pun keluarga mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan di dalam hati mereka dan membantu mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga dengan sungai yang mengalir di bawahnya. Allah ridhā’ terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah kelompok Allah (ḥizbullāh). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kelompok Allah adalah kelompok yang beruntung” (QS. al-Mujādilah: 22).

Ayat di atas dengan jelas menyebutkan bahwa salah satu sifat mulia yang dimiliki oleh mu’min sejati adalah tidak berkasih-sayang dengan musuh Allah dan musuh Rasūl-Nya, meskipun ia adalah ayah, anak atau saudara mereka sendiri. Sifat yang mulia ini termasuk sifat utama yang mesti dimiliki oleh seorang insan mu’min.

Ayat berikutnya adalah firman Allah s.w.t. berikut ini.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan ‘amal shāliḥ adalah makhlūq terbaik. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn dengan sungai yang mengalir di bawahnya. Mereka kekal di surga selama-lamanya. Allah ridhā’ terhadap mereka dan mereka pun ridhā’ kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi mereka yang takut kepada Tuhannya.” (QS. al-Bayyinah: 7-8).

Semua ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa mereka yang kekal di dalam surga dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya adalah orang-orang yang diridhā’i oleh Allah s.w.t. dan merekapun ridhā’ kepada-Nya. Di sinilah letak keagungan ungkapan Ilahi dalam ayat-ayat tersebut. Lalu siapakah gerangan orang-orang yang ridhā’ kepada Tuhan?

Mereka adalah orang-orang yang benar dan jujur kepada Allah dalam keimanan dan perbuatan mereka. Mereka adalah orang-orang yang melakukan ‘amal kebajikan dan takut kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang pertama kali beriman dari kalangan kaum Muhajirin dan Anshar, dan yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka adalah kaum Mu’minīn yang tidak berkasih-sayang dengan musuh-musuh Allah dan musuh-musuh Rasūl-Nya.

Syafā‘at Allah Di Antara Orang-orang Yang Mengasihi.

Tiada yang lebih membahagiakan dan menyenangkan Allah s.w.t. selain melihat hamba-Nya saling mengasihi di antara sesamanya. Orang yang seperti inilah yang nantinya diberikan syafā‘at oleh Allah s.w.t. sehingga ia bisa memberikan kemanfaatan bagi orang lain.

Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

Sesungguhnya Allah s.w.t. telah menciptakan rahmat sejak diciptakannya sebanyak 100 rahmat. Ia menahan 99 rahmat, dan membagikan kepada seluruh makhlūq-Nya satu rahmat saja. Seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang dimiliki Allah, niscaya ia tidak akan berputus asa (dalam mendapatkan) surga, dan seandainya orang mu’min mengetahui ‘adzāb yang ada di sisi Allah, niscaya ia tidak akan dapat terselamatkan dari api neraka.” (301).

Dalam sabda beliau yang lain disebutkan:

Sesungguhnya Allah telah menciptakan 100 rahmat, dan Ia menyebarkan di antara seluruh makhlūq-Nya satu rahmat saja. Dengan rahmat itu, mereka saling mengasihi, dan Allah menyimpan di sisi-Nya 99 rahmat yang diperuntukkan bagi para kekasih (wali)-Nya.” (312).

Sesungguhnya Allah s.w.t. telah menciptakan 100 rahmat sejak menciptakan langit dan bumi. Seluruh rahmat itu memenuhi di antara langit dan bumi. Ia menjadikan satu rahmat saja di bumi, yang dengannya seorang ibu mengasihi anaknya, binatang buas dan burung saling mengasihi satu sama lain, dan Allah menunda pemberian 99 rahmat, yang pada Hari Kiamat. Ia akan menyempurnakan rahmat-rahmat ini.” (323).

Di antara rahmat-rahmat Tuhan langit dan bumi yang agung ini adalah Ia tidak hanya mengidzinkan pemberian syafā‘at oleh para nabi, malaikat dan kaum Mu’minīn. Bahkan, Ia menahan (menggenggam) api neraka untuk mengeluarkan suatu kaum dari neraka yang tidak diketahui bilangan mereka kecuali Allah, lalu Allah memasukkan mereka ke dalam surga, dan tidak ada seorang makhluq pun yang mengetahui ukuran genggaman Sang Pencipta jalla wa ‘alā, karena Allah telah berfirman:

وَ مَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَ الْأَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَ السَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِيْنِهِ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”. (QS. az-Zumar: 67).

Rasūlullāh s.a.w. bersabda:

Allah s.w.t. berfirman (dalam hadits qudsi): “Para malaikat memberikan syafā‘at, para nabi memberikan syafā‘at, kaum Mu’minīn memberikan syafā‘at, dan tidak ada lagi yang dapat memberikan syafā‘at kecuali Allah Yang Maha Pengasih di antara orang-orang yang pengasih. Ia Allah menggenggam api neraka, dan mengeluarkan dari neraka itu suatu kaum yang tidak pernah mengerjakan kebaikan pun dan telah terbakar oleh api, lalu Allah melemparkan mereka ke dalam sungai di pinggiran surga, yang disebut dengan sungai kehidupan (Nahr-ul-Ḥayāh), sehingga mereka keluar bagaikan keluarnya biji-bijian yang teraliri air. Tidakkah engkau melihat biji-bijian di dekat bebatuan atau pepohonan, atau melihatnya kekuning-kuningan dan kehijau-hijauan oleh cahaya matahari, atau melihatnya dari naungan (bayang-bayang) sehingga tampak putih. Mereka pun keluar bagaikan mutiara, di leher mereka terdapat tanda, yang dikenali para penghuni surga. Mereka itulah orang-orang yang dibebaskan Allah dari neraka, yang dimasukkan ke dalam surga tanpa suatu ‘amalan yang dikerjakannya, atau kebaikan yang dipersembahkannya.

Kemudian Allah s.w.t. berfirman:

Masuklah ke dalam surga, maka apa pun yang kalian lihat maka itu merupakan milik kalian”. Mereka berkata: “Tuhan kami, Engkau telah memberikan kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari seluruh alam semesta ini”. Allah bertanya: “Apakah kalian memiliki sesuatu yang lebih berharga dari pada ini?” Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, apakah ada sesuatu yang lebih berharga dari pada ini?” Allah berfirman: “Ridhā’-Ku, maka Aku tidak akan membenci kalian setelah ini selama-lamanya.” (334).

Dengan demikian, sebagai makhlūq ciptaan Allah yang teramat agung di antara makhlūq ciptaan-Nya yang lain. Hendaknya kita bisa menyayangi dan mengasihi sesama. Sebab hanya orang-orang yang mengasihilah syafā‘at Allah bisa diterima.

Catatan:

  1. 30). HR. al-Bukhārī, dan Muslim dari Abū Sa‘īd, Shaḥīḥ-ul-Jāmi‘, 1763.
  2. 31). HR. ath-Thabrānī dalam al-Kabīr dari Mu‘āwiyah bin Ḥaidah, dan al-Albānī menshahihkannya dalam Shaḥīḥ-ul-Jāmi‘, 1766.
  3. 32). HR. Muslim dan Aḥmad dari Salmān, Shaḥīḥ-ul-Jāmi‘, 1767.
  4. 33). HR. al-Bukhārī, Muslim dan Aḥmad dari Abū Sa‘īd, Shaḥīḥ-ul-Jāmi‘, 7031.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.