Hakikat Tasawwuf – Bab Tentang Dzikir

Hakekat Tasawwuf | Syaikh 'Abdul Qadir as-Sufi

Dari Buku:
Hakikat Tasawwuf
(Judul Asli: Haqa’iq-ut-Tasawwuf)
Oleh: Syaikh ‘Abdul-Qadir ‘Isa
Penerjemah: Khairul Amru Harahap, Lc., MHI dan Afrizal Lubis, Lc.
Penerbit: Qisthi Press

Rangkaian Pos: Hakikat Tasawwuf - Bab Tentang Dzikir | Syaikh 'Abdul Qadir 'Isa
  1. 1.Anda Sedang Membaca: Hakikat Tasawwuf – Bab Tentang Dzikir
  2. 2.Hakikat Tasawwuf: Arti Kata Dzikir
  3. 3.Hakikat Tasawwuf: Keutamaan Dzikir Dalam Perspektif Para Ulama
  4. 4.Hakikat Tasawwuf: Dalil-Dalil Dzikr dari al-Qur’an dan Hadits
  5. 5.Hakikat Tasawwuf: Macam-Macam Zikir (Bagian 1)
  6. 6.Hakikat Tasawwuf: Macam-Macam Zikir (Bagian 2)
  7. 7.Hakikat Tasawwuf: Lafaz-lafaz dan Pola Zikir
  8. 8.Hakikat Tasawwuf: Agar Kita Tidak Meninggalkan Zikir
  9. 9.Hakikat Tasawwuf: Gerakan Badan dalam Zikir
  10. 10.Hakikat Tasawwuf: Membacakan dan Mendengarkan Syair di Masjid
  11. 11.Hakikat Tasawwuf: Keutamaan dan Faedah Zikir
  12. 12.Hakikat Tasawwuf: Wiridnya Kalangan Sufi

Bab II Bagian ke 4.

Dzikir

Dalam sub bab ini akan dibahas tentang arti kata dzikir, dalil-dalilnya, dan al-Qur’an dan Hadits, pendapat para ulama tentangnya, macam-macamnya, lafal-lafalnya, peringatan agar tidak meninggalkannya, gerakan dalam dzikir, dzikir di dalam masjid, dan faedah-faedah dzikir.

Dzikir membuahkan maqām-maqām dan aḥwāl yang diupayakan oleh para salik. Tidak ada jalan untuk meraih buah dzikir kecuali dari pohon dzikir. Setiap kali pohon dzikir itu tumbuh besar, maka akarnya akan semakin kuat dan buahnya akan semakin banyak.

Dzikir merupakan dasar setiap maqām yang dibangun di atasnya, sebagaimana dinding yang dibangun di atas pondasi, dan atap yang dibangun di atas dinding.

Apabila seorang hamba belum terjaga dari kelalaiannya, maka dia tidak mungkin dapat menempuh tingkat-tingkat perjalanan yang mengantarkannya untuk sampai kepada makrifatullah yang manusia diciptakan karenanya. Allah berfirman: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku.” (991) (Adz-Dzāriyāt: 56)

Dan seseorang tidak akan terjaga dari kelalaiannya melainkan dengan dzikir. Lalai, berarti tidur atau matinya hati.

Ketaatan para sufi terhadap perintah Tuhan mereka untuk memperbanyak dzikir kepada-Nya menjadikan kehidupan mereka seperti kehidupan para malaikat. Dunia tidak pernah terlintas dalam hati mereka, dan tidak melupakan mereka dari Kekasih mereka. Mereka melupakan diri mereka dengan bersimpuh di hadapan Tuhan mereka. Dan mereka melenyapkan segala sesuatu selain-Nya. Sehingga, mereka selalu mengingat-Nya di mana pun mereka berada, sebagaimana diungkapkan oleh seorang penyair sufi:

Aku mengingat-Mu bukan karena aku lupa kepada-Mu,
Dan dzikir yang paling mudah adalah dzikir lisanku.

Seorang sufi senantiasa berdzikir kepada Tuhannya di setiap situasi dan kondisinya. Dengan dzikir itu dadanya menjadi lapang, hatinya menjadi tenang dan rohnya menjadi luhur. Sebab, dia meraih keuntungan dengan menjadi teman duduk Tuhannya. Allah berfirman dalam hadis qudsi:

أَهْلُ ذِكْرِيْ أَهْلُ مُجَالَسَتِيْ

Ahli dzikir kepada-Ku adalah teman duduk-Ku.” (H.R. Ahmad)

Orang yang mengenal Allah adalah orang yang senantiasa tekun berdzikir dan memalingkan hatinya dari kesenangan-kesenangan dunia yang fana, sehingga Allah menjaganya dan melindunginya dalam semua urusannya. Hal ini tidak mengherankan. Sebab, barang siapa bersabar, dia pasti akan berhasil. Dan barang siapa terus mengetuk pintu, maka pintu itu akan dibukakan baginya.

Catatan:


  1. 99). Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud dengan beribadah kepada-Nya adalah bermakrifat kepada-Nya. 
Dapatkan Notifikasi Hati Senang

Masukkan email Anda untuk mengetahui tentang artikel terbaru.

Klik untuk mendapatkan notifikasi push tentang artikel terbaru.

Komentar

Belum ada komentar. Mengapa Anda tidak memulai diskusi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *